Follow IG : base_author
Membaktikan kehidupannya untuk imamnya, peran yang dilakoni Thalia Ruth selama 4 tahun menjalani hidup berumah tangga dengan Andre Miles, suaminya. Di tinggallkan kedua orang tuanya karena kecelakaan menjadikan Thalia yang yatim piatu sepenuhnya menggantungkan hidupnya pada Andre dengan kepercayaan yang tanpa batas. Bagaimana Thalia menjalani kehidupannya setelah Andre mencampakkannya setelah memperoleh semua yang diinginkan?? bahkan ibu mertua pun mendukung semua perbuatan suaminya yang ternyata sudah direncanakan sejak lama.
Menjadi lemah karena dikhianati atau bangkit melawan suaminya... manakah yang dipilih Thalia?
Siapkan tisu dan alat tempur sebelum membaca 😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Base Fams, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 34
Mona tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, memerhatikan perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit. "Tumbuh dengan sehat di dalam perut Mama ya, Nak." Kata Mona seraya mengusap perutnya.
Kehamilannya kini memasuki usia 12 minggu. Ya, sekitar 24 minggu lagi anaknya bersama Andre akan lahir ke dunia, dan Mona sangat antusias menantikan hari bahagia itu. Hari yang akan menjadi sejarah baru untuknya, menjadi seorang Ibu.
"Sepertinya aku memerlukan pakaian longgar." gumam Mona. Ia menyambar gawainya yang tergeletak di atas tempat tidur, berniat menghubungi Andre.
Begitu layar ponselnya terbuka, Mona langsung disuguhi wallpaper fotonya bersama Andre ketika mereka menikah. Mona tersenyum, tapi menit berikutnya senyuman itu menghilang ketika mengingat ucapan Ayah dan Ibunya. Kata-kata penolakan dari mulut sang Ayah tentang hubungannya bersama Andre, masih terngiang. Buru-buru Mona menepisnya, mengingat lagi pesan Dokter agar tidak terlalu banyak pikiran karena bisa berpengaruh pada kondisi Ibu dan juga janinnya.
Pada saat bersamaan di Thalia's Diamond, Andre duduk di belakang meja kerjanya. Nampak kerutan timbul di kening Pria itu memerhatikan angka-angka pada layar laptopnya. Sejak tadi ia tidak beranjak, memeriksa berulang-ulang laporan keuangan perusahaan dan Andre menemukan kejanggalan.
Ponsel miliknya berdering, membuat Andre kehilangan konsentrasi. Ia mengeram pelan selaras memijat keningnya. "Siapa yang menghubungiku.." kesal Andre
Ia pun merogoh saku celana, lalu menatap layar ponsel yang menampilkan kontak dengan nama 'mine' sedang menghubunginya "Mona." Bisik Andre.
Andre membuang napas dengan kasar, lalu menerima panggilan istrinya itu. "Ya, Halo sayang. " Sapa Andre dengan datar tidak seperti biasanya yang selalu bersemangat ketika menerima panggilan dari wanitanya itu.
"Halo Mas, " Sapa balik Mona memainkan liontinnya. "Kamu lagi sibuk ya?"
"Hmm, sedikit. Ada apa sayang?" Andre melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya. Kemudian bersandar, mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum ia melanjutkan pekerjaan yang menguras pikirannya.
"Aku izin keluar ya, Mas. Aku ingin ke Mall, membeli baju hamil." Terang Mona.
"Boleh, pergilah sama Mama biar kamu tidak sendiri dan ingat pesanku, jangan sampai kamu kelelahan." Andre mengingatkan sebagai bentuk perhatiannya kepada Mona.
"Iya Mas," sahut Mona. "Btw, kamu ingin dibawakan bekal makanan siang?" Tawar Mona tiba-tiba ia rindu makan bersama suaminya di kantor. Mengingat itu Mona tersenyum.
"Tidak perlu, Mas akan makan siang di kantin bersama Adam."
"Oke, Mas... semangat kerja ya Papa." ucap Mona menirukan suara anak kecil sebelum mengakhiri panggilannya. Ia pun bergegas menuju lemari pakaian, memilah milih baju yang hendak dipakainya. "Aku pakai baju apa ya.. " Mona melihat lembaran pakaian yang tersusun di lemari gantung. Tiba-tiba Mona membungkuk, memegang perutnya yang terasa melilit, nyeri. "Akh... sakit!" Pekik Mona tidak kuat menahan sakit di bawah perutnya serta nyeri dibagian pinggangnya, ribuan peluh timbul dari pori-pori kulitnya, membasahi tubuhnya.
Mona berusaha berjalan, berencana keluar untuk meminta bantuan. "Ma!" Panggil Mona lemah, wajahnya mulai pucat karena rasa sakit yang semakin bertambah parah.
