Bertengkarnya Mama dan Papa Erin,membuat Mama Erin pergi entah kemana dan Papa Erin disibukkan oleh keluarga barunya.Sehingga Erin tinggal sendirian dirumahnya tanpa pengawasan orangtua.
Rafan,teman sekelas Erin juga orang yang selalu berdebat dengannya.Tiba-tiba datang ke rumah Erin dalam keadaan mabuk dan dibawah kendali obat perangsang.
Membuat Rafan melakukan hal yang tidak terduga,yaitu mengambil mahkota Erin.Karena tidak orang di dalam rumah itu kecuali mereka berdua,membuat kejadian itu tidak bisa dicegah.
Kejadian itu membuat Rafan harus tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.Membuat mereka harus menikah dini.
Erin adalah gadis yang bertubuh mungil dan memiliki sifat yang jahil.Rafan,laki-laki yang memiliki wajah yang tampan,pewaris keluarga konglomerat,cuek juga emosian.
Bagaimana jika kedua orang tersebut disatukan dengan hubungan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon InaNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
"Lo semalam cerita apa ke Erin?" tanya Rafan tajam dengan mata seakan ingin membunuh orang yang dihadapannya.
"Ya,aktivitas panas yang kita lakuin itu."jawab Naomi enteng dan mencoba seakan tidak takut dengan Rafan.
Rafan tersenyum sinis,Erin hanya mendengarkan dengan baik tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
" Lo tau nggak? orang yang main-main dengan gue,bisa mati atau paling kecil masuk penjara."kata Rafan.
"Eummm kita memang melakukan itu." kata Naomi dengan ada sedikit kegugupan.
"Ck,kita bisa lihat CCTV club itu,dan setiap disudut pintu kamarnya ada CCTV bukan?" kata Rafan menaik-turunkan alis tebalnya.
Naomi hanya diam,bibirnya berwarna pucat pasi,dan tangannya gemetaran dibawah.
Brakk
Rafan mengebrak meja,Erin dan Naomi terkejut.Mata Rafan menatap Naomi seakan mau membunuh.
"Lo tau nggak?masalah kecil kalau sama gue,bisa menjadi masalah yang sangat besar." kata Rafan.
Naomi hanya tunduk,tidak berani menatap Rafan.
"Lo bilang yang sebenarnya ke Erin!" perintah Rafan.
Naomi diam.
"Cepat!" teriak Rafan.
"Erin,itu......." kata Naomi gugup.
"Gue percaya kok,kalau itu tidak terjadi." kata Erin menyahut duluan.
"Ini udah kedua kalinya,gue lepasin lo,tapi tidak untuk ketiga kalinya." kata Rafan.
"Jangan macam-macam dengan gue,terutama dengan Erin." kata Rafan datar.
Erin melihat Naomi kasian,tapi untuk memberi nya kesempatan untuk menjadi sahabat lagi,Erin sudah tidak mau lagi.
"I iya." jawab Naomi gugup.
Rafan menarik tangan Erin kemobil,dan mengemudi mobilnya meninggalkan Naomi sendirian.
"Aaaaaaa." teriak Naomi frustasi.
Semua pengunjung cafe melihat Naomi dengan berbagai raut wajah.
"Apa liat-liat?" kata Naomi judes.
Pengunjung kafe pun kembali melanjutkan aktivitas nya.Dan tidak mempedulikan Naomi lagi.
"Lo sudah percaya kan?" tanya Rafan sambil mengemudi.
"Hm." dehem Erin sambil melihat kearah luar jendela.
Erin berpikir dengan tanda tanya yang besar dikepalanya.
Apakah Rafan sudah tau,kalau Naomi yang menjebaknya.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasaran nya,Erin memberanikan diri untuk bertanya.
"Ka..u sudah tau kalau Naomi yang menjebakmu malam itu?"tanya Erin.
" Hm,rupanya lo sudah tau yang sebenarnya."kata Rafan.
"Jangan bilang kalau kamu sudah tau dari dulu." kata Erin.
"Iya,dua hari setelah kita nikah,gue mencari taunya."
"Kenapa kau tidak membilangnya dari dulu dengan ku?" kata Erin dengan nada marah.
"Apakah terlalu penting?" tanya Rafan santai.
"Penting,sangat,sangat penting." kata Erin geram.
Rafan hanya diam dan tidak menghiraukan Erin.Erin melihat itu hanya mendengus kesal.
"Lain kali jangan pernah percaya Naomi,dia itu ular berbisa." kata Rafan mengalihkan pembicaraan.
Rafan menghentikan mobil didepan restoran.Menoleh kesamping melihat Erin.
"Kita makan dulu." kata Rafan lalu turun,Erin pun menyusul.
Erin dan Rafan makan tanpa ada pembicaraan,tiba-tiba mata Erin melotot saat melihat seseorang,perasaan takutnya muncul.
"Raf,itu...itu." kata Erin gugup menunjuk seorang sedang makan dengan tenang.Orang itu tidak menyadari Erin sedang menunjuk nya
Rafan bingung dan melihat arah tunjukkan Erin,mengernyit dahi karena hanya melihat orang makan.
"Memang kenapa?" tanya Rafan curiga.
"Dia yang semalam ngejar aku." kata Erin cepat.
"Maksudnya?"tanya Rafan yang masih juga tidak mengerti.
"Dia itu,ngejar aku semalam saat pulang dari supermarket." kata Erin lebih pelan.
"Apa?" tanya Rafan marah.
"Iya,aku juga nggak tau,kenapa dia ngejar aku." kata Erin.
"Yang mana orangnya?" kata Rafan tajam.
"Itu yang makai warna baju biru gelap." tunjuk Erin.
Rafan berdiri dan ingin menghampiri nya dengan tangan terkepal,Erin mencekatnya.
"Jangan." kata Erin.
Rafan diam dan melepaskan tangan Erin.
"Kumohon aku takut disini."mohon Erin dengan hampir menangis.
Rafan akhirnya luluh dan duduk kembali.Lalu mengambil handphonenya dan memfoto orang itu dan mengirimnya ke seseorang.
" Bereskan."kata Rafan menelpon seseorang
semangat buat novel lagi kak