Apa yang akan kamu lakukan ketika tetangga kosanmu, memiliki wajah yang tampan tapi juga misterius?
Anna, adalah seorang mahasiswi sastra Inggris yang berjuang seorang diri di tengah kerasnya kehidupan perantauan di negeri asing, Amerika Serikat. Anna bertemu dengan Lucas, seorang pemuda yang berusia sekitar 26 tahun. Lucas yang menempati kamar kos di sebelah kamar kos Anna.
Menurut Anna, Lucas selalu memberikan kesan yang mencurigakan. Hingga suatu hari, ketika Anna pulang dari kerja sambilannya dalam keadaan tidak enak badan. Anna salah masuk kamar kos dan menyaksikan Lucas tengah melakukan aksi pembunuhan terhadap teman wanitanya.
Akankah Anna dapat menghindar dari Lucas ataukah justru Anna akan jatuh ke dalam jerat Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maesaro Ardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk ke dalam Perangkap
Ellie terbangun dari lelapnya ketika jendela kaca mobil diketuk dari luar, gadis itu menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa yang datang. Wajahnya tersenyum senang saat dia mengetahui siapa orang tersebut. Tentu saja Lucas.
Lelaki yang sudah seperti prince charming berkuda putih yang menyelamatkan sang putri dari mara bahaya.
"Thank's God! Akhirnya kamu nyampai juga, Luc."
Hampir saja Ellie memeluk Lucas, tapi kesadaran telah menghalanginya.
"Kamu tadi tidur?" tanya lelaki itu.
"Hehehe iya, entah kenapa aku itu kalau kebanyakan mikir malah bikin otakku nge-blank jadinya suka ketiduran."
Ellie menggaruk tengkuknya, malu juga ketahuan tidur di saat yang tidak tepat. Padahal Anna sering kali mengingatkannya tapi dasar dirinya saja yang bebal.
"Pantas saja, mata kamu agak merah. Agak ragu sebenarnya aku apa kamu itu habis nangis atau tidur, tapi dilihat dari ada bekas di pipi kamu. Benar berarti tebakanku," tutur Lucas sambil menunjuk pipi kiri Ellie.
Wajah Ellie merona saat dia paham apa yang dimaksud Lucas.
"Aduh, malu banget," gumam Ellie sambil mengelap bekas yang masih tersisa di pipinya.
Lucas terkekeh melihat tingkah laku Ellie, gadis itu terlihat lucu di matanya.
"Ayo kita periksa mobilmu dulu, biar kita bisa tahu letak kerusakannya ada di mana."
Ellie mengangguk setuju, dia menyerahkan masalah mobilnya pada Lucas. Toh, dia tidak paham apapun.
Lucas membuka kap dan mulai memeriksa kondisi mobil tua tersebut, butuh beberapa lama Lucas hingga lelaki itu menutup kembali kap mobil Ellie.
"Ada dua kemungkinan kenapa mobil kamu mati, bisa karena baterainya atau juga mesinnya. Misal benar penyebab kerusakan itu salah satu dari keduanya berarti aku tidak bisa berbuat banyak, mobil kamu harus masuk bengkel," tutur Lucas.
"Hah? Lalu gimana dong? Sekarang sudah jam 2 pagi, apa masih ada bengkel yang buka?"
"Ada, aku tahu bengkel yang buka 24 jam di dekat sini dan harganya tidak terlalu mahal. Gimana? Kamu setuju?" tanya Lucas.
Ellie terdiam sejenak, tawaran Lucas cukup menarik, dia juga bisa menghemat waktu dari pada terdampar di pinggir jalan begini.
Namun, Ellie tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Dia harus menelepon ayahnya dulu, tapi untuk sekarang lebih baik dia ikut saran Lucas. Jika mobil sudah ada di bengkel baru dirinya menghubungi sang ayah.
"Baiklah, aku ikut saran kamu, Lucas."
Lucas tersenyum mendengar jawaban Ellie, "Baiklah, mobilmu biar aku derek dengan mobilku. Aku akan temani kamu sampai masalah mobilmu kelar. Ayo!"
Lucas meraih tangan Ellie, hingga membuat gadis itu cukup terperangah. Setelah mengunci mobilnya, Ellie mengikuti langkah Lucas. Gadis itu duduk di samping pemuda tersebut.
"Untunglah aku bawa mobilku, jadi kita bisa menghemat biaya."
"Thank you, Lucas. Aku nggak tahu apa yang aku lakukan jika kamu tidak datang menolongku," ucap Ellie.
"Nggak masalah kok, aku senang bisa membantumu. Setidaknya dengan alasan ini kita jadi lebih dekat."
Jantung Ellie berdebar kencang, saking kencangnya dia khawatir Lucas mendengarnya. Tiap kali dia mendengar suara lembut Lucas hatinya selalu berdesir, hal yang tidak pernah dia alami sebelumnya.
"Kalau kamu mau tidur nggak apa-apa, nanti aku bangunkan jika sudah sampai," kata Lucas.
