【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Setelah mengantongi restu dan senyuman hangat dari sang ibu, Tina bergegas merapikan jilbab instan berwarna biru muda yang dikenakannya. Langkah kakinya membawa tubuhnya keluar dari pintu rumah batu tuanya.
Tujuan pagi ini sudah bulat: rumah Ibu Yuna. Jarak rumah wanita paruh baya itu sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya berselang lima rumah dari kediamannya. Namun, karena halaman tiap rumah yang terbilang luas serta berjarak, Tina harus berjalan kaki menyusuri jalanan setapak yang dinaungi pohon-pohon.
Sepanjang langkahnya, dada Tina terus saja bertalu-talu. Ada perasaan campur aduk yang bergejolak di dalam dirinya. Rasa malu yang teramat sangat mendominasi hatinya, membuat jemarinya tak berhenti saling meremas satu sama lain. Menyampaikan keputusan besar seperti ini—bahwa ia siap menerima Andry—secara langsung kepada mak comblang mereka ternyata membutuhkan keberanian yang tidak sedikit.
Begitu kakinya melangkah memasuki halaman luas rumah Ibu Yuna, pikiran Tina benar-benar sedang penuh dan melayang. Ia terlalu fokus menata kalimat apa yang harus diucapkan nanti agar tidak terdengar terlalu terburu-buru atau memalukan. Akibatnya, netra jernih gadis desa itu sama sekali tidak menyadari bahwa situasi di kediaman Ibu Yuna pagi ini sedang tidak sepi seperti biasanya. Tina benar-benar luput memperhatikan sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik yang terparkir rapi di bawah rindangnya pohon mangga besar, tepat di seberang jalan depan pagar rumah Ibu Yuna.
Tina terus melangkah maju. Sebelum kakinya menapak pada anak tangga kayu pertama rumah panggung milik Ibu Yuna, ia sempat menghentikan langkahnya sejenak di halaman. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menepuk kedua pipinya sendiri dengan pelan menggunakan telapak tangan untuk mengusir rasa gugup, lalu bergumam lirih menasihati dirinya sendiri. "Ayo, Tina... Bismillah. Kamu pasti bisa. Jangan gugup." Setelah melakukan tindakan konyol yang menurutnya bisa menenangkan hati itu, ia melangkah naik ke atas tangga.
Begitu sampai di teras atas, Tina langsung membalikkan badannya menghadap ke arah pintu utama yang tampak terbuka lebar. Karena pandangannya hanya lurus tertuju pada daun pintu, ia lagi-lagi tidak memperhatikan bahwa di sudut teras, dekat kursi rotan, ada sepasang suami istri paruh baya berpakaian rapi dan elegan yang sejak tadi duduk diam dan memperhatikan seluruh gerak-geriknya sejak ia masih berada di halaman bawah.
Baru saja Tina membuka bibirnya untuk mengucapkan salam, sosok Ibu Yuna tiba-kira langsung muncul dari balik tirai dalam rumah sembari membawa sebuah nampan berisi beberapa cangkir teh hangat untuk tamunya.
"Ass—" Ucapan Tina terputus di udara.
"Eh, Tina? Ada apa, Nak?" sapa Ibu Yuna spontan, matanya berbinar cerah melihat kedatangan gadis desa kesayangannya itu.
"Assalamu’alaikum, Tante Yuna," ucap Tina sembari mengulas senyum ramah, meski debaran di dadanya semakin menggila.
"Wa’alaikumussalam, Nak. Ada apa sepagi ini sudah main ke rumah Tante?" tanya Ibu Yuna dengan nada selembut biasanya, walaupun di dalam lubuk hatinya, wanita paruh baya itu sudah bisa menebak dengan sangat akurat arah dan tujuan kedatangan Tina.
Tina menarik napas panjang, mencoba menguatkan fondasi suaranya agar tidak bergetar. "Begini, Tan... kedatangan Tina kemari ingin menyampaikan amanah. Bahwa... dengan rida dan izin dari kedua orang tua saya, saya... saya menerima niat baiknya."
"Alhamdulillah!"
Suara seruan syukur itu terdengar begitu nyaring dan kompak memenuhi teras rumah. Namun, yang membuat jantung Tina seketika mencelos adalah fakta bahwa suara itu terdengar bersahut-sahutan dalam tiga warna suara yang berbeda.
Tina terkejut setengah mati. Ia mengerjapkan matanya bingung. *Mengapa ada suara orang lain di sini?* pikirnya panik. Seketika itu juga, ia memutar tubuhnya ke belakang, dan barulah matanya menangkap keberadaan sepasang suami istri yang sedang menatapnya dengan binar mata yang luar biasa cerah dan penuh binar kebahagiaan.
