DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.34 Pilihanku adalah bersamamu
"Dar, nanti lo antar gue ke rumah mami aja, ya. Gue udah bilang Shakti kok, suruh jemput di sana," pinta Zia saat di mobil, Dara.
"Lo, serius bakal minta nyokap lo, datang ke sekolah?"
"Yah ... mau bagaimana lagi, kan, undangannya buat nyokap gue."
Dara mengangguk mengerti. Mobil Dara melaju dengan kecepatan sedang, karena mereka sambil menikmati obrolan dan mendengarkan musik yang Dara putar.
"Dar, stop ... stop!!!" teriak Zia yang melihat seseorang yang ia kenal di pinggir jalan, dan orang itu sedang dimaki-maki oleh anak SMA, segera meminta Dara menghentikan mobilnya.
"Kenapa?"
"Gue lihat Enzo kayaknya. Lo, tunggu sini ya, gue lihat dulu." Zia langsung turun dari mobil Dara, dan berbalik menghampiri anak berseragam SMP itu.
Seperti dugaannya, anak berseragam SMP itu adalah Enzo, adiknya, yang sedang dibully anak berseragam SMA.
"Enzo, ngapain lo di sini? apa yang mereka lakukan sama, lo?" tanya Zia, dan menunjuk anak-anak berseragam SMA dengan marah.
Anak-anak berseragam SMA itu saling tatap, saling bertanya lewat tatapan. Apa ada yang mengenal gadis yang telah mengganggu kesenangan mereka.
"Kak, lo sendiri ngapain di sini?" Enzo malah balik bertanya.
"Oh ... ini kakak, lo. Cantik juga, meski dandanannya culun kayak, lo," kata anak yang tadi terlihat mem-bully Enzo. Anak yang Zia kenali bernama Niko dari name tagnya itu, langsung mendekati Zia.
Enzo yang merasa kakaknya dalam bahaya, langsung maju, menjadi tameng bagi kakaknya. "Bang, jangan ganggu Kakak, gue!"
"Minggir, lo!" bentak Niko, yang membuat Enzo terlonjak, tapi tak bergeming sedikit pun dari depan kakaknya.
"Gue bilang minggir, atau gue hajar, lo!" Niko menggeser tubuh Enzo dengan kasar, hampir terjatuh.
Zia yang melihat adiknya diperlakukan kasar seperti yang ia lihat, merasa tidak terima. "Apa-apaan lo, mau main hajar aja! Lo kira, lo siapa? dan apa salah adik gue, sampe lo ngebully, dia!" bentak Zia, tak kalah keras.
"Jangan galak-galak dong, entar hilang lagi cantiknya," goda Niko, yang hampir memegang dagu Zia tapi langsung ditepis oleh Zia.
"Jangan macem-macem ya!"
Niko justru tertawa mendengar ancaman Zia.
"Gue nggak macem-macem, gue cuma pengen kenalan aja sama, lo," ucap Niko menyeringai.
"Bodo amat! gue peringatkan kalian semua ya! Kalau gue tau kalian ngebully adik gue lagi, gue laporin ke polisi!" Zia tidak lagi mempedulikan Niko dan teman-temannya, dia langsung membawa adiknya ke mobil Dara.
"Kenapa, Zi?" tanya Dara saat Zia dan Enzo masuk ke mobilnya.
"Biasalah, anak-anak nggak punya kerjaan, sukanya ngebully orang. Lagian, kok lo diem aja sih dek, dibully kayak gitu?"
"Udah berapa lama lo dibully, Zo?" tanya Dara menambahi sambil melajukan mobilnya kembali.
"Eng-gak kok, Kak. Mereka juga nggak ngebully gue, tadi itu memang salah gue, makanya mereka marah."
"Memang lo salah apa sama mereka, sampai lo dimaki-maki kayak tadi," selidik Zia.
"Tadi, gue nggak sengaja numpahin minuman ke bang Niko, makanya dia marah."
Tadi memang Niko dan kawan-kawannya meminta Enzo membelikan minuman. Saat Enzo membawa minuman itu, salah satu teman Niko, dengan sengaja menjegal kaki Enzo. Jadilah, minuman itu tumpah ke baju Niko. Itu lah yang menjadi penyebab Niko memaki-maki Enzo yang saat itu terlihat oleh Zia.
"Makasih ya, Dar," Zia melambaikan tangan pada Dara yang sudah menjalankan mobilnya.
"Kak, lo jangan bilang ke papi sama mami, ya, soal yang tadi," pinta Enzo sebelum masuk ke rumah.
