Semburat warna kasih dan rindu menjelma menjadi setumpuk asa yang membiru. ketika hati saling tertahan untuk mengungkap rasa karena masa, berharap sang pemilik rasa mempertemukan dengan dia yang pantas dan tepat untuk berbagi rasa.
Pernah ngga sih.., kamu suka seseorang tapi sebelum mengungkapnya orang itu udah pergi ke tempat yang jauh. Padahal kamu yakin cintamu tidak bertepuk sebelah tangan
Cinta yang tak terungkap di bangku kuliah diuji jarak dan waktu. Rasa Lau untuk Adrian yang tak lekang oleh waktu, hingga waktu berbaik hati mempertemukan. Tapi apalah daya sebuah ikatan menjadi penghalang. Akankah rasa itu berbalas dan menyatu.
Persahabatan, cinta, persaudaraan, dan kekonyoan berbaur membentuk pelangi keabadian nan indah.
Cinta yang tak terungkap membentuk warna yang unik, hingga lebih sulit dilupakan. Itu fakta menyebalkan tapi indah untuk dikenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyith S., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Belum Sepenuhnya Halal
“ehh.. kok tau.. masih inget aja abang” ucap Lau terlihat senang. Entahlah walau sudah bertahun-tahun lamanya, tetap segala hal yang berkaitan dengan Lau selalu tertata rapi diingatan Adrian.
Adrian tersenyum manis menanggapi ucapan calon istrinya itu, tidak hanya perkara minuman, warna, kebiasaan, dan perubahan mimik wajah Lau saja Adrian masih merekamnya dengan jelas. Seperti otak dan hatinya penuh dengan semua hal tentang Lau. Wajar saja dia tidak tergoda oleh perempuan manapun, secara slot memorinya sudah full book atas nama Laura.
Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja, setelah beberapa bulan Adrian kembali ketanah air sepertinya baru malam ini dia bisa berbicara panjang lebar walau melalui video call.
Adrian memutuskan mengakhiri obrolannya ketika melihat Lau menutup mulutnya yang terlihat menguap. Adrian tersenyum tidak tega dan meminta Lau untuk istirahat.
“oke.. selamat malam abang, Lau istirahat dulu ya,.. abang juga jangan begadang” ucap Lau mengingatkan.
“okee .. selamat malam calon istri.. nice dream..” ucap Adrian mengakhiri obrolannya sembari mengelus wajah Lau yang terpampang imut di layer ponselnya karena mengantuk.
“nice dream too calon suami.. assalamualaikum” jawab Lau yang terlihat malu-malu
“waalikumsalam..” tutup Adrian yang sebenarnya tidak rela mengakhiri panggilannya.
Lau tak kuasa menahan kantuknya, direbahkan tubuhnya yang sebenarnya sudah lelah, dengan memeluk boneka.
Kala Lau sudah terlelap, mata Adrian masih sepenuhnya terjaga. Sambil senyum-senyum memeluk bantal guling disampingnya. Hingga terlelap dan meluncur menuju ke alam mimpi
Kali ini masih peluk bantal guling yaa.. bang.., tunggu halal, baru bisa peluk guling hidup, hi.hi.iii…
***
Keesokan harinya tepat pukul tiga pagi, suara alarm membangunkan Adrian dari mimpi indahnya, yang kalau boleh ditebak mungkin memimpikan pujaan hatinya, entah mimpi apa hingga membuatnya tersenyum cerah.
Dia beranjak mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat malamnya terlebih dahulu, kemudian membaca al Qur’an sembari menunggu waktu subuh tiba. Ucapan syukur tak henti dia panjatkan disetiap sujud dan do’anya.
Jika dulu dia selalu bermunajat untuk Kesehatan Lau, keselamatan Lau, kesuksesan Lau, berdo’a agar dia dan Lau mampu menjaga diri, mengharap mereka berjodoh, sekarang dia bermunajat agar dilancarkan, diberkahi, mungkin esok setelah sah munajatnya adalah dijadikan mereka jodoh dunia dan akhirat, dan bisa berkumpul disyurga-Nya, oh.. indahnya.
Selalu ada nama Lau di setiap do’a - do’a yang Adrian panjatkan. Diakhir do’anya Adrian mengucap aamiin.. dan tersenyum bahagia,
***
Pagi ini semua anggota keluarga Lau sudah berkumpul dimeja makan, lumayan ramai karena para eyang masih berkumpul dikediaman Lau, mereka memutuskan untuk tinggal beberapa hari tentu membuat penghuni rumah happy, karena meja makan yang biasanya hanya diramaikan tiga orang kini full kursinya.
Lau turun dari kamarnya kemudian menyapa semuanya, tak terkecuali sikecil Deinan yang antusias menunggu aunty cantiknya. Karena rencana Lau dan Adrian akan melakukan pengambilan foto prewedding di beberapa tempat, salah satunya di kota tua yang merupakan tempat pertama kali mereka jalan bareng, walau tidak berdua ada para bestie Lau dan beberapa teman kampus Adrian yang lainnya kala itu, tapi bagi mereka itu sangat berkesan.
