Dark romance !!
Cewek polos lugu x gangster kejam bengis !!
Tidak untuk anak-anak, ada adegan spicy !!
Latar belakang luar negeri, dengan nilai moral berbeda yang Indonesia.
Rosalie Ivy Dhelpine, seorang wanita cantik yatim piatu yang tidak memiliki keluarga, dan hidup dalam kemiskinan. Suatu malam dia di usir dan di cerai oleh suaminya, setelah melahirkan anak untuk Keluarga Cornelius.
Rosalie terpaksa pergi tanpa sepeser uang, tanpa rumah dan hanya sendirian. Di tengah udara malam yang dingin, seseorang tiba-tiba mendatanginya, dan menodongkan pistol ke arah kepalanya.
“Jadi ibu susu dan perawat untuk anakku, atau mati disini ?!” Ancam lelaki itu dan membawa paksa Rosalie ke rumahnya karena menolak perintahnya.
Anehnya, Aurelion, putra sang pria kejam itu justru menyukai Rosalie, dan menerima wanita itu. Bahkan Aurelion cocok dengan ASI yang diberikan Rosalie, hingga membentuk hubungan tak kasat mata antara Rosalie dan Aurelion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kehangatan keluarga
“Mama mau kemana ??”
Saat Rosalie dan Jude berencana akan pulang, Harlina sudah membicarakan semuanya dengan Rosalie sebelumnya, mengenai maksud tujuannya untuk menitipkan Harret pada Jude, selama masa kemoterapi yang akan dia jalani.
Rosalie justru merasa sedih dan kasihan pada Harret, ibunya yang ternyata mengidap penyakit kanker, dan kenyataan jika Harret belum pernah bertemu ayahnya selama 10 tahun, membuat Rosalie merasa sedih pada anak itu.
Rosalie juga berjanji pada Harlina, akan menjaga dan merawat Harret dengan baik, selama dia menjalani proses penyembuhan.
Dan disinilah, Harlina berbicara pada Harret serta memberikan koper milik pakaian dan beberapa mainan putranya.
“Mama akan pergi sebentar, Harret tinggal sama papa dulu ya.” Ujar Harlina mengelus rambut putranya, Harret memandang ibunya dengan tatapan penuh tanda tanya, tapi juga ada perasaan sedih.
“Mama.. Mau ninggalin Harret ??”
Harlina menggelengkan kepalanya, “Enggak sayang, mama cuma mau ngasih Harret kesempatan buat tinggal sama papa. Mama akan menjemput Harret, kalau urusan mama sudah selesai.” Ujar Harlina dengan lembut menjelaskan kepada Harret, mata anak itu berkaca-kaca, dia langsung memeluk Harlina dengan erat.
“Mama jangan lama-lama.” Ujar Harret berbisik di telinga Harlina, membuat wanita itu menutup matanya, menahan air mata.
Setidaknya, dia tahu putranya akan aman bersama dengan Jude, sang ayah kandung. Harlina bisa melihat tatapan Jude kepada Harret yang penuh cinta, dan kelembutan, juga Rosalie yang peduli pada putranya, membuat Harlina mempercayakan putranya pada kedua orang itu.
“Iya, mama gak akan lama. Baik-baik ya, sama bibi Rosalie dan papa.”
Harret sudah tahu, siapa ayah kandungnya. Jude sudah menjelaskan kepada Harret, meskipun awalnya sulit bagi anak itu untuk menerima perkataan dari Jude. Tapi, Harlina ikut mengatakan masalah yang terjadi, mengenai dirinya dan Jude.
Tidak secara gamblang, karena Harret masih terlalu kecil untuk mengerti. Tapi yang dia tahu, jika ayah dan ibunya sudah berpisah secara baik-baik dulu, dan kini ayahnya menikah dengan perempuan lain, yang mungkin bisa di anggap sebagai ibu tiri bagi Harret.
Meski Harret menerima semuanya dengan berat, tapi anak itu tidak menyalahkan siapapun, dia hanya menyimpan semuanya di dalam batin.
Setelah pamitan yang cukup dramatis itu, akhirnya Harret ikut masuk ke dalam mobil bersama Jude dan Rosalie. Lalu Harret sempat melambaikan tangannya pada Harlina, sebelum mobil itu benar-benar keluar dari halaman rumah.
Di suasana yang sedikit hening, Rosalie beberapa kali memecahkan keheningan dengan memberikan beberapa pertanyaan santai kepada Harret, dan anak itu menjawab dengan tersenyum dan baik, meskipun di matanya masih terdapat kesedihan di sana.
“Harret, masuk sekolahnya kapan ??” Tanya Rosalie.
“Minggu depan, bibi.” Ujar Harret mengingat tanggal dan kapan dia akan kembali bersekolah.
“Besok ke sekolah, di antar sama adik Aurelion ya ??”
“Eh ?? Adik udah boleh bangun pagi ya ??” Tanya Harret dengan bingung, karena dirinya biasanya bangun sangat pagi untuk berangkat ke sekolah.
“Sudah, nanti adik Aurelion yang ikut nemenin kakak Harret, ya ??”
“Oke bibi.” Ujar Harret tersenyum riang, membuat Rosalie yang sedari tadi menoleh ke belakang juga ikut tersenyum. Merasa bahagia bisa membuat sang anak bisa tersenyum dengan riang.
...
“Mom..”
Sebuah suara pelan terdengar dari arah pintu, Dhelpine menoleh ke sumber suara, bibirnya melukis sebuah senyuman manis, tangannya terangkat seakan menyambut sosok itu.