"Eh, tapi kamu gimana? Kamu nanti nyetir sendiri nggak ada yang nemenin ngobrol."
"Nggak masalah, kamu lupa pekerjaanku apa?"
"Oh iya juga ya. Oke deh kalau gitu aku tidur dulu ya, kalau kamu butuh teman ngobrol jangan sungkan buat bangunin aku," ucap Ellie.
"Iya, jangan khawatir."
Tanpa rasa re Agus sama sekali, Ellie akhirnya memejamkan matanya. Ellie pikir jika dia terjaga juga dia bingung harus ngobrol apa dengan Lucas, jujur baru sekarang Ellie begitu gugup dekat dengan lawan jenis.
Padahal dia bukan anak remaja yang belum mengenal apa itu cinta, juga apa itu hubungan dengan lawan jenis.
Namun apa yang Ellie rasakan jika bersama dengan Lucas itu berbeda, dia sendiri bahkan tidak bisa mengungkapkan lewat kata-kata.
"Dari pada pusing mending aku tidur saja deh," batin gadis itu.
Lucas melirik ke arah Ellie, nafas Ellie yang bergerak naik turun dengan pelan menandakan gadis itu sudah berada di alam mimpi. Seringai Lucas tak dapat diartikan, andai saja Ellie bangun dan melihat seperti apa wajah Lucas saat ini. Pasti gadis itu tidak akan berani tidur dengan mudahnya.
"Tidurlah, El. Aku harap kedepannya kamu akan jinak seperti ini," gumam lelaki yang mengenakan pakaian kasual warna hitam.
Lucas sengaja mengenakan kaos lengan panjang dipadupadankan dengan jeans hitam dan sweater abu-abu, sweater yang ia kenakan dia lepas perlahan untuk menyelimuti tubuh Ellie.
Lelaki itu pun mengecilkan suhu AC di mobilnya, sepertinya Ellie kedinginan. Suara musik jazz mengalun mengiringi perjalanan mereka.
Musik jazz merupakan salah satu jenis musik yang disukai oleh lelaki itu, dia bahkan bisa menyanyikan beberapa lagu jazz. Apa lagi dengan suaranya yang begitu 'deep' sangat cocok dengan tipe jenis musik apapun, tidak terkecuali jazz.
Tidak heran jika beberapa teman wanitanya dan juga beberapa korbannya pun tersihir akan salah satu pesona, yang di miliki oleh Lucas.
"Nanana...nanana.." Lucas melantunkan nada mengikuti irama musik jazz dari dalam mobilnya. Perasaan lelaki itu sangat riang, sebenarnya jarak antara tempat Ellie dengan bengkel yang akan dia tuju itu tidaklah begitu jauh.
Namun, Lucas sengaja memutar jauh agar mereka tidak sampai lebih cepat. Sangat disayangkan jika waktunya bersama gadis yang dia incar selama beberapa Minggu itu berlalu begitu saja.
Agaknya juga Lucas tengah menyusun strategi supaya Ellie masih mau menghubungi dirinya, hanya satu kendala Lucas. Dia masih belum mempunyai nomor sang gadis, selama ini mereka berkomunikasi melalui anstagram.
"Coba saja kalau aku dari dulu bisa semudah ini menaklukkan dirimu, Ellie. Andai saja temanmu itu tidak mengganggu, " gumamnya.
Lucas menghentikan kendaraan roda empatnya tepat di depan sebuah bengkel, setelah dia membawa Ellie berputar arah selama 30 menit.
"El, bangun. Kita sudah sampai." Suara lembut Lucas yang membangunkan Ellie justru membuat gadis itu makin terbuai, lihat saja Ellie yang tidak bergeming sama sekali.
"El, ayo turun." Kali ini Lucas mencoba menggerakkan pundak gadis itu dan ternyata rencananya berhasil.
Ellie mengerjapkan matanya, betapa kagetnya dia ketika melihat wajah Lucas yang begitu dekat dengannya.
"Kyaa.. M--maaf Lucas!"
Salah tingkah, begitulah yang Ellie alami saat ini. Siapa sih yang tidak bersikap demikian saat melihat wajah setampan Lucas yang hanya berjarak sejengkal saja dengan wajah kita?
"Oh, akhirnya kamu bangun juga. Maaf, aku hanya membantumu membuka seat belt. Ayo turun, kita sudah sampai dari tadi," dalih Lucas.
"M--maaf ya dan terima kasih. Harusnya kamu bangunkan saja aku, jadi nggak enak gini," ucap Ellie.
"Aku nggak mau ganggu kamu, sepertinya kamu sangat lelah."
Ellie tidak lagi menjawab apa yang dikatakan Lucas, sebab bukan hanya tubuhnya yang lelah, hati dia pun juga. Ditambah kejadian beberapa saat lalu, hampir saja hal buruk terjadi padanya jika Lucas tidak datang tepat waktu.
Lucas membukakan pintu untuk Ellie, keduanya kemudian masuk ke dalam bengkel. Ellie melihat mobilnya sedang ditangani oleh dua orang mekanik.
