Gimana rasanya diem diem nge-crush in temen sekelas yang badboy, suka bolos, kaga pinter alias bego, dan yang paling parah setahun tertinggal kelas.
"guys. Ada Aksara mau masuk kelas." teriak salah satu siswa. Dan semua murid di dalam kelas kompak tertunduk karena takut pada sang Aksara si badboy, yang paling di takuti di sekolah ini.
begitupun dengan gadis cantik yang irit bicara Zahira, merapihkan beberapa kertas dan alat tulis kedalam laci meja. Hanya menyisakan satu buku yang di letakan di ujung meja.
Aksara masuk dengan wajah tampan yang tertutup oleh beberapa luka di pipi dan batang hidungnya itu berjalan. Dan..
TLAK!
Buku Zah terjatuh tepat di depan Aksa. Zah meremas kedua sisi roknya, menunduk ketakutan.
Merasa penasaran Aksa mengambil buku itu, selembar kertas terjatuh, Zah melotot melihat kertas yang terjatuh.
Aksa mengambil kertas, namun di ambil kasar oleh Zah dan meremas menjadi gumpalan kemudian di lempar sembarang arah.
"Berani banget Lo sama gue!" Umpat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyastami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 34
Di balkon, Aksa kembali berdiri dengan pikiran yang berbeda dari dulu. Bila dulu dirinya memikirkan kesenangan, kepuasannya sendiri, kini pikirannya bercabang bagai ranting pohon beringin yang besar. Inilah yang dirinya tak suka bilang menjadi lebih baik, lebih unggul, dan lebih pintar. Ya, di paksa menjadi penerus perusahaan ke kedua orang tuanya.
Hisapan demi hisapan Aksa lakukan pada sebatang rokok ke dua yang sudah ia hisap. Kepulan asap di udara yang berterbangan mengartikan bahwa pikirannya saat ini bagai kabel wifi di atas tiang listrik kampung, alias semerawut.
Aksa berdiri di batas pagar besi balkon dengan dua jari yang mengapit batang rokok, kali ini rokok ke tiga yang dirinya bakar. Demi apapun, dirinya ingin mengabaikan permintaan sang papah seperti dulu dengan cara menjadi bego, tidak disiplin dan liar, tapi entah mengapa- melihat garis wajah, rambut yang mulai beruban dan mata yang menyiratkan kesedihan itu, Aksa- sebagai pria dan seorang anak semata wayang tak bisa menolak.
Aksa melihat batang rokok yang mulai habis terbakar, lalu menekan puntung ke asbak yang ada di atas meja kayu.
Terasa masih frustasi, Aksa kembali membuka bungkus rokok yang ada. Hanya membuka, lalu Aksa tutup kembali dan melemparkan bungkus rokok itu.
Aksa duduk, menjambak rambutnya. Dirinya mengingat Zahira.
Tak lama, Aksa melihat jam di ponselnya yang banyak notif pesan dan panggilan masuk, salah satunya dari sang kekasih.
Merasa bersalah, Aksa melangkah masuk kedalam dan mengenakan jaket dan membawa kunci motor sportnya kemudian melangkah keluar kamar.
Langkah cepat kaki Aksa menuruni anak tangga pun perlahan terhenti ketika mendengar suara batuk dari kamar sang papah.
Hanya berhenti dan menoleh ke arah kamar sang papah, lalu Aksa kembali melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul tujuh malam.
Tak mau berlama-lama, Aksa kembali melangkah menuju garasi luasnya. Dimana banyak mobil yang biasa ia gunakan dulu, tapi dirinya tetap memilih mengendarai motor sport mahal yang jarang di gunakan.
Suara dari kenalpot empat silinder terdengar bergema di garasi, dan perlahan Aksa melajukan motor keluar.
Getaran ponsel di saku jaket Aksa abaikan, entah siapa yang menghubunginya- Aksa memilih untuk menenangkan pikirannya di tempat yang tepat.
Jalanan terpantau masih ramai karena mengingat jam masih terbilang sore, banyak orang yang masih sibuk di jam-jam seperti sekarang.
Aksa berhenti di bawah pohon, matanya fokus melihat ke arah satu rumah besar yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Sudah hampir satu jam Aksa di bawah pohon itu, sampai- bibir aksa tersenyum ketika melihat satu mobil keluar dari rumah besar ke arah berlawanan darinya.
Menunggu beberapa menit, Aksa baru menghampiri gerbang rumah itu sambil mengirimkan pesan.
Tak lama..
"Kamu nekat banget Aksa. Gimana kalau mamah aku tiba-tiba tau."
"Ssstt.. Mending pake helm, aku tau mamah kamu gak ada di rumah."
