NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Pelindung

Erlyn melipat kembali kertas itu dengan jari yang dingin.

Itu kakak atau pacar?

Kalimatnya pendek, tetapi terasa seperti ditempel tepat di wajahnya. Ia bisa membuang kertas itu ke tempat sampah. Bisa meremasnya sampai hancur. Bisa pura-pura tidak pernah membaca. Namun untuk beberapa detik, Erlyn hanya berdiri di samping kursinya, mendengar suara kelas yang perlahan kosong, dan merasakan sesuatu yang panas naik dari dada ke tenggorokan.

Ia tidak menangis.

Ia menolak menangis hanya karena selembar kertas.

"Er?"

Angie kembali dari ruang guru dengan map di tangan. Begitu melihat wajah Erlyn, langkahnya berhenti.

"Apa lagi?"

Erlyn cepat-cepat memasukkan kertas itu ke saku rok. "Tidak ada."

"Jangan bohong. Mukamu jelek kalau bohong."

"Mukaku memang begini."

"Erlyn."

Nada Angie berubah. Tidak lagi bercanda. Erlyn tahu kalau ia diam lebih lama, Angie akan menarik kertas itu sendiri dari sakunya. Jadi ia mengeluarkannya dan menyerahkan tanpa kata.

Angie membaca tulisan itu.

Wajahnya langsung mengeras.

"Siapa?"

"Aku tidak tahu."

"Kita tanya satu-satu."

"Jangan."

"Jangan?" Angie menatapnya tidak percaya. "Mereka taruh sampah begini di kursimu dan kamu bilang jangan?"

Erlyn mengambil kembali kertas itu, melipatnya lebih kecil. "Kalau kita ribut sekarang, besok ceritanya makin besar."

"Kalau kamu diam, mereka makin berani."

Erlyn tidak menjawab.

Karena Angie benar.

Karena Chisen juga benar.

Karena semua orang yang mengatakan orang suka bicara ternyata benar, dan Erlyn benci berada di posisi di mana kebenaran orang lain membuatnya tidak punya pilihan yang enak.

Ia memasukkan buku ke ransel. "Aku pulang."

"Katanya bareng teman."

"Aku bisa naik ojek online dari depan."

"Aku antar sampai gerbang."

Erlyn ingin menolak, tetapi tatapan Angie membuatnya menyerah. Mereka berjalan keluar kelas bersama. Koridor sudah mulai ramai oleh murid yang pulang. Beberapa menoleh. Ada yang berbisik, ada yang menyenggol temannya dengan siku. Angie menatap balik satu per satu sampai mereka pura-pura melihat ke arah lain.

"Kamu tidak capek marah?" tanya Erlyn pelan.

"Capek. Tapi kalau aku tidak marah, nanti yang capek cuma kamu."

Kalimat itu membuat langkah Erlyn tersendat sebentar.

Di gerbang sekolah, keramaian lebih buruk.

Mobil jemputan berjajar. Motor orang tua dan sopir menunggu. Penjual minuman berdiri di dekat pagar. Murid-murid berkumpul dalam kelompok kecil, memegang ponsel, tertawa, memanggil teman. Bagi orang lain, ini hanya suasana pulang sekolah biasa. Bagi Erlyn, setiap ponsel yang diangkat terasa seperti kamera.

Ia membuka aplikasi ojek online.

Sinyal lambat.

Angie berdiri di sampingnya, map masih dipeluk di dada. "Kamu bisa ikut mobilku. Rumahku tidak searah, tapi tidak apa-apa."

"Nanti orang rumahmu repot."

"Aku lebih repot lihat kamu berdiri sendirian di sini."

Erlyn baru akan menjawab ketika ia mendengar suara dari belakang.

"Itu dia, yang kemarin."

Ia tidak menoleh.

Angie menoleh.

Tiga siswi berdiri tidak jauh dari pos satpam. Salah satunya memegang ponsel dengan posisi terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Gadis yang kemarin bertanya apakah Chisen benar kakak tirinya juga ada di sana, tersenyum tipis sambil melihat ke arah jalan.

"Katanya kakak tiri," kata gadis itu, cukup pelan untuk pura-pura tidak sengaja, cukup keras untuk didengar. "Lihat saja hari ini dijemput siapa."

