NovelToon NovelToon
Pengorbanan Nayara

Pengorbanan Nayara

Status: tamat
Genre:Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Angst / Tamat
Popularitas:118.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: Lalalati

Novel ketiga🍂

Akhirnya Nayara siuman setelah ia mengalami koma pasca melahirkan. Sebagai suami, Deon tentu merasa sangat lega dan bahagia, istri tercintanya telah sadarkan diri dan bisa kembali bertemu dengannya dan juga putranya yang baru saja lahir.

Namun bagi Nayara terbangun dari koma, seperti kembali menghadapi mimpi buruk. Meskipun ia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan buah hatinya, tapi ia harus kembali menerima kenyataan bahwa ia terpaksa menerima kakak tirinya sendiri sebagai suaminya dan memutuskan hubungannya bersama Giandra, pria yang dicintainya sekaligus ayah kandung dari putra yang baru dilahirkannya.

Giandra dikenal sebagai satu-satunya atlet Basket yang dimiliki Indonesia yang berhasil tembus bermain di NBA dan dikontrak oleh klub ternama.

Siapakah Giandra di masa lalu? Akankah Giandra mengetahui tentang putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Pergi dari Rumah

"Stop, Yang!"

Gian sontak menginjak remnya, membuat tubuh kami sedikit terdorong ke depan.

"Yang, bahaya tahu tiba-tiba teriak gitu!" tegur Gian. Tangan Gian melintang di depan pundakku.

Aku tak menggubris Gian karena begitu syok melihat ada ayahku dan Kak Deon di depan rumah.

"Kakak tiri kamu ngapain ada di sini?" tanya Gian sinis.

Ku hela nafasku menghilangkan jengkel yang tiba-tiba menjalar. Aku sendiri pun bertanya-tanya mau apa Kak Deon ke sini? Juga sedang membicarakan apa mereka di depan rumah seperti itu?

"Aku turun di sini aja, ya. Kamu hati-hati pulangnya," pamitku seraya melepas seatbelt.

"Tapi, Yang. Aku pengen ketemu papa kamu, ya. Sekalian aja ketemu sama Kakak kamu juga." Gian melepas seatbeltnya juga dan bersiap keluar dari mobil.

Aku menahan tangan Gian, "Jangan sekarang. Please?"

"Kenapa? Tinggal seminggu lagi. Apa bedanya sekarang sama nanti aku kenalannya?" Gian bersih kukuh.

Aku menatap Gian lekat. "Aku pengen ngenalin kamu ke mereka saat kamu udah bener-bener jadi mahasiswa."

Gian menghela nafas kesal seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu malu sama aku?"

Dahiku sontak mengerut. "Malu kenapa?"

"Ya malu karena aku baru lulus SMA. Kamu malu pacaran sama murid kamu?" Entah mengapa Gian menjadi emosi seperti itu.

"Kok jadi ke sana sih? Udah nanti aku telepon, ya. Kamu pulang sekarang," cegahku.

Wajah Gian semakin bertambah kesal, tapi terpaksa aku mengabaikannya.

Maafkan aku, Gian.

Aku harus segera menghampiri mereka sebelum ayah dan Kak Deon menyadari bahwa aku baru saja pergi bersama Gian.

"Pah, kok udah nyampe?" Ayahku membalikkan tubuhnya dan melihat ke arahku. Kucium punggung tangan ayahku.

"Iya, tadi tumben jalanan gak terlalu macet. Kamu darimana? Papa pulang rumah dikunci untung aja papa juga bawa kunci."

"Aku abis pergi sebentar sama temen," ujarku.

"Sama Gian?" seloroh Kak Deon. Tatapannya tertuju pada belakangku.

Seketika aku membelototkan mataku pada Kak Deon.

"Selamat malam, Om." Terdengar suara Gian tepat di belakangku dan ayahku.

Sontak aku menoleh ke belakang. Kenapa Gian tidak mendengarku sih?

"Loh, kamu bukannya murid privatnya Naya itu 'kan?" Aku cukup tercengang ayahku masih mengingat Gian.

"Betul, Om. Tapi saya jadi murid privatnya Naya setahun yang lalu dan saya juga sudah lulus dari SMA Nusa. Sekarang saya bukan muridnya Naya lagi. Saya pacarnya Naya, Om."

Gian benar-benar cari mati!

Ayahku manatapku dan Gian bergantian dengan tatapan terperangah. "Bener itu, Nay?"

"Om, Naya gak mungkin ngeladenin anak kecil kayak dia," ujar Kak Deon, entah apa maksudnya. "Gian sendiri yang menyukai Naya dan menganggapnya sebagai pacarnya. Tapi Naya tidak pernah menggubrisnya. Mana mungkin Naya memacari muridnya sendiri."

"Enggak, Pah. Itu emang bener. Aku sama Gian emang pacaran."

Pandangan ketiga orang itu tertuju padaku. Aku tahu aku plin-plan. Baru saja aku mengatakan pada Gian untuk tidak berkenalan dulu dengan ayahku. Aku ingin dia berstatus dulu sebagai mahasiswa baru aku akan memperkenalkannya sebagai pacarku kepada semua orang.

