NovelToon NovelToon
Love Quest

Love Quest

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Frendaa

Freya, seorang wanita karir yang terbilang cukup sukses di usia nya 27 tahun, koma dalam kecelakaan.

Dalam situasi komanya, sosok yang tidak dikenal mengirim jiwa Freya ke dunia game otome yang selalu ia mainkan, untuk selamat dari koma, Freya diharuskan menaklukan semua tokoh utama pria disana agar bisa kembali sehat di dunia nyata.

Game selalu mudah dimainkan, tapi bagaimana jika sekali mati langsung game over?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frendaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Menuju Hal Besar Bagian 4

Angin terus berhembus menerja tubuh Freya yang sudah kedinginan daritadi, kedua kakinya gemetar dingin atau mungkin sedikit ketakutan. Wajahnya melongo tak percaya dengan jalan buntu di depannya, ia sempat menengok ke sekelilingnya tapi percuma, hanya kegelapan yang dilihatnya.

"Aneh ... jelas-jelas dia tadi masuk ke sini?" gumam Freya. "Apa jangan-jangan ada belokan yang kita lewati?" lanjutnya sambil melihat sekeliling.

"Seharusnya tidak ada, Nona. Begini-begini saya mantan Scout-Archer, sejauh penglihatan saya tidak ada jalan yang kita lewati," jelas Olivia yang sambil melihat sekeliling seperti Freya. "Ngomong-ngomong, Nona, bisa lepaskan tangan saya? Saya sudah mulai kesakitan."

"Oh, maaf," ucap Freya secara refleks langsung melepaskan genggamannya pada tangan Olivia.

Kalau sampai seorang scout bilang seperti itu, seperti memang tidak ada jalan lain yang kita lewati. Tapi aneh, apa orang itu memanjat ke atas gedung? Tapi kenapa? Apa jangan-jangan... dia tau sedang diikuti? Gawat.

"Olivia, ayo kita pergi dari sini," ucap Freya terburu-buru dengan wajah pucat.

Saat kakinya hendak melangkah untuk pergi dari situ, tiba-tiba ada suara langkah kaki di belakang mereka. Karena situasi gang yang sunyi, langkah yang biasa saja bisa terdengar sangat jelas.

"Siapa disana?!" teriak Olivia memutar balikkan tubuhnya sambil melindungi Freya.

"Aku mengira anjing kerajaan yang sedang mengikutiku, ternyata hanya dua tikus kecil tersesat yang terlalu penasaran."

Terdengar suara pria tepat di belakang mereka, tapi sosoknya berhenti melangkah dan bersembunyi dalam kegelapan. Suara itu terdengar berat seperti pria dewasa, begitu mencengkam dengan kata-kata sinis yang merendahkan Freya dan Olivia.

"Siapa yang berbicara?" tanya Olivia yang semakin waspada.

"Siapakah aku bukan urusan kalian, ada baiknya kalian pergi dari tempat ini," ucap pria itu sangat dingin.

Begitu pria itu berbicara, Olivia gemetar sekujur tubuhnya. Dari belakang, Freya bisa melihat Olivia gemetar ketakutan, meskipun begitu ia tetap berusaha melindungi Freya.

Pria ini ... tadi seharusnya di depan kita, tapi sekarang dia tiba-tiba di belakang. Tak salah lagi, dia masuk ke gang karena sadar sedang diamati, lalu memanjat gedung dan mengamati dari atas, dan sekarang berdiri tepat di belakang kita. Jelas-jelas bukan amatiran, apa yang harus kita lakukan?

"Sepertinya aku terlalu baik jika mempersilahkan kalian pergi," ucap pria itu yang suaranya mulai menjauhi Freya dan Olivia. "Karena sudah ada tikus disini, sekalian biar kucoba percobaannya," lanjutnya dengan nada sedikit senang.

Saat pria itu berbicara tentang percobaan, Olivia dan Freya sudah memasang kuda-kuda untuk melawan, berpikir serangan apa yang akan datang. Tapi percaya diri itu seketika runtuh ketika mereka melihat sekumpulan cahaya merah dari dalam kegelapan, lama kelamaan cahaya itu semakin mendekat sampai membuat Freya dan Olivia melihat sosoknya.

Ketika sudah melihat sosoknya, Freya dan Olivia kaget bukan main, mata Freya terbuka sangat lebar, dan keringat mulai turun dari dahi.

Ada 4 orang pria dewasa berhadapan dengan Freya dan Olivia, mereka seperti dikendalikan, bergerak ketika diperintahkan. Tubuh mereka sangat tegang dan kaku, mata mereka merah menyala dan fokus pada satu arah bersamaan, wajahnya pun tanpa ekspresi sama sekali.

"Kutukan Mata Merah ...?" gumam Freya sambil gemeteran.

