Badai besar dalam keluarga Cokro terjadi karena Pramudya yang merupakan putra pertama dari keluarga Cokro Tidak sengaja menodai kekasih adiknya sendiri, yaitu Larasati.
Larasati yang sadar bahwa dirinya sudah tidak suci lagi kalut dan berusaha bunuh diri, namun di tengah usahanya untuk bunuh diri, ia di kejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya sedang hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuning dianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
peringatan pram
Itu adalah tatapan yang sudah lama hilang, tatapan kebencian yang Cokro kira sudah terkubur dalam dalam dan tidak akan di tampakkan lagi oleh Pramudya lagi.
Cokro masih ingat benar, perlu waktu setahun lebih untuk membuat Pramudya mau menerimanya kembali,
Perlu waktu setahun lebih untuk membuat Pramudya melupakan kematian mamanya yang sangat menyakitkan.
Setiap hari Pramudya selalu melempar pandangan benci dan jijik kepada papanya, padahal saat itu Pram masihlah seorang anak yang masih duduk di sekolah dasar.
Tentu saja, tatapan itu ada karena Pram sering melihat perselingkuhan papanya,
papanya selalu membawa Rista yang sekarang menjadi mama tirinya itu ke rumah mereka.
Tanpa beban dan perasaan bersalah mereka berselingkuh dirumah yang mama Pram juga tempati.
Mama Pram yang sakit menjadi alasan Cokro untuk berselingkuh,
Padahal sedari dulu, saat mama Pram masih sehat pun Cokro sudah menjalin hubungan terlarang dengan mama elang.
Sungguh kejam memang, sampai detik ini pun Pram masih menganggap papanya itu adalah seorang bajingan yang tidak setia.
Kelahiran Elanglah yang merubah segalanya, melihat elang yang polos dan lucu, hati Pram sungguh tergugah,
Kesepiannya lenyap,
Kebenciannya terkikis setiap elang bergelayut di kakinya.
Pram bahkan masih mengingat dengan jelas, setiap papanya marah elang akan bersembunyi di kamarnya dan meminta bantuannya.
Elang yang bandel dan polos,
Pram sungguh menyayangi anak itu, tanpa memandang kenyataan bahwa dirinya telah di sakiti oleh mama elang.
melihat suaminya tertunduk lemas, Rista bangkit, ia duduk disamping Pram yang dadanya penuh gemuruh emosi.
" Pram.. Mohon maafkan mama.. Mohon maafkan mama.." Rista memeluk lengan Pramudya.
" mama dan papa mungkin terlalu egois untukmu,
Tapi ini semua dengan kebaikan keluarga kita..
Mama mohon mengertilah,
Pernahkan kau bayangkan bagaimana perasaan adikmu jika ia tau semua ini telah terjadi,
Jika ia tau kau dan Laras telah mengkhianatinya..?"
Sontak Pram menatap mama tirinya, tatapan sinis.
Melihat tatapan Pram Rista sontak melepaskan tangannya yang memeluk lengan Pram,
tatapan Pram menusuknya, membuat ia di penuhi perasaan takut akan sikap yang akan Pram tunjukkan selanjutnya.
Rista memilih mundur, ia langsung berpindah tempat duduk dan menjauh dari Pram.
" Siapa yang mama katakan berkhianat? Coba ulangi?" Pram masih menatap Rista sinis.
Rista membisu, ia menatap suaminya sekilas.
" saya tidak pernah menggoda Laras, saya juga tidak pernah bersenda gurau dengannya selama ia menjadi kekasih elang.
Saya menjaga jarak dengan hati hati.
apa yang terjadi diantara saya dan Laras adalah hal yang tidak kami inginkan.
Tidak kami sengaja.
Bahkan kehamilan itu tidak pernah saya perkirakan.
Apakah pantas anda, mengatakan itu sebuah perselingkuhan?
bukankah yang bisa di katakan perselingkuhan itu adalah hubungan diam diam yang di sengaja?
seperti seorang suami yang mengkhianati istrinya, dan seorang perempuan yang merebut suami orang lain?"
Deg!
Wajah Cokro dan istrinya merah padam,
" Kau kurang ajar!!" Cokro berniat bangkit, namun entah kenapa kedua kakinya lemas, padahal tangannya sudah siap untuk menjatuhkan tamparan pada wajah Pram lagi.
" Kau sengaja melakukan ini?! Kau sengaja menyakiti adikmu karena dendam kepada kami?!" tuding Cokro.
Pram mengulas senyum getir mendengar itu,
" bagaimana bisa, papa menuduhku berbuat sebusuk itu,
apa aku terlihat seperti orang yang semacam itu?
Yang memendam niat buruk pada saudaraku sendiri?" tatapan Pram yang tajam berganti dengan tatapan yang penuh rasa kecewa.
" bahkan sampai detik ini pun papa tidak pernah mengenalku,
Bahkan sampai detik ini papa tidak pernah memahamiku.
Terkadang aku heran, apa aku ini benar benar anak kandung papa?"
" kau bicara omong kosong Pram! Semua orang tau kau adalah darah dagingku!
Jangan bicara seolah aku ini orang tua yang jahat!
Lihat apa yang kau nikmati sedari kecil sampai kau dewasa,
Kau kira itu semua kau dapatkan dari mana?
Kau bicara seperti aku tidak menyayangimu,
Kau bicara seperti aku ini sudah bertindak kejam kepadamu?!"
" jadi papa meminta semuanya kembali? Jadi bentuk tanggung jawab papa padaku papa hitung sekarang?
