Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 33
+
+
Lily berdiri di depan cermin seraya memperhatikan tangannya yang masih terbalut perban. Meskipun pergerakannya sedikit terbatas tapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia tidak ingin menjadi perempuan manja karena hal ini.
Lily keluar dari kamar mandi seraya mengencangkan handuk yang membalut tubuhnya. Dia lupa membawa pakaian ganti jadi seperti inilah akibatnya. Untung saja Kay sedang keluar dari tadi malam dan belum kembali hingga pagi ini jadi Lily tidak terlalu malu. Tapi tunggu, kenapa juga harus malu toh Kay juga sudah melihat semuanya.
Karena tidak berencana kemana-mana, Lily memilih kaus pendek berwarna hitam dan juga celana hotpants sebagai pilihannya. Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur karena perutnya meronta ingin diisi.
“Semoga saja ada makanan yang bisa aku makan.”
Lily menghembuskan nafasnya lega ketika mendapati roti dan juga selai nanas ada di atas meja pantry. Mengambil dua lembar roti kemudian dia oleskan selai di atasnya. Setidaknya memakan ini akan mengganjal perutnya.
Melangkahkan kakinya menuju balkon untuk menikmati pemandangan kota di pagi hari yang masih sejuk seraya memakan rotinya. Lily menghempaskan tubuhnya di atas beanbag. Pemandangan dari atas sini sangatlah bagus.
Mendengar bunyi pintu di buka membuat Lily segera bangkit dan masuk ke dalam. Ternyata Kay sudah kembali membuat Lily tersenyum dengan canggung. Entahlah Lily tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah kejadian itu. Lily akan berbicara jika Kay bertanya saja, selebihnya dia akan diam.
Melihat Kay memasuki kamar membuat Lily berjalan kembali menuju balkon dan duduk lagi di sana seraya memejamkan matanya.
Kay keluar setelah membersihkan dirinya dan berjalan ke tempat dimana Lily berada. Kay menarik tangan Lily hingga berdiri kemudian menghempaskan tubuhnya dengan menarik pinggang Lily hingga berada di atas tubuhnya.
Lily menahan nafasnya ketika Kay bertindak tiba-tiba seperti ini. Bahkan jantungnya berdetak dengan kencang. Dia tidak menduga Kay akan bertindak.
“Bernafas lah.” Spontan Lily melakukannya. Tapi bau tubuh Kay malah membuatnya merasa hilang akal. Apalagi laki-laki yang ada di bawahnya ini tidak mengenakan atasan hingga dia bisa menyentuh kulitnya secara langsung.
Kay menarik kepala Lily hingga menyandar di dadanya. Lily bisa mendengar detak jantung Kay yang sama seperti dirinya. Melingkarkan tangannya di pinggang Kay, Lily memilih untuk memejamkan matanya seraya menikmati harum khas tubuh laki-laki yang ada di bawahnya ini.
Tangan Lily yang masih terbalut perban Kay ambil lalu dibawanya ke depan wajahnya membuatnya harus mendongak untuk melihat apa yang akan Kay lakukan.
“Bersikaplah seperti biasa jangan merasa canggung.” Kay belum melepaskan tangan Lily.
“I-iya.” Ujar Lily dengan terbata ketika Kay memasukkan satu tangannya kedalam kaus yang dia kenakan.
“Kau tau? Laki-laki yang membawamu adalah orang yang telah membunuh kembaranku.” Ucapan Kay membuat Lily membeku, apa maksudnya.
“Kau punya kembaran?” Tanya Lily dengan penasaran.
“Hm, tapi sayang dia tidak bertahan lebih lama.” Lily bisa melihat gurat kesedihan yang sangat dalam di mata Kay membuatnya ikut merasakannya.
“Dan itu semua karena laki-laki yang bernama Brion. Aku menyesal karena tidak membunuh laki-laki itu. Mungkin Dree masih bisa tersenyum saat ini.” Meskipun matanya terlihat kosong tapi ada air mata yang keluar dari mata Kay.
