Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jasa yang terlupakan
Deg!
Jantung Winda kembali berdegup dengan kencang. Namun, kali ini kelipatannya semakin bertambah. Kalimat ‘menyukai’ yang baru saja diucapkan Dedi kepadanya, seketika membungkam mulutnya. Rasa haru, terkejut, sekaligus bahagia saat ini mendadak hadir dalam diri Winda. Bahkan ia merasa jika ini adalah sebuah mimpi indah dalam tidurnya, angannya serta keinginannya yang selama ini selalu ingin menjadi sosok yang special di hati Dedi membuatnya sampai bermimpi seperti itu.
Tapi, sesaat kemudian Winda menyadari jika saat ini semua itu adalah nyata. Saat ia merasa hangatnya sebuah genggaman yang semakin erat merengkuh tangannya, dari sesosok tubuh tegap yang saat ini duduk di hadapannya, menatapnya dengan sangat lembut dengan nantian sebuah jawaban darinya.
Ya, ini nyata! Semua ini nyata. Aku sedang tidak bermimpi sekarang!
“Winda, aku menunggu jawabanmu. Maukah kamu menjalin hubungan denganku?” tanya Dedi dengan tatapan penuh harap dari wajahnya.
“Kak Dedi, ini….” tak berlanjut, kalimat itu terputus seiring keraguan yang tiba-tiba saja merajai hati Winda.
“Katakanlah, aku siap mendengarkan. Namun, aku sangat berharap jika rasaku terbalaskan.”
“Justru itu,” mata Winda menatap tajam.
“Kenapa? apa kamu masih ragu?” tanya Dedi.
Winda mengangguk.
“Tidak perlu terburu-buru, aku siap menunggu.”
“Benarkah?”
“Ya, tapi itu tidak lama. Aku akan menunggu jawabanmu besok,” tukas Dedi.
“Besok?” Winda bertanya.
“Ya, besok aku akan menunggumu di sini. Di tempat ini dan juga di meja yang sama ini, aku akan duduk di sini menantimu, menunggumu membawa kabar bahagia untukku.”
“Tapi Kak, bagaimana jika Winda tidak—“
“Tidak apa-apa. Apapun keputusanmu nanti, aku siap mendengarkan. Setidaknya, saat ini aku sudah mengutarakan isi hatiku, niatku yang ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganmu. Jika pun nantinya kamu
tidak bersedia menjalin hubungan denganku, aku sangat berharap jika kita masih bisa berteman sama seperti sebelumnya,” tukas Dedi menyampaikan keinginannya.
“Baiklah,” Winda mengangguk. “Besok di tempat ini, dan juga di jam seperti ini, Winda akan datang dengan membawa jawaban,” tandas Winda.
Setelah menyeruput beberapa tegukan air yang ada di dalam gelas mereka masing-masing, dan juga memakan makanan yang telah dipesan tadi, walaupun tak sepenuhnya dihabiskan. Winda dan Dedi kini pulang dengan
menggunakan kendaraan masing-masing.
Tak dapat dipungkiri, setelah pengungkapan rasa itu, kecanggungan di antara keduanya lantas tercipta meskipun berulang kali Dedi dan Winda berusaha mengusirnya. Namun, kecanggungan itu kembali datang, hingga pada
saatnya mereka pulang.
Ya Tuhan … semoga saja keputusanku ini benar.
Batin Dedi seraya mengendarai mobilnya.
***
Petang berganti malam, seiring usainya kumandang azan yang terdengar dari masjid-masjid sekitar. Sebuah sepeda motor, saat ini terlihat memasuki sebuah halaman yang tak terlalu luas dengan hiasan tanaman bunga di sekelilingnya. Winda, lantas memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir biasa, bersama sepeda motor milik Ayahnya.
Pintu pagar kembali di tutup, dengan kembali mengaitkan sambungan besi yang ada di sana. Winda lantas berbalik bergegas melangkah pergi menapaki terasnya. Di sana, disepasang kursi yang terletak dengan susunan meja di tengah nya. Winda lantas menghamburkan dirinya di sana, ia menyandarkan tubunya dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas. Beberapa saat kemudian, Winda menundukkan lehernya dengan sedikit pijatan lembut dari tangannya, sungguh hari ini adalah hari yang begitu melelahkan.
Masih segar di ingatan tentang bagaimana Fery yang menariknya masuk kedalam mobil, hingga membawanya ke salah satu persimpangan jalan yang begitu sepi, berusaha melecehkannya namun tak berhasil karena pada saat itu Winda berhasil kabur dengan meminta bantuan dari salah satu pengguna jalan yang sama sekali tak ia kenal.
Pria muda yang begitu tampan, dengan tatapan dingin namun sungguh baik hati. Bagaimana tidak, meskipun memiliki tatapan yang begitu dingin. Namun, pria itu bersedia menolongnya hingga mengantarkan Winda sampai
di depan toko kue milik kakaknya. Ah, pria seperti itu sangat jarang sekali ada di dunia ini, berani membantu tanpa meminta imbalan. Tapi, ngomong-ngomong soal imbalan, tadi Winda sendiri lupa mengucapkan terima kasih saat sudah turun dari sana.
“Astaghfirullahaladzim…” dengan tepukan keras yang mengenai jidatnya. “Bagaimana aku bisa lupa berterimakasih kepada pria itu,” mulai menggaruk-garuk kepalanya. “Dia telah membantuku, tapi sekarang sebuah ucapan terima kasih pun tidak aku sampaikan padanya. Bagaimana ini?”
Di tengah pikiran yang membelenggu hatinya, tiba-tiba saja pikiran Winda melayang saat Dedi yang tadi sore mengatakan suka kepadanya.
“Astaga … Kak Dedi, lagi!” mengembuskan napas dengan kasar. “Baru saja tertimpa musibah dan sekarang, Kak Dedi menyatakan rasa suka nya kepadaku.”
Menyandarkan tubuhnya dengan lemas.
“Bagaimana ini? Jawaban apa yang harus aku berikan?” kedua tangan Winda saat ini sudah mengatup ke seluruh wajahnya.
Di tengah ke gundah gulanaan hatinya, tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya.
“Winda!” sebuah tangan menepuk di bahunya.
Winda membuka mata, dan melihat— “Ibu,” mengerutkan dahinya.
“Kamu ya, sudah pulang bukannya langsung masuk ke dalam rumah. Ini malah asik santai-santai di sini,” omel sang Ibu.
“Winda capek, Bu,” tatapan Winda berubah sayu.
“Iya … Ibu tau, tapi seharusnya kamu masuk dulu ke dalam, bersihkan tubuhmu lalu tunaikan kewajibanmu,” cecar Ibu. “Kamu, belum shalat magrib kan?” tanyanya kini.
“Astaghfirullah … Ibu, Winda lupa!” segera Winda berlari pergi masuk ke dalam rumahnya.
Sementara di sana, Ibunya terlihat geleng-geleng kepala melihatnya.
“Hmm, Winda-winda…”
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.