Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Ko Kevin
Keira tidak langsung pulang ke keluarga Liem.
Rolls-Royce melaju melewati jalan utama Surabaya, meninggalkan Rumah Besar Sutanto yang selama tiga tahun menjadi sangkar paling mewah dalam hidupnya. Di kursi belakang, koper kecil berdiri di samping kaki Keira. Tas kain murahnya masih berada di pangkuan, dan di dalamnya kartu hitam keemasan terasa seperti rahasia yang berdenyut.
Pak Lim menoleh dari kursi depan. "Nona, Pak Hendrik meminta saya mengantar Nona ke tempat yang Nona pilih."
Keira menatap kontrak Angle Entertainment di tangannya. Logo perusahaan itu tercetak rapi di halaman depan, tajam dan dingin, seperti pintu menuju hidup yang dulu ia tinggalkan.
"Ke Angle," katanya.
Mata Pak Lim melembut. "Baik, Nona."
Gedung Angle Entertainment berdiri di kawasan bisnis Surabaya, kaca-kacanya memantulkan langit siang yang mulai terik. Di depan lobi, beberapa anak muda berpakaian modis keluar masuk sambil membawa portofolio, gitar, atau map audisi. Poster besar penyanyi dan aktor populer menutupi salah satu sisi dinding.
Keira turun dari Rolls-Royce tidak tepat di depan pintu utama.
Ia meminta mobil berhenti agak jauh.
"Nona?" Pak Lim tampak tidak setuju.
"Aku ingin masuk sendiri."
"Tetapi pakaian Nona..."
Keira melihat pantulan dirinya di kaca mobil. Blus pasar yang sudah pudar, rok hitam lama, tas kain murah, dan plester kecil di pergelangan tangan. Jika ia berdiri di antara trainee Angle yang berpakaian rapi, ia memang terlihat seperti seseorang yang tersesat.
"Justru karena itu," jawab Keira. "Aku ingin melihat seperti apa perusahaan ini ketika mereka tidak tahu siapa aku."
Pak Lim menahan kalimatnya. Pada akhirnya ia hanya membungkuk kecil. "Saya menunggu di dekat sini."
Keira berjalan masuk.
Udara lobi dingin, wangi parfum mahal bercampur aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan. Lantai marmernya bersih sampai bisa memantulkan sepatu. Orang-orang bergerak cepat, ponsel di tangan, ID card menggantung di leher.
Begitu Keira mendekati meja resepsionis, dua perempuan di balik meja mengangkat wajah.
Senyum profesional mereka muncul setengah detik, lalu hilang saat melihat pakaian Keira.
"Mau audisi?" tanya salah satunya.
Nada itu tidak kasar secara terbuka, tetapi cukup untuk membuat orang tahu ia sedang menilai.
"Aku ingin bertemu direktur utama," jawab Keira.
Resepsionis itu saling pandang, lalu salah satunya tertawa kecil. "Direktur utama?"
"Iya."
"Ada janji?"
"Tidak."
Tawa kecil tadi berubah menjadi dengusan. "Mbak, audisi trainee di lantai dua. Kalau mau daftar, ambil nomor dulu. Jangan langsung minta ketemu bos besar."
Keira menatapnya.
Mbak.
Untuk orang luar, panggilan itu biasa. Namun cara perempuan itu mengucapkannya membuatnya terdengar seperti cara halus untuk berkata, kau bukan siapa-siapa.
"Aku bukan peserta audisi."
Resepsionis lain melirik tas kain Keira. "Kalau bukan audisi, mau apa? Cari kerja OB? Bagian cleaning service lewat pintu samping."
Beberapa orang yang menunggu di sofa menoleh. Ada yang menahan senyum.
Keira tidak marah.
Ia hanya meletakkan kontrak Angle Entertainment di atas meja, menutup logo dengan telapak tangan agar tidak langsung terlihat. "Tolong hubungi kantor direktur utama. Katakan Keira datang."
"Keira siapa?"
"Keira."
Resepsionis pertama melipat tangan. "Dengar, ya. Setiap hari banyak orang datang ke sini merasa dirinya spesial. Ada yang bilang kenal artis, ada yang bilang punya koneksi produser, ada juga yang bawa cerita sedih dari kampung. Tapi kantor ini bukan tempat main-main."
Keira menarik napas pelan.
Satu jam lalu, Rayhan berkata ia tidak akan sanggup hidup di luar keluarga Sutanto.
Ternyata dunia luar juga tidak kekurangan orang yang ingin mengukur harga dirinya dari baju.
"Telepon saja," kata Keira.
"Kalau kami tidak mau?"
Keira mengangkat telapak tangannya dari map.
Logo Angle Entertainment terlihat.
Resepsionis itu terdiam sesaat, tetapi cepat memulihkan diri. "Map seperti itu bisa dibeli di percetakan."
Keira tersenyum tipis. "Kalau begitu, telepon untuk memastikan apakah percetakan itu juga bisa mencetak tanda tangan pemilik perusahaan."
Salah satu resepsionis mulai ragu. Ia mengambil telepon internal dengan wajah tidak senang, menekan beberapa nomor, lalu bicara pelan.
"Ada perempuan bernama Keira di lobi. Katanya ingin bertemu direktur utama."
Jeda.
Wajah resepsionis itu berubah.
"Iya, Pak. Keira... hanya Keira."
Jeda lagi.
Kali ini wajahnya pucat.
Ia menutup telepon dengan tangan sedikit gemetar. Senyum yang tadi hilang mendadak kembali, terlalu lebar dan terlalu terlambat.
"Bu Keira, mohon tunggu sebentar. Pak Kevin akan turun sendiri."
Suasana lobi berubah.
