Warning : Cerita ini hanya untuk pembaca dewasa
Pasca berakhirnya pertunangan dengan mantan kekasihnya yang kasar dan super toxic, Lila memutuskan untuk kembali ke Brisbane, kota tempat ia tumbuh bersama empat sahabat masa kecilnya yang dulu ia perlakukan sebagai kacung.
Henry, Jacob, Aiden dan Pierre. Mereka yang dulu Lila anggap sebagai anak buah, kini menjelma menjadi empat pria dewasa yang super tampan dan sangat mapan. Sementara Lila justru bertahan dengan sisa tabungannya dan honor sebagai novelis tidak terkenal yang sangat sedikit.
Setelah dipermalukan oleh Henry di acara reuni SMA, Lila justru mendapatkan kejutan demi kejutan tak terduga dari keempat sahabat masa kecilnya yang diam-diam mencintainya sejak lama.
Jika kamu suka cerita ini, jangan lupa like, coment dan follow ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azmi McFadden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debaran
"Dasar! Seenaknya saja mencium seorang wanita sembarangan! Tidak sopan!" Batinnya. Wajahnya terasa sangat panas dan memerah meski Aiden telah pergi 10 menit yang lalu.
Lila menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Debaran di dadanya masih terdengar jelas. Berbeda dari saat ia bercinta dengan Pierre malam itu, di mana dia sedang mabuk dan tidak benar-benar ingat apa yang mereka lakukan. Atau ciuman saat ia dan Aiden menginap di rumah pohon. Ciuman kali ini terasa sedikit berbeda, terasa sangat manis karena terjadi begitu saja.
Saat mata Aiden terbuka setelah menciumnya, ia merasa sangat terpukau. Mata amber itu membuatnya begitu terlena hingga ia lupa bahwa pria yang berada di depannya saat itu adalah teman masa kecilnya yang selalu menjadi pengikut setianya.
"Aiden sialan! Kenapa kau jadi ganteng banget sih?" Lila merasa sangat frustasi sekarang. Bukan hanya karena daya tarik secara visual, namun sikap manis yang ia tunjukkan membuat Lila menjadi semakin gelisah.
Matanya menatap ke atas langit, di mana bintang-bintang bersinar bersama sang bulan. Lila menyadari sekarang bahwa teman-temannya itu sudah sangat berubah dari yang ia kenal dulu. Mereka bukan lagi anak-anak laki-laki yang hanya bisa mendengarkan dan mengikuti perintahnya. Mereka sudah mengambil jalan yang membuatnya merasa jauh tertinggal ke belakang.
"Curang! Mereka semua berhasil menjalani hidup dengan baik tanpa aku. Sedangkan aku, kembali ke tempat ini karena sudah tidak punya apa-apa lagi!"
Mengingat apa yang Aiden katakan membuatnya merasa sedikit tenang. Melihat ketulusan Aiden, setidaknya ia masih punya seseorang yang peduli padanya.
Lila kembali ke kamarnya dan merasa sedikit lebih senang. Ia mendengar ponselnya berdering di atas meja berkali-kali. Ia mengambil ponselnya dan terkejut karena yang menghubunginya adalah Pierre.
Sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhnya, teringat kembali atas apa yang sudah ia dan Pierre lakukan malam itu. Yang membuatnya merasa jauh lebih malu karena mereka melakukannya lebih dari satu kali malam itu dan sejak saat itu, ia belum berbicara atau bertemu lagi dengan Pierre.
"Ha-halo Pierre?" Sapanya dengan gugup.
"Hai? Selamat malam?" Ucap Pierre dengan lembut. Lila merasa bukan sedang berbicara dengan teman lamanya, melainkan dengan seorang pria yang baru ia kenal. Terasa sangat canggung dan aneh.
"Selamat malam? Apa kau sudah sampai di Sydney?"
"Ya, aku baru sampai beberapa jam yang lalu dan sekarang aku sedang di apartemen. Kau sedang apa?"
"Hmm...aku baru saja mengobrol dengan Aiden!"
"Aiden?"
