Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
Vol. 1: Arc 1 - 3 (Complete)
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 33: Diskusi Penting
Saat kereta kuda bangsawan tiba di Kerajaan Alfen, seorang pemuda yang mengenakan seragam bangsawan berambut bald fade berwarna abu-abu, sepasang mata berwarna amber menatap ke mata crimson gadis didepannya, paras tampannya terlihat serius, ia turun sambil membukakan pintu untuk mempersilahkan gadis yang ada di dalam kereta kuda untuk keluar.
Gadis itu keluar dari dalam kereta. Pesonanya dapat membuat siapapun terpikat pada paras cantik wajahnya, rambut butterfly haircut pirang panjang yang bergerak sesuai dengan gerakannya yang elegan dan berwibawa saat turun dari tangga di kereta kuda yang dituntun oleh pemuda tersebut, mata crimsonnya menatap ke pemuda yang berada disebelahnya.
"Terimakasih, Ken."
"Tidak masalah, Alice."
Keduanya saling bertukar pandang dalam senyum kecil lalu menatap ke kerajaan yang ada didepan mereka.
Kerajaan yang lebih besar dari Kerajaan Thijam, dengan luas yang lebih luas daripada kerajaan mereka, termasuk dengan para bangsawan disini yang tampaknya menunggu kedatangan mereka.
"Kenapa ini bisa terjadi?" Pikir gadis berambut butterfly haircut pirang panjang, Alice, mencoba untuk mengingat percakapan antara ia dengan kakeknya, Arga di ruangan pribadi raja.
Beberapa hari yang lalu.
Setelah makan malam, ia dipanggil oleh salah satu maid untuk menemui kakeknya, sang raja di ruangan pribadinya. Ia mengikuti perkataan salah satu maid, ditemani oleh Anna menuju ke ruangan pribadi kakeknya.
Dimana disana, ia melihat penasihat itu tetap berdiri di sisi tahta—tersenyum ramah padanya, ia membalas senyumnya. Lalu, penasihat itu keluar dari ruangan tersebut karena tahu mereka memiliki urusan penting, ia tidak ingin menguping pembicaraan mereka melainkan sibuk untuk melakukan urusan lain.
"Cucu perempuanku tercinta, bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Tolong padaku? Tentang apa, Kakek?"
Kakeknya yang memegang janggutnya berwarna putih mirip surai singa, menatap diam-diam pada penampilan cucunya yang mengenakan gaun berwarna putih panjang dengan rok mengembang menutupi kakinya, sangat cantik dan anggun.
"Kenapa Kakek melihatku seperti itu?"
Ada firasat tidak enak, ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh kakeknya padanya.
Yang jelas, dari tatapan kakeknya memperlihatkan kalau ini pembicaraan serius, tanpa ada candaan maupun tawa yang tidak seperti biasanya ia lakukan dengan kakeknya.
"Aku ingin kau datang ke acara pesta minum teh yang diundang oleh Raja dan Ratu di Kerajaan Alfen."
"Kerajaan Alfen?"
"Ya," angguk kakeknya, tatapannya tajam pada cucunya tanpa ada sikap santai maupun canda tawa seperti biasanya.
"Pangeran Dilma dan Putri Rina ingin mengundangmu dalam perjamuan teh."
"Ah, mereka ya."
Tentu ia tahu siapa itu Pangeran Dilma dan Putri Rina, keduanya adalah temannya sejak ia membangun relasi dengan kerajaan lain seperti Kerajaan Alfen disaat ia berusia 15 tahun.
Saat itu, ia berbicara dengan mereka secara formal mengenai urusan kerajaan sekaligus kerjasama yang mereka sepakati. Tapi lama-kelamaan, pembicaraan itu mengarah ke pembicaraan santai tentang kehidupan sehari-hari mereka.
