Karena setiap orang memiliki rahasia.
Ellio yang baru sadar dari koma baru tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup ternyata sudah membagi hatinya untuk orang lain. Patah hati tentu membuat Ellio hampir kehilangan arah. Namun, tekad untuk mendapatkan kembali cintanya mendorong ia lebih keras untuk segera pulih.
Di saat yang sama, ada Putri
yang mencintai Ellio dalam diam. Ia yang hanya berperan sebagai figuran di kisah cinta Ellio dan Shanum. Dia yang selalu ada untuk Ellio, malah menjadi tersangka yang harus di adili untuk kesalahan yang sebenarnya tidak patut di salahkan. Jatuh cinta.
Siapa yang bisa memvonis bahwa jatuh cinta adalah kesalahan ? Mungkin hanya Ellio. Dan, ketika Ellio baru menyadari arti kehadiran Putri, gadis itu sudah pergi. Menghilang seperti permintaan Ellio terakhir kali.
Cinta, benci serta sebuah tahta yang harus di teruskan, bagaimana kisah ini akan berakhir ?
Baca juga :
~Bima & Ellena : Pernikahan Kontrak
~Senja di Moorea
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSP#34
Mentari sudah mulai naik ke peraduannya ketika gadis cantik berparas Eropa itu terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dari tempat tidur kemudian melangkah pelan membuka tirai jendela yang menghalangi sinar mentari memasuki ruangan kamar yang bernuansa pink muda. Gadis itu tersenyum meski netranya masih berusaha menyesuaikan sinar yang masuk.
"Good morning, Sunshine !" Sapanya pada mentari sambil merentangkan tangan. Ia menghirup udara segar dari jendela yang sudah ia buka.
Langkahnya kemudian beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai dengan ritual mandinya, gadis itu sudah keluar dengan menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit rambut indah di kepalanya.
Pintu kamar terdengar di ketuk seseorang dari luar. Shanum menghentikan aktifitasnya memakai serum wajah lalu bergerak membuka pintu yang masih terkunci.
"Mama ? Ngapain pagi-pagi gini udah nyamperin Shanum ?" Tanya gadis berbola mata kehijauan itu pada Ibu sambungnya.
"Nggak. Mama cuma mau bawain sarapan buat kamu." Nyonya Rosie tersenyum lalu memberikan sebuah piring berisi beberapa potong Sandwich pada Shanum.
"Ma, Shanum kan bisa sarapan di bawah. Ngapain Mama repot-repot anterin ke kamar Shanum segala ?" Gadis itu menerima Sandwich tadi lalu menarik tangan Nyonya Rosie untuk masuk ke dalam kamar. Rasa tidak enak akan perhatian berlebihan Nyonya Rosie menggantung di langit-langit hati gadis itu.
"Abisnya, kamu akhir-akhir ini jarang sarapan di rumah. Jadi, Mama inisiatif buat bawain sarapan kamu ke kamar aja. Mama kan khawatir kalau kamu berangkat kerja tapi nggak sarapan, Sayang." Tutur Nyonya Rosie yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur Shanum. Pandangan wanita paruh baya itu jelas menyiratkan rasa khawatir khas seorang wanita yang menyandang gelar 'Ibu' sebagai titelnya.
Shanum menghela napas___ia mengelus pelan punggung tangan Nyonya Rosie. " Makasih ya, Ma."
"Sama-sama." Nyonya Rosie mengangguk dengan senyum tulus di wajah senjanya. Wanita itu turut menepuk punggung tangan Shanum.
"Ayo di makan ! Mama sengaja bangun pagi buat bikinin kamu, loh !" Perintah Nyonya Rosie.
"Iya, Ma." Angguk Shanum. Ia menggigit sandwich buatan Nyonya Rosie dengan wajah berbinar. " Enak, Ma." Pujinya.
"Mama mau ?" Shanum menyodorkan sandwich bekas gigitannya ke mulut Nyonya Rosie.
"Mama masih kenyang, Nak ! Nanti aja Mama sarapan bareng Daddy kamu." Nyonya Rosie menjauhkan mulutnya___menolak sehalus mungkin tawaran Shanum.
"Nggak mau. Mama pokoknya harus makan." Shanum tak juga mau mengalah. Ia masih memaksa Nyonya Rosie untuk membuka mulut.
Nyonya Rosie pada akhirnya mengalah. Mana tega dia melihat wajah sedih Shanum ketika dia menolak untuk makan.
"Lagi, Ma." Pinta gadis itu.
"Mama udahan, Sha. Nanti Mama kekenyangan dan gak bisa nemenin Daddy kamu sarapan." Nyonya Rosie menggeleng saat sandwich kedua sudah berada di depan mulutnya lagi.
"Mama ! Ayo dong ! Kan jarang-jarang Shanum bisa suapin Mama !" Rayu gadis itu dengan wajah memelas.
Nyonya Rosie menghela napas dan pada akhirnya menerima suapan dari tangan Shanum lagi dan lagi. Hingga sandwich itu tandas di piring, kedua perempuan berbeda generasi tersebut sama-sama menghirup napas dalam-dalam. Mereka benar-benar kekenyangan.
* * *
" Andra !" Shanum melambaikan tangannya pada seorang pria berkacamata yang sedang bersandar di pintu mobil sport berwarna merah.