"Ya! Tapi dia sudah pulang!"
"Dia berkunjung ke tempatmu?" Tanya Pierre yang entah mengapa merasa sedikit khawatir akan satu hal yang tidak ia pahami.
"Ya, dia hanya datang sebentar untuk mengantarkan coklat favoritku. Aku terkejut dia masih mengingatnya."
"Begitu ya? Syukurlah!"
"Jadi, kenapa tiba-tiba kau meneleponku? Apa ada hal penting yang ingin kau katakan?"
"Apa aku hanya boleh menelponmu jika ada hal yang penting? Rasanya terdengar seperti orang asing saja!"
"Bukan begitu! Tapi bukankah kita sempat menjadi orang asing?"
"Apa kau merasa asing padaku?" Tanya Pierre. Nada suaranya menjadi serius dan dingin. Berbeda dengan Aiden yang usil dan suka bercanda, Henry yang terlalu frontal atau Jacob yang tidak pernah menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Pierre adalah pria yang sangat serius dalam menjalani hidupnya. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia pasti akan langsung mencari tahu penyebabnya.
"Bukan begitu, Pierre! Maksudku, kita tidak bertemu selama 10 tahun dan itu bukan waktu yang sebentar untuk mengembalikan lagi hubungan yang terasa canggung'kan? Apalagi sekarang kita sudah sama-sama dewasa dan aku merasa seperti tidak layak berada di antara kalian lagi." Lila merasakan gejolak aneh di hatinya. Perasaan di mana ia merasa sangat berbeda dari keempat teman-temannya.
"Apa dulupun kau merasa begitu?"
"Tidak! Aku hanya merasa kalian sudah melangkah jauh di depanku, sedangkan aku tertinggal di belakang sendirian." Suaranya bergetar. Ia nyaris saja menunjukan kesedihan yang seharusnya ia simpan seorang diri.
Pierre mulai menyadari ada sesuatu yang aneh dan dia berharap Lila bisa memberitahunya sesuatu.
"Apa kau sedang mengalami masalah?"
"Ti-tidak, aku-"
"Aku tahu, sejak dulu kau selalu saja seperti itu. Jika ada masalah, sebaiknya katakan saja!"
"A-aku tidak ada masalah, Pierre! Aku hanya-"
"Apa aku penting untukmu?" Tanya Pierre. Lila terkejut dan merasa bahwa itu bukanlah pertanyaan yang bisa ia jawab dengan mudah.
Suasana menjadi hening karena ia memilih untuk bungkam sesaat. Pikirannya berputar-putar dan perasaannya berkecamuk. Hari ini, mereka menunjukkan sikap yang mungkin tidak akan pernah ia bayangkan sebelum memutuskan kembali ke kampung halamannya ini.
Saat itu ia berpikir bahwa saat bertemu kembali, mereka tidak akan mengenalinya dan melupakannya. Atau seandainya mereka mereka masih mengingatnya, mungkin mereka akan berpura-pura dan menganggapnya hanya sebagai bagian kecil dari kehidupan mereka yang tidak perlu di kenang.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia menerima secarik kertas dari Jacob yang tertulis nomor ponsel dan alamat rumahnya. Jacob memintanya untuk menghubunginya jika ia membutuhkan bantuan. Henry, meskipun dengan cara yang kotor, tampaknya ia masih cukup peduli dengan kehidupannya dengan menawarkannya bekerja di perusahaannya meski dengan tujuan untuk balas dendam. Aiden sampai repot-repot datang menemuinya hanya untuk memberikan coklat favoritnya, bahkan berjanji untuk membantunya melunasi hutangnya pada Henry dan sekarang Pierre pun melakukan hal yang sama. Menelponnya disaat ia baru saja tiba di Sydeny hanya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Air matanya mengalir, meskipun ia berusaha agar Pierre tak mendengar suara tangisannya, karena sulit baginya untuk menolak kebaikan orang lain untuk saat ini.
"Maafkan aku!"
"Hmm? Kau belum menjawab pertanyaanku! Apa aku penting untukmu?"
"Kenapa kau tanya itu sih?"
