>>>SEASON 1<<<
Natasha yang dijodohkan dengan Fadhil, sabatnya sendiri. Harus menelan pil pahit ketika pacar Fadhil kembali disaat Natasha sudah menikah dengan Fadhil.
Lalu apa jadinya, ketika Natasha hamil, Pacar Fadhil juga mengaku hamil setelah berhasil menjebak Fadhil di saat mereka sudah putus.
Akankah Natasha memaafkan Fadhil dan menerimanya kembali? Atau memilih merelakan suaminya untuk wanita lain?
>>>SEASON 2<<<
Nazira Taraan, Anak dari Natasha.
Dan Nabilla Anastasya, Anak dari mantan Pacar Fadhil. Beranjak dewasa bersama, walaupun sering diperlakukan berbeda.
Ana, sapaan untuk Nabilla Anastasya. Gadis malang itu tidak tahu, mengapa dia diperlakukan berbeda.
Sampai dia harus dijodohkan dengan Alfath. Yang bermaksud hanya untuk mendapatkan Anak dari rahim Ana. Karena istrinya mandul.
Ana yang padahal sudah memiliki pacar saat itu tidak punya pilihan, kecuali menuruti keinginan keluarganya.
Akankah penderitaan Ana terbayarka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Yang Sesungguhnya Part III
Kami akhirnya memilih untuk periksa di tempat lain.
Kini Dokternya seorang wanita. Terlihat cukup ramah.
Aku menceritakan semua kejadiannya pada dokter tersebut.
"Memang gitu, itu karena kehamilannya masih terlalu awal. Jadi memang belum terdeteksi USG. Coba tunggu sampai satu minggu. Terus baru di USG lagi."
"Oh gitu yaa dok ?"
Dokter itu mengangguk dan tersenyum sangat ramah. Memberikan kami titik terangnya.
Kami kembali kerumah. Setelah mengantarku pulang, Alfath langsung pergi ke kantor. Aku masuk dan langsung mendapati Yoga yang sedang celingak-celinguk di dapur.
"Cari apa ?" Tanyaku penasaran.
"Gak ada yang bisa di makan yaa ?" Tanya nya sambil garuk-garuk kepala bagian belakangnya.
"Iyaa, aku belum sempat belanja."
"Yaudah, ayo aku temani kamu belanja." Ucap Yoga semangat.
"Sekarang ?" Tanyaku sambil melirik jam yang melingkar di tanganku.
Yoga mengangguk.
Akhirnya, kami pergi berbelanja.
"Gimana kuliahmu ?" Tanyaku di sela-sela kesibukan kami memilih makanan dan keperluan lainnya.
"Sekarang lagi libur semester."
"Jadi kapan kamu balik lagi ke sana ?"
"Dua minggu lagi."
"Hemmm..." Aku mengangguk.
"Kamu mau ikut aku aja ?" Tanya nya dengan tatapan serius.
"Ngaco deh. Mana bisa."
"Kenapa gak bisa ?"
"Jangan lupa ada pekerjaan yang harus aku selesaikan disini."
"Ikut untuk sementara aja. Bilang aja kamu mau liburan."
Aku menggeleng. Dan menolak dengan senyum.
Aku mempercepat langkahku menuju kasir.
Setelah selesai kami sempatkan diri untuk makan dulu. Setelah itu baru pulang.
***
*Pov Alfath.*
Setelah mencari ke seluruh rumah. Ana tidak ada, begitu juga dengan Yoga. Entah kemana kedua orang itu.
Akhirnya ku putuskan untuk mencari mereka di rumah Yuna.
"Kamu lihat Ana dan Yoga ?" Tanyaku pada Yuna yang sedang sibuk dengan ponselnya. Yuna hanya menggeleng tanpa menoleh.
Ku raih ponselku. Mencoba untuk menghubungi Ana, tapi nomornya malah tidak aktif.
"Kemana perginya mereka ?" Gumam ku dalam hati.
"Kenapa sih ? Gak perlu khawatir gitu juga lah. Mereka bukan anak kecil." Ucap Yuna yang mungkin menyadari raut kegelisahan di wajahku.
"Bukan gitu masalahnya." Ucapku sambil ikut duduk di sofa bersama Yuna.
"Terus apa ?"
"Masalahnya Ana.." Tiba-tiba ada telpon masuk, dan itu dari Mama nya Ana. Aku langsung bangkit dari tempat duduk ku, melangkah menjauh dari Yuna.
"*Hallo Ma."
"Kamu dimana ? Udah pulang kerja ? Dari tadi Mama telpon Ana kok gak masuk-masuk ya ?"
"Emm anu Ma. Aku..."
"Ini Mama udah hampir sampai rumah kalian."
"Apa ?"
"Mama kangen mau jumpa Ana."
"Oh iyaa Ma. Yaudah, aku tunggu dirumah. Kebetulan aku baru pulang kerja."
"Oh iyaa, iyaa."
Aku saling tatap-tatapan dengan Yuna. Wajah nya tak lebih panik dari ku. Pasalnya orang tua Ana tidak tahu kalau aku sudah punya istri.
"Aku ke sana dulu yaa." Ucapku, ku kecup keningnya. Dan bergegas meninggalkan dia.
Baru saja sampai di depan rumah. Mama Ana pun sampai.
"Maaf mengganggu siang-siang seperti ini Al." Ucapnya ramah.
"Gak apa-apa Ma, cuma berdua sama Zira aja ?" Tanyaku saat melihat tidak ada Papa atau Oma Ana di dalam Mobil.
