NovelToon NovelToon
Perfect Bad Fiance

Perfect Bad Fiance

Status: tamat
Genre:Ketos / Tamat
Popularitas:612.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: fieksel259

BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN

Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.

Jika takdir meminta mereka bersama

Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu

Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan

Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghinaan

"Al, Oma baru aja pulang. Tiba-tiba aja ada keperluan mendadak" Ucap Killa pada sang putra yang matanya tetap terarah kepada Bianca. Killa tersenyum tipis, ia tak menduga jika sang mertua akan bersikap seperti itu terhadap Bianca yang bernotabene sebagai tunangan Alvaro.

"Kalian berdua turun makan siang ya? Kita selesaikan makan kita" Ucap wanita paruh baya itu lagi dengan nada suara yang begitu lembut.

Tatapan Bianca terarah kepada Alvaro, mengode laki-laki itu agar tak turut makam siang karena ia sudah tak memiliki selera lagi.

Alvaro menghela nafasnya pelan, ia paham dengan kode perempuan itu yang kelihatannya masih tersinggung, "Bianca lagi datang bulan Bun, nanti Alvaro bawa makanannya ke sini aja" Ucapnya terhadap Killa. Tangan Alvaro ia letakkan di pundak Bianca, "...kasian dia" Sambungnya kemudian.

"Ya udah kalau gitu, Bianca istirahat nanti Alvaro bawain makanan kamu" Ucap Killa dengan penuh perhatian.

"Makasih Tante"

"Ayo Al" Alvaro menuruti perkataan sang Bunda, ia melangkah keluar dari kamar sang tunangan dan meninggalkan perempuan itu yang masih memasang wajah murungnya.

Hari beranjak malam, Bianca belum juga keluar dari kamarnya sejak siang tadi. Membuat Alvaro terpaksa mengantarkan makanan ke kamarnya karena jika tidak sang Bunda akan memarahinya karena telah membuat Bianca sakit.

Alvaro membuka pintu kamar tersebut, menemukan Bianca yang tengah mengeringkan rambut panjangnya dengan hairdryer. Menatap pada Bianca yang masih berada di depan cermin dengan piyama berlengan pendek dengan celananya yang pendek.

Alvaro masuk tanpa permisi, menaruh makanan tersebut di atas nakas, "Nih"

Bianca menatap pada makanan yang merupakan menu makan siang yang ia buat bersama laki-laki itu, "Nggak nafsu gue" Ketusnya, lalu beranjak baik ke tempat tidurnya dan berbaring dengan rambut yang sudah tak terlalu basah lagi.

Mata Alvaro yang setajam elang menatap kepada Bianca yang memunggungi dirinya, "Bi" Memanggil dengan nada suara dingin.

"Hm?"

"Bangun" Ketus laki-laki itu.

"Ck, ngomong aja sih. Repot banget" Enggan menuruti kemauan Alvaro. Ia memilih untuk memeluk gulingnya yang empuk itu.

"Bangun gue bilang" Dengan paksa Alvaro menarik tangan Bianca hingga membuat perempuan itu terduduk. Nampak tatapan dingin dipancarkan oleh sorot mata Bianca.

"Hm?"

Alvaro memajukan wajahnya kepada Bianca hingga membuat perempuan itu refleks memundurkan kepalanya agar tercipta jarak di antara mereka, "Lo bisa masak? Lo ngebohongin gue? Maksud lo apa?" Geram Alvaro. Ia menahan emosi itu di balik wajah dinginnya sedari siang tadi semenjak Bianca mulai memotong bahan masakan dengan begitu rapi.

Bianca memutar bola matanya malas, bahkan masalah sepele ini dibicarakan oleh seorang ketua OSIS seperti Alvaro, "Ck, harus banget tuh masalah sepele dibahas?" Gerutunya tak suka.