Ketika Freya menyebutkan Kutukan Mata Merah, Olivia semakin gemetar, bahkan wajahnya tidak bisa dibuat tenang lagi ketika melihat bahaya di depannya.

"Baiklah. Bunuh mereka," ucap pria itu yang sangat dingin memerintahkan boneka di depannya lalu menghilang dari kegelapan.

Begitu perintah disebutkan, keempat pria itu langsung serentak memandang Freya dan Olivia, tatapannya terasa begitu intens dan dingin, seolah mengamati suatu objek untuk segara dimusnahkan. Ketika sedang diamati, Olivia langsung memasang kuda-kuda dan tangan dikepal untuk melawan tapi tubuhnya tetap gemetar ketakutan. Sebelum ia sempat menarik nafas, tiba-tiba salah satu pria itu langsung berjalan dengan gerakan kaku tapi kecepatan yang diluar nalar membuat kaget Olivia.

Olivia sadar serangan akan datang, tapi ia terlambat bereaksi, pria itu dengan sigap menggenggam tangan Olivia dan melemparnya ke tembok dengan sangat keras, kepalanya terbentur keras dengan tembok tapi Olivia masih memiliki kesadaran.

"Olivia!" teriak Freya melihat Olivia dilempar keras.

Begitu terbentur pandangan Olivia langsung buram, telinganya berdenging hebat membuatnya terpaksa terjatuh duduk. Ditengah kesakitannya ia melihat Freya sedang tidak dalam perlindungan membuatnya mencoba untuk bangun meskipun ia baru saja dilempar oleh pria dewasa.

"No-nona Freya!" teriak Olivia merintih kesakitan sambil berusaha bangun.

Freya yang sedang dikepung oleh 4 orang masih mencoba tenang, ia juga memasang kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangannya, siap untuk memukul siapapun yang mendekat. Ketika satu orang mendekat kearahnya, Freya langsung saja menendang tepat diantara kedua kakinya membuat pria itu langsung terjatuh sambil memegang alat vitalnya, tidak ada reaksi apapun, tidak ada teriakan, tapi pria itu terus memegang alat vitalnya seolah kesakitan.

"Meskipun sedang dikendalikan, sepertinya sakit masih berfungsi pada mereka," ucap Freya dengan tenang melihat kondisi pria yang seperti tengah kesakitan.

Baru saja Freya membuang nafas lega, ketiga orang lainnya bersiap untuk mencengkram Freya. Tapi Freya tau apa yang harus ia lakukan, dirinya masih tenang dan siap untuk menendang lagi seperti yang dilakukan kepada pria sebelumnya, tapi saat Freya dengan cepat melancarkan tendangan lagi, pria yang diserangnya berhasil menahan tendangan Freya dan berhasil menggenggam kakinya, seolah ia sudah memprediksi hal itu.

Situasi sudah berbalik—atau tidak pernah sama sekali—karena Freya sedari awal sudah dikepung empat pria. Freya yang mencoba tenang kini sangat panik, ia berusaha melepaskan kakinya dari genggaman yang sangat erat, tapi beberapa kali Freya menarik kakinya itu percuma, genggamannya sangat erat dan keras, hampir tidak mungkin Freya yang seorang gadis bisa lepas dari genggaman pria dewasa.

Saat Freya masih kesulitan untuk melepaskan genggamannya, tiba tiba.

Srak!

Tangan dari pria yang menggenggam kaki Freya bercucuran darah, rupanya Olivia datang membantu dengan belati ditangannya, belati itu ditusuk sangat dalam pada bagian atas tangan si pria, lalu dengan sekuat tenaga Olivia menarik belatinya sampai bawah lengan membuat luka robek yang cukup besar, sehingga tangan itu tidak bisa menggenggam kaki Freya lagi. Setelah itu Olivia kembali berdiri di depan Freya dan melindunginya.

"Jangan dekat-dekat dengan majikanku, dasar brengsek," ancam Olivia sambil mengangkat belatinya yang berlumuran darah ke depan.

"Olivia kamu tidak apa-apa?" tanya Freya khawatir.

"Hanya sedikit terbentur, Nona. Aku tidak apa-apa," jawab Olivia yang masih memegang bagian belakang kepalanya.

Pria yang tangannya dirobek hanya diam berlutut sambil berusaha menutup lukanya dengan lengan, ia tidak berteriak ataupun merintih kesakitan, tetapi pergerakannya seperti orang kesakitan yang panik lengannya robek, namun wajahnya sangat datar dan netral. Melihat kejadian aneh di depannya membuat Freya dan Olivia merasa jijik dan aneh dengan keadaan yang tidak manusiawi di depannya.