"Kenapa?" tanya Zia heran.
"Ya, karena itu cuma masalah kecil, gue nggak mau papi jadi lebih overprotective ke gue. Lo tau sendiri, kan, papi kayak gimana?"
Zia memikirkan apa yang dikatakan Enzo memang benar adanya. Selama ini saja, papinya itu sudah protective ke mereka. Apalagi kalau sampai tahu adiknya ini dibully. Memikirkan nasib adiknya, yang pasti akan lebih sulit hidupnya jika papinya itu menambah lagi peraturan yang sudah ada, akhirnya Zia putuskan untuk mengiyakan saja permintaan Enzo. Toh, tadi Enzo bilang itu masalah kecil.
"Mi, Zia pulang," teriak Zia saat memasuki rumahnya.
"Kok bisa barengan sama, Enzo?" tanya mami Laura yang melihat Zia datang bersama Enzo.
"Tadi ketemu di jalan, terus Zia ajak bareng aja sekalian, mumpung Zia diantar Dara kesini."
"Tumben, kesini nggak bilang dulu. Sudah ijin suami kamu, belum?"
"Sudahlah, Mi. Nanti Shakti jemput kesini kok. Zia kesini mau ngasih mami ini," Zia mengeluarkan surat panggilan dari bu Norma untuk maminya.
"Apa, ini?"
Zia menceritakan pada Mami Laura tentang foto-foto yang dipajang di mading sekolah. Yang membuatnya mendapatkan surat panggilan untuk orang tuanya. Zia juga menceritakan kebohongan yang dia ceritakan pada bu Norma, untuk menyamakan jawaban jika nanti maminya itu menemui bu Norma.
Tak lama setelah pembicaraannya dengan Maminya, Shakti datang untuk menjemputnya.
"Selamat sore, Mi," sapa Shakti pada ibu mertuanya.
"Selamat sore, duduk dulu, Shak."
"Besok kamu bisa ke sekolah Zia, nggak?" todong Mami Laura pada menantunya yang baru saja datang.
Shakti menatap Zia menunjukkan ekspresi penuh tanya.
"Jadi gini, ...."
Zia menceritakan kejadian yang ia alami di sekolah, sama persis seperti yang ia ceritakan pada mami Laura. Bahkan sampai kebohongannya pada Bu Norma pun kembali ia ceritakan.
Shakti mengangguk mengerti.
"Maaf, Mi. Bagaimana kalau Mami saja yang mewakili Shakti, soalnya besok Shakti ada jadwal operasi."
"Oh, begitu. Baik lah, Mami akan urus semuanya. Kalian mau langsung pulang?"
Zia menatap Shakti, mencoba bertanya tentang pertanyaan maminya.
"Iya, Mi. Nanti keburu malam. Zia biar bisa istirahat juga."
Mereka pun berpamitan pada Mami Laura.
.
.
.
.
.
"Lho ... ini, kan, bukan jalan ke apartemen?" tanya Zia yang menyadari kalau jalan yang dilaluinya bukan ke apartemen mereka.
Shakti tidak menanggapi pertanyaan Zia dan justru membelokkan motornya ke arah yang Zia tidak tahu. Shakti menghentikan motornya, saat mereka tiba di pinggir danau.
Zia yang masih bingung, hanya mengikuti Shakti yang turun dari motor. Tadi, di rumah mami, Shakti bilang mau cepat pulang biar bisa istirahat, tapi kenapa sekarang malah mereka berada di tempat ini.
"Kita di sini sebentar."
Zia hanya diam menatap Shakti yang berjalan ke pinggir danau. Shakti langsung duduk di atas rumput, saat sampai ditepi danau itu.
Awalnya, Zia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan Shakti ditepi danau ini. Saat ini, danau ini sudah sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa orang saja yang masih terlihat di sini.
Beberapa saat sudah berlalu, Shakti masih terlihat hanya duduk diam menatap jauh ke danau itu. Tak tahan dengan apa yang sedang dilakukan Shakti di sini, Zia pun menghampiri suaminya itu. Zia langsung duduk di sebelah Shakti yang duduk bersila.
"Buat apa kita kesini?" tanya Zia memecah kesunyian di danau ini.
"Andien sering kesini kalau lagi pengen sendiri."
"Dia bilang, tempat ini membuatnya tenang, dan bisa berfikir jernih saat ia ada masalah."
Zia yang tak mengerti maksud Shakti hanya menoleh menatap Shakti. "Apa, kamu sedang ingin sendiri? atau ... kamu lagi ada masalah?"