Lily mengelus-elus dada Kay berharap bisa menghilangkan sedikit rasa sesak yang dia rasakan.
“Dree adalah orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Bahkan aku akan menyerahkan semua yang ku punya untuknya. Tapi kehadiran Brion mengacaukan semuanya Ly. Dengan bodohnya aku mempercayainya untuk menjaga adikku, dia memanfaatkan waktu itu dengan memberikan barang terlarang padanya. Tubuh Dree yang memang memiliki penyakit tentu tidak menerimanya dan berakhir overdosis hingga meninggal karena tidak bisa menahannya.” Kay memejamkan matanya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir membuat dada Lily sesak melihatnya.
Penyesalan yang Kay rasakan akan menghantui laki-laki itu seumur hidupnya dan dia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya.
“Aku turut berduka atas yang terjadi pada adikmu.” Lily mengeratkan pelukannya di tubuh Kay.
“Terima kasih.” Tangan Kay yang masih di dalam kausnya perlahan naik membuat Lily bergerak tidak nyaman.
“Nakal.” Bisik Kay tepat di telinganya membuat Lily meremang. Apalagi ketika Kay mengelus bagian atasnya. Tadinya Lily kira Kay tidak akan pulang jadi dia tidak mengenakan dalaman untuk membuatnya lebih leluasa.
Lily menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya. Kay menarik kepala Lily hingga mendongak lalu segera menyambar bibirnya. Keduanya berciuman dengan panas tidak peduli jika mereka masih di luar. Kay membalikkan tubuhnya hingga Lily berada di bawahnya.
Mata keduanya berpandangan seolah sedang berbicara. Lily mengedipkan matanya secara perlahan membuat Kay yang melihatnya segera melancarkan aksinya kembali.
Lily membalas perlakuan Kay dengan tidak ingin kalah. Kay menarik kaus yang Lily kenakan hingga terlepas dan melemparkannya dengan sembarangan.
“Waw.” Lily menutup matanya dengan tangan ketika Kay mengatakan hal itu.
“Jangan seperti itu, aku malu.” Lily menutupnya dengan tangan membuat Kay menyingkirkannya.
Kay tidak menghiraukan perkataan Lily karena selanjutnya dia bermain dengan kedua mainannya. Lily hanya bisa memejamkan matanya ketika Kay melakukannya. Dia tidak munafik bahwa menikmati perlakuan Kay pada tubuhnya.
“Di dalam.” Bisik Lily ketika Kay akan bertindak lebih jauh.
“Yes honey.” Kay menggendong Lily dengan mudah dan masuk ke dalam kamar. Selanjutnya mereka melakukan hal yang kalian bayangkan.
Saat ini Kay sedang memasak seraya menunggu Lily bangun. Tapi rupanya wanitanya itu belum juga bangun ketika Kay sudah selesai. Kay mendekati ranjang dan duduk di samping Lily yang masih asik memejamkan matanya.
“Bangun baby.” Kay berbisik tepat di telinga Lily membuatnya mengerang tapi tidak sampai bangun.
“Kalau kau tidak bangun kita akan mengulang yang tadi.” Berhasil, Lily langsung membuka matanya. Enak saja, bagian bawahnya masih sakit dan laki-laki di depannya ini seenaknya ingin mengulang. Tidak, dia tidak akan membiarkannya.
Lily bangun perlahan dan duduk dengan tangan yang mencengkeram selimut karena di baliknya Lily tidak mengenakan kain apapun. Kay yang melihatnya menyeringai.
Tiba-tiba saja Kay menarik selimut yang menutupi tubuh Lily hingga dia berteriak karena tubuhnya jadi tidak tertutup apapun. Dengan cepat Lily mengambil bantal yang ada di sebelahnya berharap menutupi.
“KAY!” Jerit Lily seraya menatap Kay dengan tajam.
