Rumput liar itulah julukanku
Cacian, hinaan dan makian menjadi makanan sehari–hari Raisa
Memiliki otak yang cerdas dan wajah cantik justru membuatku menjadi sasaran bullying bagi semua orang hanya karena kondisi keluarganya yang miskin
Setelah kembali dari kematian tragisnya Raisapun bertekad untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakitinya dimasa lalu, terutama mencari dalang dibalik kematianku yang mengenaskan
Mata dibalas dengan mata, siapapun yang menyakiti dirinya dan keluarganya akan Raisa balas berkali - kali lipat
Dengan bantuan kekuatan kalung liontin biru yang dia temukan sebelum kematian menjemputnya dan kini telah menyatu dalam tubuhnya, Raisa pun mulai membalaskan dendamnya satu persatu
Dalam perjalanannya membalas dendam,Raisa banyak menemukan fakta yang mengejutkan salah satunya adalah fakta jika dia dan sang kakak adalah pewaris asli keluarga Wu yang sedari awal berusaha untuk disingkirkan.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERAM
“Ini imbalan kalian”, ucap Raisa sambil melemparkan segepok uang tunai dalam kantong kresek hitam kedalam dekapan Beni.
Beni dan kawan-kawannya tersenyum lebar melihat lembaran uang kertas berwarna merah dalam kantong kresek ditangan bos mereka yang langsung di bagi sesuai porsi yang telah mereka tetapkan sebelumnya.
Sementara Raisa menuju sebuah ruangan yang dipergunakan untuk menyekap pelaku tabrak lari yang menimpa ibunya.
Begitu pintu dibuka, lelaki yang berhasil Beni tangkap tersenyum meremehkan melihat kedatangan Raisa.
“Ternyata hanya anak kecil, kukira bos besar mana yang menangkapku”, ucapnya sombong.
“Jangan banyak bacot !!!”, ucap Raisa sambil melayangkan balok kayu yang tadi dia ambil diluar dan memukul kepala lelaki dihadapannya yang tangan dan kakinya terikat dengan kuat hingga tubuhnya terlempar jauh kebelakang.
Bughhh
Bughhh
Bruakkk
Beni dan kawan–kawannya hanya bisa bergidik ngeri ketika mereka mengintip apa yang Raisa lakukan terhadap orang yang telah menabrak ibunya tersebut dalam ruangan yang digunakan untuk menyekap pelaku.
“Cepat katakan siapa yang menyuruhmu menabrak ibuku sebelum kesabaranku habis”, ucap Raisa sambil terus mengayunkan balok kayu yang ada ditangannya dan menghantamnya keras ketubuh lelaki dihadapannya itu.
“Hahahaaaa, kamu kira hanya dengan begini aku akan membuka mulut. Cuihhh”, ucapnya meremehkan sambil meludah dihadapan Raisa.
“Tampaknya kamu suka dengan permainan yang keras ya.Baiklah, aku akan dengan senang hati mengabulkannya”, ucap Raisa menyeringai tajam.
Entah kenapa tiba–tiba tubuh lelaki itu bergetar hebat dengan sendirinya merasakan aura membunuh yang cukup kuat keluar dari tubuh gadis muda belia yang ada dihadapannya itu.
Melihat ada tang tergeletak diatas meja kayu dekat pintu, Raisa pun memiliki ide untuk bersenang–senang malam ini.
Dengan susah payah Raisa menyeret tubuh lelaki itu dan mengikatnya kesebuah tiang yang ada dalam ruangan tersebut tak menghiraukan teriakan penuh makian yang keluar dari mulut kotor lelaki tersebut.
Ctasss
Crashhh
“Arghhhh !!!”, teriaknya lantang begitu kuku kakinya satu persatu Raisa cabut dengan paksa.
Darah segar mengalir deras dari kedua kaki lelaki itu disertai rasa sakit dan ngilu yang teramat sangat tapi dia juga tak bisa berbuat apapun karena saat ini tubuhnya diikat kesebuah tiang yang ada didalam gudang hingga membuatnya tak bisa bergerak kemana–mana.
“Sekarang giliran kuku tangan yang akan aku perindah”, ucap Raisa berpindah kebelakang tubuh lelaki tersebut yang kedua tangannya diikat kebelakang.
“Dasar iblis kecil, mati saja kau keneraka !!!”
“Arghhh !!!”, teriaknya lantang untuk kesekian kalinya.
Beni dan kawan–kawannya hanya bisa terdiam melihat bagaimana tenangnya Raisa menyiksa korbannya membuat mereka pun bertekad tak akan membuat masalah dengan gadis menyeramkan itu.
Setelah semua kuku kaki dan tangan telah tercabut semua dan darah segar terus mengalir keluar, namun laki–laki itu masih terus bungkam membuat Raisa semakin geram.
“Kurasa aku ingin memberikan satu bola matamu untuk aku persembahkan kepada anakmu sebagai hadiah ulang tahunnya. Bukankah itu akan sangat menarik”, ucap Raisa terkekeh pelan.
“Dasar iblis !!!”
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan”, ucapnya ketakutan.
“Sebutkan siapa yang memerintahkanmu maka penyiksaan ini akan segera berakhir”, ucap Raisa tajam.
Pada awalnya dia masih terdiam hingga tiba-tiba Raisa menancapkan belati yang ada ditangannya ke pelipisnya membuat lelaki itu spontan berteriak keras.
“Ak-Aku tidak tahu siapa dia"
"Yang-yang jelas dia adalah seorang wanita"
"Aku hanya menjalankan tugas sesuai perintah dalam pesan begitu uang masuk kedalam rekeningku”, ucapnya ketakutan.
