NovelToon NovelToon
DEBU ORBIT Sang Bintang

DEBU ORBIT Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Romansa-Teen school / Polos / Tamat
Popularitas:90.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Deputi g rahma

🖐❤JANGAN LUPA UBAH KE FAVORITE KALIAN YA, biar ngga ketinggalan update setiap harinya.

like dan vote biar authorr nya semangat nulis🔥🔥

...

Menceritakan kisah Raya. Gadis flat dengan persahabatannya bersama Alula gadis polos.

Entah apa yang membuat Raya selalu dihantui kisah persahabatannya yang kian mirip dengan cerita Debu dan Bintang. persahabatnnya mulai merenggang, namun Alula tetap lah bintang yang bersinar berbeda dengan Raya yang hanya menetap dalam zonanya.
Semakin dalam, sosok misterius membuka awal kisah romantis remaja SMA.


“Motor sialan !!! apes banget sih. Gerutu Raya dalam hati. Gara-gara motor sport merah yang barusan lewat headsetnya menjadi korban tabrak lari.
Bagaimana persahabatan mereka akan di uji dari sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deputi g rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Kisah Angkasa dan Demam Gerimis Malam

●●●hay.... up aku masih anget nih hehhee

●●● semoga kalian semua masih terhibur dan ngga bosan" ketemu Raya dan Lula ya..

●●●btw author minta maaf sekali lagi kalau coment kalian kadang ngga kebalas tapi aku bacain kok selalu hehe

so... enjoy... dan tetap jaga kesehatan kalian semua❤❤❤❤🥰

.

.

.

.

.

__________

Sepulangnnya Angkasa mengantar Raya sampai dengan selamat. Ia tidak benar-benar langsung pulang juga, walau sebenarnya itu sudah menunjukkan waktu malam. Ia menghabiskan waktu beberapa jam di suatu tempat dan barulah memutuskan untuk pulang setelahnya.

“Bagus, selalu pulang jam segini!!!”

Angkasa yang baru saja masuk melewati pintu utama rumahnya terhenti dan berbalik menatap Ayahnya.

“Asa!! kamu tahu ini jam berapa?” lanjut ayahnya bertanya.

“Tahu.. ”

“Dan kamu dengan santai selalu pulang di jam begini?”

“Sayangnya saya terbiasa seperti ini sejak kecil.”

“ASA!” rahang Aksa mengeras mendengar ucapan santai anaknya. Terlintas di pikrannya apa ini semua karena keputusannya dulu mengirim Angkasa jauh dari mereka.

Flashback on

“Huwaaaa..aa..aaa pak guru ada yang berkelahi,” ucap seorang gadis kecil melaporkan sebuah kegaduhan di kelasnya. Dan yang membuat kegaduhan tersebut adalah saudara kembar teman sekelasnya sendiri. yaitu Angksa kecil dan Tama kecil.

“Adek kan yang duluan ngambil tempat di samping Cici!”

“Ngga! Abang juga mau duduk di situ Sa kamu pindah aja.”

Karena tidak ada yang ingin mengalah, kedua kakak beradik itu terlibat saling pukul ringan hanya untuk memperebutkan sebuah kursi di samping seorang gadis.

Akibat yang mereka terima di akhirnya adalah tentu saja guru harus memanggil orang tua mereka. Aksa selaku ayah sudah dibuat kelimpungan menghadapi anak kembarnya. Ini bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali. Puncaknya adalah kali ini. Aksa seakan telah mempersiapkan sebuah keputusan untuk memisahkan kedua anaknya.

Ia berpikir jalan satu-satunya hanya mengirim salah satu anaknya untuk dititipkan kepada keluarga besarnya, Kakek dan Nenek Angkasa.

Entah apa yang membuatnya memutuskan bahwa Angkasa lah yang harus pergi. Mungkin saat itu menurut Aksa itulah jalan terbaik, melihat kedua anaknya itu selalu berkelahi. Namun tidak untuk Angkasa kecil. Angkasa masih memendam kekecewaan sekaligus mempertanyakan mengapa harus ia yang pergi bukan Tama kakaknya. Menambah kekecewaannya lagi bahkan selama 4 tahun keluarganya sama sekali tidak mengunjunginya.

