"Cih, sekalinya udah rusak ya tetep aja rusak!"
"Sok suci!!"
"berjilbab tapi kelakuan kayak orang nggak punya adab!!"
**
Setiap hari selalu saja ada kata-kata hinaan yang keluar dari mulut orang-orang di sekitarnya untuk menghina dan menjatuhkan mental ANINDITA RAHMA.
Gadis yang terkenal badung dan suka melepas-pakai hijab sesukanya.
Namun selepas insiden terakhir kali yang membuatnya harus kehilangan orang tuanya membuat gadis badung itu sadar dan mulai berhijrah.
Insiden apakah itu ? yuk baca dan ikuti kisah Anindita di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMAK DIBA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Loh, si Bos mana Nin ?" Tanya Dani yang melihat Anin kembali sendiri.
Anin mengerutkan keningnya "Aku nggak tau Mas, radi kita pisah di bawah soalnya aku mau sholat dulu"
Dani mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruangan Gavin.
Tampak beberapa kali Dani menghubungi Gavin namun tak satupun panggilan teleponnya di jawab.
"Gimana Mas ?" Tanya Anin.
Dani menggedikkan bahunya "Nggak di jawab, kalian nggak bertengkar kan ?"
Anin menggelengkan kepalanya "Enggak Mas"
"Oke, kamu kerja aja dulu.. paling juga dia bentar lagi balik" ujar Dani.
Anin kembali ke mejanya, Dani juga kembali bekerja sedangkan Gavin melajukan mobilnya ke arah pantai yang pernah di datanginya bersama Anin.
Suasana pantai siang itu begitu terik, panas matahari seolah benar-benar bisa membakar kulit.
Drrrttttt dddrrrttttt
Hp Gavin terus bergetar, di liriknya nama Dani tertera di layar.
Gavin berdecih karena sahabatnya itu benar-benar tak bisa semenit pun tidak mengganggunya.
"Hmmm"
[Balik sekarang!]
"Gue lagi males kerja, lo urus dulu deh.. kalo butuh tanda tangan gue berkasnya lo bawa pulang aja ke rumah"
[Dihh, enak banget lo]
"Harus lah!" Jawab Gavin terkekeh lalu memutus panggilan telepon.
*
*
Di sisi lain ada Dara yang sedang menatap laki-laki tang di dambakannya.
JUNA.
Juna hanya memesan kopi latte usai melakukan kunjungan bangsal jadi sebelum mulai buka praktek rawat jalan Juna menyempatkan diri membeli kopi untuk menyegarkan matanya.
"Mas Juna, ini Coffee latte nya" ucap Dara memanggil Juna yang sedang duduk bermain ponsel menghadap ke arahnya.
Juna segera berdiri dan mengambil coffee latte pesanannya.
"Makasih Ra" ucap Juna lalu segera berlalu pergi.
Dara menatap punggung Juna yang semakin menjauh, sekelebat ingatan tentang Juna dan Belinda kemarin malam terbesit di benaknya.
"Kalo memang mereka pernah menjalin hubungan dan kenal akrab sebelumnya mengapa harus terlihat acuh dan terlihat dingin satu sama lain seolah mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya" ucap lirih Dara.
Dara juga merasa bersalah pada Belinda karena membuat Belinda tak nyaman. Seharusnya dia tak begitu hanya karena dia menyukai seseorang hingga membuat temannya sendiri tak nyaman.
Juna yang baru saja melangkahkan kaki di pintu masuk Rumah Sakit terpaksa harus berlari saat ada beberapa ambulance datang.
"Tolong Dok, di persimpangan sana ada kecelakaan beruntun" ucap seorang perawat.
Juna mengangguk lalu segera membantu, Juna juga mengirim pesan pada perawat yang membantunya mengurus pasien rawat jalan agar menunggu sebentar karena ada keadaan darurat.
Juna membantu mengobati pasien dengan teliti namun saat di brankar terakhir jantungnya seolah berhenti berdetak.
Deg!
Belinda. Batin Juna
Tak ingin perasaannya mempengaruhi keprofesionalan kerjanya akhirnya Juna mengontrol perasaannya terlebih dahulu lalu mendekat ke arah Belinda yang terbaring di atas brankar.