Papa memang tidak menelantarkan ku,
Tapi papa menghancurkan hatiku,
Papa memutus semua harapanku,
Papa meremehkan perasaanku.
aku mencintai Laras,
Sudah tugasku sebagai suami untuk melindunginya.
Cukup aku saja yang papa injak injak angan dan harapannya, istri dan anak anak ku jangan.
aku tidak akan diam jika papa terus terusan merecoki kehidupan rumah tanggaku.
Dan.. Bukan papa saja," Pram menoleh ke arah Rista,
" saya juga tidak akan diam jika anda menganggu istri saya." peringat Pram dengan suara yang sudah mulai tenang, namun ketegasannya tidak hilang.
" saya pamit, anak dan istri saya menunggu dirumah." ujar Pram bangkit.
Tanpa menunggu jawaban dari papanya kakinya yang jenjang melangkah keluar dari ruang tengah yang luas itu.
___
Laras yang sedari tadi menunggu suaminya dengan gelisah bangkit dari sofa ruang tamu.
Ia berjalan ke arah pintu karena menangkap cahaya lampu mobil dari jendela ruang tamu.
Laras membuka pintu dan berjalan ke arah teras, menunggu Pram yang sedang memarkir mobilnya di garasi.
Udara malam ini cukup dingin, karena cuaca kota Malang sedang memasuki musim hujan.
Wajah Laras yang resah mulai berubah saat melihat sosok suaminya melangkah naik ke teras,
Laki laki berkemeja biru, dengan jas yang di letakkan di tangan kirinya itu berjalan ke arah istrinya.
senyum Pram merekah, wajah istrinya yang polos itu menyambutnya, belum Pram bicara, Laras sudah melemparkan dirinya ke pelukan Pram.
Pram sedikit tertegun, meskipun keduanya sudah menghabiskan malam bersama, namun disambut saat pulang dan di peluk seperti ini sungguh membuat hati Pramudya trenyuh,
Kehangatan yang tidak pernah Pram dapatkan setelah mamanya meninggal.
" mas dari mana? Kenapa di telfon tidak di angkat? kenapa tidak memberi kabar? Apa terjadi sesuatu hingga mas pulang terlambat?"
Pram di hujani pertanyaan,
Bukan menjawab, Pram justru tersenyum senang,
Tangannya membalas pelukan Laras erat.
" di luar dingin, ayo kita segera masuk.." ujar Pram sembari melepas pelukannya.
Laras mengangguk, ia melangkah ke dalam, mengikuti langkah suaminya.
Sesampainya di dalam rumah, barulah Laras melihat dengan jelas,
" kenapa wajahmu mas??" Laras menyentuh pipi Pram yang bengkak, juga ujung bibir Pram yang terluka.
" tidak apa apa.." jawab Pram mencium tangan istrinya,
" tidak, katakan ada apa? Mas berkelahi? atau??" keresahan yang hilang dari wajah Laras kini muncul kembali.
" aku sungguh tidak apa apa, aku hanya sedikit beradu argumen dengan papa, karena itu aku terlambat pulang..
Maafkan aku,
tapi segalanya akan berjalan dengan baik setelah ini,
Kau jangan khawatir,
Mari lihat anak anak.." Pram menenangkan istrinya.
Laras tertunduk lesu,
" kenapa ras.. Jangan sedih begitu.. bukankah sudah ku katakan kalau tidak apa apa.." Pram memeluk Laras lagi, ia tidak tahan melihat wajah Laras yang sedih dan lesu itu.
" begini saja sudah mau gila rasanya... Apalagi kalau Elang datang..
Zavier rewel terus seharian, tidak mau meminum susu dariku langsung, badannya pun panas..
Tapi untunglah mas memberiku pekerja yang berpengalaman, dia menangani Zavier dengan baik.." ujar Laras dengan matanya yang berkaca kaca.
Pram terdengar menghela nafas,
" apa sudah turun panasnya?" tanya Pram,
" sudah, susunya sudah di minum.. Dan tidurnya sudah nyenyak.."
Pram mengangguk pelan sembari melepaskan pelukannya,
" baguslah..
maafkan aku, situasi sedang tidak baik, jadi aku takut jika menerima telponnya kau akan semakin cemas..
Lain kali aku tidak akan seperti ini dan membuatmu resah.." ujar Pram,
Melihat Laras yang kacau,
Diam diam Pram merasa bersalah,
Laras masih begitu muda, bukankah seharusnya ia masih bermain dengan teman temannya,
Bukannya sibuk mengurus dua bayi dan terkurung dirumah seperti ini.
sungguh Pram merasa bersalah,
Andai saja malam itu Pram tidak ceroboh dan sembarangan,
Laras tidak akan menjadi korban,
Tapi apa yang bisa ia lakukan,
Ini semua sudah di gariskan Tuhan,
Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mencintai dan menyayangi Laras juga anak anak dengan baik dengan penuh tanggung jawab,
sebesar apapun batu sandungan yang akan Pram hadapi.
" kalau begitu aku akan mandi dulu, setelah itu baru aku melihat anak anak..
bisakah kau buatkan aku kopi susu ras.. Aku mau sedikit manis..
Ingat ya, buatanmu ras.." Pram menyentuh kepala istrinya lembut, lalu berjalan mendahului Laras, menuju kekamarnya.
Happy ending.
Sy suka karya2 mb Ayu.
Sy tunggu karya berikutnya
sy sangat menunggu.
trima kasih mb ayu.
sehat selalu