Alya adalah mahasiswi cantik yang masih polos. ia sangat manis dan ceria. suatu hari kecelakaan saat mereka pergi berlibur telah menewaskan ibunya.
ayahnya lalu menikah sepeninggal ibunya. lima tahun setelah ayahnya menikah dengan ibunya. ayahnya meninggal karena serangan jantung. kini ia hidup dengan ibu tirinya berdua saja. namun sejam lima bulan meninggalnya ayahnya, ibunya akhirnya memiliki pacar baru. dilema muncul saat calon ayah tirinya jatuh cinta padanya. apa yang harus Alya lakukan dengan keadaan itu. sementara ayah tirinya adalah crussnya saat sekolah dulu. Di balik itu dia punya pacar bernama Anjasmara seorang penderita NPD temperamen yang terlalu mencintainya. Akankan dia bisa menghadapi kedua lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RANGGA EMOSI
"Pa, dari mana saja sih Pa."
"Duh, nanti Papa ceritakan."
"Mama hari ini sudah diperbolehkan pulang Pa."
"Syukurlah."
"Papa bagaimana kok gak ada khawatir sedikit pun sama Mama. Dua hari loh Papa menghilang."
"Kamu terlalu banyak omong sekarang Rangga. Papa lagi capek. Ini papa sempat-sempatin datang ke sini. Harus ya Papa istirahat pulang dari luar kota."
"Ya sudah Pa. Kita ke kamar Mama, mama kangen Papa."
Berdua Bapak dan anak itu ke kamar perempuan tersayang mereka.
"Pa, kemana saja?"
Pertanyaan itu yang langsung keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Wajahnya kuyu. Kantung matanya terlihat jelas. Dia tanpa riasan. Pucat pasi. Wajar karena usianya tak lagi muda. Namun, hal itulah yang membuatnya tidak menarik lagi di mata suaminya.
"Ma, sudah enakan badannya?"
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya malah dia balik tanya. Dia selalu ingin menutupi kesalahannya. Tapi Rangga bisa melihat gelagat Papanya yang sudah mulai berubah beberapa minggu ini.
Istrinya tidak menjawab pertanyaannya tapi malah menatapnya dengan pandangan sayu. Hal itu malah menambah iba Rangga melihatnya. Feeling seorang lelaki, dia tahu bapaknya menyembunyikan sesuatu. Bapaknya sudah main belakang dari ibunya, alias berselingkuh. Dia tahu itu.
"Ma gimana, udah baikan?"
"Sudah, Pa. Mama sudah mendingan apalagi Papa datang sekarang."
"Mama jangan terlalu banyak pikiran dan capek-capek."
"Iya, Pa."
Ia menunggu pelukan suaminya untuk dirinya seperti dulu lagi. Tapi harapan cuma harapan semata. Suaminya enggan mendekat.
"Pa dipeluk dong mama. Kangen loh itu dah hampir dua bulan gan ketemu. Pas Papa banyak di Batam kan terakhir ketemu."
"Iyaa ya.. Dah lama ya Ma."
Dia lalu berangsur mendekati pada istrinya. Perempuan yang dulu pernah sangat dia cintai. Mungkin benar kata orang, bila lelaki sudah main gila, dan berhubungan dengan perempuan lain, mendekat pada pasangan saja enggan. Jin Dasim sedang bekerja untuk memisahkan mereka selamanya.
Dia mendekat tapi benar terasa gambar, hanya sebuah pelukan ritual status sebagai suami saja. Bukan pelukan orang yang rindu kekasih hatinya. Sebentar dan tidak hangat.
Lagi-lagi Rangga bisa melihat itu. Papanya berubah. Seakan enggan dekat mamanya dan seakan ilfil, entahlah.
"Papa, baru turun, masih bau. Pengen mandi dulu."
"Ya tidak apa-apa. Papa sudah datang saja mama sudah senang Pa."
"Kamu temani mama dulu ya, papa mandi dulu."
"Ya, pa, ada handuk kok di kamar mandi, handuk mama."
"Ini papa ada handuk kok."
"Emang kenapa pa, gak mau pakai handuk yang sama dengan mama?"
"Rangga sudah, sudah."
Mamanya mencegahnya untuk mendebat papanya. Dia tahu suaminya capek.
"Kamu apaan sih Rangga nanya kok aneh terus dari tadi."
"Gak pa, Rangga penasaran saja, Papa kemana dua hari ini."
"Rangga sudah...sudah, papamu masih capek, nanti dibicarakan lagi, ya."
"Kamu makin besar makin kelihatan watak aslinya."
"Pa bukan begitu, tapi papa itu beda."
"Beda gimana?"
"Pa, sudah, sudah, aku nanti kumat lagi penyakitnya kalau lihat kalian berantem."
Karena melihat wajah mamanya yang sudah pucat pasi akhirnya Rangga menyurutkan emosinya. Mengalah adalah salah satu hal yang harus dipilihnya sekarang. Kasihan mama katanya.
"Ya sudah, aku mandi dulu."
Papanya langsung pergi ke kamar mandi, tapi tidak jadi bawa handuk yang ada di kopernya. Dia pakai handuk di kamar mandi sepertinya.
karena vivi itu licik