Tapi karena Kak Deon, aku jadi terbawa emosi. Di depan ayahku, aku ingin berada di pihak Gian. Di depan ayahku juga, aku ingin mengakui bahwa laki-laki yang aku pilih adalah Gian, bukan dia.

Kak Deon menatapku marah.

"Kamu berpacaran sama muridmu sendiri, Nay?" Ada nada marah dari suara ayahku.

Aku tidak menjawab dan hanya terdiam menunduk. Aku tak punya kata-kata untuk membela diri. Memang itulah kenyataannya.

"Maafkan saya, Om. Kami baru berpacaran sekitar tiga bulan lalu, saat saya sudah selesai ujian akhir. Sebelumnya kami gak pacaran. Memang benar saya menyukai Naya sejak Naya menjadi guru privat saya, tapi gak ada yang terjadi antara saya dan Naya selama saya masih berstatus sebagai siswa, Om."

"Naya, masuk," tegas ayahku. Dari suaranya sudah jelas, ayahku sangat marah. Ia bukan tipe yang akan berteriak jika emosi. Ia juga jarang sekali marah. Tapi justru itulah yang membuat sekalinya ia marah, akan sangat mengerikan.

"Tapi, Om..." Gian mencoba menjelaskan lebih detail.

"Kamu tahu, hubungan antara guru dan murid itu terlarang? Walaupun kamu mengatakan sudah lulus, tapi tetap saja hubungan kalian ini salah," ucap ayahku dengan nada tenang namun aku tahu ia marah.

"Pah tapi..." Aku pun mencoba menjelaskan.

Namun ayahku memotong ucapanku juga, "Masuk Papa bilang! Dan kalian, sebaiknya pulang."

Lalu Ayahku sengaja menunggu sampai Kak Deon atau pun Gian benar-benar pergi bersama mobilnya masing-masing. Setelah itu baru kami memasuki rumah.

Di ruang tamu aku duduk tertunduk di hadapan ayahku. Berkali-kali ia menghela nafas mencoba meredakan emosinya.

"Nay, Papa yakin kamu tahu apa yang kamu lakukan itu tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang guru. Tapi kenapa kamu tetap melakukannya?" Nadanya tenang namun mengintimidasi.

Aku hanya bisa menelan salivaku. Aku pasrah.

"Juga Deon. Sejak lama Papa sudah curiga dia memiliki perasaan lebih pada kamu. Sekarang Papa benar-benar yakin dia memang menganggap kamu bukan sebagai adik. Ada apa sebenarnya? Kenapa laki-laki yang menyukai kamu itu harus orang-orang yang tidak seharusnya menyukai kamu, Nay?" Ayahku tak habis pikir.

Jangankan ayahku, aku sendiri pun sering menanyakan hal yang sama.

"Putuskan dia dan anggap semuanya tidak terjadi."

Sontak aku menatap ke arah ayahku dengan tidak percaya. "Pah, aku gak bisa."

"Kalau gitu kamu harus memilih, kamu terus menjalin hubungan dengan dia atau kamu harus berhenti jadi guru. Jangan menodai profesi mulia itu, Nay."

"Pah, emang sesalah itu ya kalau aku jatuh cinta sama Gian? Gian udah lulus, Pah. Minggu depan itu Gian akan dinyatakan lulus secara resmi di upacara kelulusan. Dia udah bukan lagi siswa SMA."

Mataku berkaca-kaca, sama sekali tidak menyangka tiba-tiba saja masalahnya menjadi serunyam ini.

"Papa gak akan ngelarang kamu berhubungan sama laki-laki yang jauh lebih muda dari kamu. Tapi bukan dengan murid kamu. Sekarang Papa hanya memberikan kamu pilihan, kalau kamu memilih untuk terus berhubungan dengan anak itu, berarti kamu harus berhenti jadi guru," tegas ayahku.

"Tapi jadi guru itu cita-cita aku dari SMP, Pah! Papa tahu itu, 'kan?" Tanpa sadar nada bicaraku meninggi.

"Kamu gak bisa egois, Nay. Kamu masih beruntung Papa yang tahu masalah ini, gimana kalau pihak sekolah yang tahu? Tidak hanya karir kamu yang rusak, tapi masa depan anak itu juga."

"Tapi, Pah..."

Kemudian beberapa saat hening, hingga ayahku mengatakan. "Kayaknya ini saatnya kamu pindah ke Jakarta."

Mendengar hal itu membuatku terdiam terpaku, beberapa saat aku mencerna kata-kata ayahku.

"Maksud Papa?" lirihku.

"Papa sering ninggalin kamu, jadi kamu sering sendirian di rumah. Kalau seperti ini keadaannya, Papa gak tenang kalau ninggalin kamu sendiri di rumah. Kamu pindah ke Jakarta dan tinggal sama Mama kamu."

Pindah ke Jakarta sama saja memberikan kesempatan lebih besar untuk Kak Deon mendekatiku. Aku tidak mau seperti itu.

