NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diinterogasi

Nazwa akhirnya duduk di sofa ruang tamu itu. Duduknya masih agak kaku. Kedua tangannya bertumpu di pangkuan, sementara matanya mulai berkeliling memperhatikan ruangan.

Ruang tamu itu memang sederhana, tapi semuanya terlihat tertata rapi.

Di dinding ada beberapa foto keluarga yang dipasang dalam bingkai kayu. Ada juga lemari kaca kecil berisi piala lama dan beberapa barang kenangan. Pandangan Nazwa akhirnya berhenti pada satu foto keluarga.

Ia sedikit memiringkan kepalanya.

Di foto itu terlihat Yuda yang lebih muda, berdiri di samping seorang pria dan wanita yang kemungkinan besar orang tuanya. Di samping mereka ada seorang anak perempuan kecil yang tersenyum lebar ke arah kamera.

Nazwa sedikit mendekatkan wajahnya ke foto itu.

“Ohh… Yuda punya adik rupanya?” gumamnya pelan. Matanya memperhatikan gadis kecil di foto itu.

Rambut pendek.

Wajah bulat.

Ekspresinya ceria.

“Mirip banget sama Yuda…”

Nazwa menahan tawa kecil.

“Cuma versi cewek. Lebih imut.”

Ia tertawa pelan sendiri.

Namun ketika ia masih sibuk mengamati ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara guyuran air yang cukup keras dari arah belakang rumah.

Byurrrrr…

Nazwa sedikit terkejut. Kepalanya menoleh ke arah sumber suara.

“Oh?” gumamnya refleks.

“Seharusnya pas masih berkeringat gak boleh mandi gak sih?”

Namun baru saja kalimat itu keluar, Nazwa langsung menutup mulutnya sendiri. Wajahnya perlahan memerah lagi. Karena pikirannya… kembali melompat ke kejadian di halaman tadi.

Tubuh Yuda.

Keringat.

Dan—

“ASTAGA!”

Nazwa langsung menepuk kedua pipinya ringan.

“Fokus, fokus!” bisiknya cepat.

“Lupakan itu tadi!”

Ia menggelengkan kepala beberapa kali.

Namun belum sempat pikirannya benar-benar tenang, tiba-tiba terdengar langkah kaki kecil dari arah ruang keluarga.

Tap… tap… tap…

Nazwa menoleh.

Seorang gadis kecil dengan rambut pendek sebahu muncul dari balik pintu.

Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun.

Tatapannya tajam.

Sangat tajam. Seperti sedang mengamati tersangka di ruang interogasi.

Nazwa langsung menyadari sesuatu. Matanya bergerak cepat ke foto keluarga di dinding.

“Oh!” serunya dalam hati.

“Itu adiknya!”

Nazwa segera berdiri dari sofa dan mendekat beberapa langkah. Ia lalu sedikit merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi gadis kecil itu.

Senyumnya dipasang ramah.

“Halo adek!” sapanya lembut.

“Kamu adeknya Mas Yuda kan?”

Ia mencondongkan kepala sedikit.

“Namamu siapa?”

Gadis kecil itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memicingkan mata. Tatapannya naik turun mengamati Nazwa dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Lalu ia menyilangkan tangan di dada.

Beberapa detik hening.

Baru kemudian ia berkata dengan nada datar.

“Melakukan pendekatan terhadap keluarga dulu kah?”

Ia mengangkat satu alis.

“Heh— teknik klasik.”

Nazwa masih tersenyum… sampai kalimat berikutnya keluar.

“Seperti janji Jepang terhadap kemerdekaan Indonesia dulu.”

“….”

“….”

“Loh?”

Nazwa langsung membelalak.

“Heh?”

Otaknya seperti berhenti sebentar.

Nazwa masih mencoba memproses kalimat barusan ketika gadis kecil itu melangkah satu langkah lebih dekat.

Tatapannya masih menyipit tajam. Seperti seorang penyidik yang baru menemukan tersangka utama.

“Aku tanya sekali lagi.”

Nada suaranya kecil, tapi serius.