Flashback off

Tanpa ada kata-kata lebih Angkasa pergi menuju kamarnya.

.

.

.

***

.

Esok paginya.. saat ingin berangkat ke sekolah.

“Asa, yuk sarapan dulu,” ucap Alenia memanggil anaknya.

Angkasa tersenyum tulus pada bundanya, “Iya bun.”

Namun langkah Angkasa terhenti di depan meja makan saat matanya melihat kehadiran ayahnya yang sama-sama berada di sana. Baru ingin membatalkan niatnya tatapan Alenia menyiratkan sebuah permohonan untuk dirinya agar tetap bisa sarapan bersama. Alhasil Angkasa terpaksa maju, lalu menarik salah satu kursi di meja makan.

“Oh iya nanti untuk akhir tahun ayah punya rencana liburan sekeluarga ke bali gimana? Kalian juga akan libur beberapa hari kan?”

Aksa memulai pembicaraan saat dirasa aktivitas makan mereka telah usai. Wajah excited Alenia membuat Angkasa samar-samar ikut bahagia. Namun dalam hati ia hanya menganggap perkataan ayahnya barusan adalah omong kosong belaka.

“Tama setuju kok Yah! Disana nanti kita bisa divingan kan?” ucap Tama menambah.

Angkasa tersenyum sinis. Divingan ya, hahaha untuk definisi kata kita mungkin tepat, karena hanya untuk lo dan ayah aja, Batinnya.

Pasalnya Angkasa sangat tidak suka dengan aktivitas satu itu, dan ia cukup yakin jika Tama tahu soal itu. well, sebenarnya Angkasa tidak peduli juga. Ia sudah terbiasa tidak ikut dalam acara hobi kakanya dan ayahnya itu.

Tidak ingin merespon pembicaraan itu, Angkasa mendorong kursinya pelan, “Bun Asa pamit ke sekolah ya, takut telat entar.”

Ingin berbalik, suara Tama malah memanggilnya.

“Eh Sa! Gue nebeng ya, biasa motor gue lagi di bengkel nih hehe,” ucap Tama dengan nada akrab seperti selayaknya saudara. Tapi nyatanya mereka tidak akrap sama sekali.

“Bukannya lo punya mobil?” balas tanya dari Angkasa.

“Apa susahnya nganterin abang kamu Sa, dia Cuma minta tebengan ngga lebih”

Angkasa terdiam. See.. tidak usah di tanya apa yang akan Angkasa rasa dalam hatinya. Ayahnya seakan hanya mementingkan Tama. Padahal ia hanya sekedar bertanya saja, belum juga menolaknya.

.

.

.

.

Di lain tempat jika dibandingkan dengan Angkasa yang sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, lain halnya dengan seorang gadis yang meringkuk di dalam selimutnya.

Raya bukannya tidak ingin bangkit dari kasurnya hanya saja kepalanya terasa sangat berat dan badannya menggingil di dalam selimut.

TOK.. TOK.. TOK

“Raya! Anak ayah udah bangung belum sih?”

Belum ada jawaban sama sekali.

TOK TOK

“Raya?”

Raya sebenarnya ingin sekali menjawab panggilan ayahnya namun suaranya tidak keluar. Rasa pusingnya mendominasi.

Merasa tidak kunjung ada respon dari anaknya, Genta akhirnya mengambil kunci cadangan dan membukanya dengan cepat. Raut khawatirnya terbukti setelah matanya melihat kondisi Raya yang menggigil di dalam selimut bergambar Panet itu.

“Astaga Raya, kamu kenapa? Ini badan kamu juga panas loh.”

Genta yang khawatir langsung berpikir jalan yang harus ia ambil adalah membawa anaknya ke RS. Baru ingin mengangkat Raya untuk segerah pergi ke RS, tangan Genta ditahan oleh Raya.