"Enggak, Pah! Aku gak mau! Gimana dengan Kak Deon? Papa lebih merestui aku deket sama Kak Deon?!"

Lalu, apa maksudnya beliau memintaku tinggal bersama ibuku? Apa ayahku akan merelakanku? Seperti ia membiarkan ibuku pergi darinya waktu itu?

"Setidaknya di sana ada mama dan papa sambung kamu. Mereka akan menjaga kamu dengan baik. Mereka juga tidak akan membiarkan kamu dan Deon menjalin hubungan yang tidak seharusnya. Kamu harus nurutin, Papa. Sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan kamu harus pindah ke Jakarta."

Tega sekali ayahku.

"Segitunya Papa gak percaya sama aku?"

Air mataku mengalir begitu saja. Ayahku tak pernah seperti ini sebelumnya. Amarah dan sakit hati menguasaiku. "Aku bukan anak-anak lagi, aku udah dewasa! Aku mau tinggal di mana itu bukan lagi urusan Papa! Aku lebih baik pergi dari sini dan tinggal sendiri daripada harus pindah ke Jakarta!"

Segera aku berjalan menuju kamarku dan mulai mengambil koperku dan membereskan baju-bajuku.

Biasanya aku adalah anak yang penurut. Aku tak pernah sekali pun membantah ayahku. Tapi kali ini ia pasti terkejut melihat reaksiku.

"Sejak kenal dengan anak itu kamu jadi berani melawan Papa, Nay." Ayahku hanya bisa menatapku sedih dari ambang pintu kamarku.

"Ini bukan karena Gian, Pah! Dia gak salah apa-apa! Tapi aku gak bisa tinggal sama Papa lagi kalau Papa maunya aku tinggal sama Mama dan keluarganya. Kalau Papa udah gak mau tinggal sama aku, buat apa aku masih di sini?"

"Nay, maksud Papa bukan gitu. Papa khawatir sama kamu. Papa gak mau terjadi sesuatu dengan kamu."

"Kenapa sih, Papa segitu gak percayanya sama aku? Pernah gak aku ngecewain Papa selama ini?!"

Ayahku tidak menyahut lagi. Memang seperti itulah ayahku. Tidak pandai berdebat. Ia akan diam seribu bahasa jika pendapatnya sudah tidak bisa diterima oleh orang lain yang berdebat dengannya.

Akhirnya koperku sudah terisi barang-barang penting milikku. Aku pun membawanya ke luar dan menaruhnya di motorku.

"Nay, apa kamu akan ninggalin Papa kayak gini?" Ayahku terlihat begitu sedih.

Aku menatapnya saat helmku sudah terpasang di kepalaku, "Selama ini Mama sering minta aku buat tinggal sama Mama, tapi aku gak pernah mau karena aku pengen tinggalnya sama Papa. Sekarang Papa malah bilang kalau aku mau ninggalin Papa?! Inget Pah, Papa sendiri yang mau aku pergi, bukan aku!"

Aku mulai menunggangi motorku dan mengeluarkannya dari garasi, aku menoleh ke arahnya yang berdiri di teras rumah kami.

Dengan air mata yang terus mengalir, aku berkata, "aku pergi," pamitku.

1
justFlio
👍👍👍👍👍👍
lalalati: makasih bintang limanya kak😍
total 1 replies
Dedeh Dian
pokoknya AQ seneng banget ceritanya..bagus keren banget.. makasih author
lalalati: makasih banyak kakak bintang limanya 😍
total 1 replies
Dedeh Dian
wow ajaib cerita nya super keren... makasih author
Siti Nina
Slalu keren ceritanya sukses selalu buat kak lala 👍💪
Siti Nina
Si naya keras kepala banget sih jadi orang gedek banget 😏
Siti Nina
Good job gian 👍
Siti Nina
mewek aku bacanya 😭😭😭
Siti Nina
pen nonjok tuh muka si dion 👊
Siti Nina
wo'oo kamu ketauan lagi pacaran 😄
Siti Nina
Selalu oke ceritanya 👍👍👍
Atikah'na Anggit
Luar biasa
lalalati: makasih kak bintang limanya 🤩
total 1 replies
Nurina Ningrum
Lumayan
Nurina Ningrum
Kecewa
Nur Azizah
sikap nay sangat menyebalkan
Nur Azizah
segerakan di persatukannya andra bersama Gian dan ibunya kak author
kasihan andranyaa
Nur Azizah
sikapnya nayara jd nyebelin gitu si kak aithor sok jual mahal bngt ,,
Nur Azizah
iya karna ikatan bathin seorang anak dan ayah kandung pasti terasa
Nur Azizah
semoga kamu berjodoh sama Gian naraya agar merasakan kebahagiaan yg utuh atas pengorbananmu
Nur Azizah
pertemukan kembali Nayara sama gian dlm satu keluarga yg utuh kak author
Nur Azizah
maaf baru komen kak authorr saking asyik baca ceeitanya yg sngt bagus inii lanjutiinnn kakak autthoorrr
lalalati: makasih kak. jangan lupa like dan ulasannya ya kak. biar bintangnya naik 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!