"Ssshhhhhh" terdengar desis dan rintihan Belinda saat Juna membersihkan luka di kening dan tangan Belinda.
Juna memang tak mengeluarkan sepatah katapun berbeda saat dia menangani pasien lain, selalu ada kata-kata yang menenangkan.
Grep
"Makasih Jun" ucap Belinda memegang tangan Juna yang akan pergi.
Juna mengernyitkan keningnya, dia tak bersuara jadi bagaimana Belinda tau jika itu dirinya.
Belinda terkekeh lalu mendesis karena kepalanya terasa sangat pusing.
"Kenapa ? Jangan terlalu banyak gerak dan bicara kalo masih pusing ?" Tanya Juna khawatir.
"Tenang aja, gue nggak apa-apa.. tadi ada anak kecil juga yang jadi korban tabrakan beruntun, gimana keadaannya ?"
"Dia di ruang operasi karena tulangnya ada yang patah"
Belinda menganggukan kepalanya "lo biasa tinggalin gue sekarang, lo kerja aja.. gue mau istirahat sebentar biar nggak pusing"
Juna menghela nafasnya perlahan lalu meninggalkan Belinda yang mulai memejamkan matanya.
Juna 》 Nin, kamu bisa ke rumah sakit sekarang ? Sekarang Belinda ada di UGD, tolong temani dia.
"Huft"
Juna mengirim pesan pada Anin lalu melanjutkan aktifitas kerjanya.
Sementara Anin yang melihat pesan Juna pun langsung berdiri dan dan memasukkan barang-barangnya dengan tangan gemetar.
Air matanya sudah mengembang, Anin lalu masuk ke ruangan Gavin untuk meminta ijin Dani.
"Mas, aku mau ijin ke rumah sakit.. temenku masuk rumah sakit Mas" ucap Anin dengan suara sengau.
Dani mengangguk "Oke, sorry gue nggak bisa nganterin Nin. Mau gue teleponin Bryan dulu nggak biar dia nganterin lo, gue malah jadi nggak tenang kalo lo pergi sendiri"
Anin menggelengkan kepalanya "Nggak udah Mas, aku naik taksi atau ojek aja.. permisi, Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Anin segera pergi meninggalkan ruangan Gavin dan pergi ke bawah, karena pikirannya yang di penuhi rasa takut hingga Ani lupa tak memberitahu Yuta yang sedang duduk di meja resepsionis, bahkan panggilan Yuta pun seolah tak sampai di telinga Anin.
Sudah hampir 15 menit Anin menunggu taksi maupun ojek namun tak satupun dari mereka yang mau berhenti.
Anin semakin gusar karena memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Belinda.
Anin berjongkok dan menangis menutupi wajahnya, namun tagisnya berhenti saat ada yang menyentuh kepalanya.
Anin mendongakkan wajahnya lalu berdiri dan reflek memeluk orang tersebut.
"Hikss hikss hikss, aku takut" gumam Anin dalam tangisnya.
Gavin mengusap kepala Anin lembut "Nggak usah takut, gue ada di sini"
Awalnya Gavin tak ingin kembali ke kantor namun setelah beberapa saat dia berpikir kalo sikapnya begitu kekanakkan hingga dia memutuskan untuk kembali ke kantor namun siapa sangka jika saat mobilnya akan memasuki pelataran kantor dirinya malah melihat Anin berjongkok dengan tubuh bergetar.
kabar dan kesalah pahaman dr kakak Anin blm juga kebuka Thor,,,,🥺🥺
semangat Thor,,,, semoga sehat selalu juga,,,,ditunggu karya selanjutnya,,,,,
semangat kak,, semoga kakaknya sehat " ,,,,,🤲
baru aja hilang kesalah pahaman eeehhh ada cobaan lagi,,,,
jangan " saingan bang Gavin lagi,,,,, hayo loh nin,,,,,
semakin gk sabar nunggu up nya Thor,,,, 💪
semoga kakaknya juga senantiasa diberikan kesehatan,,,
tetap semangat kak,,,,,💪
Lo nya aja yg gk mau ngerti,,, wanita tu ya cari yg seiman lah,,,, kamu aja masih ragu dgn agamamu,,,