Angie maju satu langkah.

Erlyn menarik pergelangan tangannya. "Jangan."

"Aku cuma mau tanya mereka punya kerjaan lain atau tidak."

"Angie, jangan."

Erlyn tidak tahu apakah suaranya terdengar memohon atau memerintah. Yang jelas Angie berhenti, tetapi rahangnya masih tegang.

Aplikasi ojek masih berputar.

Ponsel Erlyn bergetar.

Ko Chisen: Sudah pulang?

Erlyn menatap layar. Jempolnya melayang di atas keyboard. Ia ingin mengetik sudah. Ingin berbohong. Ingin keluar dari gerbang ini tanpa ada satu pun orang dari Jalan Kenanga yang melihatnya berdiri seperti bahan tontonan.

Belum sempat ia mengetik, klakson pendek terdengar dari jalan.

Bukan klakson keras.

Hanya satu kali.

Tetapi Erlyn mengenal suaranya.

Mobil hitam itu berhenti di seberang gerbang.

Untuk sesaat, semua suara di sekitar Erlyn terasa turun setengah. Tiga siswi di dekat pos satpam langsung menoleh. Beberapa murid lain ikut melihat. Seseorang berbisik, "Itu mobilnya."

Pintu pengemudi terbuka.

Yu Chisen turun.

Ia tidak memakai seragam SPI lengkap. Hanya kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku dan celana hitam. Tas sekolahnya masih berada di kursi belakang. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena baru selesai kelas, tetapi wajahnya tetap dingin, bersih, dan tidak terbaca.

Ia menutup pintu mobil.

Lalu berdiri di samping mobil itu.

Tidak memanggil.

Tidak melambai.

Tidak menjelaskan.

Hanya berdiri, satu tangan masuk ke saku celana, mata menatap ke arah gerbang sekolah.

Dan anehnya, itu cukup.

Gadis yang memegang ponsel menurunkan tangannya pelan-pelan.

Murid laki-laki yang tadi tertawa berhenti tertawa.

Ada satu siswa lain yang masih nekat mengangkat ponsel, mungkin ingin mengambil foto kedua. Chisen tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya mengalihkan pandangan ke arah lensa itu.

Tidak tajam. Tidak membentak.

Hanya melihat.

Anak itu langsung menurunkan ponselnya dan memasukkannya ke saku, lalu menepuk bahu temannya seolah sejak awal ia tidak tertarik pada apa pun. Beberapa murid yang tadi berdiri terlalu dekat dengan Erlyn ikut mundur setengah langkah. Ruang kecil terbuka di depan gerbang, cukup lebar untuk Erlyn berjalan tanpa harus menyenggol siapa pun.

Satpam sekolah, yang awalnya sibuk mencatat nomor kendaraan, ikut menoleh dua kali. Bahkan Angie, yang sejak tadi siap berperang, terdiam beberapa detik.

Erlyn merasa seluruh darahnya naik ke wajah.

Chisen tidak terlihat seperti orang yang datang menjemput adik. Ia terlihat seperti seseorang yang sengaja datang untuk membuat semua orang sadar bahwa gosip mereka punya objek yang bisa berdiri langsung di depan mereka.

Tatapan Chisen bergerak dari Erlyn ke tiga siswi dekat pos satpam.

Tidak lama.

Hanya lewat.

Namun gadis yang tadi tersenyum tipis langsung memalingkan wajah. Temannya memasukkan ponsel ke saku. Yang satu lagi pura-pura mencari sesuatu di tas.

Angie mendekat ke telinga Erlyn. "Oke. Aku paham kenapa mereka heboh."

"Angie."

"Apa? Aku objektif."

Erlyn ingin menyikutnya, tetapi tangan Chisen sudah bergerak. Ia membuka pintu penumpang depan, lalu tetap berdiri di sana, menunggu.

Seolah ini hal paling biasa di dunia.

Seolah kemarin ia tidak meminta Erlyn menyembunyikan fakta bahwa mereka tinggal serumah.

Seolah sekarang ia tidak sedang menghancurkan seluruh usahanya untuk tidak menjadi tontonan.

