Penglihatan menembus dimensi ghaib. Tidak hanya di alam nyata, dalam pandangan lain bahwa sosok Indigo ketika berada alam bawah sadar itu sukmanya bisa terlepas keluar dari badannya. Berjalan-jalan menembus ruang dan waktu dunia lain. Setiap malam dirinya di kejar kematian yang mengancam. Para Indigo yang meninggal nanti ada dua kemungkinan. Yang pertama takdir dari Yang Maha Kuasa atau yang kedua karena tidak dapat kembali ke wujud tubuhnya di alam dunia. Simak kisahnya..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Tabir Masa Semampai
Rangkum dunia yang tidak terkendali, sebab ramai ini hanya fatamorgana. Kelamnya waktu, hari yang patah rapuhnya dedaunan. Kali ini pancaroba semusim berlanjut dalam ruang hampa. Tidak terkira pahit kelam kehampaan waktu mempererat dekrit kecam.
“Coba Perhatikan awan yang menggumpal di langit itu Aluna? sebab kau masih mempertanyakan kenapa bumi menangis meskipun akan berganti pelangi yang hanya sementara. Bersimpuh gemuruh jantung yang tidak lagi berdetak ini. Pernah bermimpi kehidupan bahagia. Tapi nasib atau takdirnya, aku hanyalah seonggok kayu yang terhempas melayang tanpa pijakan..”
Sosok makhluk halus yang sering melihat Aluna mencurahkan isi hatinya di dalam lukisan atau tulisan itu rupanya mulai di pelajari salah satu penghuni lain. Dari sekian banyaknya makhluk halus yang ingin bertegur sapa, berharap menganggap kehadirannya bahkan ingin menyerap energi khusus yang di miliki manusia indigo.
Bangsa lelembut yang sering di acuhkan Aluna, tetap kukuh mendekati sang pemecah masa ghaib. Aluna mengabaikannya, dia masih sibuk menyeka keringatnya. Berlanjut membuka lemari pakaian hendak berganti baju. Di terpaksa menggunakan jurus terakhir. Melotot seperti sepasang mata yang mau lepas, gerakan mata isyarat amarah. Sosok yang di sampingnya menghilang membalas raut wajah ketidak kesenangannya.
“Stop! Aku tidak mau dekat dengan satu makhluk halus. Baik, buruk atau perlakuan aneh tetap saja aku ini ingin menjadi manusia yang normal!” gumamnya mempercepat gerakan mengganti pakaian.
Siapa yang menyangka para dedemit, makhluk halus atau bangsa jin yang mulai netral ikut mempelajari kecanggihan teknologi. Mereka yang meniupkan hembusan merayu apapun guna mengubah dunia manusia lebih kelam, hasrat yang tidak terkendali atau membisikkan semua kesenangan sementara.
Peran manusia yang terlalu perasa, Aluna terkadang timbul rasa belas kasihan. Terutama pada tangisan wanita yang meringkuk di lorong panjang depan ruangannya. Dia menyeret kakinya yang berlumuran darah, ada borgol besi yang merantai kakinya. Tangisan kesakitan dalam tangisan meraung-raung.
“Tidak kah engkau mau membantu ku? Wahai putri raja yang dermawan? Aku hanya ingin berakhir dengan ketenangan..”
Lirih suara makhluk halus memelas dalam tatapannya yang mengerikan.
Aluna menutup kedua telinganya, dia berjalan melewati lorong yang terlihat semakin panjang. Dia gamang memikirkan misteri teka-teki Telaga biru, bunyi suara aneh di Istana sang ibu Suri dan penampakan makhluk yang berjaga di depan pintu kerajaan seakan mengejarnya.
Suasana ramai di depan Alun-Alun Istana
Penari-penari yang lemah gemulai menggerakkan tubuh menunjukkan penampilan mengikuti iringan musik memiliki unsur magis. Terkait dari tarian khas adat yang di bawakan sehingga berpengaruh, para makhluk di sekitar merasa terpanggil atau sosok penjaga lain yang merasuki.
Belum lagi aura para penari yang berbeda-beda. Rupa wajah cantik di selimuti penampakan lain, mereka menggunakan sebagai daya tarik tersendiri. Mereka tidak tau dampak buruk dan pengaruh negatif yang timbul di dirinya.
Dayang utama pendamping sang putri membantu memasangkan jubah kebesarannya. Sedikit tergagap, sang dayang mengutarakan permohonan memberikan ijin kepada sang putri memberikannya cuti selama beberapa hari.
”Kenapa dengan mu dayang Ming? Jika engkau mengalami kesulitan ekonomi maka aku akan membantu. Katakan lah, atau jangan-jangan engkau sedang sakit?”
“Maaf tuan putri, keinginan hamba menyampaikan keluhan ini teramat kelewatan batas” sang dayang menunduk ketakutan.
“Utarakan apa yang ada di benak mu. Dayang Ming, bukan kah engkau dayang sesepuh yang mendampingi ku sedari kecil? Tidak mungkin aku menghukum mu..”