"Tidak apa-apa! Aku hanya ingin tahu saja. Sejak dulu aku selalu berusaha melakukan semua yang aku bisa agar kau menganggapku penting. Tapi dulu kau selalu bilang bahwa kau tak pernah butuh teman dan yang kau butuhkan hanya orang-orang yang bisa menjadi pengikut setiamu."
"Saat itu kita masih bocah, jadi aku tidak terlalu memikirkan tentang hubungan pertemanan atau semacamnya!"
"Begitu ya? Jadi, selama orang itu bermanfaat untukmu, tidak masalah, begitu?"
"Ya, begitulah!"
"Baiklah, aku mengerti. Anggap saja begitu, tapi jika aku boleh jujur, aku merasa sangat senang setiap kau mengandalkanku. Karena itu mulai sekarang, teruslah mengandalkanku seperti dulu!"
"Dasar aneh! Kau ini memang suka direpotkan ya?" Lila tertawa kecil. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Pierre.
"Ya! Kalau kau yang membuatku repot tidak apa-apa!"
"Baiklah, karena kau yang memintanya, mulai sekarang aku akam merepotkanmu. Kau tidak boleh protes, kau mengerti?"
"Baiklah, dengan satu syarat!"
"Apa itu?"
"Kau tidak boleh merepotkan yang lain selain aku, kau mengerti?" Pinta Pierre. Lila cukup mengerti apa maksud Pierre, namun ia tidak ingin terlalu percaya diri.
"Maksudnya, aku hanya boleh meminta bantuanmu saja? Begitu?"
"Ya! Hanya aku saja!"
"Kenapa begitu? Aiden dan Jake juga bilang bahwa mereka ingin membantuku dan meskipun menyebalkan, tapi tampaknya Henry cukup peduli padaku juga!"
"Begitu ya? Jadi mereka juga sangat peduli padamu?"
"Aku juga tidak mengerti kenapa kalian sangat baik padaku? Apa ini bagian dari rencana balas dendam Henry dan kalian bertiga ingin membantunya?"
"Apa kau berpikir begitu?"
"Tidak! Aku hanya asal menebak saja! Habisnya kalian baik sekali, rasanya sangat aneh karena seharusnya kalian membenciku, iyakan?"
"Dengar, aku tidak tahu dengan mereka tapi aku melakukan ini karena aku hanya ingin membuatmu tetap tinggal. Aku tidak ingin kau menghilang tiba-tiba dan aku sangat benci perasaan di mana kau tidak membutuhkan aku lagi!"
Lila tercenung, semakin mendengar ucapan Pierre, ia semakin merasal sesuatu yang aneh di hatinya. Ia tak benar-benar tahu, apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang dirinya dan mengapa kenyataan yang ia rasakan saat ini jauh berbeda dari apa yang seharusnya terjadi.
"Pierre, kau tahu apa yang aku pikirkan sekarang?"
"Apa?"
"Aku ingin memukulmu!"
"Benarkah?"
"Ya! Aku ingin memukulmu karena kau sudah berani bercinta denganku disaat aku mabuk. Dasar brengsek!" Ucapnya sambil tertawa kecil. Berbeda dari sebelumnya, saat ini berbicara tentang sex pada Pierre terasa biasa saja. Rasa malu dan canggung itu perlahan menghilang.
"Aku melakukannya karena kau yang memintanya!"
"Jadi karena aku memintanya, kau langsung menurut, begitu?"
"Kau yang menggodaku lebih dulu! Kau pikir, aku bisa menahannya?"
"Tapi aku ini Camila Adriana Cohen, dasar bodoh! Kau harusnya sadar!"
"Justru karena kau adalah Camila Adriana Cohen, aku jadi semakin ingin melakukannya!"
"Apa?"
"Kau terlihat sangat seksi, karena itu aku benar-benar minta maaf!"
"Baiklah, aku sudah memaafkanmu. Jadi lupakan saja!"
"Bagaimana bisa aku melupakannya?"
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena saat ini aku ingin melakukannya lagi denganmu."
***