"Apakah kau mau menemui mereka, Alice?" Tatapan tajam diarahkan oleh kakeknya padanya, nadanya tegas dengan sikap kewibawaan sebagai raja, bukan kakek yang dikenal olehnya.
"Ya, aku siap pergi ke sana."
"Bagus."
Wajah gadis itu tampak lega melihat kakeknya tersenyum kecil di wajahnya, tampak senang dengan keputusan yang dibuat oleh cucu perempuannya.
Begitu ia keluar dari ruangan pribadi raja, tanpa sengaja ia melihat temannya yang menguping pembicaraan mereka dari luar.
"Ken, apa yang kamu lakukan disini?"
"Sssttt... tenanglah."
"Hmph! Hmph!"
Ditarik olehnya, gadis di depannya dengan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, tangannya yang lain memeluk tubuhnya untuk membawanya menjauh dari depan ruangan pribadi raja.
Begitu jauh, temannya melepaskannya. Ia tidak terima dengan perlakuan darinya, menatap jengkel padanya.
"Kenapa kamu melakukan itu padaku?!"
"Maaf, aku hanya penasaran atas apa yang kalian bicarakan."
"Ya ampun." Ia menghela nafas panjang lalu menenangkan diri dari amarahnya, menanyakan padanya. "Jadi, apa yang kamu inginkan?"
"Tolong ajak aku!"
"Huh?"
"Ajak aku. Aku akan melindungimu jikalau hal buruk terjadi padamu."
Helaan nafas panjang terdengar darinya. Ia memegang keningnya dengan wajah frustasi, tidak memahami kenapa pria didepannya yang sudah berusia 18 tahun sepertinya masih ingin melindunginya sebagai ksatrianya.
Setahunya, seseorang yang memasuki usia 18 tahun akan melupakan permainan imajinasi mereka saat besar, seperti dirinya dan Eri, tapi Ken malah tidak sama sekali. Bukannya berhenti, ia justru tetap memegang impiannya seolah-olah ia ditakdirkan untuk menjadi ksatrianya di sisinya.
"Kenapa kamu ingin ikut?"
"Untuk melindungimu."
"Aku hargai itu," jawabnya yang diikuti dengan helaan nafas panjang. "Tapi, aku tidak perlu kamu khawatirkan. Aku ditemani oleh Anna dan dua ksatria sebagai penjagaku."
Tetap saja, pria itu tidak terima dengan perkataan gadis didepannya.
"Aku tetap mau ikut!"
"Pria ini..."
Tahu kalau pria di depannya keras kepala, dengan terpaksa ia mengangguk dengan wajah mengeluh, ada helaan nafas panjang dari dirinya lagi terhadap sikap temannya yang tetap sama seperti biasanya.
Hanya itu yang diingat olehnya.
Begitu ia mendekati gerbang kerajaan, kedua ksatria yang berjaga di sana, membukanya—mempersilahkan mereka masuk.
Ia yang ditemani oleh temannya di sisinya memasuki gerbang dengan kedua ksatria di sisi gerbang yang menundukkan kepala mereka, hormat dalam pada sosok gadis itu, gadis itu melihat ksatria lain juga ikut melakukannya di kedua sisi jalan yang dimana jalan yang ditapaki oleh mereka telah diberikan karpet merah seolah-olah menyambut mereka untuk kemari.
"Mereka berlebihan," pikirnya yang tidak terbiasa dengan sambutan mewah, terutama dengan sikap hormat pada para ksatria di kedua jalan terhadapnya.
"Ada apa, Alice-sama?"
"Tidak ada," jawabnya dengan acuh, tidak mempermasalahkan apapun agar Anna tidak memikirkan apa yang dipikirkannya.
Anna hanya terdiam bingung, ada senyum kecil di wajahnya saat melihat gadis itu sungkan untuk menuangkan pemikirannya dalam pembicaraan.
