"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.
Penasaran dengan kisah cinta Bora si tomboi dan Auriga CEO Judes yang unyu-unyu sekaligus nyeselin?!
Buruan pantengin kisahnya di sini manteman...
With luv
Othsha ❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Othsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KCJ - 34
"Apa aku kenal?" tanya Auriga.
"Iya," ujar Bora singkat tanpa melihat ke arah atasannya itu. Ia tak ingin Auriga mengetahui jati diri lelaki yang dicintai olehnya itu, tetapi Bora juga ingin bersikap jujur terkait perasaannya tanpa harus menyebut nama.
Auriga tak lagi memperpanjang pembicaraan mereka.
"Ehmmm, kenapa tadi bapak menyusul dan mencium pipi saya?" Bora memberanikan diri untuk bertanya karena ia merasa berhak mendapatkan penjelasan dari Auriga.
"Aku cuma pengen menegaskan posisi kamu saat ini, aku sudah ngingatin kamu dari awal untuk menjaga sikap! Kamu tau kan mami nyurigain kamu karena kamu pergi dengan Anthony beberapa waktu yang lalu! Jadi kenapa kamu tetap engga bisa baca sikap diam aku kemarin?!" ujar Auriga ketus yang membuat Bora tersadar bahwa ia sudah membuat kesalahan dan mungkin akan membuat Auriga mengalami kesulitan lagi.
Bora meminta maaf kepada Auriga dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ia tahu bahwa Auriga melindungi dirinya dan ia merasa harus berterima kasih untuk itu.
"Pak, karena saya udah dandan cantik hari ini, dan bapak juga kelihatan sangat tampan seperti biasanya, mau engga kencan kilat dengan saya?" ajak Bora tiba-tiba yang membuat Auriga menaikkan alisnya dan menatap Bora dengan tatapan aneh.
Astaga Bora, itu barusan apa?! Engga tidur kok bisa ngelindur! Hadehhh! batin Bora yang baru saja menyesali perbuatannya. Ia memilih meremas gaunnya karena ia tak mungkin lagi menarik kata-kata yang sudah terlanjur diucapkannya.
Ia tak tahu bagaimana harus menanggung malu, bila Auriga sempat menolak ajakannya. Walau dalam hati Bora, ia yakin bahwa Auriga pasti menolak ajakannya. Ia memberanikan diri melirik ke arah Auriga, yang ternyata sama sekali tak melihat ke arahnya. Lelaki itu terlihat fokus ke jalan, dan hal itu justru membuat Bora menghela nafas lega.
"Baiklah, untuk kali ini aja!" ujar Auriga yang membuat Bora memandang Auriga dengan tatapan tak percaya.
"Beneran Pak? Bapak engga lagi becanda kan?" Bora berusaha memastikan perkataan Auriga sekali lagi yang membuat Auriga berdecak kesal.
"Bora Adhisty, kamu tau aku engga suka mengulangi jawaban aku!" Bora langsung terdiam tapi hatinya terasa berbunga-bunga karena akhirnya ia pernah merasakan kencan dengan lelaki yang dicintainya secara diam-diam itu.
****
"Kamu beneran ngajak aku ke sini? Dengan pakaian kayak gini?" tanya Auriga tak percaya karena Bora mengajaknya ke salah satu pasar malam. Bora mengangguk mantap sembari memberanikan diri menggandeng lengannya dan mengajak Auriga berjalan memasuki kawasan pasar malam.
Auriga menggerutu sepanjang jalan, tetapi Bora seolah memekakkan telinganya dan tetap mengajak Auriga berkeliling. Mereka menjadi pusat perhatian karena jas dan gaun mahal yang dikenakan oleh keduanya.
"Bora kalo kamu mau kencan aku bisa booking restoran termahal di kota ini! Kenapa harus ke sini?!" Auriga menghentikan langkahnya dan menatap Bora dengan tajam.
"Auriga sayang, aku yang ngajak kencan ini! Dan aku udah janji akan bayarin kamu. Aku cuma mau ngenalin kamu tempat dimana biasa aku dan Agnia mencari hiburan. Tempat ini adalah hiburan merakyat yang mungkin engga akan pernah kamu datangi, kalo kamu engga kenal aku! Mungkin ini juga kali pertama dan terakhir kamu ke tempat kayak gini!" Bora memberanikan diri memanggil Auriga dengan panggilan yang biasa saling mereka lontarkan bila berada di antara keluarga Auriga.
Penjelasan dan panggilan Bora membuat Auriga terdiam. Bora menggandeng lengan tunangan kontraknya itu lagi. Auriga mendadak pasrah dan menerima semua makanan dan minuman yang ditawarkan oleh Bora.
"Akhhh..., enak..., aku jamin! Tenang aja engga bakalan sakit perut. Udah aku doain!" ujar Bora sembari menawarkan setusuk telur gulung yang menjadi camilan kesukaan Bora dan Agnia.
Awalnya Auriga ingin menolak, tetapi melihat tatapan Bora, entah mengapa lagi-lagi Auriga mengalah. Auriga menerima suapan dari Bora.
