"Ketika undangan wisuda ku tak kamu hadiri, maka ku harap undangan pernikahan ku nanti akan kamu hadiri bersama keluargamu."
Kalimat yang begitu membekas di hati dan pikiran Rizal kala ia melakukan kesalahan karena lagi dan lagi ia membohongi Claudia.
Perempuan yang kerap kali iya bohongi dalam keseharian nya, memberikan perhatian, ungkapan cinta, dan harapan untuk kedepannya.
Nyatanya hal itu adalah sebuah kebohongan yang menjadi kebiasaan Rizal selama ini. Namun, semua berubah setelah Claudia menyadari bahwa selama ini ia melakukan kesalahan terbesar karena terpengaruh dengan setiap kata yang Rizal ucapan kepadanya.
Hal tak terduga kini terjadi pada Rizal pelaku utama yang memerankan peran kebohongan yang begitu dalam sampai dua tahun lamanya seorang Claudia baru sadar bahwa selama ini ia hanya dijadikan mainan oleh Rizal.
Yuk ikuti ceritanya, jika kalian penasaran tentang yang akan terjadi pada Rizal dan Claudia selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alrumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjawab Setiap Ucapan
Setelah Claudia liat handphone nya, di sana terlihat ada notif dari temannya di kampus.
"Claudia ada dimana?" isi notif chat yang di kirim teman Claudia.
"Ini dari Tisa, aku kira dari siapa tadi. Em... jawab dulu aja deh." ucap Claudia setelah ia melihat notif chat yang di kirim Tisa untuknya.
"Lagi di kosan Tisa." ucap Claudia saat ia mengirim jawaban chat untuk Tisa.
"Em... aku mau ke kosan Claudia dulu, boleh nggak?" ucap Tisa saat ia mengirim jawaban lagi untuk Claudia.
"Boleh Tisa, ke sini aja." ucap Claudia.
"Iya Claudia maaciw, nanti aku ke sana." ucap Tisa.
"Iya Tisa, sekarang Tisa lagi dimana gitu?" ucap Claudia yang penasaran.
"Lagi di jalan baru pertengahan ini." ucap Tisa.
"Oh iya Tisa, hati-hati dijalannya." ucap Claudia.
"Iya Claudia, nanti aku kabarin lagi ya, kalau udah mau nyampe ke kosan." ucap Tisa.
"Iya Tisa." ucap Claudia.
Percakapan chat pun berakhir, Claudia kemudian mulai merapihkan kamarnya yang sedikit berantakan. Karena tak mungkin jika temannya Tisa datang ke kosan melihat kondisi kosan miliknya yang berantakan ini.
Claudia pun mulai semangat untuk merapihkan terlebih dulu kosannya, sebelum tisa sampai ke kosannya.
Hampir satu jam berlalu, Tisa pun kini mulai mengirim pesan lagi.
"Claudia, aku udah di depan." ucap Tisa dalam chatnya.
"Iya Tisa bentar, aku buka dulu pintunya." ucap Claudia yang langsung membuka pintu kosannya.
Setelah pintu kosannya terbuka, ia pun langsung mempersilakan Tisa untuk masuk ke kosannya.
"Ayo masuk Tisa. Maaf kosannya agak berantakan." ucap Claudia.
"iya Claudia. Nggak kok Claudia, segini rapih nggak berantakan." ucap Tisa.
"Iya sih rapih soalnya baru aku beresin tadi. Hehehe..." ucap Claudia di dalam hatinya.
"Kamu mah bisa aja Tisa, gimana tadi di jalan, kena macet nggak?" ucap Claudia saat Tisa sudah duduk di kosannya.
"Lumayan agak macet Claudia tadi. Makannya agak lama, kan aku ke sini." ucap Tisa.
"Iya sih lumayan agak lama, tapi untungnya nggak lama macetnya Tisa." ucap Claudia yang kini mulai menyiapkan minum dan beberapa cemilan yang ia punya di dalam kosan.
"Hem... iya untung nggak lama macetnya Claudia. Kalau lama aku pasti telat nanti masuk kuliah." ucap Tisa.
"Iya juga ya, em... minum sama makan dulu Tisa cemilannya. Pasti haus karena kena macet. Ya walaupun nggak lama macetnya, tapi kan tetep aja." ucap Claudia menawarkan minum dan juga cemilan.
"Ah iya Claudia aku minum dulu ya. Nana belum sempat sarapan lagi tadi." ucap Tisa yang langsung mengambil minum.
"Karena buru-buru mungkin ya Tisa, jadinya belum sempat sarapan. Em... kalau mau makan di sini juga boleh." ucap Claudia.
