"Alzena Morgan" terpaksa harus meningal kan kekasih nya karena di paksa sang papa untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa nya.
Sempat memberontak dan ingin kabur namun gagal karena di ancam oleh sang papa.
"Menikah lah dengan putri ku, hanya kau yang bisa aku percaya untuk memiliki nya" ucap tuan Morgan kepada Gara.
"Apa? Om, apa aku tidak salah dengar?" tanya Gara kaget sekaligus bingung.
"Hanya kau yang akan mencintai nya dengan tulus dan bukan karena dia pewaris tunggal kelaurga kami," ...
"Elgara Aidenio" seorang CEO di perusahaan xx grup, yang kerap di panggil tuan muda Gara pemilik perusahaan terbesar di kota x, ayah nya adalah sahabat dekat tuan Morgan, namun ayah nya Elgara Aidenio sudah lama meningal.
Bagaimana kah kisah rumah tangga Alzena selanjutnya dengan suami pilihan sang papa? Ayo ikuti kisah "Suami Pilihan Papaku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #34
"bagaimana keadaan nya?" tanya Gara kepada dokter.
Beberapa jam sudah berlalu, hari yang seharusnya malam kini sudah hampir subuh saja.
"Keadaan nya semakin membaik, benturan di kepala tidak terlalu kuat, hanya saja dia mengalami trauma dan juga rasa takut yang mungkin berlebihan," ucap sang dokter menjelaskan kepada Gara.
"Terima kasih banyak dokter, apa ada resep untuk nya?" tanya Gara lagi.
"Iya, aku sudah membuat resep obat nya, kalau begitu aku permisi dulu,"
"Baik lah dokter, Farel akan mengantarkan mu ke depan," jawab Gara.
"Mari dokter," ucap Farel yang kemudian berjalan bersama dengan dokter untuk mengantarkan nya keluar.
Sementara itu Gara menghampiri Alzena yang sedang terbaring lemah masih dalam keadaan pingsan di atas ranjang.
"Berani-beraninya dia menyakitimu, aku tidak akan membiarkan nya, dia tidak akan selamat di tangan ku," ucap Gara sambil memegang tangan Alzena dan mengengam nya dengan erat.
Malam itu Gara terpaksa menahan amarahnya karena ingin menemani Alzena di kamar, dia tidak mau meninggalkan nya bahkan sebentar pun, begitu besar cinta untuk sang istri sehingga dia begitu murka akan kejadian ini.
Malam pun berlalu, karena terlalu khawatir, Gara pun tidur dalam posisi duduk.
"Ahhh,"Leguh Alzena sambil memegang kepala nya yang kini sudah di baluti dengan perban berwarna putih.
Gara yang mendengar itu sontak sadar dan melihat apa yang terjadi dengan Alzena.
"Kau sudah sadar?" ucap Gara sambil memegang kepala Alzena dengan pelan.
"Di mana aku? Apa yang terjadi?" tanya Alzena kepada Gara.
"Kau tidak ingat semuanya? Apa kau masih belum ingat? Jika begitu tolong jangan banyak pikiran kau harus istirahat,aku khawatir dengan kondisi mu," jelas Gara kepada Alzena.
Alzena terdiam mendengar ucapan Gara, dia memandang wajah suaminya dengan penuh rasa kagum, sejujurnya dia tidak lupa dengan apa yang terjadi hanya saja dia ingin melihat apakah Gara akan menceritakan itu atau tidak.
Alzena pun memeluk Gara dengan erat dan kemudian menangis dengan suara kecil, dia benar-benar tidak menyangka jika Gara akan menyelamatkan nya dari bajngan itu.
"Kau tidak perlu menangis, aku akan selalu ada di sini, kau tidak perlu takut aku akan melindungi mu, sekarang istirahat lah, beberapa jam lagi aku akan meminta pelayan untuk membantu mu mandi dan bersiap-siap," ucap Gara melepaskan pelukan nya dan kemudian menatap Alzena dengan tatapan penuh cinta.
"Kit akan ke mana?" tanya Alzena kaget.
"Kita akan mengadili pria bajingan itu," ucap Gara kepada Alzena.
Alzena pun kaget dengan jawaban suaminya,tak di sangka Gara tidak main-main dengan kejadian ini, meskipun Azka adalah adik sepupu nya dia sama sekali tidak akan mentoleransi itu seperti nya.
Beberapa jam pun berlalu, kini Gara dan Alzena berjalan menuruni satu persatu anak tangga menuju ruang tengah, hari ini seperti nya Tante Helen dan Azka sudah tidak ada kesempatan untuk membela diri lagi.
