Sebuah ujian kesulitan hidup, memaksa seorang pria bernama Rudi memilih menempuh jalan yang salah. Sebuah iming-iming kekayaan di depan mata membuatnya gelap mata. Dengan mengikuti sebuah ajakan seseorang, membuatnya terikat dengan perjanjian ghaib. Dimana dia harus rela kehilangan anak-anaknya untuk di jadikan tumbal agar memperoleh kekayaan dengan cara instan. Hingga akhirnya ia juga harus kehilangan istrinya tercinta. Pada akhirnya, sebuah kejahatan sekecil apap pun itu, akan mendapatkan balasan dari apa yang telah di perbuatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Di Teror
Suara sirine ambulan memecah kesunyian daerah komplek dimana aku tinggal. Terlihat banyak warga yang kami lewati tampak menoleh ke asal sumber suara. Sesampai di rumah, sudah tampak beberapa tetangga berdatangan untuk membantu mempersiapkan pemakaman Zulfa yang tentunya sudah di kabari lebih dulu oleh Dhafi.
"Turut berbela sungkawa, Pak Rudi."
"Yang sabar, ya, Pak. InsyaAllah anaknya akan menjemput orang tuanya di pintu surga."
Begitulah ucapan para tetangga yang sibuk mengalami ku saat aku turun dari ambulan. Jenazah Zulfa sudah di turunkan dan di bawa masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Tak perlu lagi di mandikan ataupun di kafani, karena semua sudah ku minta melakukan semua itu saat di Rumah Sakit. Jenazah Zulfa sampai di rumah sudah dalam kondisi rapi.
"Ayo kita sholati dulu jenazahnya." ucap Pak Fauzan selaku salah satu pemuka agama di komplek kami.
"Eee... te-terimakasih banyak, Bapak-bapak. Tapi, apa tidak sebaiknya kita langsung saja memakamkan jenazah Zulfa sebelum hari terlalu larut malam?" tanyaku, mengingat semua prosesi ini akan di lanjutkan meskipun hari sudah malam.
"Tetap di shalat kan, Pak. Hanya sebentar saja. Mari Bapak-bapak" jawab Pak Fauzan yang di setujui oleh semua orang yang hadir. Aku tak bisa melarang, mau tidak mau aku mengiyakan ucapan mereka sebagai rasa penghormatan terakhir untuk jenazah Zulfa. Tentu saja aku tak ikut menyolatkan. Aku lebih memilih untuk pura-pura terpuruk dan tak kuasa untuk berpisah dengan Zulfa barang sedetik. Aku menunggui jenazah Zulfa di ujung ruangan sambil menangis sesenggukan.
"Sudah, Pak. Ikhlaskan saja, kasihan anaknya kalau Bapak menangis seperti ini terus." ucap Pak Fauzan setelah selesai menyolatkan.
Jam sepuluh malam, jenazah Zulfa segera kembali di angkat dan di masukkan ke dalam ambulan untuk di bawa ke tempat pemakaman umum. Aku pun turut ikut serta.
"Kasihan, ya, dua anaknya meninggal semua."
"Iya, yang dulu meninggal mengenaskan. Yang ini juga sama."
"Jangan-jangan kondisinya rusak parah akibat kecelakaan, makanya kafannya tidak boleh di buka." terdengar suara bisik-bisik di tengah-tengah proses pemakaman.
"Ibunya kok nggak ada?"
"Katanya koma di Rumah Sakit."
Kembali terdengat bisik-bisik dari tetangga yang tentu saja mampu ku dengar dengan jelas. Hanya saja aku memilih untuk berpura-pura tak mendengar.
"Pak, Bapak mau menurunkan jenazah anak Bapak?" tanya salah satu petugas yang ikut membantu memakamkan Zulfa. Aku menggeleng, aku berpura-pura menyeka air mata.
"Sa-saya tidak kuat, Mas. To-tolong lakukan saja." ucapku di sertai isak tangis yang tentunya semuanya ku buat-buat.
"Baik, Pak."
Proses pemakaman berjalan cepat. Tiak sampai satu jam semua sudah selesai. Para warga kembali bubar untuk pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan aku memilih untuk pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mencari keberadaan Lembayung.
Brraaakkkk...
Ku buka paksa pintu kamar gadis aneh itu. Kosong. Bahkan tidak ada tanda-tanda jika gadis itu pernah menempati kamar itu.
"Bayung... Lembayung." panggil ku pada nama gadis aneh itu.
Tak ada jawaban. Yang ada semua sepi, bahkan kamarnya pun terlihat seperti sudah tidak di tempati cukup lama.
