Demi membalas dendam pada suaminya, Arumi rela melakukan operasi plastik dan menjadi baby sitter di keluarga baru mantan suaminya.
follow akun author ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34. Merindukan Arumi
Yoga menarik napas dalam-dalam, sungguh hari ini adalah hari terburuk baginya. Apa yang ia tanam, jelas akan ia tuai.
"Apakah mereka ingin menarik semua saham milik mereka?" ulang Yoga.
"Benar, Tuan. Mereka sepertinya sudah tidak percaya lagi dengan kinerja dari perusahaan kita. Dan satu hal yang sangat mengganggu bisnis kita, adalah adanya perusahaan baru yang menyaingi produk-produk kita, tentunya dengan harga yang lebih terjangkau bahkan lebih murah dari bareng yang kita produksi," jelas lelaki pengganti Lusi.
"Aargh ... Sial! Apa mau mereka!" geram Yoga sambil mengepalkan kedua tangannya. Kemarin dia kehilangan anak lelakinya, dan sekarang ia kehilangan beberapa persen saham dan kemungkinan itu akan terus menurun.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan? Dewan direksi sudah mendesak kita untuk mengadakan meeting bersama," ucap sekretaris pengganti Lusi.
"Apa harus hari ini, Rio?" Yoga menatap Rio dengan tatapan lelahnya. Sebenarnya hari ini dia ingin mencari tahu keberadaan putranya apakah benar dia dibawa oleh Arumi atau kemungkinan dibawa oleh Gisel, mengingat Gisel juga menginginkan Royan.
"Sepertinya mereka menginginkan secepatnya, Tuan. Dan mereka memberi batas waktu sampai lusa," jawab Rio.
Lelaki bertubuh kurus tinggi itu, juga terlihat tidak bersemangat. Perusahaan Yoga banyak mengalami penurunan. Tentu saja sebagai orang yang butuh pekerjaan, Rio merasa khawatir jika tiba-tiba perusahaan Yoga bangkrut.
"Baiklah, kita akan mengadakan meeting bersama selepas makan siang. Rio, sekarang siapkan aku makanan, dari pagi aku belum makan. Mungkin nanti setelah makan, pikiranku kembali jernih dan menemukan ide untuk mengembalikan kejayaan perusahaan kita lagi," ucap Yoga meminta Rio menyediakan sarapan yang tertunda untuknya.
"Baik, Tuan. Untuk menunya kira-kira apa, Tuan? Mohon maaf sebelumnya, karena keuangan lagi krisis jadi kami tidak bisa menyediakan makanan yang mewah untuk anda," ucap Rio berkata apa adanya. Memang saat ini keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja.
"Apakah keuangan operasional kita juga mengalami penurunan?" tanya Yoga dengan alis yang bertaut menjadi satu. Dia tidak tahu jika Lusi sering menggunakan uang perusahaan untuk membeli makanan enak dan juga membayar paket saat dia berbelanja online.
"Benar, Tuan. Selama ini yang pegang adalah nona Lusi. Untuk pengeluaran dan pemasukan ia yang mengurus semua. Dan dari saldo yang tersisa hanya tinggal sedikit saja. Kita butuh suntikan dana operasional, Tuan," jawab Rio jujur.
Selama Lusi menjadi sekretaris, dia lah yang mengurusi pengeluaran dan pemasukan uang operasional perusahaan. Rio dan divisi yang lain tidak diijinkan tahu.
"Apa? semua yang mengurusi keuangan adalah Lusi? Selama ini dia tidak mengeluh kekurangan. Aku kira semua berjalan dengan baik-baik saja," sanggah Yoga.
Selama ini Lusi tidak pernah permasalahkan keuangan perusahaan. Yoga hanya tahu kalau semua berjalan dengan baik. Akan tetapi kenyataannya, keuangan perusahaan terancam minus.
"Tidak begitu, Tuan. Kami semuanya diam karena Lusi selalu mengancam akan memecat kami jika kami tidak patuh pada perintahnya," jawab Rio tidak ada yang ia tutupi lagi. Saat ini adalah kesempatan yang baik untuk mengungkapkan kebusukan Lusi pada Yoga.
"Apa?! Astaga ...!" Yoga menyugar rambutnya. Kini kepalanya menjadi berdenyut sakit mendengar setiap fakta baru tentang istri ketiganya itu.
Rio menunduk, hatinya merasa lega karena semua kebusukan Lusi pada akhirnya terungkap juga.
"Sudahlah, belikan aku nasi bungkus di kantin saja. Biarkan kita berhemat terlebih dahulu, sampai pada akhirnya keuangan perusahaan kembali stabil. Aku akan berusaha untuk mencari investor lagi," ucap Yoga berharap semua akan kembali normal.
Rio mengangguk senang, harapan yang mulai redup kini mulai bercahaya lagi. Ucapan Yoga yang belum tentu berhasil mampu membangkitkan asa di dalam hati Rio.
"Baiklah, saya permisi dulu, Tuan."
Rio undur diri dari hadapan Yoga untuk membelikan nasi bungkus untuk Yoga.
"Astaga ... Masalah apa lagi ini, tidak Gisel, tidak Lusi! Semuanya sama -sama membuat perusahaan ku perlahan hancur. Arumi, aku merindukan mu! Hanya kamu lah yang bisa membuatku merasakan arti kesuksesan," gumam Yoga lagi.
Yoga termenung, dulu sewaktu hidup bersama Arumi, dia tidak pernah merasakan arti kelaparan di pagi hari, baju kerja kusut, dan juga penampilan yang tidak enak dipandang mata. Yoga mulai menyesali perbuatannya yang dengan tega membuat Arumi pergi dari hidupnya.
"Arumi? Apakah Arumi masih ada di penjara? Nanti setelah selesai meeting, aku akan menjenguk dirinya di penjara. Semoga dia baik-baik saja," ucap Yoga yang mendadak teringat pada Arumi istri pertamanya dulu.
Yoga bergegas menyelesaikan semua pekerjaannya agar nanti sore dia bisa menjenguk Arumi. Yoga tidak tahu jika Arumi sudah dibebaskan oleh sosok yang merubah hidup dan wajahnya.
Sementara itu di rumah sakit, pagi menjelang siang itu Arumi kembali menjalani terapi bersama dokter Aprilia. Terapi kali ini ditujukan agar Arumi bisa mengingat semua yang sudah terjadi di dalam hidupnya.
"Selamat pagi, Arumi. Bagaimana keadaan mu hari ini?" tanya dokter Aprilia dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi, Dok. Seperti yang anda lihat. Keadaan ku semakin membaik, semua ini berkat anda dan juga dokter Andrew," jawab Arumi duduk bersandar di bednya.
"Apakah kamu ingin jalan-jalan dengan ku? Kita akan mengobrol di taman agar suasana lebih menyenangkan dan pikiran jadi lebih fresh. Bagaimana, Arumi?" tanya Dokter Aprilia mengajak Arumi jalan-jalan di taman rumah sakit.
"Sepertinya akan menyenangkan, Dok. Okey, ayo kita ke taman, Dok," jawab Arumi dengan semangat yang membara.