NovelToon NovelToon
Ketentuan

Ketentuan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.



(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Indara kembali melakukan aktivitas seperti sebelum tamu bulanannya datang yang membuatnya begitu malas bergerak bahkan untuk mandi sekalipun. Namun karena tugas dan tanggung jawabnya ditoko adalah satu-satu alasan dia untuk tetap bergerak.

Pagi ini terlihat gadis dengan paras cantik mulai tersapu sinar matahari pagi sedang berjalan sambil berkacak pinggang dengan deru nafas yang tersengal-sengal. Rupanya ia sedang lari pagi ini ia cukup rasa menguras tenaga.

“Kenapa aku secapek ini ? padahal kan baru aja satu minggu aku nggak jogging.” Gumam pada diri sendiri, sambil terus berjalan ke arah rumah.

Tepat diperempatan, indra pendengaran gadis itu samar-samar mendengar gelak tawa dari jalan sebelah kirinya. Awalnya ia memutuskan untuk berhenti karena ia merasa suara itu sudah tak asing lagi ditelinga, namun dengan seketika ia mengurungkan niatnya.

Apa mau dikata, saat akan berlari kembali. Dengan segera salah satu dari mereka melihatnya dan berteriak memanggil Indara.

“Dara.” Panggilnya.

Alhasil gadis itupun mau tak mau harus menghentikan langkahnya. “Eh, kalian rupanya.” Jawab Indara dengan berusaha menampilkan senyum senatural mungkin, padahal dalam hatinya berteriak ingin segera pulang.

Ternyata tanpa disadari, senyum yang diberikan oleh Indara begitu manis dipandangan dua laki-laki yang berada di samping seorang gadis dengan jilbab instant berwarna salem.

Wajahnya dihiasi senyum seramah mungkin, namun hatinya tak terlalu senang dengan situasi ini. Apalagi dua laki-laki yang bersamanya mulai menghampiri Indara.

“Assalamualaikum Dara.” Sapa Vira terlebih dulu pada Indara.

“Eh Vira. Waalaikumussalam.” Jawabnya dengan senyum selebar mungkin. Dapat dipastikan bahwa saat ini pipinya mulai sakit karena terlalu lama senyum.

“Abis jogging dari mana Ra ?” Ibam membuka pertanyaan setelah sadar dari sihir senyuman yang diberikan Indara.

“Biasa Bam, dari depan pesantren.”

Ibam hanya mengangggukkan kepalanya, pertanda mengerti.

“Tapi tumben kita bertemu disini Ra, biasanya kan nggak ?” Rai bertanya kembali dan mengulur waktu berpisah dengan Indara.

“aku biasanya lebih pagi Rai. Tapi ini aja aku udah ngos-ngosan, banyak berenti juga. Nggak tau kenapa aku ngerasa lebih capek aja sekarang.” Jawabnya sambil mengusap peluh yang mengalir dari pelipisnya.

“Mungkin karena udah lama nggak dilakuin Dara.” Jawab Vira yang menyela saat Rai akan membuka mulutnya.

“Haaa, mungkin juga seperti itu Vira.” Jawab Indara dengan antusias, seperti menemukan penyebab dari yang dirasakan.

Sementara Ibam hanya menatap gadis itu lekat seperti sedang merekam setiap inci dari raut wajah gadis yang sedang berceloteh itu. Hingga tatapan mereka bertemu, sontak Ibam ataupun Indara menundukkan pandangan. Terlebih Ibam yang merasa tertangkap basah karena telah melihatnya diam-diam.

“Eh aku duluan yah, takut ntar telat ke toko. Daaaah, Assalamualaikum.” Pamitnya yang mulai berlari kecil dan membentang jarak dari ketiganya.

Indara rasa sudah tak mempunyai keberanian untuk terus berada diantara mereka bertiga, terutama Ibam. Ia takut degub jantungnya terdengar sampai ke telinga Ibam.

Vira bukannya tak menyadari tatapan Ibam yang mengarah pada wajah Indara, gadis itu sepertinya begitu pandai dalam menyimpan perasaan dan berpura-pura menjadi orang yang paling tidak mengerti.