Begitu mereka mendekati pintu ganda berwarna coklat muda setinggi 3 meter, mereka disambut oleh kedua maid yang tersenyum ramah pada mereka, membungkuk hormat seolah-olah keberadaan gadis yang ditemani oleh pria itu di sisinya dengan Anna dibelakang, dan kedua sisi oleh ksatria adalah sosok penting.
"Alice-sama, paduka raja dan ratu menunggu anda di aula umum."
Dengan anggukan sekali, ekspresi seriusnya menatap ke salah satu dari kedua maid, Tillia, wanita berambut hitam panjang dengan sepasang mata berwarna pink yang berparas cantik dengan kulit putih dibalik lekukan tubuhnya yang mengenakan seragam maid-nya.
Tillia yang memahami anggukan tanpa mengatakan apapun, ditemani oleh maid lainnya di sisinya, Aria, wanita yang memiliki rambut putih panjang dengan ujung rambutnya terdapat bor yang melingkar dengan rambutnya yang bergelombang, sepasang mata berwarna biru langit, dengan paras cantik, memiliki lekukan tubuh yang menonjol dibalik seragam maid-nya, mereka memasuki pintu ganda berwarna coklat muda setinggi 3 meter yang mengarah ke lobby.
Ruangan di dalam lobby memiliki luas 5 meter persegi dengan tinggi 5 meter.
Terdapat banyak penghargaan yang dipajang di kedua sisi lobby, tanpa ada sofa untuk duduk karena ini dikhususkan untuk memperlihatkan pencapaian yang dilakukan oleh raja dan ratu terdahulu. Mulai dari; bingkai lukisan yang terpajang di dinding, patung dari marmer putih yang kukuh, serta ada bukti sertifikat kerjasama antara kerajaannya dengan kerajaan lain, termasuk ada bukti Kerajaan Thijam yang bekerjasama dengan Kerajaan Alfen.
"Hei Alice, apakah lobby mereka sama seperti kita?" Didekati olehnya di sisinya, ia berbisik tanpa ada siapapun yang mendengar kecuali ia dan gadis itu.
Gadis itu mengangguk sekali. Ia kemudian menatap ke pria di dekatnya dengan wajah serius, "ya, bisa dikatakan mereka sama. Hanya yang berbeda adalah mereka memajang sertifikat pencapaian mereka," jawabnya dengan nada halus yang juga berbisik pelan padanya.
"Begitu ya."
Pria itu kembali menjauh darinya. Ia tidak pernah terpikirkan kalau lobby memiliki pengaturan sama dengan lobby di kerajaan mereka, hanya saja ada tambahan sertifikat yang dipajang.
Sekilas, rasa penasarannya ingin tahu tentang sesuatu. Tapi, ia tidak mungkin menanyakan sesuatu yang buruk pada kedua maid di depannya karena dapat merusak reputasi gadis itu sebagai ratu berikutnya, ia memilih diam daripada bertanya.
Mereka melewati lobby, memasuki aula umum.
Didalam aula umum, terlihat raja dan ratu duduk di singgasana mereka di atas beberapa anak tangga ditemani oleh kedua penasihat di sisi raja maupun ratu, lantai tersebut terdapat karpet merah dari pintu masuk aula umum ke anak tangga yang mengarah ke kursi tahtanya seukuran 5 meter.
"Yang Mulia."
Dengan melakukan hormat dalam bentuk sopan, dimajukan salah satu kakinya ke depan, ia menekuk sedikit kedua kakinya sambil membungkuk pada raja dan ratu dihadapan mereka, dengan kedua tangannya memegang kedua sisi gaun formal berwarna hitam sepanjang lutut berlengan pendek, dengan hiasan bunga di bagian pinggang yang sempat terangkat sedikit di kedua sisi.
Didekatnya, pria itu meletakkan tangan kanannya di dadanya sambil membungkuk. Dibelakang mereka, Anna melakukan hormat serupa dengan gadis itu, sedangkan kedua ksatria di sisi mereka melakukan hormat dalam seperti yang dilakukan oleh pria itu.