“Kamu ini siapa?”

Nazwa berkedip beberapa kali.

“Eh… aku—”

Namun kalimatnya langsung dipotong.

“Nama? Alamat? Tujuan kedatangan?"

Gadis kecil itu menunjuk ke arah sofa dengan dagunya.

“Duduk.”

Refleks Nazwa benar-benar duduk lagi. Baru setelah itu otaknya menyusul.

“Loh… kok aku malah nurut?” gumamnya bingung.

Gadis kecil itu berjalan mondar-mandir kecil di depannya seperti detektif.

“Kamu tau gak,” katanya sambil menatap tajam, “sejak beberapa hari terakhir… kakakku berubah.”

Nazwa langsung menegang.

“Dia sering bengong di teras. Dia galau. Dia sering diem.

“Lalu puncaknya…”

Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“…dia mabuk.”

Mata Nazwa membelalak.

“Mabuk? Yang bener?!" tanya Nazwa tak percaya.

“Iya.”

Gadis kecil itu mengangguk mantap.

“Dia mabuk jahe.”

Nazwa terdiam. Ia menghela napas karena hampir mengira bahwa Yuda alcoholic.

"Bentar? Mabuk jahe? What?!"

Otaknya langsung memunculkan bayangan Yuda duduk di warung sambil makan jahe mentah. Ia hampir tertawa… tapi situasinya terlalu serius untuk tertawa.

Gadis kecil itu kembali menyilangkan tangan.

“Menurut analisis saya.”

Ia menatap Nazwa dari atas sampai bawah.

“Kamu pelakunya.”

“…hah?”

“Kamu ini penjahat.”

Ia menunjuk Nazwa dengan jari telunjuk.

“Agen rahasia! Mata-mata! Kamu pasti datang ke sini untuk menghancurkan mental kakakku kan?”

Nazwa benar-benar tidak siap dengan alur logika itu.

“T-tunggu… adek… itu—”

“Bantahan ditolak.”

Gadis kecil itu langsung memotong. Ia berjalan mengitari Nazwa seperti hakim yang sedang mempertimbangkan putusan.

Nazwa masih duduk kaku di sofa.

Pertanyaan demi pertanyaan dari gadis kecil di depannya terasa seperti peluru yang ditembakkan tanpa henti.

Dan anehnya… situasi ini terasa familiar.

Beberapa hari lalu, saat Yuda datang ke rumahnya. Bukannya berbicara santai, lelaki itu malah diinterogasi oleh Azka—adiknya yang sedang demam tapi tetap cerewet seperti penyidik.

Dan sekarang… posisinya terbalik.

“Mana lebih aneh lagi…” batin Nazwa. “Sekarang aku yang diinterogasi kek tahanan."

Ia perlahan membuka mata yang sempat ia pejamkan karena pusing.

Dan benar saja.

Sepasang mata kecil itu masih menatapnya tajam.

Tidak berkedip.

Tidak bergeser.

Seperti radar pengawas nasional.

Namun entah kenapa, semakin lama Nazwa menatap wajah gadis kecil itu… rasa tegangnya malah mulai mencair. Ekspresi serius itu justru terasa sangat menggemaskan.

Mata Yuna bulat. Bahkan sedikit lebih besar dari proporsi kepalanya.

Hidungnya kecil, hampir tenggelam di antara pipi yang chubby. Sementara bibirnya mengerucut tegas seperti pejabat yang sedang menilai proposal anggaran negara.

Dalam hati Nazwa, langsung diserang dorongan aneh.

“Duhh... ini anak gemesin banget.”

Tangannya bahkan hampir bergerak. Ingin memeluk. Atau sekadar mencubit pipi kecil itu. Tapi tatapan menyelidik Yuna membuatnya menahan diri.

Anak itu masih menganggapnya ancaman negara.

“Jawab!”

Yuna tiba-tiba menggertak.

Nazwa langsung tersentak.

Refleks ia memasang ekspresi dramatis seperti tertangkap basah.

“Maafin aku, Bu Presiden!” katanya sambil sedikit membungkuk.