Kini 3 lawan 2, pria yang ditendang oleh Freya kini sudah kembali berdiri, masih kalah jumlah, tapi meskipun 2 lawan 2 Olivia yakin masih tetap akan kalah karena Freya yang tidak bisa bertarung. Tak ada cara lain, Olivia berpikir untuk kabur saja dari gang itu. Tapi percuma, Olivia melihat jalan keluar hanya satu, dan para manusia yang dikendalikan ini menutup satu-satunya jalan keluar.

Ditengah Olivia memandang jalan keluar, satu pria menerjang dengan sangat cepat membuatnya tidak sempat bereaksi lagi. Saat tinju dari pria itu hampir mengenai muka Olivia, ia hanya bisa menutup mata berharap pukulannya tidak terlalu sakit, tiba-tiba.

Brak!

Suara benturan keras menggema di gang itu, pria yang menerjang Olivia terpental ke samping dan menghantam dinding gang. Olivia dan Freya membeku, melihat ada seseorang yang sangat dikenal membantunya.

"Bram?!" teriak Freya dan Olivia terkejut melihat Bram.

"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Bram yang kemudian bersebelahan dengan Olivia sambil waspada pada pria mata merah tersia.

"Kau sangat lama bodoh!" ucap Olivia dengan marah kepada Bram.

"Kalau begitu aku minta maaf," jawab Bram yang pasrah dimarahi oleh Olivia. Olivia pun tak berkata apapun lagi, ia hanya mengatur nafasnya selagi bisa, dan tak ada stamina untuk bertengkar dengan Bram.

Olivia dan Bram melihat pria yang terpental sudah bangun kembali, pria yang tangannya sobek pun membiarkan lukanya dan bersiap bertarung kembali. Ekspresi mereka sangat dingin, dan pergerakan mereka sangat kaku.

"Apa-apaan mereka ini? Apa mereka manusia?" tanya Bram yang kebingungan.

"Tidak tau. Yang terpenting, setidaknya Nona Freya selamat," ucap Olivia yang sama jijiknya melihat keempat pria itu, dan Bram hanya mengangguk setuju.

Situasi kembali menjadi 4 lawan 3, Olivia mengangkat belatinya, "Bagaimana? Apa bisa kita kabur?"

"Mungkin, haha," ucap Bram yang tertawa garing sambil menguatkan kuda-kuda dan kepalan tangannya.

Olivia dan Bram sudah siap, apapun yang terjadi mereka hanya akan menyelamatkan Freya saja. Saat mereka hendak maju—

Jleb!

Suara pedang menembus dada salah satu pria, belum sempat Olivia dan Bram bereaksi pedang itu dicabut dan Splurt! Darah keluar semua dari dadanya, tusukan itu persis tepat di jantung, membuat tubuh pria yang ditusuk jatuh tengkurap kedepan, dan darahnya masih bercucuran.

Olivia dan Bram membeku, apa yang sebenarnya terjadi? Setelah tubuh itu terjatuh, dibaliknya ada sosok yang familiar bagi Freya memegang pedang dengan sangat gagah.

"Kapten Emma?!" teriak Freya terkejut menganga.

Itu adalah Kapten Royal Knight, Emma Hartwell. Satu telah tumbang, Emma melihat dingin Olivia dan Bram yang masih terkejut.

"Apa kalian hanya akan berdiam diri saja disana?" tanya Emma dengan dingin. "Kalian urus satu itu, biar aku urus dua yang ini," ucapnya tenang berhadapan dengan dua pria yang masih saja kaku meskipun salah satu temannya tumbang.

Bram dan Olivia saling menatap dan mengangguk satu sama lain, ini adalah waktunya melawan. Dengan cepat Bram menaruh uppercut pada si pria, ditambah beberapa pukulan ke wajah. Ketika si pria terpojok tanpa melawan, Olivia memberikan pukulan terakhir, belati ditangannya langsung ditusukkan ke leher pria itu, dan ia pun terjatuh dengan darah bercucuran. Bram dan Olivia hanya memperhatikan sambil mengatur nafas mereka, Freya kagum dengan aksi yang ditampilkan oleh Bram dan Olivia.

Lalu pandangan mereka beralih ke Emma yang sedari tadi tidak ada suara perlawanan. Tak disangka, dua pria lainnya sudah tumbang, kepala mereka lepas dari tubuhnya, darah masih mengalir keluar dari leher, dan Emma hanya diam sambil membersihkan pedangnya ketimbang wajahnya yang penuh cipratan darah. Dalam momen itu Freya melihat kengerian sesungguhnya.

1
Nia Achelashvili
keren banget thor, aku suka karakter tokohnya!
Frenda: makasih :3
total 1 replies
Ff Gilgamesh
semangat💪💪
Trunks
Teruslah menulis dan mempersembahkan cerita yang menakjubkan ini, thor!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!