Jawaban sang putri perlahan di sampaikannya. Sang putri menggiring duduk di kursi batu berukir bunga teratai. Ming menjelaskan alur permasalah yang menimpa putrinya. Anaknya yang berubah drastis tidak memperdulikan nasehat serta segala arahan darinya.
“Putri, setelah pukul dua belas Malam tepat hari ulang tahunnya. Wajah Fengsi berubah pucat dan memanggil-manggil neneknya. Kediaman tanah kelahiran hamba yang telah lama hamba tinggal dua puluh tahun lalu."
“Bisakah engkau menunjukkan fotonya pada ku dayang Ming? Sungguh aku tidak menjanjikan mu terlepas dari masalah ini. Tapi aku akan memberitahu apa keinginannya yang lain..” ucap sang Putri memperhatikan ekspresinya yang semakin gusar.
Siapa yang menyangka Fengsi menghadiri acara gebyar pesta bangsawan, sambungan acara megah menutup tragedinya di alam lain melihat kekacauan si pengacau penyihir hitam. Fengsi yang ikut menari lincah mengikuti gerakan musik. Tidak terkira dia sanggup menari hingga berjam-jam.
Setelah memberikan sebuah foto ke tangan sang putri. Dia menarik Fengsi dari tengah-tengah acara. Dia siap menanggung resiko hukuman seberat-beratnya karena merusak acara penting raja.
“Fengsi sadar lah ini ibu. Kamu menari tanpa jeda. Feng!” bentak Ming menyadarkan anaknya.
Dua dayang lain yang ikut menarik karena Feng mau melanjutkan tarian. Feng melotot melihat kedatangan Aluna, wajahnya sangat kesal seakan mau memukul. Tenaganya yang sangat kuat melepaskan beberapa tangan yang menahan tubuhnya.
Tepat di depan saat akan memukul, Feng tiba-tiba tidak sadarkan diri.
“Cepat pindahkan ke ruangan Teratai” ucap Aluna.
Sosok lain berenergi kental menguasai jiwanya. Tidak memungkinkan semua sebab berdampak dari pewaris ilmu atau penjaga sang nenek. Ibu darai dayang Ming yang baru saja di katakan. Wajah wanita itu belum di tunjukkan oleh sang dayang. Tapi ketika Aluna mengucapkan kata Burma, maka Fengsi membuka matanya lagi sambil berteriak.
Mulutnya di bungkam karena takut mengundang perhatian para tamu. Sang putri meminta mereka supaya tidak terlalu kuat menekan. Dia mengusap bagian atas kepala Feng lalu memanggil namanya.
“Tuan Putri, tolong antarkan aku ke rumah nenek” kata Feng sambil menangis.
“Hiks, hiks Feng. Tuan putri, hamba mohon bantu Feng..” Ming penuh harapan, namun dia siap menerima apapun jawabannya.
“Dayang Ming, anak mu Fengsi di tunggu Burmanya sebagai pewaris ilmu. Jika engkau mengijinkan, dia akan menuju jalannya sendiri. Tapi sebaliknya, kita tidak tau sebab akibat lain mana yang terbaik untuk Fengsi. Ada banyak makhluk-makhluk yang memanggilnya, sebelumnya aku ingin bertanya apakah Burma masih hidup?”
“Menjawab putri, sepulang dari rumah adat ibu hamba. Tidak pernah lagi terdengar kabar tentangnya, waktu itu Fengsi banyak mengalami gangguan ghaib. Terlebih lagi, letak lokasi teramat jauh. Hamba tidak tau rahasia apa yang ada di rumah adat tersebut.”
“Ming, pertimbangkan lagi. Kalau belum siap melepaskan Fengsi maka engkau harus siap menerima hal aneh yang ada di dalam tubuhnya..”
Beberapa dayang meninggalkan ruangan, mereka membungkam mulut rapat-rapat karena tidak mau terjun dalam masalah Feng. Atas persetujuan Aluna, Ming membawa Feng pulang ke Rumahnya. Aluna sendiri belum mengetahui penangkal, syarat menjauhkan makhluk-makhluk ganas yang mengikuti Feng atau mengeluarkan dia dari masalahnya.
“Apakah aku harus memulai perjalanan Raga Sukma? Atau mempertanyakan sendiri secara langsung dengan para makhluk tersebut? Namun Ayahanda dan ibunda Ratu pasti tidak menyetujui aku selangkah meninggalkan Istana” gumam Aluna.
Penggambaran suasana dan detail dalam cerita ini sangat kuat, membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dirasakan oleh Aluna.
Saya penasaran dengan bagaimana Aluna akan menemukan solusi untuk menghadapi bencana yang akan datang, dan apakah dia akan berhasil mengubah nasibnya.
Pesan tentang pentingnya keberanian, persatuan, dan harapan dalam menghadapi tantangan hidup sangat menginspirasi.