Aksa tak menggubris Zahira yang sedang gelisah karena kedatangan nya yang mendadak di depan gerbangnya, di pukul delapan malam.
"Kamu tau dari mana mamah aku gak ada di rumah?" Tanya Zahira yang sudah mengenakan helm.
Aksa memegang bahu Zahira sambil memperhatikan sang kekasih yang mengenakan hoodie besar dengan bawahan celana training panjang. "Kamu tau?"
Zah menggelengkan kepala cepat.
"Aku nungguin kamu dari jam tujuh di sana." Tunjuk Aksa ketempat yang tadi dirinya menunggu.
"Di bawah pohon?"
Aksa mengangguk. "Cepet naik." Kata Aksa yang sudah menaiki motornya.
Zah pun naik sambil berkata. "Kamu gak takut nungguin di bawah pohon?"
"Takut apa?"
"Hantu." Bisiknya.
"Aku lebih takut kalau gak bisa jadi masa depan kamu." Balas Aksa dari lubuk hati yang terdalam.
Seperti biasa Zah tersipu malu. "Sekarang udah pinter gombal."
"Aku gak pinter gombal dan itu jujur." Aksa berkata dengan suara tegas tanpa ragu penuh keyakinan.
Zah tak melanjutkan lagi ketika suara kenalpot Aksa berderum dengan kuat.
Mata Zah tak bisa berbohong, dirinya melihat sekitar karena takut sang mamah masih melihat nya yang keluar bersama seorang pria di malam hari.
Tapi hanya sebentar- ketika Aksa sudah melewati portal komplek nya, Zah merasa sedikit lega. Zah memajukan tubuhnya kedepan ketika sejak awal kedatangan Aksa, dirinya mencium bau asap rokok di tubuh Aksa.
Untuk pertama kalinya, Zahira memeluk erat pinggang Aksa. Zah tahu sepertinya Aksa dalam keadaan tak baik-baik saja.
Aksa, Pria itu merasakan kehangatan untuk pertama kalinya. Kehangatan yang ia pikir hanya bisa di dapatkan jika melakukan hal yang memuaskan bersama para wanita bayaran seperti dulu, tapi kini tergantikan dengan kehangatan yang Zah berikan hanya dengan pelukan.
Tak ada sepatah kata pun dari keduanya selama di perjalanan. Zah tak ingin bertanya cukup diam, jika berhenti nanti mungkin dirinya akan bertanya. Sedangkan Aksa, pria itu hanya menikmati pelukan erat, mengusap lembut tangan Zah yang melingkar di perutnya.
Tepat di pukul setengah sepuluh, Aksa berhenti di satu gedung tinggi dengan pemandangan lampu-lampu ibukota yang menyala, satu kata yang mewakili malam ini yaitu indah dan tenang.
Zah turun lebih dulu, melangkah beberapa langkah ke depan merasa takjub sambil menghirup udara malam yang terasa dingin.
"Kami suka?" Aksa datang memeluk Zah dari belakang.
"Banget. Ini indah Aksa."
Aksa mencium kepala Zahira. "Dimata aku, kamu yang paling indah Zahira."
Zah mendongak melihat Aksa. "Jangan puji aku terus, nanti aku terbang."
"Gak papa, kan kamu bidadari."
Zah memukul manja lengan kekar Aksa.
Keduanya menikmati malam ini beberapa menit, lalu- "Mau cerita sesuatu?" Tanya Zah, yang dirasanya ini waktu yang tepat untuk bertanya.
Aksa diam.
"Habis berapa batang rokok tadi?"
Aksa masih diam, menciumi kepala Zah. "Sebesar apa masalah yang kamu alami? Kamu bisa cerita sama aku."
Aksa masih menciumi kepala Zah, lalu memegang tangan Zah dan mencium punggung tangan Zah.
Dengan penuh keyakinan, Aksa pun memilih Zahira untuk menjadi rumah di alam semesta ini untuk bercerita.
Kini keduanya duduk di bangku besi yang sudah tersedia, ada satu meja besi juga di depan keduanya.
Aksa masih terus menggenggam tangan Zah, menelisik setiap pahatan di wajah Zah yang begitu indah, lembut dan menenangkan.
"Mulai besok kita gak selalu bisa bareng." Suara berat Aksa terdengar lirih seakan penuh kesedihan.
Zah belum bersuara, dirinya kali ini hanya ingin menjadi pendengar yang menenangkan.
"Papah minta aku buat bantu perusahannya. Entah apa yang terjadi dengan perusahaan papah, tapi aku gak bisa nolak semua itu. Dan kamu tau? itu adalah yang aku benci sekarang, gak bisa menolak keinginan papah yang aku tau sebenarnya keinginan papah itu sudah ada dari dulu." Aksa berkata lalu pandangan nya beralih ke lurus kedepan.
