Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Kebebasan
Lampu-lampu lobi The Phoenix Center sudah terpasang sempurna. Cahaya kuning hangat memantul di atas lantai marmer Carrara yang dipilih Tania dengan sangat hati-hati. Sebagai Desainer Interior, Tania tahu bahwa pencahayaan adalah nyawa dari sebuah ruang. Ia ingin siapa pun yang melangkah masuk ke gedung ini merasa seolah-olah mereka sedang dilahirkan kembali, sama seperti dirinya.
Namun, di balik kesuksesan teknis itu, ada kabut tebal yang menyelimuti kehidupan pribadinya.
Pagi itu, Tania menerima sebuah undangan formal dari Ibu Adrian, Nyonya Sofia. Bukan undangan makan malam biasa, melainkan permintaan pertemuan di sebuah rumah teh tradisional yang sangat tertutup. Tania tahu, ini bukan tentang merayakan kemenangan atas Clarissa. Ini adalah tentang posisi.
"Tania, terima kasih sudah bersedia datang," ucap Nyonya Sofia. Ia tampak sangat anggun dengan kebaya modern, tapi, matanya sedingin es.
Tania duduk dengan tegap. "Sama-sama, Nyonya. Saya menghargai undangan ini."
Nyonya Sofia meletakkan cangkir porselennya.
"Aku berterima kasih karena kamu sudah membuka mata kami tentang Clarissa. Dia memang wanita yang berbahaya, tapi, Tania ... kamu harus paham satu hal. Dalam keluarga kami, reputasi adalah segalanya. Kamu adalah desainer yang hebat, tapi sejarah mu ... perceraian mu yang berdarah-darah, mantan suamimu yang sekarang di penjara, dan selingkuhannya yang menjadi narapidana ... itu adalah noda yang tidak bisa kami hapus dari silsilah keluarga."
Tania tersenyum tipis, ia sudah menduga ini.
"Saya merancang interior gedung, Nyonya, bukan merancang masa lalu. Saya tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi saya sudah membuktikan bahwa saya bisa berdiri di atas kaki saya sendiri."
"Berdiri di atas kaki sendiri itu bagus untuk bisnis," sahut Nyonya Sofia tajam. "Tapi untuk menjadi pendamping Adrian di acara-acara kenegaraan dan bisnis global? Kamu akan selalu menjadi bahan bisikan. Adrian adalah putra mahkota kami. Aku memohon padamu sebagai seorang ibu ... ambillah kontrak proyek di Dubai atau London yang sudah Adrian siapkan untukmu. Pergilah dengan hormat. Biarkan Adrian menemukan seseorang yang bersih untuk masa depannya."
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada makian Bianca. Ini adalah penolakan yang halus, sopan, tapi, sangat merendahkan. Tania merasa seolah-olah semua pencapaian profesionalnya tidak berharga hanya karena label janda yang ia sandang.
Sementara itu, di sebuah sel isolasi penjara wanita, Bianca sedang meringkuk. Ruam di wajahnya semakin parah karena ia terus-menerus menggaruknya akibat stres. Ia baru saja mendengar bahwa Rey dipindahkan ke penjara pria di pinggiran kota karena kasus pencurian.
"Rey ... kamu bodoh," gumam Bianca dengan tawa yang terdengar gila. "Kenapa kamu tertangkap? Harusnya kita yang menang."
Seorang sipir penjara lewat dan melemparkan selembar koran lama ke dalam sel. Di halaman belakang, ada berita tentang kesuksesan Tania yang akan meresmikan studio barunya. Bianca merobek koran itu dengan giginya, matanya berkilat merah.
"Tania Putri ... kamu pikir kamu sudah menang? Kamu pikir kamu bisa bahagia dengan Adrian?"
Bianca mulai mencakar dinding semen penjara yang keras. "Aku punya satu rahasia lagi ... rahasia yang bahkan Rey pun tidak tahu. Rahasia yang akan membuat keluarga Adrian mengusir mu seperti anjing kurap."