Alvaro tetaplah Alvaro, laki-laki yang kasar terhadap Bianca semenjak perempuan itu meremehkannya, ia bahkan tak segan-segan melayangkan tamparannya terhadap perempuan tersebut. Laki-laki itu mencengkram bahu Bianca dengan tangannya yang kekar, melempar tatapan tajam kepada gadis itu, "Asal lo tahu ya, gue udah ngeluarin banyak uang cuma untuk makan kita sehari-hari sedangkan lo berbohong kalau lo gak bisa masak" Ucapnya dengan nada suara di tekankan.

"Lo-nya aja yang mudah ketipu" Bianca mengatakan dengan acuh. Jujur ia kesakitan dengan tangan Alvaro yang mencengkram bahunya. Hanya saja dalam pola pikirnya, sedikit saja ia meringis kesakitan. Maka laki-laki itu akan menganggap dirinya menang.

Alvaro melepas cengkeramannya, ia berdiri tegak dan melempar tatapan yang sangat dingin kepada sang tunangan, "Habisin makanan lo, habis itu taruh di dapur piringnya" Ucapnya sembari melangkah pergi.

"Lo udah cuci piring?" Tanya Bianca. Soalnya ia tak ada keluar kamar jadi ia tak tahu apakah cucian piring bekas makan siang tadi sudah dibereskan atau belum.

Alvaro tersenyum miring, ia melirik pada Bianca, "Kan itu tugas lo" Ucapnya dengan penuh kuasa lalu keluar dari kamar Bianca, tak lupa menutup kamar perempuan itu.

"Ck, Alvaro mah" Gerutu Bianca sekesal mungkin.

. . .

Usai makan malam yang Bianca lakukan di kamarnya, perempuan itu beralih untuk mencuci piring yang ada di wastafel. Bukan karena ia adalah perempuan pembersih, hanya saja ia tak suka menggunakan barang-barang basah saat ia memerlukannya.

Usai dengan kegiatan cuci piring, Bianca memilih kembali masuk ke dalam kamarnya setelah mematikan semua lampu di ruang tamu dan ruang tengah. Ia tak ingin tagihan listrik membengkak akibat mereka yang tak bisa menggunakan listrik itu dengan efektif.

Bianca menaiki tangga, tapi sebuah suara telepon terdengar di telinganya dari kamar Alvaro. Tak heran ia bisa mendengar suara percakapan mereka dengan jelas. Di sini hanya ada dirinya dan Alvaro, di dalam ruangan yang akan begitu hening saat tak ada perdebatan antara mereka berdua.

"Apa spesialnya perempuan itu"

"Bagaimana bisa kedua orang tuamu memilihkan calon istri seperti dirinya?"

"Bahkan perempuan itu sangat tak tahu diri hingga pergi meninggalkan meja makan"

"Apa yang beban keluarga itu perbuat hingga bisa-bisanya kamu menerima pertunangan ini?"

"Oma..."

Oh, ngomongin gue, batin Bianca. Ia tak peduli dengan cibiran itu hanya saja ia memperhatikan dan mendengarkan sang tunangan apakah laki-laki itu akan membela dirinya?

"Apa? Memang benar kan? Bahkan ia terlihat seperti seorang pemalas yang pantas disebut sebagai sampah masyarakat bahkan perempuan itu memasang wajah sok polos nan lugu seperti seorang ******* berkedok gadis lugu"

"Oma bahkan enggan menemuinya lagi"

"Iya Oma"

Tut..Tut..Tut..

Bianca benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengarkan. Laki-laki itu bahkan tak memiliki sedikit pun niat untuk membela tunangannya yang kini ikut menjaga nama keluarganya. Dengan seenaknya mengatakan 'iya' pada orang yang sudah menghina tunangannya sendiri.

Oh salah, Bianca bukanlah seorang tunangan Alvaro. Ia hanya orang asing yang dipaksa menggunakan sebuah cincin dan kini menumpang hidup dengan laki-laki pengecut seperti Alvaro. Perempuan itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Alvaro.