“Hamba bukanlah wanita yang seperti itu!”

Nada suaranya dibuat seolah-olah sedang diadili kerajaan.

Sejenak hening.

Lalu—

“Pff—”

Yuna tiba-tiba menutup mulutnya.

Dan terkekeh.

“Heh—”

Ia berdehem kecil, berusaha kembali terlihat serius.

“Kau menyadari posisimu di sini rupanya.”

Ia mengangguk puas.

“Bagus. Bagus.”

Setelah itu Yuna kembali berjalan mondar-mandir kecil di depan sofa seperti jenderal magang yang sedang menyusun strategi perang. Sementara Nazwa menatapnya dengan mata membulat.

“Heh?” gumamnya pelan.

“Berhasil?”

Nazwa langsung teringat sesuatu dari kelas psikologi perkembangan. Anak seusia itu memang mudah terbawa permainan peran.

Ia menahan senyum kecil.

“Ilmu psikologi tentang pendekatan ke anak kecil ternyata kepake juga…”

Di depannya, Yuna berhenti berjalan.

Lalu menatap Nazwa lagi.

“Baiklah.”

Ia menunjuk Nazwa seperti hakim yang baru mengambil keputusan.

“Interogasi tahap dua dimulai.”

Nazwa langsung menelan ludah.

“…loh masih lanjut?”

Yuna menyipitkan mata lagi.

Tangannya naik ke dagu, lalu ia menyisir dagunya perlahan—seolah-olah di sana ada jenggot panjang seperti para filsuf besar.

Padahal tentu saja… dagunya mulus.

Namun ekspresinya masih sangat serius. Matanya bergerak pelan, mengamati Nazwa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seperti mesin pemindai bandara.

Sementara itu, Nazwa masih duduk di sofa dengan kedua tangan tertangkup di depan dada. Persis seperti tersangka yang sedang berharap keringanan hukuman dari hakim agung.

Ia bahkan menundukkan kepala sedikit.

“Mohon pertimbangannya, Bu Presiden," gumamnya pelan dengan nada dramatis.

Namun Yuna tidak menanggapi.

Ia masih berpikir.

“Hmm.”

Tiba-tiba ia berbalik cepat. Tanpa berkata apa-apa lagi, Yuna berjalan menuju lorong rumah.

Langkahnya cepat. Lalu berubah menjadi lari kecil.

Tap tap tap tap!

Ia menghilang masuk ke sebuah ruangan yang tampaknya adalah kamarnya.

Nazwa mengikuti pergerakan itu dengan pandangan bingung.

“Loh? Kok malah kabur?" gumamnya pelan.

Beberapa detik berlalu, rumah kembali sunyi.

Nazwa masih duduk dengan posisi yang sama.

Kemudian—

Tap tap tap tap!

Yuna keluar lagi dari kamarnya. Kali ini ia membawa sesuatu. Sebuah buku gambar yang cukup besar, hampir sebesar dadanya.

Ia berlari menuju ruang tamu—

Namun ketika jaraknya tinggal beberapa langkah dari Nazwa, langkahnya tiba-tiba melambat.

Larinya berhenti. Ia langsung mengubahnya menjadi jalan santai.

Dagunya kembali terangkat. Punggungnya tegak. Seolah-olah sejak awal ia memang berjalan dengan penuh wibawa.

Nazwa yang melihat perubahan itu langsung menahan senyum.

Jelas sekali anak itu sadar. Kalau ia terus berlari, kewibawaannya sebagai “penyidik negara” bisa runtuh.

Usahanya untuk terlihat menyeramkan justru membuat gadis kecil itu tampak semakin lucu. Cara berjalan yang mendadak berubah angkuh, ekspresi serius yang terlalu dipaksakan—semuanya malah terasa menggemaskan.

Namun senyum itu tidak luput dari pengamatan Yuna.

“Diam!”

Yuna langsung menggertak.

“Jangan tersenyum! Atau hukumanmu diperberat!”

Nazwa langsung menutup bibirnya rapat-rapat.

“Iya, Bu Presiden…” gumamnya cepat.