Merasakan ada yang mengalir dari jalan lahir sontak Mona melirikkan matanya ke bawah. "Darah." Gumam Mona. "Tidak... Tidak... Kamu harus bertahan Nak. " Erang Mona dengan air mata membanjiri wajahnya. Wanita itu ketakutan. Takut akan hal buruk terjadi pada buah cintanya.
"Ada apa, Nak?" Bu Nita masuk. Terkesiap melihat keadaan Mona. "Ya Tuhan, Mona... " Pekik wanita paruh baya itu mengundang perhatian orang-orang yang berada di rumah lalu menghampiri untuk membantunya.
"Tolong bawa menantuku ke Rumah sakit."
.
.
.
Begitu mendapat kabar tentang Mona dari Mamanya, Andre turun dari mobil, berlari menyusuri rumah sakit menuju unit gawat darurat. "Mama.." Panggil Andre.
"Nak, " Bu Nita bangun dari kursi mendekati putranya.
"Dimana Mona?"
"Mona ada di dalam, kamu masuk saja. Ada Dokter sedang memeriksa kondisi Mona."
Andre mengangguk, ia pun masuk ke bilik dimana Mona berada. Dilihatnya Mona berbaring lemah, dengan wajahnya yang terlihat pucat.
Kedua manik coklat Mona berkaca-kaca. "Mas... anak kita." Lirih Mona.
"Apa anda suami dari pasien?" tanya seorang dokter Obgyn yang berjaga saat itu.
"Iya benar, dok, ada apa dengan istri saya?"
"Jadi begini Pak, istri anda mengalami keguguran."
Andre tertunduk lemas mendengar penuturan dokter. Meskipun waktu itu Andre sempat terkejut dengan kabar kehamilan Mona, pada akhirnya Andre bisa menerima keberadaan buah cintanya bersama Mona dan tentu ia menantikan anaknya lahir ke dunia.
Mona mengerjapkan mata, kemudian air matanya meluncur deras membasahi wajah pucatnya.
Andre menghembuskan napas panjang, ia menatap lagi Dokter itu. "Lalu, dok?"
"Karena kehamilan masih berusia 12 minggu, tidak perlu adanya tindakan kuretase. Cukup lakukan perawatan dengan baik agar istri anda cepat pulih. Perbanyak istirahat, dan tidak boleh melakukan aktivitas berat. Jika kondisi istri anda tidak membaik, anda harus segera membawa istri anda ke Rumah sakit lagi untuk melakukan pemeriksaan."
"Baik Dokter."
Andre menarik kursi, kemudian ia duduk disisi Mona begitu dokter keluar. "Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, Mas." Ucap Mona dengan uraian air mata.
"Sst," Andre mengusap air mata Mona. "Jangan berkata seperti itu. Selama ini kamu sudah menjaga anak kita dengan baik, dan kepergiannya adalah takdir yang harus kita terima. Jangan terlalu di pikirkan. Kita masih mempunyai kesempatan untuk memiliki anak lagi."
"Ini pasti karena anak pembantu itu, dia pasti memasukkan sesuatu... " Gerutu Mona.
Andre memicingkan kedua matanya menatap intens wajah istrinya yang masih terlihat pucat. "Apa yang barusan kamu katakan, Sayang?" Andre melayangkan pertanyaan karena tidak mendengar jelas apa yang diucapkan istrinya barusan.
"Anak pembantu itu pasti telah memasukan sesuatu pada susuku." Jelas Mona sangat yakin sebab ia mengingat betul terakhir kali ia minum susu buatan gadis itu karena pagi tadi ia dalam keadaan baik-baik saja.
Alis Andre menukik tajam, "maksudmu, Tita?"
"Iya, Mas... siapa lagi, anaknya Mbok Sum. "Sahut Mona seraya mengangguk cepat.
"Itu tidak mungkin sayang." Sangkal Andre. Entah, ia seperti tidak terima tuduhan Mona kepada Tita. "Tidak mungkin Tita melakukan hal buruk seperti itu."
"Mas, tolong percaya padaku," Mona menggenggam tangan Andre.
Andre membuang napasnya, berusaha tenang. "Jauhkan pikiran burukmu agar kamu tenang, dan istirahatlah. Mas akan panggil Mama untuk menemani kamu."
"Kamu mau kemana, Mas?" Cegah Mona dengan menahan tangan Andre.
"Mas ingin menebus obat. Lalu kita pulang." Andre membenarkan selimut yang membalut tubuh Mona, lalu membubuhkan kecupan di kening istrinya itu.
.
.
.
orang dewasa pada sibuk ghibah 🤪🤣
si cewe menikmati dan takut kehilangan