Juara 🥉 Event Air Mata Pernikahan S3
Ainsley dan Charlie adalah sepasang suami istri yang juga anggota FBI. Mereka bertugas menggagalkan penyelundupan narkotika di pelabuhan New York yang dilakukan oleh mafia bernama John Wilson.
Tapi rencana mereka di ketahui oleh musuh sehingga terjadi baku tembak antara kedua kubu.
John Wilson berhasil kabur, tapi Charlie tidak membiarkannya begitu saja. Dia mengejar John hingga terjadi kecelakaan tragis yang menewaskan Charlie.
Ainsley terpuruk dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari FBI. Dia terus mencari keberadaan suaminya karena dia tidak percaya suaminya meninggal jika belum melihat jasadnya. Bahkan dia berencana untuk balas dendam.
Tapi beberapa bulan kemudian saat dia berlibur, dia bertemu dengan pria yang mirip dengan suaminya. Tapi sayangnya, pria itu bernama Michael dan mempunyai tunangan.
Siapakah Michael sebenarnya? Dan apakah Ainsley bisa membalaskan dendam kematian suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Misi Penyelamatan 2
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya John yang merasa tidak senang dengan kedatangan Henry
"Hei... Begitukah sikapmu pada rekan kerjamu? Tanpa diriku, kau tidak akan bisa menangkap musuh bebuyutan mu, John." seru Henry. Sesaat setelah Ainsley pergi, dia mendapat telepon dari Lukas jika mereka berhasil membawa Michael dan Daisy. Untuk itu, dia bergegas ke rumah John untuk memastikan kematian mantan rekannya itu.
"Bukan aku saja, tapi kau juga, Henry." sahut John sinis. Dia paling tidak suka di remehkan. Hanya karena Henry yang memberitahunya dimana Charlie berada, membuat pria itu angkuh di depannya. Dia sangat ingin menghabisi Henry, karena bagaimanapun dia benci penegak hukum. Namun dia memilih menahan diri untuk tidak melakukannya karena pria itu masih berguna untuknya yang berperan sebagai mata-mata di FBI.
"Ya, ya, ya.. Kau benar. Charlie adalah musuh kita berdua. Kita sama-sama menginginkan dia mati. Untuk itulah kita bekerjasama. Tapi sebelum dia mati, aku ingin menemuinya terlebih dahulu." seru Henry
"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika dia tahu, kau seorang pengkhianat?" sentak John
"Tenang John!! Kau lupa? Dia amnesia John. Lagipula, tidak masalah jika dia tahu siapa aku. Karena sebentar lagi dia akan mati. Ya, anggap saja aku melakukan hal ini agar dia tidak penasaran di akhirat nanti." seringai Henry. Dia sangat senang karena sebentar lagi ancaman mereka akan segera mati. Dan dia akan mengambil hati kapten Aaron sekali lagi agar bisa diangkat sebagai orang kepercayaannya. Tanpa tahu jika sekarang Kapten Aaron sudah memerintahkan anggota FBI untuk mengawasinya
"Cih... Justru aku ingin dia mati penasaran karena aku tidak ingin dia cepat-cepat bereinkarnasi." gerutu John
Henry tertawa keras. "Jika dia bereinkarnasi, kita bisa membunuhnya lagi John." Henry mengajak John ke ruang bawah tanah dimana Michael berada. Dia ingin melihat mantan rekan kerjanya untuk yang terakhir kalinya.
Anak buah John yang berjaga membuka pintu untuk mereka dan terlihat seorang wanita yang meringkuk di pelukan Michael.
"Wah.. Wah.. Wah.. Coba lihat, siapa ini?" Henry menatap Michael dengan senyum remeh dan menoleh kearah John. "Kau tega sekali menangkap sepasang kekasih ini, John." ucapnya
John hanya tersenyum sinis, sedangkan Michael menatap tajam keduanya.
"Bagaimana kabarmu, Charlie ? Upss... Maaf, maksud ku, Michael." sapa Henry
Michael hanya diam saja. Tapi tidak dengan Daisy. Dia menoleh karena merasa pernah mendengar suara orang itu. "Kau..." Daisy menghampiri Henry dan meraih tangan pria itu. "To-tolong kami, tuan!! Me-mereka ingin membunuh kami. Kami tidak salah apa-apa." seru Daisy memohon
"Daisy!!" Michael mencoba mencegah Daisy, namun dia mengurungkan niatnya saat melihat anak buah John yang siap dengan senjatanya.
