NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos rumah Rukmini. Wanita itu sedang mengucurkan air dari selang menyiram deretan tanaman bunganya saat sebuah mobil sedan hitam pelan-pelan memasuki halaman.

Mesin mobil dimatikan, dan tak lama kemudian pintu terbuka.

Dari dalam mobil, turunlah Yani, putri bungsu Rukmini bersama Arif, menantunya, dan Della, putri kecil mereka yang menggemaskan. Wajah Rukmini seketika benderang. Rasa bahagia membuncah di dadanya melihat kedatangan putri kesayangannya yang memang sudah lama tak berkunjung karena tinggal di luar kota.

"Yani! Kalian datang, Nak!" seru Rukmini penuh sukacita. Ia bergegas meletakkan selang air ke atas tanah dan setengah berlari menghampiri mereka.

Yani tersenyum hangat, menggendong Della yang memakai gaun merah muda. "Iya, Bu. Kami kangen sekali sama Ibu. Makanya Mas Arif mengosongkan jadwal minggu ini supaya kita bisa menginap di sini."

"Aduh, masuk, masuk! Senangnya hati Ibu. Ayo, Arif, bawa koper-kopernya ke dalam," ujar Rukmini penuh semangat. Berbeda sifatnya pada Nina, karena memang Arif ini orang berada.

Arif mengangguk hormat, menyalami tangan mertuanya sembari membawa koper besar mereka.

Setibanya di ruang tamu yang sejuk, Rukmini langsung mengambil alih Della dari pangkuan Yani. Ia menatap cucunya dengan mata berbinar-binar. "Sudah besar sekali cucu Nenek ini! Pipi cantiknya makin menggemaskan. Sini sama Nenek, Sayang."

Della tidak menolak. Anak kecil itu tertawa renyah dan mengulurkan kedua tangan mungilnya, menghambur ke pelukan Rukmini. Suasana rumah itu mendadak ramai dan hangat oleh tawa bocah kecil tersebut.

"Cepat sekali Della tumbuh ya, Bu. Rasanya baru kemarin saya melahirkan, sekarang dia sudah makin lincah berlari," kata Yani penuh syukur.

"Iya, anak kecil memang cepat sekali tumbuhnya," sahut Rukmini sembari menciumi pipi Della.

Yani mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang tampak sepi. "Ngomong-ngomong, kok aku tidak melihat Mbak Ruhi dan Mas Herman, Bu? Mereka ke mana?"

"Oh, mbakmu sedang keluar sejak pagi bersama suaminya. Katanya ada urusan penting ke luar kota," jawab Rukmini singkat tanpa membeberkan bahwa sebenarnya Ruhi dan Herman sedang mengurus urusan keuangan yang karut-marut.

Yani membulatkan bibirnya sambil mengangguk paham. Namun, ingatan Yani melayang pada kabar santer yang ia dengar beberapa waktu lalu. Keceriaan di raut wajahnya perlahan surut.

"Bu... bagaimana kabar Bang Roni dan Mbak Nina?" tanya Yani pelan.

"Aku dengar dari Mbak Ruhi lewat telepon kemarin, mereka sudah pindah menetap di rumah Nek Nilam di desa?"

Seketika itu juga, raut wajah Rukmini berubah drastis. Senyum hangat di bibirnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh gurat ketus dan mata yang memancar kemarahan. Ia menurunkan Della dari pangkuannya perlahan, lalu menyenderkan punggungnya ke sofa dengan napas terengah menahan emosi.

"Iya! Mereka sudah pindah!" jawab Rukmini kasar. "Memang dasarnya si Nina itu wanita tidak tahu diri! Selalu bikin masalah dan memecah belah keluarga ini. Membawa anak Ibu pergi menumpang di desa terpencil itu!"

Yani menatap ibunya dengan raut kebingungan yang mendalam. Sebenarnya, sebelum datang ke rumah ibunya, Yani sempat tak sengaja bertemu dengan beberapa tetangga lama serta kerabat di pasar. Mereka bercerita banyak hal, tentang bagaimana sabarnya Nina, betapa keras dan toxic-nya perlakuan Rukmini serta Ruhi pada gadis yatim piatu itu, hingga insiden-insiden yang menindas mental Nina. Yani tahu betul, Nina adalah wanita baik-baik.

