Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6
"Loh ada tamu toh. Pakde kirain siapa tadi yang bertamu. Ayo masuk nak."
"Makasih pakde, aku datang ke sini ingin menjahitkan sepatu adik ku pakde. Bisa tidak di perbaiki pakde?"
Ali langsung menunjukkan bagian yang robek kepada pakde Sutomo.
"Oalah, bisa nak. Tapi ga bisa siap hari ini, soalnya pakde mau ada acara Minggu ini. keponakan pakde menikah beberapa hari lagi, jadi pakde ga bisa menerima pesanan dulu. Gimana kalau ngambil nya 2 Minggu setelah nya?"
Ali tampak berpikir keras, dia juga memikirkan bagaimana nanti nya dinda sekolah.
"Yaudah pakde, gpp. 2 Minggu lagi di ambil ya pakde, sekalian aku cari uang nya dulu buat bayar pakde. soalnya aku belum ada uang untuk membayarnya pakde." ucap nya dengan wajah sendu.
"Sudah aman, nanti dibicarakan lagi. Pokonya nanti sepatu adek mu sudah siap, dan kau bisa membayar sebisa mu saja. Jangan di paksakan."
"Beneran pakde?"
"Iya nak, yaudah balik sana. Memang nya kamu ga sekolah?"
"Aku masuk siang pakde, jam 1 lewat."
"Oalah, siang juga toh le."
setelah berbincang sedikit, akhirnya Ali pamit pulang kepada pakde Sutomo. karena dia akan menuju ke pasar terlebih dahulu. Untuk mencari pekerjaan yang bisa membayar upah pakde Sutomo.
"Ya Allah, semoga ada rezeki ku hari ini. Kasihan ayah, dan ibu. Mereka sudah cukup kekurangan selama ini."
Ali bertekad hari ini akan mencari pekerjaan sebelum dia berangkat sekolah. apapun akan dia lakukan asal halal dan bisa membantu perekonomian ibu dan ayah nya.
"Paman, boleh ga aku bantu jual tempe nya?" tanya Ali kepada penjual di pasar.
"Gausah, aku Masih bisa berjualan sendiri!" ucap penjual dengan sedikit nada ketus nya.
"Yaudah, makasih paman." ucap Ali yang tetap sopan kepada nya. karena dia tau, setiap manusia pasti selalu ada yang tak sempurna.
Ali termenung di luar pasar dengan tatapan sendu nya. Hari ini dia sudah berkeliling untuk menawarkan bantuan, tapi tetap saja orang orang malah mengusir nya begitu saja.
"Ya Allah, ternyata begitu mencari pekerjaan. kasihan ayah dan ibu. perjuangan mereka benar benar membuat ku salut. Aku janji, akan menjadi anak yang berbakti kepada ayah dan ibu!" ucap nya dengan penuh tekad yang kuat.
"Dek, boleh minta tolong?" tanya salah satu wanita yang tampak memerlukan bantuan.
"Iya Bu, minta tolong apa ya?" tanya Ali sambil tersenyum ramah nya.
"Ini, tolong bawakan belanjaan ibu ke mobil ya. Soalnya berat."
"Boleh boleh Bu." ucap Ali yang langsung sigap membantu ibu ibu itu. tatapan nya langsung berbinar, dia senang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Kelihatan nya barang barang yang di beli oleh ibu ibu itu cukup banyak, walapun lelah. Ali sama sekali tak mengeluh. senyum nya terlihat begitu tulus membantu.
"Sudah semua Bu, barang barang ibu sekarang sudah aman." ucap nya dengan penuh semangat
"Terima kasih banyak ya dek, ini upah nya."
"Loh, Bu saya bantu ibu ikhlas. Gausah Bu." ucap Ali yang kaget. Apalagi memang niat membantu nya ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun.
"Jangan menolak rezeki. Pamali, ambil ya. Saya berhutang Budi sama kamu." dengan terburu buru ibu itu memasukan ke dalam kantong depan milik Ali. Dia langsung berpamitan dan pergi dari pasar tersebut.
"Ya Allah, mungkin kah ini rezeki hari ini?" ucap nya dengan tatapan berbinar saat melihat uang 50.000 RB."
Dengan melihat jam dinding yang ada di pasar. Dia langsung bergegas pulang, untuk pergi ke sekolah. Tapi sebelum itu, dia harus menunggu adik nya terlebih dahulu. karena adiknya memakai sepatu nya.