Terakhir aku merasakan kehadiranmu, saat dia menolong aku dari angin puting beliung di sawah yang sedang ku tanami cabai rawit.
Aku tergapar di sela-sela bedeng tanaman cabai bergelut dengan bedengan yang basah habis diairi air sungai.
Sedang adik keponakanku bergulung-gulung dibawa angin itu hingga ke tepian barisan sawah terakhir di bawah sana.
Ketika itu muncul sekawanan kuntilanak dan pocong dalam gelapnya awan mendung. Hanya keponakanku itu yang bisa melihat. Aku hanya bisa merasakan dari mata batinku.
Terima kasih Pangeran... Kamu selalu menolong, membantu, mengawasi, mengawal dimana saja keberadaanku. Seperti suami tapi bukan suami. Masak iya bersuamikan Pangeran ghaib.
Tampan sih wajahmu dengan mahkota itu, tapi engkau hanya amongku. Among penolong yang dikirim eyang buyutku yang tak lain adalah sunan Lawu.
Amongku Kuwi ULO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deasy desiant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampus Tua Full Mistis
Ro, bisa bicara sebentar ?" Sapa Agus anak Sipil itu ketika aku mau beranjak dari Tangga tempatku duduk bersama teman angkatan kuliah semesterku.
"Hei Gus, ngapain kamu kesini. Gangguin adik kelas aja ?" Teriak si Gilang kakak kelas berambut gondrong berhidung mancung yang kenal betul Si Agus teman mapalanya. Sambil beradu jotos dua kepalan tangan mereka.
"Hei Lang. Mau nyamperin temen."
"o...baru tau nih. Kamu nge-fans sama anak Faperta. Sejak kapan kalian saling suka ?"
"Sejak nenek moyang looo..." mereka tertawa riuh mengisi ruangan kampus lantai tiga ini.
"Aku cabut ada kuliah Kultur Jaringan. Awas Lo jangan dikibulin. Cabut dulu yuk ah..." Sembari dia menggandeng Diana pacarnya dari semester satu. Si cewek berparas cantik menil-menik berkulit putih Chinese.
"Siyap, Lang " Agus segera mendekati aku.
"Hai, mas Agus." sambil terukir senyum termanis sepanjang masaku.
"Kamu, nanti malam habis Maghrib ada waktu endak ?"
"In Syaa Allah ndak ada mas. Ada apa ya ?"
"Boleh kamu ku ajakin ke studio gambarku ?"
"Wah aku belum terbiasa main ke studio gambar malam-malam deh, mas ?"
"Endak usah takut, anak Sipil banyak ceweknya. Mau ya nemenin aku nggambar ?"
"Ehm...gimana ya, aku biasanya ngaji dulu. Kalau langsung ikut biasanya ndak bisa. "
"Habis kamu ngaji aja ndak papa."
"Baiklah. Tapi Ndak kelewat jam 20.00 ya, mas."
"Iya, nanti aku jemput jam 18.30 ya dik."
Sejak kapan nih anak teknik sipil panggil aku dik. Biar mesra gitu maksudnya. Dan disini aku lihat teman-teman anak Faperta angkatanku pada bengong lihatin kita.
"Ro, itu siapamu?" Kata Gendut yang beranjak berdiri langsung berhadapan langsung dengan mukaku dan menanyaiku dengan bengis.
"Oh, Agus anak Teknik Sipil kakak kelas kita."
"Mau kemana kalian ?"
" Ke studio gambarnya. Ku denger kayak gitu tadi " Dew menirukan ucapan Agus barusan yang ia dengar
"Awas Lo malam-malam anak gadis keluyuran." Aw mengacungkan telunjuknya ke arahku.
"Kamu Ndak tau ya. Bangunan kampus teknik kelihatan tua banget ?" Cerocos Gendut.
"Kamu tuh nakutin aku atau cemburu ?"
"Cemburu kepalamu peyang..!!! Diingetin teman malah curigaan melulu."
"Siapa tau aja kamu cemburu ? Hahaha..." jawabku sambil melirik temenku itu.
"Ngayal kamu. Dingatkan kok "
"Iya iya, yuk Ah katanya kamu mau traktir aku mie Gajahan. Ayokkk keburu sore." ajak Gendut keluar dari kampus menggandeng lengan kiriku.
"Heh ngapain kamu pegangin tanganku segala."
"Biar jalannya cepet kamu lelet banget jalanmu kaya kura kura di tempurung tetangga."
"Hahahha....ada ada saja kamu tuh !"
\=\=\=\=\=
"Roro, ada tamu di ruang tamu." Suara merdu mbak Evi pemilih kos INI ITU depan kampus Faperta.
"Iya mbak Evi." Teriakku dari depan kamarku di lantai dua kos itu.
"Shodakollohul 'adzim." Aku menutup Qur'an kesayangan pemberian ibuku dari umroh beliau. Gimana ya rasanya kalau tidak baca pemberian beliau rasanya ada yang kurang. Setiap hari kangen melanda. Masak iya pulang pergi dari rumah setiap hari. Tekor dong habis di ongkir.
Selepas mengaji aku bergegas dengan memakai Hem biru violet kotak-kotak bermanset panjang dilipat keluar tak lupa pakai celana jeans dan sandal jepit swallow kebanggaan dari jaman nenek moyang sang pelaut. Kerudung biru laut khas anak tomboy menghiasi paras cantikku yang tinggi semampai bak pramugari. Hehhehe... Daripada gak ada yang memuji, muji diri sendiri ajah yak.
"Sudah lama nungguinnya mas ?"
"O belum dik. Rapi amat. Seperti mau kuliah aja." Cengengesan nih si Agus. Ia lihat cara berpakaianku dari atas ke bawah berujung ke sandal jepit.
"Hemm. Aku harus gimana dong ?"
"Pakai yang gak kayak gini ndak papa looo."
"Emang kayak gimana maksudnya ?"
"Yang pakai baju santai baju healing gitu."
"Jadilah diriku sendiri. Emang kepribadianku seperti ini. Simple no plagiarisme."
"Oh okay deh. Aku suka caramu bersikap. Jadi makin jatuh hati."
"Oh...jatuh hati." Itulah awalnya aku mengenal kepribadian cowok teknik berambut gondrong ini. Muka manis asli anak Surabaya ya satu propinsi denganku. Tapi dia kotanya.
"Yuk, ke studio aku." Agus mensejajarkan jalannya denganku. Hanya saja tinggi kami hampir berpostur sama. Dia yang pakai celana kombrang batik kayak sarung celana yang terhits Tempoe doeloe berkaos santai. Hehm..memang betul-betul jiwa anak teknik beneran nih. Santai banget cara berpakaiannya.
\=\=\=
Memasuki gerbang Universitas tercinta kami, di waktu malam apalagi malam Jum'at nih hiii ngerri. Tak seperti memasuki saat siang hari di jam-jam biasa masuk kuliah.
terusin sampai tamat Thor..🙏
Mampir juga ya😊