Sang raja mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk berdiri, mereka berdiri tanpa melakukan penghormatan mendalam pada mereka berdua di kursi tahta dihadapan mereka.
"Selamat datang di Kerajaan Alfen, Alice." Meskipun kata-kata sang raja tegas, ekspresinya menampilkan senyum kecil membuat keramahannya dapat dirasakan oleh gadis itu yang ikut membalas senyumannya.
"Bagaimana kondisimu, Alice?"
"Baik-baik saja seperti biasa, Yang Mulia. Bagaimana dengan Yang Mulia?
"Begitu ya." Senyum menghiasi wajah sang ratu selagi mendengar bahwa kabar gadis itu baik-baik saja. "Yah, kamu bisa katakan cukup sulit karena mereka selalu menanyakan kami tentang kabarmu." Ada helaan nafas panjang yang terdengar dari sang ratu membuatnya yakin kalau mengurus kedua anak mereka pasti merepotkan.
"Lupakan tentang itu," tegas sang raja, tidak ingin mengulur waktunya sia-sia selagi menatap serius ke gadis dihadapannya.
Tatapan mata raja yang tajam diarahkan ke kedua maid yang mendampinginya kemari mengisyaratkan mereka untuk meninggalkan tempat ini, kedua maid; Tillia dan Aria mengangguk, mereka membungkuk lalu segera meninggalkan aula umum.
"Anna, bisakah kamu tinggalkan aku?"
Mengetahui kalau akan ada pembicaraan penting, dengan wajah tanpa emosi, sorot mata yang lembut menatap ke arahnya. Ia membungkuk lalu tersenyum kecil padanya.
"Baik, Alice-sama. Kalian berdua, mari kita tunggu diluar ruangan."
"Baik."
Meskipun kedua ksatria ada kekhawatiran di wajah mereka, mereka enggan untuk menetap disini karena mereka tahu itu akan melanggar aturan tidak tertulis yang ditetapkan oleh raja dan ratu di Kerajaan Alfen.
"Yang Mulia, apakah teman saya diizinkan menetap disini?"
"Tidak masalah. Lagipula ia bangsawan juga, kan? Kurasa tidak ada salahnya ia mendengar percakapan kita."
"Baik. Terimakasih atas izinnya."
Menundukkan kepalanya sebagai rasa syukur, ada rasa senang di wajah gadis itu saat tahu kalau sang raja tidak mempermasalahkan temannya untuk tetap di sisinya.
Sejujurnya ia ingin pria itu meninggalkan sisinya, tapi mengetahui sifat keras kepalanya membuatnya menahan diri untuk menyuruhnya meninggalkan tempatnya yang dapat membuang banyak waktu hanya untuk berdebat dengannya.
"Baiklah. Sekarang, darimana kita harus memulainya?"
Sang raja yang bingung, ia memegang dagu selagi melamun lalu menatap ke arahnya dengan wajah serius.
"Alice, apakah benar ada sosok berbahaya mengintai dibalik kegelapan?" Ada rasa penasaran di wajah sang ratu, ia menatap gadis itu dengan keingintahuan yang besar untuk tahu situasi di kerajaannya.
"Ya, bisa dikatakan begitu." Daripada berbohong, gadis itu lebih memilih jujur karena ia yakin dengan cara ini, mereka tidak akan mengirim utusan untuk menyelidiki situasi yang terjadi di kerajaannya.
"Alice, kau–"
"Ken, diamlah! Ini urusan antara kami! Kamu hanya perlu mendengarkannya!"
"Baik."
Tidak bisa melawan ketegasan dan tatapan tajam dari gadis itu, dengan terpaksa pria itu memilih untuk diam karena ia tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi diantara mereka, para petinggi kerajaan.
"Bisakah kamu jelaskan sosok misterius itu?"
