NovelToon NovelToon
Sang Pemuda

Sang Pemuda

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:897.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Anissah

⚠️ 21+

Perasaan yang menggebu itu, semakin membuat Adi nekat. Saat restu dari sang ibunda, tak kunjung juga ia dapatkan untuk menikahi pujaan hatinya tersebut. Ia berniat menggunakan cara licik, dengan cara menghamili pujaan hatinya terlebih dahulu. Agar mudah untuk mendapatkan restu dari sang ibunda, saat pujaan hatinya sudah mengandung.

Namun, sayang sekali. Pernikahan siri tanpa sepengetahuan keluarganya, harus dilakukan segera sesaat setelah dirinya digrebek oleh warga sekitar. Ia terpaksa menikahi pujaan hatinya secara siri, untuk menghindari hukuman syariat di daerah tersebut.

Pernikahan itu sangatlah membuatnya bahagia, hingga ia melupakan bahwa pernikahan mereka masih secara agama saja. Ia ingin memberitahu keluarganya, saat pujaan hatinya sudah mengandung buah cinta dari pernikahan siri mereka.

Ayo ikuti cerita Adi, dalam takaran kecil sejarah hidupnya.

Novel ini dalam tahap revisi,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Kemudian aku menceritakan kejadian di rumah makan Sunda itu. Haris menyimak ceritaku dengan sesekali mengangguk mengerti.

"Heran aku, kok ada perempuan macam Dinda. Kenapa dia malah tak suka laki-lakinya pulang untuknya." ucapku setelah selesai menceritakannya pada Haris.

"Kenapa tak kau tanyakan langsung padanya?" sahut Haris kemudian.

"Lepas nangis dia langsung bikin list makanan." balasku mengingat Dinda waktu di dalam mobil bersamaku.

~

Aku sudah menghabiskan telor mata sapi buatan Dinda. Dia membuatkan sesuai dengan keinginanku. Sekarang aku sedang berada di ruang bermain bersama anak-anak. Dinda sibuk dengan Kinasyah yang sedikit rewel, mungkin ia sudah mengantuk.

"Papah, katanya aku mau tinggal di rumah Papah nanti." ucap Givan yang masih membawa jamur crispy.

"Sini Papah bantuin makannya biar cepat abis." ucapku dengan memintanya duduk lebih dekat denganku. Dan Givan pun menuruti perintahku, "Iya, tinggal di rumah papah di provinsi A. Di sana ada sungai buat mandi rame-rame, di depan rumah Papah ada lapangan bolanya juga." lanjuku menceritakan sedikit tentang rumahku.

"Tapi Mamah bilang, rumah Papah serem. Paling ujung sendiri, ke sananya hutan kopi semua." balas Givan dengan sedikit memainkan tangannya.

"Itu ladang, bukan hutan!" tuturku membetulkan ucapannya.

"Hutan! Aku pernah video call waktu Mamah di sana." terang Givan dengan memberikan perhatiannya padaku.

"Iya, tapi disebutnya ladang Bang Givan!" ujarku memberitahukan padanya. Kenapa ini anak keras kepala sekali, tetap menyebutnya hutan.

"Ah, Papah tuh gak tau. Kesel aku tuh!" ujarnya dan berlalu dariku. Dasar kloningan Dinda, begitulah hasilnya.

Aku masih di sini. Bermain dengan Ken, anak pertama Haris. Dia sangat pendiam, bersuara ketika ditanya saja. Aku tak tahu pasti kenapa Haris bisa menjadi duda juga. Haris menikah saat masih berstatus menjadi mahasiswa. Aku pun tau istrinya. Istrinya berasal dari kota L provinsi A. Terlihat ketika dulu mereka menjalin kasih, keduanya sama-sama saling mencintai. Ternyata cinta saja tak mampu menguatkan rumah tangganya.

"ADUH SAKIT!" teriakan yang sepertinya suara Dinda.

"Maaf Mah." ucap Givan yang terdengar pelan. Karena aku masih di dalam ruang bermain.

"GAK MAU! SAKIIIIIIIT." terdengar Dinda meraung keras dan sepertinya menangis.

"Mamah maaf. Maaf Mah, Abang janji gak gitu lagi!" ucap Givan yang mencoba memeluk ibunya yang menangis memeluk kakinya sendiri. Aduh tragedi apa lagi ini.

Tangis Dinda sepertinya bukan pura-pura. Sebenarnya apa yang terjadi antara ibu dan anak ini.

Saat aku berjalan mendekati mereka, Haris telah sampai lebih dulu di lokasi kejadian.

"Dek, namanya juga anak-anak. Udahlah tak usah nangis begitu. Nanti Kin bangun." tutur Haris yang hendak menggendong Givan dan membawanya pergi.

"Sakit sekali kah? Mau Abang periksa?" ucap Haris sebelum dirinya berlalu. Dinda hanya menggeleng dan masih menangis. Lalu Haris membawa Givan menuju halaman belakang rumahnya.