"Aku lihat ke sana dulu ya," ucap Lucas. Ellie mengangguk, dia juga mengekor di belakang lelaki itu.
Lucas dan salah satu mekanik tersebut terlibat dalam percakapan yang serius, tentunya tidak satupun yang Ellie pahami. Gadis itu lebih memilih untuk duduk di bangku kayu yang disediakan oleh pemilik bengkel.
Helaan nafas berat dia hembuskan, cuaca semakin dingin. Jarum jamnya sudah menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Ellie baru sadar saat dia mengeratkan sweater yang membalut tubuhnya.
"Sudah aku duga, Lucas itu orang yang baik. Mungkin Anna hanya terlalu waspada dengan orang luar, sehingga pandangannya tentang Lucas buruk terus," gumam Ellie.
Lucas menghampiri Ellie dengan dua cangkir kopi ditangannya.
"Minumlah, kamu pasti kedinginan."
"Thank's, Lucas." Ellie menerima uluran kopi dari lelaki itu.
"Mekanik tadi bilang, ada beberapa mesin mobil yang harus diganti. Jangan khawatir, jika kamu mau membenarkannya di sini mereka akan memberikan harga khusus. Sebab bengkel ini memang langganan ku," ujar Lucas.
"Begitu ya. Aku telepon ayahku dulu boleh? Sebab aku tidak paham, aku harus minta persetujuan Ayah."
"Boleh, tentu saja."
Ellie meletakan kopi yang baru dia minum sedikit, dia menghubungi nomor ayahnya dan menceritakan keseluruhan kejadian yang dia alami.
"Kamu sekarang dengan siapa? Siapa yang menolong mu?" tanya ayahnya.
Ellie melirik ke arah Lucas, dia bingung mau memperkenalkan laki-laki itu pada ayahnya sebagai apa.
"Dengan temanku, Yah." Akhirnya Ellie memilih hubungan teman dengan Lucas.
Lucas yang merasa seperti sedang diperhatikan, tersenyum lembut pada Ellie. Setelah beberapa lama Ellie kembali, dia mengatakan kalau ayahnya setuju dengan usul Lucas.
Dengan begitu Lucas langsung mengatakan pada pihak bengkel agar mengurus mobil Ellie.
"Mobilmu bisa diambil tiga hari kemudian, sebab ada suku cadang yang harus mereka pesan terlebih dahulu," kata Lucas.
"Iya, nggak apa-apa. Terima kasih ya, Lucas."
"Sama-sama. Oh iya, mau ku antar pulang? Jam segini tidak ada taksi yang beroperasi di sini, gimana?"
"Boleh deh, aku beneran terima kasih banget atas semua pertolongan mu, Lucas."
"Jangan dipikirkan, masuklah."
Lucas membuka pintu untuk Ellie, gadis itu masuk dengan hati lega. Ellie menyebutkan kemana Lucas harus mengantarnya.
Perjalan mereka menuju rumah sakit sesekali diselingi dengan obrolan dan canda tawa.
"Aku sebenarnya takut banget hari ini, kakek aku belum ada kepastian kapan bisa keluar dari rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa padanya."
Bulir air mata mulai mengalir tanpa bisa Ellie tahan, rasa sebak di dadanya seakan meluap.
"Sabar ya, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Kakek kamu juga pasti sembuh, jangan nangis ya. Aku ikut sedih liat kamu begini," ucap Lucas. Lelaki itu menghapus air mata Ellie dengan tangan kanannya.
Bukannya mereda, tangis Ellie semakin keras. Dia yang tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasa di depan ibu dan kakeknya, akhirnya bisa meluahkan semuanya di depan Lucas.
Lucas tidak banyak komplain, lelaki itu bahkan menenangkan dirinya dengan menepuk pelan punggungnya sesekali. Hingga tak terasa keduanya telah sampai di tempat yang mereka tuju.
"Thank you so much, Lucas. For everything you do to me."
"No worries, El. Masuklah, ibumu pasti khawatir."
Ellie tersenyum manis sebelum dia keluar dari mobil Lucas. Lucas tidak langsung beranjak dari tempatnya, dia mengambil ponselnya. Layar ponsel menunjukan pukul 3.35 dini hari, Lucas menatap layar ponselnya itu dengan seringainya yang khas.
Hingga di detik kedua jam tersebut berganti angka, Ellie kembali lagi. Seolah Lucas memang sudah memprediksi hal tersebut.
Ellie mengetuk jendela Lucas, hingga lelaki itu membuka jendela mobilnya dan menyambut kedatangan Ellie.
"Syukurlah, kamu masih di sini. A--aku boleh minta nomormu?" tanya Ellie.
Lucas tersenyum lebar, "Tentu saja, dengan senang hati."
Lucas menaipkan nomornya pada ponsel Ellie. Setelah keduanya telah bertukar nomor telepon, baru kali ini Ellie benar-benar masuk ke dalam rumah sakit.
Lagi-lagi Lucas tersenyum, senyum khas seorang pembunuh berdarah dingin.
ku nunggu bnget
semangat ya thor