"Ya. Sosok itu adalah Blood Queen. Ia memiliki rambut merah gelap panjang, sepasang mata crimson, memiliki kulit putih pucat, mengenakan gaun gothic lolita perpaduan antara merah gelap dan hitam."
"Blood Queen ya."
Sekali lagi, sang raja bergumam dalam lamunan. Ia kemudian mengarahkan tatapan bertanya padanya.
"Apakah ia adalah malapetaka?"
"Malapetaka?" Ada keterkejutan di wajah pria itu, ia tidak tahu sejauh mana Kerajaan Alfen mengetahui situasi yang terjadi di Kerajaan Thijam, khususnya tentang situasi temannya.
"Kalau dipikir-pikir, ia memang malapetaka. Itupun kalau ia berhadapan dengan musuh-musuh yang berniat untuk menyakiti saya."
"Berniat untuk menyakitimu?"
"Apakah ia semacam penjagamu?"
"Tidak," menggelengkan kepala dengan bantahan lembut, gadis itu jelas tidak berpikiran sama seperti sang raja dan ratu mengenai penjelasan minimnya tadi. "Lebih tepatnya ia adalah mangsa yang sulit untuk dikalahkan yang sangat menginginkan saya."
"Menginginkan? Seperti apa?"
Daripada menjawab pertanyaan dari sang ratu, gadis itu membungkuk penuh hormat sambil memegang kedua sisi gaun formalnya dengan kepalanya yang ikut menunduk ke bawah.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak bisa mengatakannya karena saya rasa itu terlalu berbahaya."
"Berbahaya?!"
"Mu-Mungkinkah sosok bernama Blood Queen mengancammu untuk tetap tidak mengatakan apapun?!"
"Ya, bisa dikatakan begitu."
Kekhawatiran mereka menjadi jelas setelah diberitahu olehnya kalau itu adalah rahasia tanpa perlu diberitahu pada mereka berdua.
Raja dan ratu yang memahami hal tersebut, mereka bertukar pandang dengan khawatir lalu menghela nafas panjang—tidak memiliki pilihan lain selain menyerah pada jawaban yang diberitahu oleh gadis didepan mereka.
"Yah, lupakan itu. Apakah itu saja yang ingin kalian bicarakan dengan saya, Yang Mulia?"
"Tidak, masih ada lagi."
Tidak ingin pembicaraan ditutup sampai di sana, sang raja dengan wajah seriusnya menegaskan kata-katanya padanya, ingin tetap membicarakan sesuatu meskipun bukan pembicaraan serius seperti sebelumnya.
"Alice-chan, apakah kamu benar-benar akan menjadi penerus tahta berikutnya?"
Dari nada bicara sang ratu, gadis itu bisa tahu kalau percakapan ini santai jadi ia menurunkan keseriusannya dengan bersikap santai, tersenyum pada sang ratu.
"Ya, aku akan menjadi ratu berikutnya. Bolehkah aku tahu kenapa kamu tanya seperti itu, Tante?"
"Tante?!" Sekali lagi, temannya terkejut mendengarnya. Bukan terkejut karena hal buruk melainkan kata-kata dan sifat yang diperlihatkan oleh temannya berbeda dari dirinya sebelumnya yang serius, kali ini lebih ke sifat santai dan lebih dekat dengan mereka.
"Oi, Alice. Apakah kau tidak masalah berbicara seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Memangnya kenapa?"
"Tidak... hanya saja itu tidak sopan, bukan?"
Sang raja yang dapat memahami ekspresi bingung dari pria itu, tertawa lepas memenuhi ruangan lalu menatapnya dengan wajah ramah tanpa ada serius seperti sebelumnya.
"Itu tidak masalah, Anak Muda. Lagipula ia sudah dekat dengan kami tanpa sepengetahuanmu."
"Ya, itu benar."