"Iyaa, ini Zira nya sibuk banget pengen jumpa Ana."
"Oh iya Ma, ayo masuk dulu Ma."
Ku buka pintu rumah lebar-lebar, untuk memberi akses agar mereka bisa masuk.
"Tapi Ana nya lagi gak dirumah Ma." Ucapku saat Mama dan Zira sudah duduk di ruang tamu.
"Loh, kemana memangnya dia ?"
"Al juga gak tahu Ma, Al pulang dari kantor Ana nya udah gak ada dirumah. Al telpon pun nomor nya gak aktif. Gak apa-apa Mama tunggu aja dulu. Paling bentar lagi juga udah pulang."
"Yahhh, padahal udah kangen berat nih sama Kakak." Rengek Nazira.
Hanya ku balas dengan senyum.
"Nazira umur nya berapa ? Kok kayak gak beda jauh dari Ana." Mendengar ucapanku, kedua wanita itu langsung saling tatap-tatapan, dan ekspresi wajahnya berubah.
Belum lagi mendapatkan jawaban dari pertanyaan ku. Ana pun pulang. Dan pembahasan kami terputus.
***
*Pov Ana.*
Pulang dari belanja keperluan bulanan aku langsung di kaget kan dengan kehadiran Mama dan Nazira di rumah.
"Annaaaa..." Nazira langsung berlari menghampiri dan memelukku.
"Lebay deh. Macam udah lama banget gak jumpa." Ucapku menggodanya.
"Iyaa kan memang udah lama kita gak jumpa." Ucap Nazira sambil melepas pelukannya. "Ini siapa Kak ?" Lanjut Nazira saat sadar kalau di samping ku ada Yoga.
"Ohh itu. Adik nya Kak Alfath." Ucapku sambil berlalu menuju ke dapur. "Bentar ya Ma, Ana simpan ini dulu." Lanjut ku.
Yoga mengikuti ku ke dapur setelah menyapa Mama ku dengan senyuman khas nya. Karena di tangannya juga penuh dengan kantong belanjaan.
Nazira kembali duduk di samping Mama. Samar-samar terdengar, mereka mulai kembali mengobrol.
"Itu siapa An ?" Tanya Yoga sambil menyusun minuman kaleng di kulkas.
"Mama sama Adik aku."
"Cantik yahh." Ucapnya, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari ku.
"Mau aku comblangin ?" Ucap ku sambil terus menatapnya.
"Gak ah, aku kan udah punya kamu." Ucapnya sambil nyengir selebar-lebarnya.
"Tolong beresin ini yaa, aku mau ke sana dulu." Aku berlenggang meninggalkan dapur sambil membawakan Mama dan Nazira teh hangat yang baru aku buat.
"Ayo Ma di minum dulu." Sambil meletakkan cangkir teh di depan mereka. "Udah lama sampainya ?" Lanjut ku, dan duduk di samping Alfath.
"Baru aja. Tadi Mama telpon nomor kamu kok gak aktif ?"
"Habis baterai Ma."
"Besok-besok kalau mau keluar, kasih tahu suami dulu. Jangan main pergi-pergi aja." Mama menasehati ku. Aku langsung melirik ke arah Alfath. Sedangkan dia, menunduk sambil mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Iyaa Ma. Mama udah makan ? Ana masak dulu yaa. Biar kita makan sama-sama."
"Iyaa boleh-boleh Kak. Kebetulan dirumah belum sempat makan." Cetus Nazira.
"Yaudah ayo Mama bantu masaknya."
Aku bangkit dan bergegas kedapur bersama Mama. Sedangkan Yoga sudah selesai di dapur dan balik keruang tamu.
Mereka bertiga terlihat sangat cepat akrab. Ada saja pembahasan yang mereka obrolkan. Terlihat Nazira sangat betah berlama-lama bercengkrama dengan kedua laki-laki itu.
Kami makan siang bersama. Bak keluarga yang harmonis. Semua terlihat seperti sudah kenal lama. Tak ada canggung-canggungnya.
Mungkin, hanya aku yang sibuk dengan pemikiran ku sendiri.
Mama begitu senang dengan Alfath, dan begitu tulus menerima dia sebagai menantu.
Kasian Mama ku. Apa yang akan dia lakukan jika dia tahu, menantu yang dia bangga-banggakan ternyata sudah mempunyai istri. Dan menikahiku hanya untuk memiliki Anak.
Setelah makan siang, saat yang lain sedang sibuk menonton. Aku menarik tangan Alfath dan mengajaknya kekamar.
"Apa gak sebaiknya kamu temui Yuna dulu." Ucapku, karena merasa tidak enak pada Yuna.
"Terus Mama kamu gimana ?"
"Gak apa-apa, biar aku yang handle."
"Jangan deh. Aku takutnya nanti Mama kamu curiga lagi."
"Gak apa-apa Al. Beneran."
"Gak ah, aku mau disini aja." Ucapnya setelah itu berlalu keluar dari kamar.
"Kami pulang dulu ya sayang." Ucap Mama saat aku temui mereka di ruang tamu, dan mereka sudah bersiap untuk pulang.
"Kok cepat banget baliknya Ma. Gak nanti malam aja pulangnya ?" Ucapku sambil mengikuti langkah mereka yang sedang menuju keluar rumah.
"Gak bisa sayang, udah di amanahin sama Papa, gak boleh telat pulang."
Aku peluk Mama, lalu bergantian memeluk Nazira.
"Salam buat Adik ipar Kakak yaa." Bisik Nazira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan cepat-cepat END