Mereka pun kini akhirnya tiba di ruang tengah mansion, terlihat Azka dan juga Tante Helen yang sudah menunggu mereka dengan perasaan takut.
"Pelayan! Bawa semua barang-barang mereka yang sudah kalian bereskan, jangan sampai ada satu barang-barang pun yang tertinggal,atau aku akan membakar nya," perintah Gara kepada para pelayan yang tadi sudah di perintahkan oleh nya untuk membereskan barang-barang milik Tante Helen dan Azka.
"Baik tuan muda!" jawab para pelayan bergegas.
"Kak! Kau sudah keterlaluan! Jika kau ingin mengusir aku! Kau tidak perlu mengusir ibu ku,dia tidak bersalah!" ucap Azka yang kini terlihat babak belur wajah nya bengkak di mana-mana.
"Diam kau! Aku tidak peduli, kalian pikir selama ini aku tidak tau bagaimana kalian memperlakukan istri ku? Dan Tante dia juga sudah semabrangan membuat Alzena tidak nyaman dan berbicara tidak baik terhadap nya," ucap Gara.
Sementara Alzena yang trauma akan Azka memilih untuk bersembunyi dan memegang erat tangan suaminya dia berlindung di belakang Gara, dia sungguh terlihat takut.
"Gara, apa kau tidak ingin mendengar kan penjelasan Tante dulu? Kau sudah mengenali kami dari lama, dan Azka juga, aku pikir itu terjadi karena istri mu lah yang menggoda Azka mungkin dia sengaja menjebak kami karena dia tidak suka dengan kehadiran kami," ucap Tante Helen mulai bereaksi.
"Apa maksud Tante bica seperti ini?" tanya Gara lagi.
"Ya, karena Alzena dari awal tidak suka kami tinggal di ini, mungkin saja dia yang memasukkan sesuatu ke dalam minuman Azka dan megoda Azka, Gara percaya lah, mungkin ini adalah jebakan istri mu sendiri!" ucap Tante Helen lagi berusaha membela dirinya dan anak nya.
"Tidak Gara, tidak! Aku tidak melakukan apa-apa, aku tidak pernah mempermasalahkan mereka tinggal di sini, aku mohon percaya lah kepada ku, aku tidak pernah melakukan apa yang Tante katakan!" ucap Alzena tak terima di tuduh dan menatap suaminya dengan tatapan penuh harapan agar Gara tidak termakan ucapan mereka.
"Benar kak, apa yang di katakan ibu benar, mungkin Alzena tidak suka dengan kami, makanya dia melakukan segala cara untuk membuat mu salah paham, kau sudah lama mengenali kami mengapa harus percaya dengan wanita itu," ucap Azka membantu sang mama untuk berbohong.
"Cukup! Justru karena aku sudah lama mengenali kalian, jadi karena itu aku tidak pernah bisa mempercayai orang seperti kalian, aku akan terlihat bodoh jika aku tidak memercayai istri ku yang berjuang melawan dirimu yang hendak melecehkan nya! Sekarang juga angkat kaki dari mansion ku!" ucap Gara tidak mudah mempercayai dua orang penipu itu.
"Gara, kau keterlaluan!" ucap Tante Helen berdiri dari duduknya.
"Tante, kalian lah yang keterlaluan, seharusnya aku memasukkan anak mu ke dalam penjara, tapi karena aku tidak mau masalah ini jadi beban bagi Alzena dan membuat wartawan mempertanyakan nya, aku melepaskan kalian berdua, jadi tolong segera pergi jika tidak aku akan berubah pikiran dan membuat kalian masuk penjara," jelas Gara sambil mengengam erat tangan Alzena agar istrinya itu tetap tenang.
Mendengar ucapan Gara barusan, sontak Tante Helen jadi ketakutan, dia khawatir jika mereka benar-benar masuk penjara, tidak akan ada cara lagi untuk merebut kekuasaan Gara.
"Baik, aku akan pergi dari sini! Kau jangan menyesali perbuatan mu karena sudah membuang-buang kelaurga sendiri karena wanita jahat ini!" ucap Tante Helen masih dalam rasa tidak bersalah dan terus menyalahkan Alzena.
Gara tidak menjawab nya, dia memilih diam dan tidak mau lagi berkata apa-apa kepada dua orang yang menyakiti Alzena, karena menyakiti Alzena sama dengan menyakiti hati nya sendiri.
Pada akhirnya Azka dan Tante Helen pun di usir dari mansion tampa rasa hormat sedikit pun, kini mereka kembali menjadi orang miskin.
Bersambung ....
penasaran ni...lanjut thorrr