"Iya buru-buru tadi, soalnya aku nggak liat grup lagi. Takut ada jadwal pagi, eh ternyata jadwal pagi nggak masuk dosennya. Tau kaya gini agak siangan ke kampus nya tadi. Terus pas tadi aku liat grup waktu di jalan, ternyata malah ada informasi nggak masuk dosennya. Ya, jadinya mau pulang lagi juga males kalau udah di jalan. Makannya aku tadi chat Claudia biar nggak sendiri di kampus. Untungnya langsung di jawab tadi sama Claudia, jadinya kan aku nggak harus nunggu di kampus sendirian. Mana satu jam lebih lagi masuk mata kuliah di jam sepuluh. Kan nanti bosan kalau di kampus sendirian." ucap Tisa menjelaskan cukup panjang.
"Pantes kalau nggak liat grup, jadinya kaget saat liat grup di jalan. Eh iya, mau sekalian makan di sini nggak Tisa?" ucap Claudia yang mengulang lagi ucapannya saat Tisa lupa menjawab pertanyaan.
"Em... maaf Claudia, aku lupa nggak jawab. Nanti aja di kampus, kalau cemilan ini boleh di bukan nggak Claudia?" ucap Tisa yang mulai meminta salah satu cemilan untuk ia buka.
"Buka aja Tisa, nggak papa kok." ucap Claudia.
"Maaciww Claudia, aku buka ya." ucap Tisa yang langsung mengambil salah satu cemilan yang ia mau.
"Iya sama-sama Tisa." ucap Claudia.
Tisa pun kemudian mulai membuka cemilan tersebut. Setelah cemilan itu ia buka, ia pun langsung memakan cemilan itu.
"Em... enak Claudia, rasa apa sih ini enak." ucap Tisa sambil membaca rasa yang tertera di dalam kemasan.
"Kalau nggak salah rasa keju itu." ucap Claudia.
"Ah iya Claudia ternyata memang rasa keju. Enak banget, cobain deh." ucap Tisa.
"Buat Tisa aja, aku lagi nggak pengen makan cemilan." ucap Claudia menolak tawaran Tisa.
"Kalau gitu aku lanjut makan cemilannya ya Claudia. Tapi ini nggak papa kan?" ucap Tisa.
"Iya nggak papa kok Tisa mau abis juga nggak papa." ucap Claudia.
"Maaciw banyak ya Claudia. Hehehe..." ucap Tisa.
"Iya Tisa." ucap Claudia.
Mereka berdua pun melanjutkan lagi bicaranya sambil Tisa menikmati cemilannya. Sementara Claudia menjawab setiap ucapan yang Tida berikan dan begitu pun sebaliknya saat Tisa bertanya Claudia pun menjawab ucapan Tisa.
Sampai tak terasa waktu pun berjalan sangat cepat, kini tersisa 45 menit lagi jam sepuluh. Claudia pun mulai bersiap.
"Udah mau jam setengah sepuluh, mau berangkat jam berapa ke kampus Tisa?" ucap Claudia yang telah melihat jam di handphone miliknya.
"Jam setengah sepuluh aja Claudia." ucap Tisa.
"Boleh, kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu ya, biar enak nanti kalau mau pergi." ucap Claudia.
"Iya boleh Claudia kamu ke kamar mandi dulu aja." ucap Tisa.
"Iya Tisa." ucap Claudia.
Setelah itu, Claudia pun mulai masuk ke kamar mandi. Tiga menit kemudian, Claudia keluar dari kamar mandi.
Ia kemudian mulai memakai kaus kaki karena sebentar lagi akan berangkat ke kampus.
Setelah selesai mengenakan kaus kaki, Claudia pun mulai menggunakan parfum lagi.
"Claudia aku minta parfum nya boleh?" ucap Tisa.
"Boleh Tisa, ini ambil aja." ucap Claudia memberikan parfum yang ia pegang pada Tisa.
Tisa pun langsung mengambil parfum tersebut dari Claudia.
"Aku pakai ya." ucap Tisa yang sedang bersiap untuk memakai parfum tersebut.
"Ia Tisa." ucap Claudia.
Setelah mendengar ucapan Claudia yang bilang iya. Tisa pun langsung memakai parfum tersebut beberapa kali.
"Maaciw ya Claudia, wangi banget parfum nya." ucap Tisa setelah ia mengenakan parfum.
"Iya Tisa wangi." ucap Claudia.
"Beli dimana?" ucap Tisa.
"Bawa dari rumah Tisa, nggak tau beli dimana. Soalnya bawa aja yang ada di rumah." ucap Claudia.
"Kirain ada di sini tempatnya." ucap Tisa.
"Nggak di sini. Tapi kayanya di sini juga ada kalau cari." ucap Claudia.
"Iya juga ya." ucap Tisa
"Iya Tisa." ucap Claudia.
"Oh iya, ini kayanya udah jam setengah sepuluh deh." ucap Claudia yang baru sadar jika mereka berbicara sudah lumayan lama.
"Ah iya, ini udah jam setengah sepuluh lebih lima." ucap Tisa yang telah melihat jam di handphone miliknya.
Bersambung...