Orang-orang yang tadi menonton dengan senyum mengejek langsung saling pandang. Pak Kevin. Direktur utama Angle Entertainment. Pria yang disebut mampu menentukan hidup mati karier artis hanya dengan satu kalimat.
Resepsionis kedua berdiri tergesa. "Maaf, Bu Keira. Kami tidak tahu."
"Tentu," jawab Keira. "Kalian hanya tahu menilai dari baju."
Wajah dua resepsionis itu makin pucat.
Lift khusus eksekutif terbuka.
Seorang pria keluar dengan langkah cepat. Kemeja hitamnya digulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan, dan wajah tampannya membawa aura malas yang berbahaya. Begitu melihat Keira, seluruh ekspresi dingin itu runtuh.
"Kei."
Satu panggilan itu membuat dada Keira terasa sesak.
Selama tiga tahun, tidak ada yang memanggilnya begitu.
Kevin Liem berjalan mendekat. Ia tidak peduli pada puluhan mata di lobi, tidak peduli pada pakaian murah Keira, tidak peduli pada bisik-bisik yang mulai pecah. Ia langsung menarik Keira ke dalam pelukan.
Keira membeku sesaat.
Lalu tangannya pelan-pelan mencengkeram punggung kemeja Kevin.
"Ko Kevin," bisiknya.
Kevin memeluknya lebih erat. "Akhirnya kau pulang."
Kalimat itu hampir membuat Keira menangis. Namun ia menahannya. Bukan di sini. Bukan di depan orang-orang yang baru saja menilainya seperti barang murah.
Kevin melepas pelukan, lalu melihat plester di pergelangan tangan Keira. Senyum di wajahnya hilang.
"Siapa yang melakukan ini?"
"Nanti," jawab Keira cepat. "Aku baik-baik saja."
"Kei."
"Ko Kevin, nanti."
Kevin menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. Namun ketika ia menoleh ke meja resepsionis, matanya berubah tajam.
"Siapa yang membuat adikku menunggu di lobi?"
Adikku.
Kata itu jatuh seperti petir.
Resepsionis pertama hampir tidak bisa berdiri. "Pak Kevin, kami tidak tahu kalau Bu Keira..."
"Tidak tahu dia siapa?" potong Kevin. "Jadi kalau dia bukan siapa-siapa, kalian boleh menghinanya?"
Tidak ada yang berani menjawab.
Kevin melirik kepala keamanan yang baru datang tergopoh. "Catat nama mereka. Mulai hari ini, mereka tidak perlu bekerja di Angle."
"Pak, maaf, kami..."
"Keluar."
Satu kata itu cukup.
Keira tidak menghentikannya. Dulu ia terlalu sering memaafkan orang yang menghina karena tidak ingin membuat keributan. Hari ini ia belajar, kadang harga diri perlu dijaga dengan konsekuensi nyata.
Kevin membawa Keira masuk ke lift khusus.
Begitu pintu tertutup, ia langsung menekan tombol lantai tertinggi, lalu menghela napas panjang.
"Papa hampir terbang sendiri ke Surabaya saat tahu kau mengajukan cerai."
Keira menunduk. "Aku belum siap bertemu Papa."
"Kami tahu." Suara Kevin melunak. "Papa juga tahu. Tapi dia ingin kau ingat satu hal. Kau sudah bebas dari keluarga Sutanto. Mulai sekarang, kau adalah Keira Liem."
Nama itu memenuhi ruang lift.
Keira Liem.
Bukan istri Rayhan. Bukan menantu tidak berguna. Bukan anak panti yang harus berterima kasih karena diberi atap.
Kevin menyodorkan ID card hitam kepadanya. "Mulai hari ini, jabatanmu adalah direktur manajemen artis. Tapi Papa melarang kami membantumu curang."
Keira mengangkat alis. "Curang?"
"Kau harus memegang Angle dengan kemampuanmu sendiri. Aku boleh melindungimu, tapi tidak boleh mengerjakan pekerjaanmu."
Untuk pertama kalinya hari itu, Keira benar-benar tersenyum.
"Bagus. Aku juga tidak pulang untuk dimanjakan."
Pintu lift terbuka di lantai eksekutif.
Kevin berjalan di sampingnya, tetapi kali ini tidak menuntunnya. Ia membiarkan Keira melangkah sendiri melewati deretan karyawan yang berdiri kaku karena kabar dari lobi sudah naik lebih cepat daripada lift.
Di ujung lorong, ruang rapat besar terbuka. Beberapa manajer senior sedang berkumpul, wajah mereka terkejut ketika melihat Kevin masuk bersama perempuan berbaju pasar.
Kevin tidak memberi penjelasan panjang.
Ia hanya berkata, "Perhatian. Mulai hari ini, Angle Entertainment kedatangan direktur manajemen artis baru."
Keira melangkah maju.
Semua mata menatapnya.
Ia merasakan bekas luka di pergelangan tangannya, tas murah yang masih menggantung di bahu, dan kartu hitam keemasan yang tersembunyi di dalamnya.
Lalu ia mengangkat dagu.
"Nama saya Keira," katanya tenang. "Mulai besok, saya akan memeriksa semua kontrak artis, laporan keuangan divisi, dan daftar trainee bermasalah."
Beberapa wajah langsung berubah.
Keira melihatnya.
Ia tersenyum kecil.
Di layar besar ruang rapat, staf Kevin mengetik pengumuman internal sesuai instruksi. Beberapa detik kemudian, notifikasi muncul di seluruh komputer kantor.
Pengumuman penting: Angle Entertainment kedatangan direktur manajemen artis baru. Seluruh divisi wajib bersiap.
Keira membaca kalimat itu.
Babak barunya benar-benar dimulai.