Dan usut punya usut, Deinan mau ikutan maminya buat nemenin aunty cantiknya berfoto. Itu semua atas usulan para sesepuh, karena mau bagaimanapun Lau dan Adrian belum sepenuhnya halal. Jadi dilarang mereka pergi hanya berdua, jadi harus dikawal.
Akhirnya diputuskan kalau Renata yang akan menemani mereka karena dia yang paling longgar waktunya. Setelah meminta izin suaminya akhirnya Renata menyetujui usulan untuk menemani adik sepupu tercintanya dan tentu sepaket dengan bocil gantengnya.
“aunty cantik.. ayo makan dulu yang banyak.., kata mommy nanti lama foto-fotonya.. biar kuat” ucap bocah kecil itu menirukan apa yang diucapkan Maminya tadi membuat semua yang dimeja makan tertawa.
“okee jagoann…” ucap Lau sambil mencium kening Deinan.
Bocah itu tersenyum senang kemudian kembali menyelesaikan makannya, sikapnya kembali mengundang kekehan semuanya. Kalau kata Mama Ayu, Deinan bucin sama aunty cantiknya karena ketika ada dirumah pasti nempel terus sama Lau.
Bahkan kata Deinan ketika besar nanti dia akan mencari dan menikahi istri yang cantik, baik, dan pintar seperti Aunty Lau nya. Penyataannya membuat semua melongo, tapi ketika ditanya menikah itu apa, dia Cuma jawab nda tau.. lucu.. kebanyakan dengar Mami dan eyangnya pada ngegosip kata eyang Narendra sambil terkekeh saat itu.
Semua sudah selesai ketika suara salam menyapa mereka semua.
“assalamualaikum semua..” sapa kedua perempuan dengan serempak.
“waalikumsalam.. sini masuk.. sarapan dulu” pinta mama Amel.
Kareen dan Amel berjalan beriringan, setelah menyalami semua mreka ikut duduk bergabung dengan yang lainnya namu tidak ikut makan, dengan alasan sudah sarapan. Jadi mereka hanya ikut minum jus dan makan beberapa potong buah.
Karena Kareen tidak ada kegiatan dan Amel juga tumbenan sedang mengambil cuti, maka mereka putuskan untuk menemani calon pengantin berfoto ria sekalian.
“loh kok ada onty Kaleen sama onty Mel juga..mau ikutan Dei nemenin Onty cantik foto?” ucap Deinan bingung dengan mimik lucu menggemaskan.
“hihiii… iya ganteng,,, Onty sama Onty Mel bakal ikutan biar rame” ucap Kareen menirukan nada bicara Deinan dengan gemas. Dan hanya dibalas anggukan beberapa kali oleh bocah kecil itu karena mulutnya masih penuh dengan pudding.
Suasana di kediaman Lau masih riuh hingga salah satu maid memberitahu kalau ada Adrian sudah sampai dan akan datang menyapa.
Setelah berpamitan akhirnya mereka berangkat dengan dua mobil menuju lokasi. Adrian, Lau, Renata dan Deinan tentu saja berada dalam satu mobil milik Adrian, sedang Kareen dan Amel berada dimobil yang Amel bawa. Sengaja terpisah agar nanti pas pulang tidak merepotkan karena arah jalan mereka pulang berlainan arah.
Setelah nego antar sesama pria, akhirnya terbentuklah posisi lucu dalam mobil dimana Deinan duduk disamping Adrian yang sedang menyetir, sedang Laura duduk dikursi penumpang tepat dibelakang Adrian dan Renata disebelahnya.
“om.. bawa mobilnya nda boleh ngebut-ngebut ya.. belbahaya.. kalna om bawa dua queennya Dei” ucap Deinan mengingatkan Adrian dengan gaya orang besar tapi masih cedal. Yang dikasih tau hanya mengangguk dan mengucap “okee.. boss kecil” sambil terkekeh.
Dia sudah terbiasa menghadapi kelakuan bocil, karena sikap Deinan sebelas dua belas dengan Cyla keponakannya, sementara yang dibelakang sudah cekikikan dari tadi. Adrian melihat sepion tengahnya sekilas kemudian ikut tersenyum melihat Lau yang cekikikan. Sejenak tatapan mereka beradu, mereka sama-sama tesenyum manis, sama-sama merasakan jantung mereka berpaacu seperti ada kupu-kupu beterbangan.
“ya Allah.. indahnya ciptaan-Mu ya Allah..” teriak Adrian namun Cuma dalam hati. Dan dia terkaget ketika sebuah tangan mungil menepuk lengannya pelan.
“Om.. Onty Lau memang cantik.. tapi jangan dilihat teluuss,,, kan om lagi nyetil.. bahayaa,,,” cerocos Deinan yang membuat Adrian garuk-garuk tengkuk sambil tertawa.
Sementara Lau pipinya sudah kaya tomat karena malu ketahuan bocah kecil itu. Renata hanya tersenyum melihat pemandangan itu, hingga akhirnya setengah jam perjalanan diisi dengan candaan yang lebih banyak didominasi oleh Dei.