“Waalaikumussalam.” Jawab ketiganya sembari memandang punggung Indara yang perlahan mulai mengecil karena tertelan jarak.

Hingga akhirnya mereka pun memilih untuk kembali kerumah masing-masing tentu dengan gelak tawa yang masih sama seperti sebelum bertemu dengan Indara beberapa saat yang lalu.

Ibam, Rai dan Vira memang sudah berteman dari kecil. Walaupun Ibam dan Rai lebih dekat, itu karena semata-mata mereka sesama jenis, berbeda dengan Vira yang kadang harus menghabiskan waktunya dirumah dan ditemani mainan khas anak perempuan. Hingga tak heran jika mereka sampai sedekat itu dewasa seperti ini.

Namun siapa yang mengetahui bahwa Vira sudah lama menyimpan perasaan pada Ibam ? bahkan orang tua dari Vira pun tak mengetahui putrinya itu.

***

Sorenya seperti yang telah dikatakan oleh Gamila ditoko kemarin, hari ini ada pengajian rutin di pesantren Al-Ali. Dalam sebuah kamar khas anak perempuan, seorang gadis sedang berdiri didepan cermin mematut dirinya sambil memperbaiki jilbab juga gamis yang dirasa masih kurang pas. Hingga suara meneriakkan namanya terdengar dari arah ruang tamu.

“Araaaa, sudah belum bersoleknya ?” Suara Lafiza seperti memecah fokus Indara didepan cermin.

Dengan cepat gadis itu meraih tas jinjing, kemudian berlari menuruni anak tangga.

“Pelan-pelan. Jangan lari.” Peringat Lafiza dengan datar. Sepertinya ia melupakan bahwa ialah yang berteriak memanggil.

“Apa sih mbak Iza ini, padahal tadi disuruh cepat-cepat.” Indara setengah ketus saat tiba diruang tamu.

“Emang ada mbak nyuruh kamu cepat-cepat ?” Dengan ekspresi angkuhnya. “Mbak kan cuma tanya sudah apa belum bersoleknya ? Ya kan mbak ? Lafiza meminta pembelaan dari Gamila.

Indara hanya menatap kesal dan berdesah “ish”. Kemudian mendahului yang lain keluar rumah.

“Nau, bareng kan kita ?” Tanya Indara dengan refleks membalik badannya. “Kayak biasa kan ?” Tanyanya kembali dan berjalan tanpa mempedulikan yang lain dibelakangnya.

“Iya mbak cantik. Seperti biasa.” Jawab Naura singkat dan mengeluarkan kunci motor dari tasnya.

Naura dan Indara tengah sibuk dengan motor yang akan mereka tumpangi, sementara bude’ Aya, Gamila, Lafiza, dan bu Titi sudah berada didalam mobil bersiap-siap untuk menuju tempat pengajian.

Tak lama setelah mobil bude’ Aya meninggalkan pelataran rumah, motor yang ditumpangi dua gadis itu pun mengekor.

***

Para anggota yang menghadiri pengajian mendengar apa yang disampaikan oleh pemateri dengan begitu saksama, tak terkecuali seorang gadis kecil yang sedang berada dipangkuan Indara. iya, gadis itu tak lain ialah cucu pertama dari pemilik pesantren yang sedang menggelar pengajian rutin itu.

Sebelum pengajian dimulai

Indara dan Naura bergegas menuju masjid setelah memarkirkan motornya dengan rapi. Rupanya kedua gadis itu sedikit terlambat karena sudah tak mendapati yang lain berkumpul didepan masjid.

“Ayo mbak cantik, pengajiannya sudah mau dibuka.” Ucap Naura yang menangkap bahwa acara akan segera dimualai dan berjalan lebih cepat dari Indara.

“Iya Nau, ini aku jalan kok. Nggak diem ditempat.” Kilah Indara yang tetap berusaha untuk menyamakan langkah dengan Naura.