"Enak?" tanya Bora dengan mata berbinar. Auriga hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari gadis yang berada di hadapannya itu. Bora langsung memasang senyum termanisnya saat melihat Auriga menghabiskan telur gulung yang disuapkan oleh Bora tadi.
Bora juga mengajak Auriga untuk mencoba beberapa kuliner lain lain seperti sate, batagor, hingga permen kapas. Auriga tak lagi menggerutu, ia bahkan terlihat mulai menikmati acara mereka malam itu. Ia seolah tak lagi perduli dengan tatapan pengunjung lain. Ia lemparkan pandangannya ke semua tempat yang mereka lalui.
"Mau naik itu?" tanya Bora penuh harap. Auriga menatap Bora dengan ragu, karena merasa wahana permainan yang ditunjukkam oleh tunangannya itu, terlihat tidak terlalu aman baginya.
Pada akhirnya, Auriga menolak yang membuat Bora harus menelan kekecewaan karena tak bisa menaiki wahana yang paling ia sukai saat mendatangi pasar malam. Setelah puas berkeliling, Auriga mengajak Bora untuk pulang ke apartemen dan Bora menyetujuinya.
"Ehmmm, makasih udah mau nerima ajakan kencan kilat aku ya, sayang!" ujar Bora saat mereka sudah berada di parkiran apartemen.
"Ehmmm," gumam Auriga. Terjadi keheningan di antara keduanya. Bora sebenarnya belum ingin berpisah dengan Auriga karena malam ini adalah malam terakhir kebersamaan mereka, sebelum keberangkatan Auriga besok. Bora masih ingin mengobrol dengan Auriga, tetapi ia seperti kehabisan bahan pembicaraan yang membuat lidahnya terasa kelu.
"Ehmm, gimana proyek yang ada di bali, Yang?" ujar Bora yang akhirnya merasa mendapat bahan untuk memperpanjang waktu kebersamaan mereka.
"Sejauh ini lancar!" balas Auriga singkat yang membuat Bora mengingat sesuatu. Ia ingin menanyakan hal itu kepada Auriga, tetapi ia takut akan membuat Auriga marah. Suasana hening kembali terjadi yang membuat Bora merasa salah tingkah.
"Ehmmm, sayang. Maaf kalo aku lancang, tapi apa kemarin telinga aku mendengar suara perempuan lain, waktu aku nelpon kamu?" Bora tak bisa menahan rasa keingintahuannya lebih lama lagi. Terjadi jeda sesaat sebelum Auriga menjawab pertanyaan dari gadis itu.
"Ya, aku emang lagi sama wanita lain, waktu kamu nelpon kemarin...." Auriga pun menjelaskan tentang Kamila kepada Bora yang membuat tunangannya itu mengangguk paham. Bora merasa senang mendengar penjelasan dari Auriga itu, tetapi ada terbersit rasa takut menerima kenyataan bahwa besar kemungkinan Auriga jatuh cinta dengan wanita yang berasal dari satu golongan dengan lelaki itu.
Ingat posisimu, Bora! Kau hanya tunangan kontrak! Bukan pula Cinderella berparas cantik yang bisa memikat hati pangeran! Kau hanya Bora, cewek miskin, yatim piatu yang tanpa tahu malu berani mencintai Auriga yang tak akan pernah bisa kau raih!
Wajah Bora mendadak sendu, kala mengingat semua kenyataan itu. Kenyataan tentang betapa tidak pantasnya dirinya bial harus bersanding dengan Auriga yang terlihat sempurna. Tampan, kaya, mapan, berkelas, seolah tak ada cacat yang bisa ditemukan dalam diri tunangan kontraknya itu.
"Ehmmm, sekali lagi makasih buat hari ini, sayang! Hati-hati untuk besok, mana tau besok kita engga ketemu karena kamu berangkatnya subuh!" ujar Bora yang tanpa aba-aba langsung bergerak ke arah Auriga.
Cup!
Bora mendaratkan kecupan ringan di pipi Auriga dan langsung bergegas turun dari mobil milik lelaki itu. Auriga menyentuh bagian pipi yang dikecup oleh Bora tadi.
Astaganaga, Bora! Itu bibir kenapa main nyosor aja?!
****
mampir juga yaa di karyaku.....
terima kasih /Smile/
Othsha berterima kasih banget buat dukungannya. Semoga dimana pun kakak berada tetap sehat, bahagia dan sukses ya.
Mohon dukungannya untuk karya Othsha lainnya bila berkenan ya....
Sekali lagi mamaci banyak. Maaf juga engga bisa balas komennya satu per satu ya..🥰🥰🥰🥰
Apakah itu Auri,yng manggil Bora???
Pantas saja Auriga tidak menyukai Harjun,,,,,bnyk hal yng membuat bertanya2 ttng sepak terjang Harjun yng bisa bermusuhan dngn Auriga
Andai iya,,,untung cpt diajak pergi sblm semuanya bubrahh!!