Erlyn menelan ludah.

"Pergi," kata Angie pelan.

"Aku bisa pulang sendiri."

"Kalau kamu pulang sendiri sekarang, mereka akan bilang lebih banyak lagi. Kalau kamu naik mobil itu, minimal mereka diam dulu lima menit."

Logikanya menyebalkan karena masuk akal.

Erlyn berjalan menuju mobil.

Setiap langkah terasa panjang. Murid-murid di sekitar gerbang membuka jalan tanpa ada yang meminta. Beberapa menatapnya dengan iri. Beberapa dengan penasaran. Beberapa dengan wajah kalah karena tontonan yang mereka harapkan berubah menjadi sesuatu yang tidak berani mereka komentari keras-keras.

Ketika Erlyn sampai di depan pintu, Chisen menatapnya.

"Masuk."

Satu kata.

Pendek.

Tetapi kali ini, Erlyn tidak mendengar perintah. Ia mendengar pagar yang ditutup di depan orang-orang yang mencoba melempar batu ke dalam.

Ia masuk ke mobil.

Chisen menutup pintu dari luar, lalu berjalan memutar ke sisi pengemudi. Sebelum masuk, ia menatap gerbang sekolah sekali lagi. Tidak ada ancaman di wajahnya. Tidak ada marah yang meledak. Justru karena itu, semua orang tampak lebih tidak nyaman.

Mobil bergerak pelan meninggalkan sekolah.

Di dalam, AC dingin menyentuh kulit Erlyn yang masih panas. Ia menatap lurus ke depan, kedua tangan mencengkeram tali ransel di pangkuan.

Chisen tidak langsung bicara.

Ia mengemudi dengan tenang sampai sekolah itu tertinggal dua belokan di belakang mereka. Baru setelah masuk ke jalan yang lebih sepi, ia berkata, "Kamu bilang pulang bareng teman."

Erlyn menoleh ke jendela. "Tadinya."

"Temanmu yang pakai gelang ungu?"

"Angie."

"Dia galak."

Erlyn hampir tertawa, tetapi masih terlalu kesal untuk memberinya kepuasan itu. "Dia baik."

"Aku tidak bilang tidak."

Sunyi sebentar.

Di luar, Surabaya bergerak lewat, panas, ramai, tidak peduli pada drama kecil di dalam mobil hitam. Erlyn mengeluarkan kertas dari saku rok. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena setelah Chisen berdiri di gerbang seperti itu, menyembunyikan semuanya terasa lebih melelahkan.

Ia meletakkan kertas itu di konsol tengah.

Chisen melirik.

Matanya berhenti pada tulisan itu.

Itu kakak atau pacar?

Seluruh wajahnya tidak berubah. Tetapi tangan di setir mengencang sedikit. Sangat sedikit. Kalau Erlyn tidak sedang memperhatikannya, ia mungkin tidak akan melihat.

"Siapa yang tulis?"

"Tidak tahu."

"Sudah berapa lama?"

"Baru."

"Yang foto kemarin?"

Erlyn diam.

Chisen mengerti.

Mobil berhenti di lampu merah. Ia mengambil kertas itu, melipatnya sekali, lalu menyimpannya di laci kecil dekat setir.

"Koh tidak perlu datang ke sekolah," kata Erlyn akhirnya.

"Kenapa?"

"Karena jadi makin ramai."

"Tadi mereka diam."

"Diam bukan berarti berhenti."

"Besok kalau masih ada, foto. Kirim ke aku."

Erlyn menoleh cepat. "Koh mau apa?"

"Tanya baik-baik."

"Wajah Koh tidak kelihatan seperti orang yang tanya baik-baik."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Chisen bergerak sedikit. Bukan senyum penuh. Hanya retak kecil di wajah dinginnya.

Lampu berubah hijau.

Mobil kembali jalan.

Erlyn menatapnya beberapa detik, lalu suara yang sejak tadi tertahan akhirnya keluar.

"Koh tidak usah jemput aku."

Chisen menatap jalan, wajahnya kembali datar.

"Siapa bilang aku menjemputmu?" katanya. "Aku cuma lewat."

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!