Sang ratu memegang pipinya dengan kedua tangannya mencoba mengingat masa lalu dimana gadis itu pernah berkunjung kemari sebelumnya untuk pertama kalinya.
Saat itu, Alice masih canggung karena terlalu tegang dan serius membuat raja dan ratu paham kalau itu adalah kunjungan pertamanya saat ia berusia 15 tahun. Tapi, perlahan-lahan sejak kunjungan pertama selesai, kunjungan berikutnya ia tidak lagi canggung membuat mereka senang atas kedekatan mereka terhadapnya seolah-olah ia adalah putri angkat mereka.
Itulah yang diingat oleh sang ratu mengenai masa lalu tentang mereka yang dekat dengannya.
"Sebetulnya kami berencana untuk bekerjasama dengan kerajaanmu lagi bila Pangeran Dilma memimpin kerajaan ini nanti."
"Dilma ya."
Setahu gadis itu, Dilma merupakan pemuda yang hampir sama seperti Ken, hanya saja perbedaannya adalah ia bisa diandalkan, mampu berjuang sesuai keinginannya sambil mempertahankan statusnya sebagai bangsawan yang berkebalikan dengan yang mengorbankan status bangsawan demi bisa menjadi ksatria disisinya.
"Ya. Itu sebabnya kami akan mempercayakan masa depan hubungan ini padamu dan putra kami."
"Aku tidak keberatan. Selama putra kalian tidak masalah, aku juga tidak masalah."
Mendengar hal tersebut, gadis itu tersenyum sambil menundukkan kepala dihadapan mereka membuat raja dan ratu tersenyum atas kata-katanya yang tulus.
Ken, di sisinya, ia hanya bingung bagaimana bisa temannya sedekat ini pada raja dan ratu di Kerajaan Alfen. Padahal setahunya, gadis itu tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun selain mereka berdua. Tapi mengetahui ini, ia benar-benar tidak tahu sedekat mana gadis di sisinya terhadap mereka, kerajaan lain.
"Ah, benar."
Tiba-tiba sang ratu menepuk tangannya membuat semua orang menatapnya dengan wajah bingung, termasuk sang raja yang duduk disebelahnya di tahtanya.
"Putriku juga ingin tahu tentangmu. Katanya, ia mengundangmu kemari untuk membicarakan tentang sesuatu yang sempat tertunda."
"Rina ya."
Tahu kalau Rina adalah putri kedua kerajaan ini, gadis itu tersenyum membayangkan apa yang dibicarakannya dengannya.
Apa yang dibicarakan oleh Rina dengannya adalah percakapan sederhana, seperti kehidupan sehari-hari, tentang percintaan dan tanggungjawab mereka sebagai penerus tahta berikutnya, tidak ada pembicaraan serius di percakapan mereka.
"Alice, kalau kau tidak keberatan, aku ingin kau menetap disini selama beberapa hari. Tidak masalah, kan?"
"Ya, aku tidak keberatan. Lagipula aku ingin menetap disini untuk membicarakan tentang hal lain pada kalian."
Raja tertawa lepas sekali lagi, ia kemudian tenang lalu menatap gadis itu dengan wajah ramah.
"Kami akan menantikan pembicaraan itu."
"Kalau begitu, terimakasih atas waktu luangnya, Alice-chan. Aku senang atas diskusi singkat dan rahasia ini."
"Tidak masalah."
Gadis itu membungkuk hormat pada mereka, senyum menghiasi wajahnya setelah membungkuk dan menundukkan kepalanya yang sekarang menatap ke mereka.
"Aku senang karena kalian benar-benar ramah padaku."
"Tidak masalah. Anggap saja kami sebagai orang tua angkatmu."
"Orang tua angkat?!" pria itu sekali lagi terkejut, tidak memahami kenapa mereka bisa sedekat itu pada temannya membuatnya penasaran bagaimana gadis di sebelahnya bisa membuat orang lain seakrab itu dengannya.
^^^To be continued...^^^