“Hm.” Ujar Kay dengan tenangnya membuat Lily melemparkan bantal satu lagi pada kepala Kay yang langsung laki-laki itu tangkap.
“Cepat mandi.”
“Selimutnya sini.” Lily mengulurkan tangannya membuat Kay menatapnya. “Kay cepat.” Desaknya.
Karena tidak tega melihat wajah Lily yang hampir menangis, Kay menyerahkan selimut itu yang di sambut Lily dengan cepat.
“Hati-hati dengan lukamu.” Peringat Kay.
“Iya.” Ujar Lily seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Kay keluar membiarkan Lily membersihkan tubuhnya, kemudian pergi ke balkon dengan sebatang nikotin juga pemantik yang ada di tangannya. Sudah cukup lama dia tidak menghisap benda ini karena Lily tidak menyukai asapnya. Tapi saat ini Kay tidak bisa menahannya.
Lily keluar dari kamar dengan sebelah tangan yang mengeringkan rambut dengan handuk. Lily langsung melihat kearah balkon di mana Kay berada dengan asap yang mengepul di depannya.
Karena merasa lapar lagi, Lily berjalan mendekati Kay. Dia tidak mungkin memakan lagi roti karena ingin makanan lain yang bisa membuat perutnya kenyang lebih lama.
Benar saja, belum juga Lily sampai tapi bau asap nikotin itu sudah masuk kedalam hidungnya hingga membuatnya batuk dan merasa sesak. Kay yang mendengarnya segera mematikan rokoknya dan segera masuk kedalam lalu menutup pintu.
“Kenapa?” Kay merapikan rambut Lily yang masih berantakan karena belum gadis itu sisir.
“Lapar.” Adu Lily seraya mengelus perutnya yang lagi-lagi berbunyi membuat Kay gemas melihatnya.
“Ayo.” Kay merangkul pinggang Lily dan membawanya menuju dapur.
“Kau yang memasaknya?” Tanya Lily setelah melihat beberapa jenis makanan tersaji di depan matanya.
“Hm.” Kay menarik kursi dan menarik bahu Lily untuk duduk di atasnya.
Setelah selesai dengan makanan, Kay kembali ke balkon dengan ponsel yang berada di samping telinganya. Laki-laki itu tadi berkata pada Lily jika dia akan menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang tengah.
Karena bosan menunggu Kay yang sedang bertelepon, Lily memutuskan untuk menghidupkan layar LCD berukuran besar yang ada di depannya.
“Aku ingin menonton ini.” Lily ingin melihat film horor yang terlihat menarik.
Lily mengambil bantal sofa lalu memeluknya ketika melihat adegan yang cukup menyeramkan. Bahkan sesekali dia akan menutup wajahnya.
Tidak sadar jika Kay sudah selesai dan masuk kembali. Melihat Lily yang tengah menonton tapi ketakutan membuat Kay mendengus geli. Kalau takut kenapa di tonton segala.
“ANJING SETAN SIA!” Lily berteriak dengan heboh ketika merasakan ada tangan yang menjalar dari pundak hingga melilit lehernya.
Sadar jika yang melakukannya adalah Kay membuat Lily segera melayangkan protesnya. Kay menahan tangan Lily yang memukuli bahunya.
“Sudah, tanganmu bisa sakit.”
“Kau jahat, sudah tau aku sedang menonton.” Sungut Lily yang masih tidak terima.
“Maafkan aku.” Kay duduk di samping Lily lalu merebahkan badannya dan menyimpan kepalanya di pahanya.
“Lily.” Lily memalingkan wajahnya dengan tangan yang dia lipat di depan dada.
Kay mencolek dagunya, “Diam.” Lily menahan tangan Kay yang terus bergerak.
“Besok kita pulang.”
“Pulang?”
“Ya.”
“Yunani?”
“No.”
“Terus kemana kalau bukan Yunani.” Lily mengerutkan keningnya bingung.
“Indonesia.”
“APA?”
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
sukses otor, dan semangat 💪😘