Kali ini Zah yang mengusap tangan besar Aksa. "Jangan benci diri kamu yang sekarang Aksa. Papah kamu menaruh harapan besar ke kamu karena hanya kamu yang papah kamu punya." Kali ini Zah mengusap bahu Aksa. "Aku support kamu."
Zahira tersenyum pada Aksa sebagai tanda bahwa dirinya mendukung apapun keputusan Aksa.
"Tapi nanti kita bakal jarang berduaan." Aksa mengusap pipi Zah.
Zah mengangguk. "Dan pasti kita bakal kangen."
"Tuh kaan.. " Aksa bak anak kecil yang menghentakkan kaki beberapa kali dengan mimik wajah cemberut.
Zah tertawa kecil melihat tingkah sang kekasih.
"Apa, aku tolak aja yaa keinginan papah." Seru Aksa.
Zah menggelengkan kepala dengan cepat. "no no no, jadilah seorang anak dan pria yang baik, oke."
Bibir Aksa manyun melihat Zahira lalu mengangguk patuh pada apa yang barusan Zah katakan.
"Good boy." Zah mengusap pipi Aksa.
Aksa dengan manjanya berkata. "cuddle me please."
Dengan senang hati Zahira memeluk Aksa.
Keduanya tampak nyaman berbincang sambil tertawa kecil sambil di temani hangat nya kopi starling yang pernah Aksa bicarakan.
Tapi tak lama, mengingat Zahira adalah wanita baik-baik yang dirinya bawa di malam hari tanpa sepengetahuan orang tuanya, Aksa pun mengajak pulang Zahira.
Tepat di pukul sebelas malam.
Hawa dingin sangat terasa, tanpa sungkan Zah memeluk erat tubuh Aksa, membuat Aksa mengendarai motor sportnya dengan kecepatan yang tak pelan seperti tadi.
Di pertengahan jalan, dimana berjejer ruko-ruko sudah mulai tutup dan sepi, hujan deras turun tanpa permisi, membuat Aksa harus berhenti di salah satu ruko yang sepi dan minim penerangan.
"Gak papa kan, berhenti di sini?" Kata Aksa yang membukakan helm Zah lalu meletakan di satu bangku panjang yang ada.
"Ya, mau gimana lagi, dari pada kamu sakit kaya dulu."
"Gak usah di inget, aku gak selemah itu." Aksa menoel hidung Zah.
Petir pun terdengar kuat, dan hujan semakin deras. Aksa menarik tangan Zah agar lebih masuk ke dalam ruko tersebut.
Aksa membuka jaketnya, lalu memakaikan ke bahu Zahira. "Nanti kamu kedinginan."
"Kalau gitu peluk aku."
Jaket pun tak jadi di berikan ke bahu Zah, tapi Zahira lah yang masuk kedalam pelukan Aksa.
Dingin, hujan dan gelap.
Pikiran Aksa yang memang dasar mesum itu pun muncul di saat-saat seperti sekarang ini.
Tanpa Ragu, Aksa menarik dagu Zah lalu mencium bibir ceri sang kekasih. Hanya menempel- lalu keduanya saling melihat dengan mata yang penuh hasrat akan sesuatu. Dan- disitulah setan bekerja...
Aksa kembali mencium bibir Zah, kali ini lebih lama semakin lama, Aksa menekan tengkuk leher Zah hingga ciuman itu menuntut dan mengobrak-abrik bibir dan lidah Zah. Zah mendorong dada Aksa merasa stok pernapasannya habis.
"Maaf, aku udah melewati batas." Ucap Aksa yang menunduk.
Zah, mengangkat kedua tangannya lalu mengusap bibir Aksa dan kembali mencium Aksa lembut.
Kali ini Zahira yang memulai, dan Aksa tak membiarkan untuk lepas begitu saja.
Ciuman yang Aksa berikan semakin brutal, hingga Zahira terdorong dan melangkah mundur terbentur tembok tanpa melepaskan pungutan kedua bibir nya.
Semakin menuntut. Ciuman yang Aksa berikan. Bukan lagi di bibir ceri Zah, tapi kini berpindah ke telinga, membuat kepala Zahira mendongak seakan menikmati setiap hisapan yang di berikan oleh bibir Aksa.
Terbuai, tentu. Zah meremas kuat punggung lebar Aksa karena kini bibir Aksa menjelajahi leher Zahira, memberikan hisapan kecil.
"Aah... " Suara desahan pun terdengar.
.
jangan jebak aksa buat tanggung jawab thor😤