"Kamu mau kan, San? Tolong, berikan keturunan untuk Niklas. Kami butuh bantuanmu," pesan Elma padaku.
Meski Elma telah merenggut kebahagiaanku, tetapi aku selalu kembali untuk memenuhi keinginannya. Aku hanyalah alat. Aku dimanfaatkan dan hidup sebagai bayang-bayang Elma. Bahkan ketika ini tentang pria yang sangat dicintainya; pernikahan dan keturunan yang tidak akan pernah mereka miliki. Sebab Elma gagal, sebab Elma dibenci keluarga Niklas—sang suami.
Aku mungkin memenangkan perhatian keluarga Niklas, tetapi tidak dengan hati lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku, Niklas-ku
Hari demi hari berganti, hubunganku dengan Niklas—meski masih sangat canggung—mulai terasa agak membaik. Pagi ini aku bahkan tak menyangka jika dia tertidur di sisiku. Biasanya setelah kami bercinta, Niklas akan langsung keluar dari kamar. Namun, pagi ini pemandangan berbeda terlihat di kamar yang sering aku tempati.
Aku duduk menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Diam-diam kuperhatikan punggung lebar Niklas yang tak tertutup selimut. Dia masih tertidur dalam posisi tengkurap. Semalam ... kami benar-benar berbagi tempat tidur dan bukan karena alasan kami berhubungan badan.
Akan tetapi, murni karena Niklas terlelap di sampingku.
"Niklas?" panggilku dengan suara pelan. Takut membangunkannya.
Kurasa dia harus segera bangun dan bergegas ke kantor. Namun, Niklas sama sekali tak terusik oleh panggilanku.
Aku beringsut mendekat dan menggerakkan lengan kekarnya. "Niklas, ayo bangun! Kamu akan ke kantor."
Barulah Niklas membuat peregangan sebentar. Sepasang matanya terbuka perlahan-lahan. Lalu ia memandangku selama sekian detik.
"Hai, pagi," sapanya dengan suara yang berat, tetapi terdengar begitu seksi di telingaku.
"Bangunlah. Kamu mandi duluan, aku akan menyiapkan baju kamu dan buatkan sarapan."
"Aku masih ingin lebih lama di tempat tidur."
"Kami harus bekerja, Niklas."
Pria itu bangkit dan membuat peregangan singkat. Kedua matanya kini telah terbuka sepenuhnya. Ia menguap saat turun dari kasur dan berdiri depan jendela. Sinar mentari pagi menerpa wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
Beberapa bulan ke belakang aku tak pernah membayangkan bisa berbagi kamar dengan Niklas dalam situasi sedamai ini. Lihatlah sekarang! Pria itu benar-benar berada di sini. Aku harus mengingatkan diri untuk ke sekian kali, dialah suamiku! Dialah Niklas-ku yang telah kembali.
Tanpa pikir panjang, aku turun dari kasur dan menghampirinya. Kedatanganku membuat Niklas tersenyum lembut. Ditariknya tangan kiriku, sehingga sekarang aku berada dalam dekapannya. Niklas memelukku dari belakang. Kami menikmati secercah sinar mentari yang menerpa wajah.
"San, kamu nggak keberatan kalau kita seperti ini?" tanyanya.
"Nggak. Kita sudah baikan, kan, Niklas? Kupikir kita harus lebih dekat lagi."
"Maafkan aku, San." Lagi-lagi Niklas mengucapkan maaf. Padahal kami berjanji untuk melupakan masa lalu.
Niklas mengecup pelipis kananku. Kurasakan hangat membekas di sana. Aku tersenyum seiring degup jantung yang menderu. Rupanya aku pun masih sama. Masih gugup saat Niklas menyentuhku. Namu, aku suka itu. Aku merindukan kebersamaan kami yang banyak terbuang di masa lalu.
"Apa rencana kamu setelah ini?" tanya Niklas. Tak mau melepas pelukannya dari pinggangku.
"Hm, aku akan ke sekolah."
"Nggak ke rumah sakit?"
"Bulan ini kan udah, Niklas. Aku akan pergi bulan depan lagi."
Niklas terkekeh seraya mengecupku lagi. "Boleh aku pegang?"
Pertanyaannya membuatku mendongak. Aku melepas tangannya di pinggangku. Kini aku berhadapan dengannya.
"Anakku, aku pengen pegang dia." Niklas melanjutkan sembari menatap perutku yang membesar.
Senyum lebar terlukis di bibirku. "Boleh. Dia kan anak kamu."
Dengan senang hati Niklas mengelus perutku yang sudah kian membesar. Kami pun berbagi tawa sesaat setela beradu tawa.
Sekarang aku tak akan hanya mengatakan dia sebagai Anak Mama, tetapi dia punya seorang ayah juga. Dia punya Papa.
"Aku nggak sabar mendengar perkembangan dia lagi," ucap Niklas, "bulan depan, ayo pergi bersama."
Aku mengangguk antusias. "Oke. Sekarang kamu lebih baik mandi. Nanti terlambat."
Suamiku mengangguk, lalu satu kecupan kecil kembali mendarat di jidatku. Ah, rasanya seperti aku sedang berada dalam mimpi panjang.
—oOo—
Sore ini tiba-tiba Ibu Julia datang dan mengajakku ke mal. Katanya mau mencari persiapan untuk bayiku nanti. Padahal perkiraan lahirnya masih jauh, tetapi Ibu Julia sudah excited menyambut cucunya.
Aku pasrah saja.
Untung hari ini aku pulang lebih cepat dari sekolah. Sehingga aku bisa ikut ke mal.
"Bu, jenis kelaminnya kan belum dicek. Kalau beli baju sekarang, apa nggak kecepatan? Gimana kalau nanti bayinya laki-laki?" tanyaku.
Kami saat ini tengah berada di salah satu toko perlengkapan bayi yang juga menjual baju-baju lucu. Ya, menurutku baju mungil dan lucu pasti akan tampak cantik dikenakan oleh bayiku nanti. Apalagi sekarang aku dan Ibu Julia sedang berada di depan display yang memperlihatkan baju bayi perempuan.
"Nanti kan bisa beli lagi kalau bayi kamu cowok," katanya.
Ha! Aku lupa kalau keluarga Niklas bukan keluarga susah.
"Ini cantik, ya," kata Ibu Julia seraya memperlihatkan satu one set baju bayi dengan bahan lembut berwarna biru muda.
"Iya," aku hanya menjawab seadanya sembari tersenyum.
Tiba-tiba Ibu Julia merogoh ponsel. Aku sesekali mengamatinya. Dia pun berbincang dengan si penelepon.
"Siapa, Bu?" tanyaku.
"Niklas." Dia setengah berbisik. Lalu kembali berbicara pada Niklas. "Iya, ini Ibu sudah mau pulang. Istrimu baik-baik saja. Apa? Kamu mau jemput ke sini? Baiklah."
Kemudian dia memutus sambungan itu. Ibu Julia menatapku sembari memamerkan senyum.
"Apa ini? Niklas terdengar sangat khawatir. Jangan bilang kalian ... kalian sudah baikan? Ya Tuhan, San ... Kamu memang ditakdirkan hanya untuk Niklas. Ibu senang mendengarnya."
Senyum lebar Ibu Julia membuatku mengulas senyum pula. Ditakdirkan bersama Niklas Benarkah?