"Bu... tapi aku dengar dari beberapa orang, Mbak Nina itu sebenarnya gadis yang sangat sopan dan baik," tutur Yani berusaha melembutkan bicaranya. "Apa sebenarnya yang terjadi sampai Bang Roni nekat memboyong istrinya keluar? Apa tidak ada cara untuk diselesaikan baik-baik?"

Rukmini langsung mendelik tajam, matanya seakan hendak melompat keluar. "Jangan kamu berani-berani membela wanita miskin itu, Yani! Dia itu dalang dari semua kekacauan ini! Kalau dia tidak muncul dan meracuni otak Roni, keluarga kita tidak akan berantakan seperti ini!"

Melihat ibunya mulai tersulut emosi, Yani menundukkan kepala. Ia sadar betul, berdebat dengan Rukmini yang keras kepala dan selalu merasa paling benar adalah hal yang sia-sia. Ibunya tak akan pernah mau mengagungkan kebenaran bila itu artinya harus mengakui kesalahan sendiri.

Lagipula, Yani sama sekali belum tahu bahwasanya kelakuan bejat Herman-lah yang menjadi pemicu utama Roni murka dan mengangkat kaki.

"Aku cuma berharap semua ini bisa diselesaikan dengan damai, Bu." bisik Yani lirih. "Mbak Nina itu kan sudah jadi bagian keluarga kita sekarang. Kalau saling memaafkan, mungkin kita bisa hidup lebih harmonis."

Rukmini mendengus kasar, memalingkan wajahnya rapat-rapat. "Sudahlah! Tidak usah bahas wanita itu lagi! Bikin hilang mood Ibu saja!"

Yani hanya bisa menghela napas panjang. Melihat situasi yang makin panas, ia memutuskan untuk mengakhiri perbincangan. "Ya sudah, Bu. Aku ke kamar dulu ya, mau beres-beres baju dan istirahat sebentar," pamit Yani sembari menyenggol lengan suaminya.

Rukmini mengangguk acuh, kembali memusatkan perhatiannya pada Della yang sibuk bermain boneka di lantai. Di hadapan cucu kecilnya, raut tegang Rukmini perlahan mencair kembali, seolah memanjakan Della adalah caranya melupakan dendam pada Roni dan Nina.

Di dalam kamar depan, Arif menutup pintu rapat-rapat. Ia memerhatikan wajah istrinya yang diliputi beban emosional usai pembicaraan di ruang tamu tadi.

Arif menghampiri Yani dan mendaratkan duduknya di tepi ranjang. "Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Arif lembut sembari merengkuh bahu istrinya.

Yani menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada Arif. Suaranya bergetar menahan napas. "Aku tidak nyaman setiap kali Ibu memaki Mbak Nina seperti itu, Mas. Aku kasihan sama Mbak Nina. Dia itu yatim piatu, tidak punya siapa-siapa lagi selain Bang Roni dan neneknya. Tapi kenapa Ibu dan Mbak Ruhi tega sekali melimpahkan semua kesalahan padanya?"

Arif mengusap lengan Yani dengan penuh pengertian. "Mas mengerti perasaanmu. Tapi kamu tahu sendiri, watak Ibumu memang sangat keras. Sulit untuk mengubah sudut pandangnya jika dia sudah membenci seseorang. Kita cuma bisa berdoa semoga Bang Roni dan Mbak Nina diberi kekuatan menjalani semua ini di desa."

Yani menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku tidak mau keluarga kita makin hancur karena kebencian ini, Mas."

Arif mengangguk, mengecup pelan dahi istrinya. Yani menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mulai mengeluarkan pakaian dari koper untuk ditata di dalam lemari.

Saat suasana di kamar sudah terasa lebih tenang, Yani tiba-tiba menghentikan tangannya. Ia menoleh ke arah pintu yang terkunci rapat, lalu berbisik pada Arif.

"Mas. aku mau kita mengunjungi Bang Roni dan Mbak Nina ke desa. Tanpa sepengetahuan Ibu."

Arif tertegun sejenak. "Ke desa? Tanpa bilang Ibu?"

"Iya, Mas," desak Yani dengan mata penuh permohonan. "Aku sudah lama sekali tidak bertemu mereka. Dulu waktu mereka akad, Ibu dan Mbak Ruhi melarang kita datang, kan? Aku merasa sangat bersalah. Mbak Nina pasti butuh dukungan sekarang. Tapi kalau kita minta izin sama Ibu, pasti Ibu akan mengamuk dan melarang kita pergi."