Aku bingung mau bagaimana. Tapi langkah kakiku menuju ke Dinda, "Kenapa Dek? Sini Abang bantu bangun." ucapku setelah berdiam diri menyaksikan Dinda yang masih menangis saja.

Aku mendengar suara, "Ssssstt, hhhusst." aku mengedarkan pandanganku. Ternyata suara dari salah satu pengasuh Ken Kin. Dia melambaikan tangannya, memintaku untuk mendekat padanya.

"Ada apa?" tanyaku menghampirinya.

"Jangan keras-keras ngomongnya!" bisiknya dengan suara tertahan.

"Ok, ada apa?" sahutku dengan suara pelan.

"Biarin aja. Udah biasa. Nanti juga akak diem sendiri. Ditinggal aja, jangan di situ Abangnya." ungkap pengasuh Ken Kin tersebut.

"Ok!" balasku pelan dan berlalu pergi ke halaman belakang menghampiri Haris yang tadi membawa Givan juga.

"Ris." panggilku pada Haris yang sedang menggendong Givan dan mengelus punggungnya.

Lalu Haris menghampiriku, "Adek masih nangis, Di?" tanya Haris, aku menganggukkan kepalaku.

"Cengeng tuh mendarah daging betul. Dia sering begini sama anaknya juga." lanjut Haris mulai bercerita.

"Gimana kejadiannya? Kenapa sampai bisa nangis?" balasku menimpali.

"Emaknya memang cengeng. Tadi cuma main perang-perangan, kepalanya ketimpuk mainan yang dilempar Givan. Eh langsung meraung-raung tuh perempuan." jelas Haris yang masih mencoba menidurkan Givan sepertinya.

"Ternyata Dinda macam ini." sahutku terkekeh kecil. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata dibalik sifatnya yang demikian, Dinda memiliki sifat kekanak-kanakan menurutku. Dalam kurun waktu tidak terlalu lama, ia sudah dua kali menangis. Hanya karena masalah yang sepele, menurutku.

"Ayo katanya mau bobo sama Mamah." ucap Dinda yang tiba-tiba muncul di belakangku. Suaranya terdengar masih ngambek. Sama anak sendiri aja dia begini. Pasti yang jadi suaminya merasa sesak betul menghadapi Dinda ini.

"Maaf Mamah." tutur anaknya yang ingin menggapai ibunya.

"Janji gak bakal kasar sama Mamah lagi? Janji gak bakal ngulangin kesalahan yang sama?" ungkap Dinda mengacungkan jari kelingkingnya.

"Iya, aku janji gak kasar ke Mamah lagi. Janji juga gak ngulang kesalahan yang sama." jawab Givan sedikit takut lalu menautkan jari kelingkingnya dengan ibunya.

"Bagus, anak Mamah kan anak sholeh, anak baik budi." ungkap Dinda mengambil alih menggendong Givan.

"Tapi bolehkan aku mencoba kesalahan lain yang belum pernah aku lakukan?" ucap Givan polos. Kenapa ini anak cerdas sekali.

Dinda mendelik tajam pada Givan yang ada dipelukannya, "Untung anak sendiri." tutur Dinda kemudian.

Aku dan Haris tertawa terbahak-bahak mendengar mereka berdua ini. Mereka cuek saja dan berlalu pergi.

"Ris, sejak kapan sih kau bercerai dengan Sukma?" tanyaku membuka obrolan setelah selesai tertawa.

"Baru dua bulan sekarang. Tapi dengar-dengar katanya udah nikah lagi dia, padahal belum siap masa iddah." jawab Haris yang terlihat berpikir.

"Ada perempuan idaman lain kah?" sahutku yang memang penasaran.

"Tak juga. Rumah tangga kalau masih campur tangan orang tua memang tak bakal awet." balasnya kemudian.

"Hampir sembilan tahun kan kau berumah tangga?" balasku yang di angguki Haris.

"Kenapa tak bisa dipertahankan?" lanjutku menunggu jawabannya.

"Ya itu pertanyaan yang selalu muncul dibenakku. Dia izin pulang ke provinsi A, tapi yang kembali malah surat perceraian." jawabnya dengan prihatin. Heran juga aku, ada pula yang begini.

"Kau udah jemput dia di sana?" tanyaku, Haris hanya mengangguk. Lalu ia menawarkan kopi padaku. Aku paham, Haris ingin mengalihkan pembicaraan kami.

Saat aku hendak ingin pulang, aku di panggil oleh Dinda, "Bang Adi!" serunya sedikit berteriak.

Dinda berlari ke arahku, dengan mengecek tote bagnya. Mau apa lagi dia?

"Hati-hati Dek!" seru Haris dari depan pintu rumahnya saat Dinda hendak masuk ke dalam mobilku.

"Yakin Givan mau ditinggal di sini?" tanyaku sambil menyalakan mesin mobil.

"Ya masa mau dibawa Bang." sahut Dinda duduk di sebelah kursiku.

"Memang kau tak mau pulang kah?" balasku mulai menjalankan mobilku.

"Temenin aku ke tempat Bang Frans, ok?" ucap Dinda dengan mengambil ponselku yang ada di dasbor mobil, "Pinjam ya Bang!" lanjutnya kemudian.