Naura hanya tersenyum tipis tanpa berbalik saat mendengar ucapan gadis yang berada dibelakangnya.

Tepat saat keduanya akan melangkah kedalam masjid, gendang telinga keduanya dialih fokuskan pada suara yang memanggil nama Indara dan tak jauh berada dibelakang mereka.

“Tante Ara.” Panggil seorang gadis dengan gamis biru serta jilbab berwarna hitam.

Baik Indara ataupun Naura beralih tatap menuju sumber suara. Rupanya Ghina yang sedang bersama sang mama berjalan dengan antusias menuju Indara.

Indara begitu senang melihat Ina, dengan refleks ia melambaikan tangan dan bergumam “Tuan putri.”

Ghina yang bisa membaca ekspresi Indara langsung berlari dan melepas gandengan tangan mamanya. Sambil merentangkan tangan ia tersenyum ke arah Indara yang sedang menuruni tangga masjid dan berjongkok untuk menerima pelukan dari Ghina.

Sementara dua orang yang masih bersama mereka hanya tersenyum tulus melihat kedekatan Indara dengan Ghina.

“Assalamualaikum Tante Ara. Ina kangen sama tante.” Ucap Ghina yang sudah ada dalam dekapan Indara.

“Waalaikumussalam. Iya tuan putri, tante juga kangen.” Balas Indara dengan mendekap Ghina tak kalah eratnya.

“Eh, ayo. Ini pengajiannya sudah mau dimulai tuh, kayaknya cuma nunggu kita nih.” Jelas Dila sembari sesekali menatap dalam masjid.

Dengan segera mereka melangkah kedalam masjid, tentu dengan Ghina yang kini berada didalam gendongan Indara.

1
Soratobazu
uwow
Eli Usada
jangan lama-lama up nya thor 😭
kisses and martini
lanjuttt thorrr semangat ,jangan lupa jaga kesehatan ,dan jangan lama lama upnya ok
fleurlovin
Seru banget!! Nanti aku mampir ke karya yang lain deh!! Semanga Thor!!!
SecretGiggle
Permisi thor izin bertanya.. kapan kiranya ceritanya bisa lanjut? Saya sudah menunggu.. tapi akan terus saya tunggu hingga ribuan purnama huhu
Hulk
wahh kakak author .ini novel keren aku suka. ya meskipun belum selesai aku baca nya . tapi asli keren . nyesel dah pokoknya kalau udah baca gak diselesaiin. semangat ya kak😊😊
peto
semangat thor,ceritanya bagus,..crazy up dong
Jantung Taman
Thor, lanjut!!
sunshinegyspy
ceritany keren banget..............jadi baper hehehe. di tungu up selanjutnya SEMANGAT...
Atas Untuk Diikuti
Jadi pengen sungkem ke author! *ampun bang jago! ceritanya keren banget!
Dewa Yunani
lanjut semngat menulis karya karya mu thorr sehat sll😍😘
girlganggoodies
Seru Thor!! Lanjut ya ya! Plis Thor!
SizzlingTeapot
cerita yg bagus...gak banyak part nya tp jelas,singkat n feel nya dapet banget,aku lebih suka cerita yg gak terlalu banyak part nya,ini udah ok banget Thor..tapiii sayang like kok dikit yaaa...semangat terus Thor💪💪
SugaryHeaven
Maaf ya thor, baru bisa komen. Soalnya aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari ceritamu yang seru ini~
TexasTiger
Ceritanya makin seruuuu! Semangat Thor!
DavidTheDancer
Thor, aku bacanya sampe qerja lembur bagai quda. Pasti author ngetiknya juga ya sampe belum emam! Aku semangatin deh!! Semangat!
Soratobazu
semangat upnya dan selamat liburan
kisses and martini
Aku terhibur baca ceritanya kak, monggo dilanjuuut~
blouses and houses
semangat thor,ceritanya bagus,..crazy up dong
Kekasih Dropper
Authoooor~ hari ini wishlist aku cuma satu, yaitu mau tau kelanjutan cerita author!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!