NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:193
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Ujian Baru di Tengah Kejayaan

Kabar keberhasilan dan keadilan yang ditegakkan Dika tak hanya menyebar ke lingkungan sekitar, tapi sampai ke telinga orang‑orang jauh — pedagang dari kota lain, pemilik lahan di daerah pegunungan, hingga penguasa kecil yang ingin memajukan wilayahnya. Banyak yang datang untuk bekerja sama, namun tak sedikit pula yang datang dengan niat lain: ingin meniru cara kerjanya demi keuntungan sendiri, atau justru iri melihat kepercayaan yang dimilikinya.

Suatu hari, datanglah utusan dari daerah perbukitan yang cukup jauh. Mereka membawa surat permohonan bantuan: tanah mereka luas dan subur, namun sumber air makin menyusut, pembagian lahan tak merata, dan perselisihan antarpenduduk sering terjadi tak kunjung selesai. Mereka mendengar Dika mampu mengubah tanah terbengkalai menjadi makmur hanya dengan pengaturan yang jujur dan bijaksana.

“Kami mendengar, di tangan yang benar, tanah yang tandus pun bisa memberi kehidupan,” kata kepala rombongan itu dengan sopan namun penuh harap. “Datanglah ke tempat kami, aturlah, dan kami akan memberikan apa saja yang layak sebagai balasan.”

Nyonya Wijaya sempat ragu. Perjalanan jauh berbahaya, dan urusan orang lain selalu membawa risiko tersendiri. Namun Dika mengerti makna tersembunyi di balik permohonan itu: cahaya yang dibawanya kini dipanggil untuk menyinari tempat yang lebih gelap lagi.

“Jika kebutuhan mereka nyata, kami tak bisa menutup mata,” ujar Dika setelah mendengar penjelasan rinci. “Tapi saya tak akan pergi sendirian, dan tak akan meminta imbalan apa pun selain kesediaan mereka berubah menjadi lebih baik.”

Kirana yang mendengarkan dari samping mengangguk mantap. “Kalau kau melangkah ke sana, aku pun ikut. Bukan sekadar pendamping, tapi agar kita berdua sama‑sama menjaga hati tetap lurus di tengah tempat baru yang belum kita kenal sifat penduduknya.”

Persiapan dilakukan dengan sederhana namun teliti. Dika menunjuk orang‑orang terpercaya untuk menjaga segala urusan di rumah Wijaya agar tetap berjalan baik selama mereka pergi. Ia juga menyusun daftar hal‑hal yang harus diperhatikan: tidak memihak salah satu golongan, tidak menerima pemberian berlebihan, dan selalu mendengar keluhan dari pihak terkecil sekalipun — karena di situlah biasanya kebenaran tersembunyi.

Sebelum berangkat, banyak warga kampung halamannya datang mengantar. Ada yang berpesan agar berhati‑hati, ada yang berdoa agar selamat, ada pula yang bertanya dengan cemas:

“Nak, di sini saja kau sudah cukup dihormati dan berkecukupan. Kenapa harus menempuh jalan jauh yang entah seberapa terjal dan berliku rintangannya?”

Dika tersenyum menjawab tenang, persis seperti prinsip yang selalu dipegangnya:

“Karena cahaya tak diciptakan hanya untuk diam di satu sudut ruangan. Ia harus dibawa berkelana, menerangi setiap persimpangan jalan yang gelap. Semakin terjal jalannya, semakin ia membuktikan bahwa ia tak akan padam karenanya.”

Namun, jauh di tempat tujuan, rintangan sesungguhnya sudah mulai disusun diam‑diam. Sebagian pemuka setempat sebenarnya tak ingin ada orang luar yang datang mengubah tatanan lama yang sudah menguntungkan mereka saja. Mereka mengizinkan Dika datang hanya berharap ia akan gagal, lalu pulang dengan rasa malu — sehingga keberhasilan namanya akan ternoda.

Di perjalanan pun tak kurang tantangan: jalan berbatu, sungai yang meluap tiba‑tiba, hingga kabar bohong yang disebarkan lebih dulu sebelum mereka tiba — bahwa pemuda yang datang itu penyihir, pembawa sial, atau ingin menguasai tanah mereka.

Namun setiap kali keraguan muncul, Dika dan Kirana hanya saling berpandangan dan mengingat satu hal: mereka tak membawa senjata tajam, tak membawa kekuatan besar, hanya membawa kejujuran dan ketulusan. Dan itulah senjata yang tak pernah kalah.

Saat bayangan pegunungan mulai tampak jelas di kejauhan, Dika menatap lurus ke depan dengan semangat yang sama persis seperti saat ia berjuang dari nol dulu.

“Babak baru saja dimulai,” bisiknya pelan pada Kirana. “Dan perjalanan panjang ini baru sedikit saja yang kita lalui.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!