Sekolah...

Saat jam istirahat berlangsung Bianca melangkah sendirian di koridor. Tatapannya terkesan dingin dan tajam, raut wajah judesnya kini semakin menjadi-jadi hingga ia terlihat seperti seorang preman.

"Ck, ada mata gak sih lo?!" Bentak Bianca saat seorang perempuan yang seangkatan dengan dirinya menabrak Bianca. Tak sakit, hanya saja perempuan yang dalam keadaan mood tak baik itu kini menjadi marah besar dan siap melampiaskan emosinya.

Perempuan itu menatap takut pada Bianca yang dikenal sebagai pembuat onar di SMA Xanendra, ditambah dengan ekspresi perempuan itu. Seperti akan memakan dirinya saja, "Sorry, gak sengaja" Ucapnya dengan keberanian yang tak seberapa dengan rasa takutnya.

Bianca semakin menajamkan sorot matanya, ia mencengkram kerah seragam perempuan tersebut dengan kemarahan yang sudah memuncak, "Niat minta maaf gak sih?!"

"Yang penting kan gue udah minta maaf" Balas perempuan itu lagi. Entah keberanian dari mana yang ia dapatkan hingga bisa menyahuti Bianca.

"Tapi lo nggak ikhlas"

"Oke, i'm sorry"

"Nggak usah sok Inggris lo jadi orang" Balas Bianca lagi. Semuanya saja serba salah di mata perempuan tersebut.

"Kenapa ini?" Suara itu mengalihkan pandangan dua perempuan tersebut. Bianca melepaskan cengkramannya terhadap perempuan tersebut. Tatapannya yang setajam elang kini mengarah pada tangan Alvaro yang menarik perempuan itu ke belakang punggungnya.

"Dia Kak" Adu siswi itu pada sang ketua OSIS yang cukup populer di kalangan siswi.

"Kenapa sih lo selalu bikin masalah?" Ketus Alvaro dengan tatapan yang mengarah pada Bianca yang kini menatap sengit pada dirinya. Ia cukup lelah mengurus masalah yang ditimbulkan oleh perempuan tersebut.

"Lindungin aja terus, gak ada otak lo jadi orang" Nada suaranya seperti menyindir Alvaro yang melindungi gadis kecil yang terlihat seperti domba tersesat itu di belakang tubuhnya yang atletis.

Alvaro melirik kepada gadis kecil di belakangnya, ia kembali menatap pada Bianca, "Ikut gue" Ia menarik tangan perempuan itu untuk meninggalkan koridor sekolah.

"Lepas" Berusaha melepaskan cekalan tangan Alvaro terhadap lengannya. Ia merasa ilfeel pada laki-laki tersebut, sudah banyak yang sudah membuatnya risih dan ilfeel seperti ini. Dan Alvaro salah satunya.

"Jangan buat gue marah" Ketus Alvaro pada Bianca.

Bianca menghempaskan tangan itu daripadanya, membuat tatapan elang Alvaro mengintimidasinya, "Keluarga lo yang buat gue semarah ini" Ucap Bianca dengan wajah memerah akibat emosinya tersebut.

Alvaro merasa ada yang tak beres dengan arah pembicaraan kali ini. Ia menarik perempuan itu ke belakang taman sekolah dan menyudutkannya di balik tembok yang ada di situ.

"Maksud lo apa?" Amarah Alvaro memuncak saat perempuan itu menyinggung keluarganya.

Bianca menatap pada mata Alvaro, tak ada ketakutan padanya untuk menatap Alvaro, ia sama sekali bukan perempuan lemah, "Selama gue hidup, gak ada orang yang bisa ngerendahin gue serendah-rendahnya bahkan lebih rendah dari binatang. Dan Oma lo, ngelakuin itu" Perkataan itu di tekankan Bianca, membuktikan jika ia benar-benar geram.

