Aku kira, suamiku mencintaiku, suamiku tulus menerimaku menjadi istrinya, ternyata aku salah. Mas Azril, dia tidak mencintaiku, dia terpaksa menikahiku karena tidak mau mengecewakan Mama dan Papanya. Bahkan, yang lebih menyakitkan, di dalam lantunan Doa sepertiga malamnya, bukan aku yang dia sebut, melainkan nama perempuan lain.
Farah, nama perempuan itu, yang sekarang ada di depanku, dibawa Mas Azril ke depan mataku. Mas Azril mengutarakan niatnya untuk menikahi Farah, perempuan yang selalu dia sebut dalam doanya. Bagai tersambar petir di tengah teriknya mentari, saat aku mendengar suamiku yang sangat aku cintai mengutarakan niatnya untuk berpoligami, dengan dalih akan adil terhadapku dan Farah.
Aku menyerah, aku pasrah, aku izinkan dia menikahi Farah, perempuan yang sangat dicintainya dengan memberikan beberapa persyaratan. Namun, sayangnya setelah pernikahan mereka terjadi, Mas Azril melupakan syarat yang aku ajukan. Bagaimana nasib pernikahanku dengan Mas Azril selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat - Melamar Kerja
Azril melihat mobil yang sepertinya ia kenal. "Kok kayaknya mobil Mala?" batin Azril.
Namun, ia tidak mengenal sopir Mala, karena sopir Mala yang bernama Anam adalah sopir baru, yang baru bekerja ikut Mala satu bulan.
"Tapi, laki laki tadi yang bawa mobil itu, apa dia sopir Mala? Ah, bukan! Bukan Mala, aku yakin, bukan! Sopirnya Mala kan Pak Narso? Bukan orang itu." Azril masih saja memikirkan mobil yang tadi melintas di depan tokonya, dan orang yang mengemudikannya baru saja beli paket data di tokonya.
Azril tiba tiba saja mengingat Mala, saat bersama Mala yang sulit sekali untuk Azril lupakan, meskipun itu terjadi sekejap saja dalam hidupnya.
Delapan bulan, Azril kira ia sudah bisa melupakan rumah tangga yang singkat itu, ternyata Azril kesulitan untuk melupakannya. Apalagi, Mala selalu hadir dalam mimpinya, di saat dirinya memejamkan mata, hanya Mala yang Azril ingat, hingga terbawa dalam mimpinya.
"Hadirmu begitu singkat, Mal. Tapi, aku sulit sekali untuk melupakanmu. Apa karena aku sudah banyak menggoreskan luka di hatimu? Sehingga aku selalu dihantui oleh rasa bersalah? Kamu perempuan yang sangat baik, yang sudah aku hancurkn hidupnya. Maafkan aku, Mala."
Azril melamun, netranya menerawang jauh keluar, membayangkan waktu dulu ia hidup dengan Mala. Memiliki Mala, Azril merasakan suami seutuhnya, karena Mala bisa menjalankan tugasnya sebagai istri yang sempurna.
Azril masih saja membayangkan Mala, sampai Farah pulang pun Azril tidak menyadarinya. Farah mendekati suaminya, lalu memeluk Azril dari belakang, karena sampai ia masuk ke dalam pun Azril tidak mengetahuinya.
“Mas, ngelamunin apa sih?” bisik Farah di telinga Azril.
“Ya ampun, Farah! Kamu kenapa tiba tiba memeluk aku? Kapan kamu pulang?” tanya Azril dengan terjingkat.
“Hmm ... saking asyiknya melamun, sampai gak tahu istri pulang? Aku ucap salam dari tadi gak ada sahutan, ya sudah aku masuk, padahal kamu di sini, sedang melamun. Ngelamunin apa sih?” tanya Farah.
“Cuma mikir saja, aku merasa jadi suami gak ada gunanya. Hanya begini, jaga toko, memang pemasukan toko banyak, tapi tetap saja, masih banyak pemasukanmu daripada aku,” ucap Azril.
“Sudah dong, gak usah begitu? Mana Sefi?” tanya Farah.
“Tidur di kamarnya, tadi habis main, katanya ngantuk,” jawab Azril. “Sana kamu mandi, biar segar,” perintah Azril.