Bianca teringat pada sebuah dokumen yang ia curi dari brankas ayah Rey dulu, jauh sebelum ia dibuang. Sebuah dokumen medis yang menyatakan sebuah fakta tentang kesehatan Tania yang bisa menghancurkan harapan keluarga Adrian untuk memiliki keturunan. Bianca sudah menyimpan dokumen itu di sebuah loker rahasia di stasiun kereta.
"Aku butuh seseorang untuk mengambilnya," bisik Bianca. Ia melihat ke arah seorang narapidana yang akan bebas minggu depan—seorang wanita yang berhutang budi padanya karena Bianca sering memberinya jatah makan. "Yanti ... kemari. Aku punya pekerjaan untukmu."
Di kantor logistik tempat Rey dulu bekerja, suasana sangat kacau. Setelah penangkapan Rey dan Aris, perusahaan itu ikut diselidiki atas dugaan pencucian uang. Ibu Rey yang kini berada di bangsal puskesmas kumuh (setelah operasinya selesai dengan dana anonim dari Tania) hanya bisa menangis sepanjang hari.
Ibu Rey tidak tahu bahwa putranya sekarang mengenakan seragam oranye. Ia hanya tahu bahwa Rey sedang dinas ke luar kota. Namun, tetangga-tetangga di rusun mulai berbisik-bisik.
"Itu loh, anaknya Pak Pratama yang dulu kaya, sekarang jadi maling di kantor mantan istrinya sendiri. Duh, malunya sampai ke liang lahat."
Gema ejekan itu sampai ke telinga Ibu Rey. Rasa malu dan sesak napas kembali menyerangnya. Di titik ini, karma bukan hanya menghujam Rey, tapi, juga menghancurkan sisa-sisa kehormatan keluarganya hingga ke akar paling dalam. Rey yang berada di sel tahanan hanya bisa membenturkan kepalanya ke tembok, meratapi betapa ia telah menghancurkan hidup ibunya hanya karena mengikuti rayuan setan Aris.
Malam harinya, Adrian menemui Tania di lokasi proyek. Ia melihat Tania sedang duduk sendirian di lantai yang belum terpasang karpet, menatap maket bangunan dengan mata berkaca-kaca.
"Tania? Ada apa? Ibuku bicara apa padamu?" tanya Adrian cemas, ia langsung duduk di samping Tania.
Tania menoleh, mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur. "Adrian, apakah kamu sanggup hidup dengan wanita yang akan selalu dianggap sebagai noda oleh ibumu? Apakah profesiku sebagai desainer yang sukses benar-benar tidak cukup untuk menutupi statusku?"
Adrian menggenggam tangan Tania dengan sangat erat. "Ibuku hidup di masa lalu, Tania. Dia hidup di dunia di mana gelar dan status lebih penting daripada karakter. Tapi aku? Aku hidup di masa depan yang sedang kamu bangun ini. Aku tidak peduli apa kata mereka. Jika mereka tidak menerimamu, maka aku yang akan keluar dari lingkaran itu."
"Jangan bicara begitu, Adrian. Itu keluargamu," bisik Tania.
"Keluargaku adalah siapa pun yang berdiri di sampingku saat aku jatuh. Dan itu adalah kamu, bukan Clarissa, bukan pilihan ibuku," tegas Adrian.
Tania menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Di tengah kemegahan interior gedung yang ia rancang, ia menyadari bahwa perjuangannya belum berakhir. Musuh-musuh lamanya mungkin sudah di penjara, tapi musuh barunya—Tradisi dan Rahasia Masa Lalu—baru saja muncul ke permukaan.
Tania tidak tahu bahwa di luar sana, Yanti (teman Bianca) sedang melangkah keluar dari gerbang penjara dengan sebuah kunci loker di tangannya. Sebuah rahasia medis yang akan mengguncang pondasi hubungan Tania dan Adrian sedang dalam perjalanan menuju tangan Nyonya Sofia.
km hina hrga diri istrimu demi gundik murahanmu..🙄🙄
selamt mnikmati kbodohnmu rey😄😄