Arif mendengarkan dengan saksama. Sorot matanya memancarkan rasa setuju. "Mas paham, Yan. Mas juga merasa kita memang harus menjenguk mereka. Selain memberi dukungan untuk Mbak Nina, Bang Roni pasti butuh saudara yang bisa diajak bicara. Lagipula, kita perlu tahu kondisi mereka yang sebenarnya di sana."

Tersirat senyum lega di bibir Yani. "Terima kasih banyak ya, Mas. Nanti kita bisa pamit sama Ibu dengan alasan mau mengajak Della jalan-jalan ke mall atau taman kota. Dari sana, kita langsung meluncur ke desa tempat mereka."

"Rencana yang bagus. Kita cari waktu yang paling pas besok lusa, supaya Ibu tidak curiga," sahut Arif mantap, menggenggam erat jemari istrinya.

*

Di lain tempat, di dalam gubuk remang bernuansa mistis di pinggiran kota, aura kejahatan kembali membumbung tinggi. Asap kemenyan yang tebal bergulung-gulung mengelilingi tempat duduk Mbah Jarwo.

Hana duduk di hadapan sang dukun dengan raut wajah penuh amarah dan frustrasi. Rencananya menyebarkan pelet lewat makanan kemarin gagal total karena Nek Nilam.

"Pelet racikan Mbah yang kemarin tidak mempan!" bentak Hana tanpa basa-basi. "Makanan itu sama sekali tidak disentuh oleh Roni! Nenek tua di rumah itu punya indera yang sangat tajam. Aku butuh sesuatu yang jauh lebih bagus. Aku mau Roni menuruti semua kata-kataku tanpa bisa melawan sedikit pun!"

Mbah Jarwo terkekeh pelan, tawa seraknya membuat bulu kuduk berdiri. Ia mengambil sebuah kotak kayu hitam kecil bertuliskan ukiran Jawa kuno dari balik kainnya. Ketika kotak itu dibuka, di dalamnya terpampang dua buah jarum emas sangat kecil yang memancarkan kilau aneh..

"Kalau begitu, kita gunakan ilmu tingkat tinggi," desis Mbah Jarwo dengan suara yang mengerikan. "Kita pasang susuk emas ini tepat di bibirmu. Susuk ini dibasuh dengan darah ayam cemani dan mantra pengasihan. Setelah jarum emas ini menyatu dengan daging bibirmu, setiap kata yang keluar dari mulutmu akan menjadi titah gaib. Siapa pun yang mendengar suaramu, hatinya akan terkunci, otaknya akan tumpul, dan jiwanya akan tunduk menyerahkan segalanya padamu!"

Mata Hana berbinar-binar. Tanpa keraguan sedikit pun, ia membusungkan dadanya. "Pasang sekarang, Mbah! Aku tidak peduli betapa sakitnya!"

Mbah Jarwo mengangguk puas. Ritual penanaman susuk pun dimulai. Dengan gerakan perlahan dan mantra-mantra gaib yang terucap pelan di dalam gubuk, Mbah Jarwo menusukkan jarum emas pertama ke bagian tengah bibir atas Hana, disusul jarum kedua di bibir bawahnya. Rasa perih dan sensasi dingin luar biasa menjalar ke seluruh saraf wajah Hana, namun wanita itu menahannya dengan seringai puas.

Setelah ritual pemasangan susuk selesai dan jarum emas itu lenyap menghilang menembus ke dalam kulit bibir Hana tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun, Mbah Jarwo menatap Hana dengan raut wajah yang sangat serius.

"Ingat ada pantangan yang harus kau jaga.," tegas Mbah Jarwo dengan suara menekan. "Setelah susuk ini menyatu, kau tidak boleh sekali-kali memakan sate langsung dari tusuk bambunya, buah pisang mas, dan labu. Jika kau melanggar pantangan ini, energi susuk di bibirmu akan berbalik menghancurkan wajahmu sendiri hingga membusuk!"

Hana mengusap bibirnya yang kini terasa agak tebal dan memancarkan aura pikat yang memabukkan. Ia tersenyum sangat puas, membayangkan betapa mudahnya ia akan menghancurkan Roni dan Nina.

"Tenang saja, Mbah. Pantangan semudah itu tidak akan terlanggar olehku," sahut Hana dengan mata berkilat penuh dendam. "Roni akan segera merangkak di bawah kakiku, dan Nina akan hancur sehancur-hancurnya!"

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!