“Iya ini mau mandi. Mas nanti makan lamongan saja, ya? Aku mau masak capek sekali,” ucap Farah.
“Hmm ... iya, terserah kamu saja, yang penting kita makan,” jawab Azril.
Farah sudah masuk ke dalam, ia segera mengganti pakaiannya, lalu membersihkan badannya. Ia masih terngiang ucapan Erwin, laki laki yang tadi bertemu di restoran. Dia juga teman Azril, bedanya Farah mengenal Erwin dari SMP, kalau Azril saat kuliah, ia baru kenal Erwin.
“Erwin gak boleh tahu, kalau Sefi adalah anaknya! Iya, dia anak Erwin, anal biologis Erwin, bukan anak Mas Azril, karena aku sudah membuktikannya. Golongan darah Sefi AB, sedangkan aku golongan darahnya A dan Mas Azril O, gak mungkin Sefi golongan darahnya AB. Untung saja saat Sefi butuh transfusi darah saat sakit kemarin, Mas Azril sedang di luar kota, jadi mas Azril tidak curiga, kalau ada Mas Azril, pasti Mas Azril akan mendonorkan darahnya, pasti dia akan kaget, jika tahu golongan darah Sefi AB,” ucap Farah lirih.
Entah kenapa saat itu Farah melakukannya dengan Erwin, saat ada liburan ke puncak dengan teman-teman saat SMA dulu. Azril saat itu sedang berada di luar kota satu bulan. Selama satu tahun menikah, Farah dan Azril belum diberikan keturunan, hingga malam itu terjadi, Farah terbawa suasana, apalagi Erwin adalah mantan pacarnya saat SMP sampai SMA. Mereka mengingat masa masa itu, hingga mereka akhirnya hanyut dalam suasana yang begitu menggairahkan bagi mereka, dan terjadilah pergulatan panas yang sampai pagi menjelang mereka melakukannya berkali kali. Benar, berkali kali dalam semalam itu.
“Kamu bodoh, Farah! Kenapa kamu bisa melakukannya dengan Erwin? Sudah tahu posisi kamu adalah istri Azril meskipun hanya sebatas istri sirinya!”
Farah keluar dari kamarnya, samar ia mendengar suara dua orang laki laki yang sedang mengobrol di ruang tamu. Suara yang sangat Farah kenal. Wajah Farah memucat, mendengar suara laki laki itu. Siapa lagi kalau bukan Erwin? Erwin juga mengenal Azril, dan ternyata Azril yang menghubungi Erwin lebih dulu, karena dia tanya tanya soal pekerjaan.
“Besok datang ke kantor saja, Zril. Tapi, apa tidak sayang dengan usaha kamu ini? Sudah rame, loh? Dari tadi saja banyak yang datang?” ucap Erwin.
“Ya itu urusan nanti, aku ingin bekerja yang layak, Win. Aku ini seorang suami, masa iya Farah yang bekerja, sedangkan aku di rumah? Iya sih aku ini punya usaha kecil kecilan, tapi tetap saja, namanya laki laki kan harga dirinya ada pada pekerjaan, Erwin?” ucap Azril.
“Iya, betul sekali! Apa orang tuamu masih belum bisa menerima Farah?” tanya Erwin.
“Ya begitulah,” jawab Azril.
Mala terkejut mendengar Azril akan melamar pekerjaan di kantor Erwin. Bagaimana nantinya kalau Azril akan tahu yang sebenarnya?
“Aku harus mencegahnya! Aku gak mau kehilangan Mas Azril! Aku rela yang bekerja, asal aku masih bersama Mas Azril!” ucap Farah.
Bayangkan klo Sefi anakmu d prlakukan sprti itu sama suaminya kelak,ingat Azril qm jg punya anak perempuan 😡😡😡😡
baper bgt😡😡
Mala qm ini bodoh ato trlalu baik😭😭😡😡
Lbih baik tinggalkn drpd menyiksa dri sendiri...
esmosi jiwa klo bca crita poligami😡😡
Mski punya istri ngakunya ea ttp lajang kan mau dpt perawan skelas Mala😡😡😡😡
Beginilah kalo drama perselingkuhan,lbih baik jadi janda Mala
Lanjuuuttttt maraton💪🏻