"Maaf nona. Apa kita saling mengenal?" tanya Henry
"Kau anggota FBI, kan? Waktu itu aku melihatmu di kantor polisi. Kau sedang berbicara dengan polisi di sana. Dan...." Daisy menjeda ucapannya. Dia membekap mulutnya karena baru menyadari sesuatu.
"K-kau..." Daisy mundur beberapa langkah melihat seringai aneh di wajah Henry.
"Jadi kau melihat ku memakai seragam FBI di kantor polisi, ya?" tanya Henry.
Daisy menggelengkan kepalanya dan hendak lari. Tapi dengan cepat, Henry menarik rambut wanita itu dengan keras.
"Akh..." pekik Daisy kesakitan.
"Daisy!!" Michael hendak menolong Daisy tapi langkahnya terhenti saat anak buah John menodongkan senjata padanya.
"Kau tahu? Tadinya aku ingin melepaskan mu dengan menjual mu ke bar. Namun aku rasa, kau cukup berbahaya jika dibiarkan hidup begitu saja." Henry mendekap Daisy dan menembak wanita itu berulang kali di perutnya hingga tewas
"NO!!!" teriak Michael. Dia tertegun melihat apa yang baru saja terjadi. Hatinya sakit. Bagaimanapun juga Daisy adalah tunangannya. Dan dia terlihat syok. Dia marah dan ingin menghajar Henry, namun dirinya ditahan oleh anak buah John.
"BRENGSEK!!" teriak Michael
Henry tertawa puas melihat Michael yang tidak berdaya. Rasanya sangat menyenangkan membuat pria itu terpuruk dengan air matanya yang menetes menatap orang yang dia sayangi mati dengan cara mengenaskan di depan matanya.
"Daisy!" lirih Michael. Dia menunduk sedih. Namun kemudian dia menegakkan kepalanya, menatap tajam Henry. "Dasar iblis." ucapnya penuh penekanan
Henry kembali tertawa. Dia mendekati Michael dan berkata, "Jangan sedih Charlie! Sebentar lagi kau akan menyusul wanita bodoh itu."
Michael hanya bisa menatap tajam Henry. Kedua tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras dengan wajah yang merah padam. "Aku pasti akan membunuhmu." seru Michael
Henry hanya tersenyum sinis. Dia mencengkeram dagu Michael erat dan berkata, "Sebelum kau melakukan hal itu, kau sudah pergi ke neraka." Henry melepas kasar dagu Henry dan pergi begitu saja di ikuti oleh John.
Mereka tidak tahu saja jika sekarang Ainsley sudah mengintai istana megah John. Dia memarkirkan mobilnya cukup jauh dari sana dan mengintai melalui teropong kecilnya.
Cukup banyak anak buah John yang berjaga. Dia mencari sudut yang bisa dia gunakan untuk masuk tanpa sepengetahuan mereka. Dan setelah menemukannya, Ainsley segera mengeluarkan peralatannya.
Dia membawa tas berisi bahan peledak dan sebuah jangkar bertali yang akan ia gunakan untuk memanjat tembok rumah mewah milik John. Tapi sebelum itu, dia meretas cctv di rumah John melalui laptopnya agar aksinya tidak di ketahui dengan cepat oleh musuh.
"Done!! Oke, saatnya beraksi. Aku harap kalian baik-baik saja sebelum aku sampai kesana." gumam Ainsley. Dia mulai berlari kearah samping rumah John yang tidak ada penjaga di sana. Dia mulai melemparkan jangkar bertali keatas tembok dan memanjang secara perlahan. Setelah sampai di atas, dia melempar jangkar tersebut dan melompat turun dari pagar. Dia berguling dan bersembunyi, memastikan jika tidak ada yang melihat aksinya.
"Sepertinya aman." batinnya. Dia mulai mengendap-endap, mencari jalan untuk masuk ke rumah tersebut. Namun sial, baru beberapa langkah, anak buah John datang berpatroli.
Ainsley terpaksa kembali ke tempat persembunyiannya. Di saat ada kesempatan, dia berjalan mengendap-endap dan membekap mulut musuh dari belakang. Dan dengan sekali putaran, dia mematahkan lehernya musuh hingga tewas.
Ainsley melihat kesana kemari. Dia menyeret mayat tersebut dan menyembunyikannya di semak-semak. Baru setelahnya dia memasang bahan peledak di dekat rumah John.
"Aku akan mengubur mu hidup-hidup, John. Aku tidak akan membiarkan orang seperti mu hidup lebih lama."
kerennnnn