"Mau apa Dek?" tanyaku menoleh sesaat pada ponselku yang berada di tangannya.

"Paket dataku habis, mau tethering." ucapnya santai, "Pinnya?" lanjutnya menoleh padaku.

"0406" balasku memberitahunya. Dinda mengangguk dan tak lama menaruh lagi ponselku di dasbor mobil.

"Ikutin arahan aku ya Bang." ucap Dinda kemudian memberikan petunjuk arah. Ternyata tujuan kami ke bengkel mobil yang sudah tutup. Dinda mengajakku turun dan menggandengku menuju bagian belakang bengkel.

Dinda menyapa beberapa laki-laki yang ada di sana, aku tersenyum ramah menanggapi sapaan dari mereka.

"Ada di dalam nih Din. Kapnya aku ganti, coba cocok gak sama selera kau." ucap Frans mengajak Dinda masuk ke dalam bengkelnya melalui pintu yang terdapat di situ.

Rupanya Frans bisa mengeluarkan mobil Dinda yang disita. Terlihat masih ada bekas darah yang mengering pada kap mobil lama yang masih tergeletak di situ. Aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana kejadiannya.

Aku terkejut mendengar raungan deru mesin dari mobil Dinda. Aku melihatnya yang berada di tempat kemudi. Aku jadi penasaran bagaimana Dinda kalau sedang beraksi.

Dinda mematikan kembali mesin mobilnya, dan keluar lalu membuka kap mobil. Aku mendekatinya, dan Frans yang berada di sampingnya.

Sekilas tampak simpel saja dengan mobil berwarna putih ini. Seperti ganti kap mesin serat karbon juga kaki-kaki yang lebih pendek bergaya balap.

Namun, penampilan yang simpel ini ternyata masih menyimpan satu kejutan dibagian jantung pacu. Mesin memang menggunakan jantung pacu bawaan. Beberapa modifikasi dimulai dengan mengganti camshapt, turbo, pompa bahan bakar dan lain sebagainya. Seluruh mesin dikendalikan dan disalurkan dengan ECU buatan T******d, Datatec Standalone.

Dengan racikan tersebut, H*nda J*zz GK ini mampu memompa tenaga hingga 480 dk. Keren sekali bukan.

"Jadi berapa banyak aku harus membayarnya Bang?" ucap Dinda berhadapan dengan Frans.

"Cukup bayar dengan kau yang main di arena saja. Bagaimana?" sahut Frans dengan tersenyum. Dinda nampak berpikir dan menatapku. Dan Frans yang juga berbalik menatapku. Aku menaikan kedua alisku, apa maksud mereka berdua?

TBC.

Hai semuanya, support aku yuk dengan cara LIKE, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐, VOTE, COMENT 😁, dan tap ❤️ FAVORIT juga agar dapat notifikasi dari cerita ini.

Terimakasih 🥰

1
Komsatun Komsatun
👍 karya kak Nisa selalu jadi candu
fa_zhra
cerita novel nya bagus,pengin lanjut tp ko part nya panjang2 bgt ya
IG : anissah_31: iya kak, sengaja kak 😄
total 1 replies
fa_zhra
aku ngintip novel lanjutan nya panjang kali kak episode nya
fa_zhra
ini satu2 nya novel yg kubaca pemeran nya ga pke jaim2 an😂
IG : anissah_31: nanti gak kenyang kalau jaim, Kak 😆
total 1 replies
Komsatun Komsatun
ceritanya seru bikin nagih
Nuzulur Rahmi
ceritanya bagus dan lucu
Komsatun Komsatun
selalu enak di baca author semangat karyamu selalu di hati
Komsatun Komsatun
tetep aja seneng bacanya walaupun udah pernah d baca
Komsatun Komsatun
kesel kesel lama lama jatuh cinta
Yunia Spm
keren
Komsatun Komsatun
selalu seneng baca karya author
Darnisah Isda
tebakan ku di awal bener..
Darnisah Isda
alhamdulillah pejantan aku ga suka keluyuran.. ga suka nongkrong di warkop apalagi nongkrong sama kawannya. lebih suka nongkrong dg laptop dan kerjaan nya aja... kadang aku yg bosan liatnya..
Darnisah Isda
aku nebaknya devi pelaku santet
Darnisah Isda
egois kan yg namanya laki-laki... Adi aja bekas orang...
Darnisah Isda
pungo kah = gila kau ya...
Darnisah Isda
sudah kuduga.. propinsi Aceh khususnya Aceh Tengah.. daerah bener meriah...
Rozekhien☘️
aku mampir dr awal baca kayanya enak bahasanya gk berbelit-belit singkat jelas enak dibaca
IG : anissah_31: novelnya sequelnya banyak kak, baca yg lain juga 😁
total 1 replies
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
lanjut
IG : anissah_31: lanjut baca karya aku yang lain juga kak 😁
total 1 replies
Yulia Dewi Arizki Yulia
baru tau kalo hur baca dari awAl baru paham🙏🙏✌️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!