Yuna lalu mengangkat buku gambar besar itu dan melemparkannya ke atas meja di depan Nazwa.

Buku itu terbuka sendiri ketika mendarat. Halaman yang terbuka menampilkan sebuah gambar besar.

Nazwa menunduk melihatnya.

Sebuah peta. Namun jelas bukan peta biasa.

Gambarannya aneh. Garis-garisnya tidak terlalu lurus, proporsinya juga agak kacau. Tapi terlihat jelas bahwa peta itu dibuat dengan sangat serius oleh tangan seorang anak kecil.

Di dalamnya ada berbagai area yang diberi label tulisan tangan.

Lapangan.

Empang.

Warung.

Dan sebuah tanda besar di tengah yang bertuliskan:

MARKAS BESAR

Nazwa langsung menebak itu pasti rumah Yuda.

Namun matanya berhenti pada satu tulisan lain.

PENJARA

Matanya membulat.

“P-penjara?”

Ia mengangkat wajahnya sedikit, lalu kembali melihat peta itu. Matanya menyipit, mencoba mengingat-ingat jalur yang ia lalui tadi.

Beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu.

“Ohh…”

Ia menahan suaranya agar tidak terlalu keras.

“Sekolah?”

Yuna tidak menjawab. Ia hanya menatap Nazwa dengan wajah serius.

“Kau dari distrik mana, Tahanan?” tanyanya lagi.

Nazwa menyeringai kecil. Ia lalu menunjuk sebuah area di peta yang tidak terlalu jauh dari tanda MARKAS BESAR.

“Aku dari sini, Bu Presiden," ujar Nazwa mantap.

Bibir Yuna membulat kecil. Matanya sedikit berbinar.

“Masih wilayah sekutu?" gumamnya.

“Tapi…”

Kalimatnya menggantung. Ia kembali mengangkat tangannya dan menyisir dagunya yang tidak berjenggot itu dengan ekspresi berpikir.

“Aku belum pernah melihat wajahmu," selidiknya.

Nazwa sedikit gelisah.

Secara teknis, ia memang sedang berbohong. Namun ia mencoba mengimprovisasi.

Ia menelan ludah pelan.

“Saya sebenarnya imigran, Bu Presiden.” katanya hati-hati.

“Baru datang Selasa lepas.”

Mata Yuna langsung berbinar lebih terang. Ekspresinya berubah puas.

Dengan senyum kecil yang penuh keangkuhan—meskipun tetap terlihat sangat lucu—ia menjulurkan tangannya ke arah Nazwa.

“Selamat datang di rumah kami, Imigran.” katanya dengan nada resmi.

“Maaf aku harus melakukan ini.”

Ia mengangguk kecil.

“Karena aku tak mau jika penjahat itu datang untuk menghancurkan mental kakakku.”

Nazwa menghela napas panjang dalam hati. Akhirnya. Ia berhasil melewati interogasi tahap kedua.

Ia lalu menjabat tangan kecil itu dengan sopan.

“Baiklah, Bu Presiden.” ujarnya dengan senyum tipis.

“Suatu kehormatan juga bisa bertemu Anda hari ini.”

1
mmmmuuuuu
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
saya orang gila baru
perpustakaan memang semenenangkan itu
saya orang gila baru
"di di"/Slight/
saya orang gila baru
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
saya orang gila baru
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
tapi perasaan kurir gak ada libur
Cecilia
ANJERRRRR NANGGUNG BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Shy//Shy//Shy/
total 1 replies
Cecilia
dia lucu banget sihh😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: adekku kok. makanya lucu/Proud/
total 1 replies
Cecilia
aku jga mww
Chimpanzini Sudah Hiatus: wkwk author pun jga mau🤣🤣
total 1 replies
Cecilia
mari kita juluki romi si uler coklat
Chimpanzini Sudah Hiatus: mana boleh kek gitu
total 1 replies
Cecilia
BU LINA CANTIKKK BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
cantik nya😍😍😍😍😍
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya itu akan timbul alami ketika bertemu orang baik
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
senyuman formalitas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!