Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Direndahkan
"Saya Panji." Begitu masuk ke pos sekuriti, ia memperkenalkan diri. Ada setidaknya 4 orang di dalam, yang semuanya langsung menaruh perhatian penuh padanya. Seperti kaget dan sedikit heran, bertanya-tanya dan bingung.
"Saya nggak lihat kamu selama pelatihan." tanya salah seorang sekuriti yang terlihat masih muda. "Baru ada pemberitahuan tadi pagi, nggak nyangka akan datang secepat ini."
Panji tersenyum formal. "Saya ditunjuk langsung—"
"Oh, nggak usah dijelaskan—ayo gabung sini!" Pria itu kaget dan langsung berubah ekspresi. Seolah dia paham kalau Panji adalah orang kepercayaan. Tapi tidak tahu untuk siapa dan kepada siapa Panji melapor mengingat belakangan perusahaan tambang paling besar di sini, sedang bermasalah.
Dualisme kepemimpinan di Andika Utama Tambang sangat terasa hingga ke bagian bawah seperti mereka. Bos utama di perusahaan raksasa itu konon katanya dipaksa menyerahkan perusahaan itu kepada anaknya. Alvin Perkasa Utama. Anak itu katanya anak sah Andika dengan Indira Grace yang disembunyikan keberadaannya. Sampai sekarang—dan tidak peduli juga, belum ada yang pernah melihat pewaris utama perusahaan yang katanya abnormal tersebut.
Panji membungkuk sungkan, ketika pria itu dan tiga yang lain langsung berdiri menyilakan Panji duduk.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, ya!" Pria itu menepuk pundak Panji seperti menjilat.
Panji hanya menanggapi dengan senyum datar tanpa perasaan apapun.
"Kita sama-sama bekerja untuk kantor ini, semoga tujuan kita sama," lanjut pria muda itu penuh harap. Yang sudah-sudah pergi begitu saja setiap ada masalah yang terjadi. Semoga yang ini tidak.
Panji sedikit kaget, tapi dia tidak merespons berlebihan. Dia sudah mempelajari keadaan dan sepertinya bekerja sama seperti yang dimaksud pria tersebut tidak bisa terlaksana. Dia punya misi sendiri.
Panji tersenyum datar. Senyum formal untuk menyenangkan si penasihat—biasanya.
Pria yang merupakan kepala keamanan itu duduk di sebelah Panji dan mengarahkan tatapan setiap sudut bagian depan gedung perkantoran ini. Sedikit lebih baik setelah Panji tidak terlalu banyak bicara. Tidak seperti orang sebelumnya yang langsung memberi banyak aturan protokoler yang terlalu mencekik, seperti mengelukan Andika Utama berlebihan. Memangnya siapa Andika Utama ini? Bukankah ada banyak bos di sini? Kenapa hanya bos satu itu yang mesti dielukan? Cih!
Baru kepala keamanan itu akan bicara lagi, sebuah mobil masuk ke halaman dan berhenti tak jauh dari pos, jadi dia segera berdiri.
Meski dia tidak tahu siapa yang datang, mengingat baik sopir maupun mobil itu sama sekali tidak ia kenali.
Panji ikut menatap jeli bagian belakang mobil. Dan dia sedikit kaget melihat siapa yang muncul dari sana.
"Alvin?!" ucap spontan kepala sekuriti. Panji menoleh ke arah kepala sekuriti dengan tatapan heran.
"Dia—?!"
"Dia terlihat berbeda," lanjut kepala sekuriti seolah menjelaskan kepada Panji yang merupakan orang baru. Pasti Panji belum kenal Alvin.
Panji menarik napas. Apa Alvin akan mengenalinya jika bertemu nanti? Sebenarnya dia tidak berharap bertemu Alvin sekarang, paling tidak sampai beberapa hari ke depan. Namun sepertinya dia terlalu banyak berharap pada keberuntungan.
Ketika Alvin menyapukan pandangan ke arah pos, Panji menahan napas. Entah kenapa dia merasa takut.
Kepala sekuriti segera keluar dan menyambut Alvin.
"Vin—" Seketika seseorang menghalangi Alvin dari sambutan kepala sekuriti. Dia bingung.
Sony yang mengemudikan mobil Alvin langsung memberikan tatapan tajam penuh peringatan pada kepala sekuriti.
"Tolong jaga sikap Anda pada Bos saya!" ucap Sony.
Bos? Alis kepala Sekuriti itu naik sebelah saking kaget, heran, sekaligus merasa lucu. Bos apanya?
Alvin—setahu semua orang, hanyalah karyawan biasa di perusahaan Demian. Sekarang mengaku Bos? Bukankah Alvin ini selalu direndahkan? Alvin sering dibuli dan tidak punya teman. Bahkan belakangan Alvin sakit parah.
Ada-ada saja! Kepala sekuriti itu mengeluarkan senyum mencemooh.
Sony tidak suka melihat ekspresi kepala sekuriti sehingga langsung mengambil langkah ke depan sekuriti.
"Jaga sikap kamu mulai sekarang!" Tangan Sony sudah siap melayang ke kerah baju kepala keamanan itu tapi Alvin mencegahnya.
"Jangan buat keributan Son!" suara Alvin membuat keduanya saling menjauh. Ia menatap kedua orang itu datar. "Kita masuk saja!"
Sony mengangguk pelan, tapi ia masih sempat memberi kepala sekuriti itu sebuah tatapan penuh ancaman.
"Jaga sikapmu mulai sekarang!" Sony mengingatkan penuh tekanan.
Di dalam, kedatangan Alvin tidak terlalu menarik perhatian. Tetapi masih ada satu dua yang menyapa.
"Vin, katanya sakit?!" Seorang pemuda berdagu lancip menyapa seraya memasukkan tangan ke saku celana saat berpapasan dengan Alvin di depan lift.
Alvin tersenyum sekilas, saat—sekali lagi, Sony sudah bergerak untuk menghadang. Ia berkata dengan lembut, tanpa ada aksen takut sama sekali.
"Sesuatu membuatku pulih dengan cepat."
Pria itu bertepuk tangan, seperti mendapat keberuntungan luar biasa. "Bagus! Kalau gini, aku nggak perlu repot mikir laporan keuangan sendirian! Sudah saatnya bikin laporan ke Pak Demian kan sekarang?"
"Wah, Alvin!" sebuah suara lagi-lagi menyela, membuat Alvin yang ingin mengatakan sesuatu pada pria di depannya ini urung. Ia menoleh berbarengan dengan pria itu.
"Meja kami berantakan sejak kamu sakit! Buruan kamu beresin ya! Aku mau ngopi dulu!" Pria itu tidak mendekat, tetapi langsung pergi begitu saja meninggalkan kantor.
"Wah, ide bagus!" Pria itu langsung bersemangat dan menepuk pundak Alvin. "Aku cabut juga, karena kamu sudah ada di sini!"
Alvin berwajah kaku ketika pandangannya mengikuti langkah pria itu keluar kantor. "Untung dia bukan karyawan ku!"
"Anda bisa memecatnya jika anda mau!" Sony gatal ingin meninju muka dua orang yang kurang ajar itu. Sejak tadi ia menahan geram yang menggelitik dadanya.
Alvin menarik sudut bibirnya. "Lebih bagus mereka menunduk menahan malu saat bertemu denganku setelah ini!"
Itu balas dendam terbaik, bukan?
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