Membuat Alvaro mengernyitkan dahinya menandakan jika ia tak mengerti akan arah pembicaraan perempuan yang bernotabene sebagai tunangannya tersebut.

"Lo pikir gue nggak dengar obrolan lo sama Oma di telepon malam tadi? Gue dengar Al, semuanya" Ucapan itu membuat Alvaro diam seribu bahasa. Rupanya Bianca mendengar pembicaraannya dengan sang Oma yang menghina Bianca.

"...bisa-bisanya ya keluarga lo ngomong hal yang aneh-aneh tentang gue, ahh gue lupa bahkan manusia di hadapan gue pernah mengatakannya bahkan sering" Menatap Alvaro dari ujung rambut sampai ujung sepatunya dengan tatapan dingin.

"Serendah itu ya gue di hadapan keluarga lo? Sebegitu tidak layaknya gue sampai harus dihina dengan begitu keji" Kembali menatap pada Alvaro yang masih berdiri di hadapannya tersebut.

"Gue beban keluarga, sampah masyarakat, gembel, bahkan *******. Memangnya Oma lo pernah ngeliat gue kayak gitu? Hah?!" Membentak Alvaro dengan amarahnya yang sudah memuncak. Ia membutuhkan pelampiasan akan unek-uneknya.

"Gue punya emosi Al, gue bisa tersinggung sama perkataan seseorang..." Bianca menjeda perkataannya. Ia menatap lekat pada Alvaro. "Dan ini udah benar-benar keterlaluan"

Bianca kini mengangkat jari telunjuk dan mengarahkan kepada Alvaro, "Dan lo, nggak ada niat sekali pun untuk membela gue. Lo cuma diam, dengan artian lo setuju dengan opini Oma lo" menusuk-nusuk dada Alvaro dengan geram.

"Gue emang bukan siapa-siapa lo Al, tapi apa salahnya lo ngebela gue? Atau lo memang menganggap gue rendahan sama apa yang Oma lo itu bilang!"

Mendengar Omanya dijadikan titik permasalahan, jelas Alvaro tak menerimanya. Ia mencengkram bahu gadis itu sambil melebarkan matanya yang tajam.

"Sampe tulang gue remuk pun, lo nggak akan pernah merasa bersalah Al. Sedikit pun!" Bentakan itu lantas membuat Alvaro melepaskan cengkraman tangannya.

"Lo tahu, saat mendengar fitnah yang Oma lo bilang. Gue sempat berpikir, gue udah dapat fitnah lalu kenapa nggak gue ubah sikap gue layaknya fitnah tersebut!"

"Tapi gue masih punya akal, ingat Al gue bukan cuma menjaga nama baik Sendrawan tapi nama keluarga lo ikut serta gue jaga saat cincin ini melingkar di tangan gue" Menunjukkan cincin yang masih ada di jari manisnya kepada Alvaro. Menunjukkan jika ia memang menjadi bagian dari keluarga Danendra kelak. Entahlah, sebenarnya ia pun tak menginginkannya, "...jadi gue harap lo jaga sikap dengan gue atau gue benar-benar mewujudkan fitnah Oma lo itu" Bianca meninggalkan Alvaro yang tak ia berikan sedikitpun waktu untuk berbicara. Ia benar-benar geram kali ini, tak ada yang tak marah saat harga dirinya direndahkan.

Tiba-tiba, butiran kecil yang berwarna putih menodai tubuh Bianca. Ia baru sampai di dekat koridor musibah kini menimpanya. Perempuan itu menatap tajam ke arah Elvano dan Samuel yang kini tertawa begitu keras.

"Yhaa, kapan lagi kan kita bisa ngerjain ketua O--SIS. Eh Bianca" Wajah itu langsung pucat melihat tatapan tajam dari seorang Bianca yang mengarah kepada mereka. Sepertinya mereka salah korban.

Bianca yang masih terbakar api emosi lantas mencengkram kuat kerah baju dua laki-laki itu. Membuat Elvano dan Samuel cukup takut, mereka tak pernah melawan seorang perempuan sejauh ini.