Seorang laki-laki berusia 17 tahun, menatap ibunya dengan tatapan berkaca-kaca sedih, dia bisa melihat beberapa luka di leher Dhelpine. Dia kemudian berjalan mendekati ibunya, menyerahkan tas di atas kasur, lalu duduk di bawah berhadapan dengan ibunya.
“Aidan..” Lirih Dhelpine melihat putranya duduk di hadapannya.
Aidan Cooper, anak kedua Dhelpine dan Enoch. Usianya berjarak 3 tahun, dengan Rosalie. Awalnya Dhelpine ingin melarikan Aidan juga dari Enoch, tapi sayang tidak berhasil. Dan kini Aidan ikut hidup di bawah kendali ayahnya.
Sebenarnya Aidan masih cukup bebas, dia tidak di rantai, atau di kurung di sebuah ruangan, hanya saja setiap pergerakannya di luar, di amati oleh anak buah Enoch. Aidan juga mendapatkan marga Cooper, dan di kenal sebagai anak angkat dari Enoch.
Karena status Dhelpine di sembunyikan oleh lelaki itu dari dunia luar, jadi Enoch memberikan status anak angkat pada Aidan.
“Did he hurt you ??” (Apakah dia menyakitimu ??)
Aidan menunjuk ke arah leher ibunya, Dhelpine tersenyum tipis.
“Tidak apa, asal dia tidak menyakitimu.” Ujar Dhelpine dengan pelan, membuat air mata jatuh dari Aidan.
Rasanya Aidan berkali-kali ingin melepaskan ibunya dari genggaman ayahnya sendiri, tapi Dhelpine menolak dengan lembut. Dirinya hanya tidak mau putranya mendapatkan luka karena dirinya. Dhelpine membenci Enoch, tapi dia tidak pernah membenci anak-anaknya, bahkan Rosalie sekalipun.
Aidan mewarisi warna mata Dhelpine yaitu cokelat terang, hanya saja wajahnya hampir miring dengan Enoch, tapi entah kenapa.. Dhelpine tidak membenci anak laki-lakinya itu, meskipun wajahnya mirip dengan Enoch.
Tangan Dhelpine menyentuh rambut Aidan, “Saat besar nanti, jangan tumbuh seperti ayahmu. Jadilah laki-laki yang baik dan lembut pada perempuan, hmm~” Ujar Dhelpine, kalimat yang selalu dia ucapkan pada putranya, agar Aidan tidak tumbuh menjadi monster kejam seperti Enoch, melainkan menjadi sosok lelaki yang lebih baik daripada ayahnya.
Aidan menganggukkan kepalanya tersenyum, “Aku mengerti, Mom..”
“Ayo, berdiri.. Berikan pelukan padaku.” Ujar Dhelpine meminta putranya untuk berdiri.
Tanpa menunggu waktu lama Aidan berdiri, dan memeluk ibunya dengan erat. Menuangkan air mata, antara sakit hati, kecewa dan marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
Aidan takut, jika dia menunjukkan emosi kepada Enoch, maka ibunya akan menjadi sasaran kemarahan lelaki gila itu. Dhelpine membelai punggung putranya dengan lembut, dia juga mengeluarkan air mata, merasa kecewa karena tidak bisa memberikan hidup yang layak untuk kedua anak-anaknya.
Bahkan terpisah dari putri pertamanya, dan anak keduanya merasa tertekan di bawah kendali Enoch.
Setelah pelukan singkat itu, keduanya saling berhadapan. Dhelpine menghapus air mata Aidan dengan jarinya, dia juga mengecup kening putranya.
“Aku sangat bangga padamu, putraku sudah tumbuh besar dan kuat.” Ujar Dhelpine tersenyum senang dan juga haru. Meskipun hidup dalam tekanan, setidaknya Aidan mendapatkan makanan dan tempat tidur yang layak, sehingga dia bisa bertumbuh menjadi laki-laki yang kuat.
Aidan tersenyum senang, dia sangat menyukai sentuhan ibunya. Bisa dikatakan Aidan sedikit manja pada Dhelpine, dan begitu dekat dengan ibunya.
“Oh iya, Mom.. aku membelikan puding kesukaanmu.” Ujar Aidan menghapus sedikit aura kesedihan yang berada di ruangan itu. Aidan meraih tas miliknya, lalu membukanya dan memperlihatkan sebuah kotak berisikan puding mangga yang lezat.
Dan hal lain yang harus mereka syukuri adalah, Enoch tetap memberikan uang kepada Aidan, dan tidak melarang lelaki itu membeli apapun, kecuali senjata api atau tajam. Dia membiarkan anak itu mendapatkan kesempatan berpendidikan.
Dan Aidan lebih sering menggunakan uang itu, untuk membelikan makanan dan memberikannya kepada ibunya. Entah roti, puding, atau makanan luar seperti sushi sekalipun.
Dan jujur, Aidan adalah sosok yang membuat Dhelpine bertahan di tengah-tengah keputusasaanya selama terkurung di ruangan itu.
🩵🩷🩵🩷🩵🩷🩵🩷
Chapter ini, agak mengandung bawang hehehehe.. Antara terharu dan juga sedih.
Kasihan si Harret, Aidan dan juga Dhelpine 🥲🥲
Udah, mau lanjut nangis dulu Authornya 😅😅
pingin lanjut ke cerita enoch🥰🥰🥰