Dengan susah payah Raya bersuara, “Ra.. ya.. ngga.. mau ke rumah sakit yah, Ra.. ya ngga mau!”

Genta tahu jika sebenarnya Raya trauma datang ke tempat itu akibat kematian istrinya beberapa tahun yang lalu. Tapi saat ini ia sangat khawatir. Seketika memorinya menyala, ia mengingat jika ada temannya yang bernama Alex adalah seorang dokter umum. Tangannya lalu bergerak cepat menghubungi Alex.

Beberapa menit kemudian barulah teman Genta, Alex datang untuk memeriksa Raya.

“Lo tenang aja Ta, anak lo Cuma demam doang kok.”

“Hah? Lo serius kan.”

“Ya elah, yang dokter di sini siapa hah? Kagak percayaan banget si lo.”

Akhirnya dalam hati Genta bisa merasa lega. Tapi setelah ia pikir-pikir lagi ada kemungkinan juga Raya bisa demam karena semalam memang agak gerimis.

“Ayah yang lebay ternyata,” ucap Alex tanpa sadar.

“Apa lo bilang?”

“Iya, Lo ayah yang lebay, anak lo demam aja lebaynya kayak gini apa lagi dia nikah.”

Oh oke, Alex seperti salah mengucapkan sesuatu. Alhasil ia langsung mendapatkan jitakkan oleh Genta.

“Gila ya lo, kagak ada nikah-nikah. Anak gue itu milik gue seorang asal lo tahu.”

Dalam hatinya Genta sama sekali tidak membayangkan jika nanti perkataan Alex terjadi. Mungkin nanti jika pun akan ada waktunya untuk anaknya akan menikah, dirinya harus menyiapkan beberapa rintangan untuk calon menantunya kelak.

“Oh iya lo udah kabarin calon lo belum? Bukannya masalah kayak gini mungkin bisa di tanganin sama cewek juga kan.”

Sejenak hal itu membuat Genta berpikir. Benar juga manusia kadal ini. Kadang perkataannya ada benarnya, ngga sia-sia dia jadi dokter, batin Genta tidak jelas. Setelahnya Genta langsung menghubungi Aulia, dan untung saja wanita itu tidak keberatan untuk datang merawat Raya.

.

.

.

.

.

.

.

.

bersambung............

jejaknya kk heheh

like

coment

vote

tapi jika ingin aja ngga maksa kok beneran deh😳😳😳

1
Nita Sari
kak. knp ceritanya menggantung gini
ChocoMUffin
Haiii aku mampir nih. maaf baru bisa mampir sekarang. Ceritamu bagus. semangat yaaa. bikin karya baru dong
Dhea Sukma
Semangat...
Mampir ya ke Novelku, WITHOUT YOU dan MENGENANG JEJAK MASA LALU
slv
kok tamat sih kk..... upp dong kk
Nona Bucin 18294
hai kak aku mampir salken dari Mama muda 😊💜💜😊
R_armylove ❤❤❤❤
semangat ya
R_armylove ❤❤❤❤
hay.. mampir
RN
5 like datang lagi kk feedback totok pembangkit saling dukung kk
Neti Jalia
nyicil boom like lagi🤗🙏
R_armylove ❤❤❤❤
jejak, nyicil baca
R_armylove ❤❤❤❤
mampir kaka
im_ha
5 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
Mikayla
Ayo donk kak d terusin,,,
★Merepotkan~
like like like ~🌳🎉
★Merepotkan~
Semangat terus thor, dah mampir nih ane tuk dukung ente 🌲✌️
Neti Jalia
boom lik dari.
*hujan dibalik punggung
*suamiku cek ganas
Neti Jalia
10 likedm dari
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas
Fira Ummu Arfi
sukaaaaaaa
Fira Ummu Arfi
likeeeee mendarat kakkk
Fira Ummu Arfi
pembaca setiaaa hadirrr 💃💃💃💃

tinggalin jejak jg di Novel ku ya ASIYAH AKHIR ZAMAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!