"Keanehan macam apa ini?" gumamku seorang diri. Aku mencoba mencari ke seluruh ruangan, namun tak ada tanda-tanda gadis itu ada di rumah. Bahkan pakaian ataupun barang-barang miliknya pun tak yang tersisa.
"Jangan-jangan dia kabur. Tapi bagaimana bisa?" aku merasa bingung dan heran. Bagaimana bisa gadis aneh itu menempati kamar yang kotor dan berdebu selama ini. Bahkan lemari tempat dia meletakkan baju tampak sangat berdebu seperti tak pernah di jamahnya selama ini. Padahal Lembayung tinggal di rumah ini sudah lima tahun, seusia dengan Zulfa. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah tinggal di rumah ini barang sehari. Semua jejaknya hilang tak berbekas.
"Siapa dia sebenarnya? Harus ku tanyakan besok pada Pak Parmo." gumamku geram.
Aku bangkit dan berjalan cepat menuju gudang. Untung saja aku teringat akan gentong yang mungkin sudah terisi penuh itu. Seketika rasa kesal dan marahku terhadap Lembayung sirna begitu saja setelah mengingat apa yang akan ku dapat.
"Hahahahahahaha..."
"Aaaakkkuuu kkaaayyyaaaa...." ku raup dan ku hamburkan lembaran merah dan biru dari dalam gentong. Begitu banyak lembaran berwarna merah biru itu di dalamnya. Tak hanya itu, emas batangan pun juga terlihat menumpuk di dasar gentong.
"Hahahahaha..." aku tertawa puas dengan apa yang ku lihat. Apalagi mengingat Widi juga sedang hamil anakku dan sebentar lagi akan melahirkan. Itu artinya, kekayaanku akan bertambah tanpa harus menunggu lama. Semua bayangan itu sudah menari-nari di depan mata.
"Hhaaaaaaa.... ternyata seperti ini rasanya jadi orang kaya. Pantas saja banyak orang kaya yang semena-mena dengan orang lain. Jika uang sudah berbicara, apapun bisa di lakukan.
"Hhhhmmm..." aku menghela nafas lega sambil menikmati harumnya tumpukan rupiah yang entah berapa banyaknya. Sebagian ku kibas-kibaskan ke arahku untuk merasakan sejuknya angin dari lembaran-lembaran yang memiliki nilai nominal tinggi.
"Aaahhhh... harumnya. Pantas jika benda ini sangat di cintai. Bahkan orang-orang akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan semua ini." gumamku dengan senyum merekah.
Malam ini aku memutuskan untuk tidur di rumah. Lagi pula, aku tak akan boleh masuk ke ruangan ICU jika aku memaksakan untuk datang ke rumah sakit.
"Kemana gadis aneh itu sebenernya." Tiba-tiba saja pikiranku teringat pada Lembayung yang tiba-tiba saja menghilang di saat semua ini terjadi. Apalagi tadi aku sempat melihatnya di dalam ruang perawat ICU, sedangkan mereka sepertinya tidak menyadari keberadaan Lembayung di sana. Ku gapai gawai yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Sambil mencari sebuah nomor yang perlu ku mintai klarifikasi tentang Lembayung, otakku berpikir keras dimana sebenarnya anak itu.
"Nah ini." nama Pak Surya terpampang jelas di gawai. Berkali-kali aku mencoba untuk menghubungi beliau, namun tak ada satu pun yang di angkat.
"Ah, ternyata sama anehnya." gumamku kesal. Ku lempar gawai ku ke tempat tidur dan berniat untuk tidur. Lelah sekali rasanya badan karena seharian ini mengalami hal-hal di luar nalar.
"Hahahahaha... puas kamu, Rudi?" tiba-tiba sebuah suara muncul di saat aku baru mulai terlelap.
"Si-siapa kamu?" aku bangkit dan mencari sumber suara.
"Hahahahaha... apa kau mencariku, Rudi?" suara itu kembali terdengar.
"Bayung, aku tahu itu kamu. Keluar kamu. Dimana kamu? Jangan kurang ajar, ya." makiku pada gadis aneh yang lima tahun ini tinggal di rumahku.
"Hahahaha... Kamu penasaran siapa aku?" tanya suara itu. Tubuhku gemetar mendengar suara yang menggemamenggema di kamar. Entah dari mana asal suara itu.
Brraaaakkk... pintu kamar tiba-tiba terbuka sendiri lalu di banting dengan keras. Rupanya teror gaib belum berakhir.
khilaf tp diterusin,cinta tp mendua..
bullshit 😡
🥲 iisshh lama nyaa terungkap ,kasihan buk Surti 🥺