"Sha !" Andra memperbaiki posisi berdirinya, tersenyum pada Shanum yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Berangkat sekarang, yuk !" Shanum bergerak menuju ke bangku penumpang di samping pengemudi lalu merengsek masuk saat Andra juga sudah berada di kursi pengemudi.
"Udah ijin sama Daddy dan Mama kamu ?" Tanya Andra memastikan bahwa gadis yang sedang dia bawa sudah mendapat persetujuan dari kedua orang tuanya.
"Udah dong." Jawab Shanum bersemangat.
Hari ini keduanya sengaja mengambil cuti dari pekerjaan masing-masing untuk dua hari ke depan. Mereka berencana menuju ke Pulau Bali dan menghabiskan liburan bersama. Tentu saja Shanum sangat senang dengan ide itu ketika Andra mengusulkan. Kapan lagi dia bisa menghabiskan waktu berdua bersama pria yang sudah memiliki hatinya itu jika tidak sekarang.
Suasana bandara tampak tak begitu ramai. Keduanya turun dan menarik koper masing-masing untuk masuk ke dalam bandara.
"Aku udah nggak sabar buat liburan berdua sama kamu." Andra tersenyum, menatap Shanum dengan raut penuh cinta ketika mereka sudah berada di dalam pesawat yang sudah mulai mengudara.
"Aku juga." Gadis itu balas tersenyum.
Liburan ini memang sudah sangat lama mereka rencanakan. Terhitung, bahkan sebelum Ellio tersadar dari koma. Namun, baru sekarang impian itu bisa terwujud mengingat Shanum juga harus menemani Ellio di rumah sakit. Ya, walaupun jujur bahwa Shanum membohongi Ellio dan mengatakan bahwa dirinya ada pemotretan diluar kota selama dua hari ke depan.
Meski awalnya Ellio merasa ragu, namun pada akhirnya pemuda itu mengiyakan dan memberi ijin untuk Shanum. Toh, cuma untuk dua hari ke depan, pikirnya.
"Sha ! Kalau ada apa-apa, kamu ketuk kamar aku aja ya. Kamu istirahat aja dulu, nanti sore baru kita jalan-jalan." Ucap Andra sembari menyerahkan kunci kamar pada Shanum.
"Iya, Bawel !" Sahut Shanum. Dia menerima kunci yang di berikan Andra.
"Selamat istirahat, Baby !" Andra tersenyum dan menunggu Shanum memasuki kamarnya.
"Selamat istirahat !" Balas Shanum yang kini sudah menutup pintu kamarnya.
Ya, kamar keduanya memang tepat bersebelahan. Hal itu sengaja Andra lakukan karena takut ada hal buruk yang bisa saja terjadi pada gadis yang sudah berhasil membuat dirinya melupakan Ellena itu.
* * *
Shanum merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur hotel yang empuk. Matanya mulai terserang kantuk kembali mengingat dia hanya tidur sekitar 3 jam saja tadi malam. Ada pemotretan yang dia lakukan hingga dini hari yang sukses membuat Shanum merasakan kelelahan bukan main.
Drrttt.. Drrttt...
Ponsel Shanum bergetar. Segera gadis itu merogoh tasnya, mengeluarkan benda pipih berlogo apel setengah di gigit dari dalam sana dan membaca pesan yang masuk.
Pesan dari Putri, meski Shanum tahu bahwa bukan gadis imut itu yang mengirim pesan.
//Udah sampai, Sha ?"//
Shanum mendesah samar. Jujur, dirinya merasa benar-benar bersalah karena sudah membohongi Ellio. Tetapi, dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa kini dia hanya mencintai Andra. Ellio sudah hilang dari dalam hatinya semenjak ia mengenal pria pemilik bola mata cokelat yang sedang berada di kamar sebelah.
"Udah."
//Capek nggak ?//
"Lumayan. Gimana kaki kamu ? Udah ada perkembangan ?"
//Ya, Alhamdulillah. Sekarang semakin membaik. Doain aku biar bisa cepat sembuh dan bisa jalan lagi. Biar, kalau kamu mau kemana-mana, ada aku yang bisa nganterin kamu setiap saat.//
Shanum tersenyum tipis membaca pesan balasan dari Ellio. Pemuda itu memang laki-laki yang baik. Bahkan, bisa di bilang Ellio adalah pemuda satu-satunya yang tidak pernah memberikan Shanum luka sedikitpun. Ellio yang dulu tetap sama bagi Shanum. Selalu berupaya memberinya bahagia meski sesulit apapun jalannya.
"Aku istirahat dulu, ya ! Kamu juga harus istirahat. Bye, Ellio."
Shanum mengakhiri pesan singkat itu kemudian meletakkan ponsel itu di sampingnya. Gadis itu menatap langit-langit kamar yang berwarna putih dengan tatapan kosong.
Maafin aku, Ellio ! Maaf karena aku belum bisa jujur ke kamu. Aku harap, jika suatu saat nanti kami tahu yang sebenarnya, kita tetap bisa berteman baik. Aku nggak mau kamu benci sama aku. Aku nggak mau kehilangan kamu.
Shanum perlahan memejamkan mata indahnya. Bersiap menuju ke alam mimpi di temani rasa bersalah terhadap Ellio yang terus saja membayang. Shanum hanya berharap, semoga Ellio bisa cepat pulih agar semua sandiwara ini bisa selesai. Lebih cepat Ellio tahu akan kebenarannya, maka akan semakin baik.
murat tau nggk klo putri anak.adimas