"Tanggung jawab gak lo berdua" Ucap Bianca dengan geram.

"Eh, so-sorry Bi. Gue pikir tadi Alvaro yang bakal lewat" Jelas Samuel. Ia cukup takut melihat tatapan tajam Bianca, sepertinya perempuan itu benar-benar marah.

"Gue nggak mau tahu, tanggung jawab atau gue buat lo berdua kena masalah" Gertak Bianca. Ia tak pandang bulu, semuanya sama saja. Tinjuannya berlaku pada setiap kalangan yang sudah berbuat kurang ajar. Perempuan itu melepaskan cengkraman tangannya daripada kerah baju Elvano dan juga Samuel.

"I-iya Bi iya"

"Koperasi sekolah cepat" Bisik Elvano.

"Eh i-iya" Berlarilah dua laki-laki tersebut menuju koperasi untuk mendapatkan seragam perempuan tanpa menanyakan ukurannya.

"Pake ini, tunggu di toilet. Biar gue antar seragam buat lo" Alvaro melangkah melewati Bianca sembari melemparkan hoodie hitam yang ia kenakan kepada Bianca.

"Hm" Bianca menatap acuh pada Alvaro, ia masih begitu kesal pada laki-laki itu. "Ukuran L" Ucapnya kemudian, ia tak ingin mengenakan seragam yang tak pas di tubuhnya.

"Hm" Alvaro terus melangkah dengan wajah datar. Ia cukup terkejut dengan perkataan Bianca yang ampuh mengunci kedua bibirnya dan membuat kosong otaknya yang berguna untuk menyusun kalimat di setiap perdebatan yang ia hadapi.

1
kyoww
WOI AKU TERAKHIR BACA 2021🤣
Lhisa Amira Nhatasya
jd mls baca, jd Bianca kok cepat bgt memaafkn, pdhal sdh di hina, ditampar, ksih plajaran kek dlu sm si al
Fereinchsovetsky
kok nggak ada novel my cold husband
Defi
Al maksud kamu memang baik, membangun usaha sendiri sampai waktu untuk Bianca gak ada tapi terfikir ga sih, kalau-kalau Bianca sudah bersama yang lain apa ga tambah nyesek tuh 😮‍💨😮‍💨
Defi
ikutan mewek juga 🥲..
Defi
seharusnya memang kamu ga melakukannya meskipun tidak seperti Bianca bayangkan Juan 🙄
Defi
kamu ketahuan 😂😂.. diluar perkiraan ya, biasanya gelud aja eh rupanya punya hubungan 😂🤣
Defi
visual tokohnya cantik-cantik dan ganteng
Defi
Ga apa-apa Bi, Alvaro juga memiliki perasaan yang sama tapi ada yang mengganjal ya soalnya Alvaro lagi ingat sahabat kecilnya, apa jangan-jangan itu Bianca
Defi
Jessi siapanya Al inih
Defi
Dibalik sikap Bianca yang keras tersimpan rasa sakit yang dalam
Defi
Apa Bianca pernah dilecehkan ya
Defi
Sikap mereka sudah mulai mencair sih makanya terlihat manis kan 😂
Defi
Bianca pernah dekat sama Juan di masa lalu 🤔
Defi
Pantas saja Aldo bilang ke Alvaro kalau Alvaro salah mengeluarkan Bianca dari genk ternyata Bianca memang benar-benar pintar
Defi
tapi sikapnya yang egois dan arogan tetap saja ga mau mengakui salah dan Bianca juga yang disalahkan
Defi
Bagus Bi, udah saatnya kamu bersuara biar Oma dan Alvaro terbuka matanya
Defi
Wajar sih mulut Alvaro kalau ngomong pedas rupanya nurun dari sang Oma
Defi
Alvaro egois 😂
Defi
Bakalan bertemu setiap waktu dan tentunya ributnya juga 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!