Mendengar ucapan lelaki tersebut, Raisa pun merogoh saku celana lelaki itu untuk mencari ponsel dalam saku bajunya.
Dan setelah menemukan diapun mengarahkan benda pipih itu kewajah lelaki yang saat ini terlihat sedang meringis kesakitan akibat kuku tangan dan kakinya Raisa cabut paksa tadi.
Sebelum Raisa menanyakan nomor mana yang menyuruhnya, telepon lelaki itu sudah berbunyi duluan.
“Cepat angkat dan ingat jangan berpikir untuk macam–macam denganku jika tak ingin seluruh anggota keluargamu aku habisi dengan cara sadis seperti ini”, ucap Raisa penuh ancaman.
Begitu tombol hijau digeser dan loud speaker dalam ponsel dinyalakan, Raisa pun bisa mendengar semua pembicaraan yang ada.
“Laura !!!”, batin Raisa penuh amarah.
Raisa terus mendengarkan suara bahagia Laura diseberang sana karena usahanya untuk mencelakai ibunya berhasil.
Dan gadis itu juga mengirimkan foto siapa target selanjutnya yang ingin lelaki itu eksekusi sambil mengirimkan bukti transfer pembayaran untuk tugas berikutnya.
Darah dalam tubuh Raisa langsung mendidih begitu dia melihat foto sang kakak terpampang didalam pesan yang mengatakan agar membuat kakaknya cacat, tapi jangan membunuhnya.
“Brengsek kau Laura !!!”
“Lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepadamu sebagai balasan !!!”, batin Raisa penuh dendam.
Melihat aura membunuh yang cukup kuat keluar kembali dalam tubuh gadis kecil dihadapannya, lelaki tersebut ketakutan hingga dia tanpa sadar kecing dicelananya.
“Buang dia didepan kantor polisi beserta mobil yang dipakai untuk menabrak ibuku”, perintah Raisa kepada Beni.
“Dan untukmu, akui jika kamulah yang menabrak tanpa menyebutkan siapa yang menyuruhmu karena gadis itu adalah bagianku. Ingat itu !!!”, ucap Raisa tajam.
Tak ingin mendapat siksaan yang lebih keji lelaki tersebut pun hanya bisa menganggung pasrah ketika Beni menarik tubuhnya dan memasukkannya kedalam mobilnya, membawanya kedepan kantor kepolisian.
Raisa berjalan menuju motor sportnya dengan penuh amarah. Kali ini dia akan benar–benar akan menghancurkan Laura dan keluarganya.
Tak ada ampun lagi bagi gadis itu karena telah berani mencelakai ibunya dan sekarang mentargetkan kakaknya setelah beberapa kali sebelumnya dia gagal mencelakainya.
“Untung saja kemarin dia berbaik hati mengajak kita bergabung, jika tidak mungkin nasib kita akan sama dengan lelaki itu” , guman salah satu teman Beni bergidik ngeri.
Beni hanya terdiam mendengar celotehan kawan–kawannya itu karena hanya dialah yang tahu alasan sebenarnya kenapa Raisa mengajak mereka bekerja sama, alasan yang bisa membuatnya menerima berbagai macam tugas yang akan Raisa berikan kepadanya tanpa ada pertanyaan.
Raisa yang sudah melesat pergi segera kembali kerumah sakit agar sang ibu tidak curiga setelah sebelumnya dia mampir dulu kerumah untuk mengambil pakaian ganti buat ibunya sekalian mengembalikan motor sportnya kegarasi milik Draco agar tak menimbulkan pertanyaan nantinya.
Raisa kembali kerumah sakit dengan dibonceng Draco dan hal ini dilihat langsung dilihat oleh Alexander yang sengaja menunggunya kedatangannya dan pemandangan tersebut membuat mood lelaki itu langsung memburuk.
“Bilang kepadanya aku menunggunya diruangan untuk berbicara hal penting”, ucap Alexander tajam.
Marco hanya bisa mengangguk patuh melihat wajah bosnya itu menjadi gelap setelah melihat Raisa dibonceng Draco dengan mesra.
“Nona Raisa hanya menganggap Draco sebagai kakaknya, sama dengan Raymond. Jadi tuan muda jangan mengambil hati apa yang barusan terlihat”, ucap Marco berusaha menangkan hati bosnya yang sedang kalut.
“Kamu pikir aku cemburu gitu. Mau dia sama siapa saja, apa perduliku”, ucap Alexander sambil melotot tajam.
Mendapat amukan seperti itu, Marco hanya bisa terdiam dan tak lagi bersuara. Ingin hati menenangkan sang bos yang ada malah dirinya lah yang kena semprot.
“Kenapa mesti malu, jika cemburu bilang saja cemburu”, guman Marco menggerutu.
“Apa kamu bilang !!!”, bentak Alexander yang langsung menghentikan langkah kakinya menuju kamar begitu mendengar gerutuan asistennya dibelakang tubuhnya.
“Tidak ada bos. Ini hanya membaca pesan saja”, ucap Marco beralibi.
Untung saja Marco sedang melihat pesan didalam ponselnya sehingga alasan yang diberikannya bisa langsung Alexander terima tanpa membahasnya lebih lanjut.
Marco mengusap dadanya beberapa kali setelah selamat dari amarah Alexander yang saat ini dalam mode “senggol bacok”
raisa msh 14 thn.. pentilnya aja bru numbuh ya ampunn
klo othor dr aqal jodohin sama alex knp di bkn umurnya sangat tuir.. 34 gilakk.. 25 aja pdhal.