Shakti hanya diam, masih terlihat fokus dengan danau di depannya. Dan, Zia mengartikan diamnya Shakti sebagai jawaban kalau suaminya itu sedang ingin sendiri.
Zia ingin beranjak pergi, memberikan waktu sendiri untuk suaminya. Namun, saat Zia hendak berdiri, Shakti menarik tangannya, dan langsung memeluknya. "Maafkan, aku," bisiknya di telinga Zia.
"Untuk apa?" Zia tak mengerti, untuk apa suaminya ini meminta maaf.
"Aku sudah membuat hidupmu jadi rumit. Katakan, apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa mendapatkan kembali kehidupanmu, seperti sebelum mengenalku," Shakti melepaskan pelukannya dan menatap mata bulat Zia. Shakti ingin Zia membantunya menentukan pilihan.
"Apa, maksudmu?" tanya Zia yang takut dengan pertanyaan Shakti.
"Haruskah aku melepaskan mu, sekarang. Kamu bisa mendapatkan kembali hidupmu yang dulu, dan juga teman-temanmu."
Shakti merasa bersalah, saat Zia tadi menceritakan bagaimana teman-temannya membicarakannya, dan menuduhnya menjadi simpanan om-om. Dia tidak ingin hidup Zia jadi rumit karena statusnya. Terlebih lagi, Shakti tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk Zia.
"Kenapa kamu berkata begitu? Apakah Andien sudah kembali? Apa sekarang saatnya aku harus pergi," tanya Zia dengan berkaca-kaca.
Ada ketakutan di matanya. Zia takut, kalau harus melepaskan Shakti sekarang. Zia memang siap terluka, untuk melepaskan Shakti saat Andien kembali nanti, tapi tidak secepat ini. Bukan berarti Zia mengharap Andien tidak segera sembuh, tapi dia hanya berharap sedikit lebih lama bersama Shakti.
"Tidak, aku hanya tidak ingin menyakitimu lebih lama. Aku ingin kamu mendapatkan kebahagiaanmu, seperti sebelum kita bersama."
"Bagaimana jika kebahagiaanku hanya bersamamu, aku tak ingin pergi sekarang. Aku janji, aku tidak akan membuatmu memilih.Untuk itu, biarkan aku bersamamu, sampai Andien kembali." cairan bening itupun lolos dari mata bulat Zia, mengalir tanpa permisi.
"Jangan buat dirimu terluka, untuk apa kamu menyiapkan dirimu untuk terluka? kamu bahkan bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Masa remajamu yang bebas, dan untuk itu, ayo kita akhiri semuanya."
Zia menangis, semakin keras. Dia harus bagaimana dengan ajakan Shakti. Zia juga bingung, bagaimana lagi meyakinkan Shakti agar tak melepaskannya sekarang.
"Biarkan aku menemanimu, sampai dia kembali. Aku, mohon," pintanya dengan suara yang sudah serak.
"Aku janji, aku tidak akan membuatmu memilih." Zia mengulang permohonan yang sama.
Shakti masih diam, dengan permintaan Zia.
"Apa kamu bisa merasakan cintaku?" Zia mengambil tangan Shakti, meletakkannya di dadanya, agar Shakti merasakan detak jantungnya.
"Di sini, ada detak yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Debaran yang hanya bisa kurasakan saat aku bersamamu. Pernikahan kita mungkin belum lama, tapi, aku sungguh ... sungguh jatuh cinta, padamu." Zia mengatakannya dengan putus-putus karena tangis yang tak bisa ia hentikan.
"Aku mencintaimu, biarkan aku bersamamu."
Shakti yang tadinya beniat mengakhiri hubungannya dengan Zia jadi tidak tega melihat gadis kecil itu menangis. Tak seharusnya gadis kecil seperti dia, harus menghadapi masalah rumah tangga yang rumit seperti saat ini.
Shaktipun memeluk Zia dengan erat berharap pelukannya akan menenangkannya.
"Aku Sayang sama kamu, aku mohon jangan pernah terluka. Jika pergi sekarang akan membuatmu baik-baik saja, aku akan membiarkanmu pergi," bisik Shakti di telinga Zia.
"Pilihanku adalah bersamamu."
Shakti melepaskan pelukannya dan menatap mata sembab istrinya, wajah mereka begitu dekat hingga dahi mereka saling menyentuh. Dipagutnya bibir ranum istrinya, dengan lembut. Bukan ciuman bercampur hasrat, tapi ciuman yang menunjukkan rasa sayangnya pada istrinya.
Tinggalkan Like ... komen ...dan vote ya.
Tengkyu❤️❤️❤️sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?