Ibu Yuna yang berdiri di ambang pintu hanya bisa tersenyum lebar menahan tawa bahagianya. Dalam hati, ia bersorak kegirangan karena tugas besarnya menjadi mak comblang untuk keponakannya akhirnya berhasil membawa kabar baik yang dinanti-nanti.
"Ah, Tina... kemari, Nak," ujar Ibu Yuna sembari meletakkan nampan tehnya di atas meja teras. "Perkenalkan, mereka berdua ini adalah orang tua kandung Andry."
*Blush.*
Seketika itu juga, seluruh pasokan darah di tubuh Tina seolah naik berbondong-bondong ke wajahnya. Wajah manis gadis desa itu langsung berubah menjadi sangat merah padam karena rasa malu yang sudah melampaui ubun-ubun.
Tubuhnya mendadak kaku bagai patung, dan ia benar-benar salah tingkah di tempatnya berdiri. Jemarinya bergetar halus saat ia memaksakan diri untuk membungkuk hormat.
"Ass...alamu’alaikum... Om... Tan...te..." ucap Tina terbata-bata, suaranya mencicit kecil karena terlampau syok.
Ibu dari Andry yang berpenampilan sangat anggun dengan sanggul sederhananya langsung bangkit berdiri dari kursi rotan. Wanita kota itu tertawa renyah, melangkah mendekat dengan mata yang berbinar-binar gemas melihat kepolosan calon menantunya.
"Eh, kok dipanggil Om dan Tante sih, Sayang? Mulai sekarang, panggil Mama dan Papa," ralat Ibu Andry dengan nada suara yang teramat ramah dan penuh kehangatan, seolah tidak memberikan jarak sedikit pun.
Tina yang sudah berada di puncak rasa malunya terutama karena tidak tahu-menahu kalau ada orang tua Andry yang sedang berkunjung ke desa hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Rasa malunya sudah tidak bisa ditoleransi lagi oleh akal sehatnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung meminta pamit dengan sopan. Ia menyalami tangan Ibu Yuna, ibu Andry, dan ayah Andry secara bergantian dengan gerakan yang serba terburu-buru.
"Kalau begitu... Ti... Tina pamit pulang dulu, Tante, Mama, Papa... Assalamu'alaikum," pamitnya gugup, lalu buru-buru membalikkan badan dan menuruni anak tangga dengan langkah seribu.
Saat berjalan setengah berlari menyusuri halaman menuju jalan setapak rumahnya, rasa penasaran membuat Tina refleks berbalik arah sejenak untuk melihat ke arah atas teras rumah Ibu Yuna. Dan benar saja, di atas sana, kedua orang tua Andry bersama Ibu Yuna masih berdiri di tepi pagar teras, memperhatikan langkah kakinya sembari tersenyum lebar penuh arti.
Melihat hal itu, wajah Tina yang tadinya sudah merah kini semakin matang. Ia langsung berbalik dan mempercepat langkah jalannya hingga setengah berlari. Rasa malu yang teramat sangat kini mendera batinnya. Ingatannya mendadak berputar pada kejadian beberapa menit yang lalu saat ia baru memasuki halaman.
*Ya Allah...* batin Tina menjerit malu. Ia teringat dengan jelas bahwa sebelum naik ke rumah tadi, ia sempat melakukan hal konyol dengan berbicara sendiri di tengah halaman kosong, bahkan sampai menepuk-nepuk kedua pipinya dengan heboh. Itu berarti, kelakuan aneh dan konyolnya tadi sudah ditonton secara langsung dari atas teras oleh calon mertuanya tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Tina rasanya ingin menyembunyikan wajahnya di balik bantal kamarnya sekarang juga.
Sementara itu, di teras rumah panggung Ibu Yuna, setelah tubuh Tina menghilang sepenuhnya di balik rimbunnya pepohonan desa, kedua orang tua Andry kembali duduk di kursi rotan mereka. Namun, atmosfer di teras itu kini dipenuhi oleh sisa-sisa tawa dan kepuasan yang mendalam.
Ibu Andry mengembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di dada sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah yang berpura-pura kesal, meski binar matanya tidak bisa berbohong.
"Dasar anak kurang ajar itu!" omel Ibu Andry tiba-tiba, merujuk pada putra sulungnya. "Dia sama sekali tidak bilang-bilang kalau ternyata sudah punya calon istri secantik dan seanggun itu di desa ini. Coba bayangkan, Yuna, kalau bukan karena Papa kemarin berinisiatif mewawancarai sekretaris pribadinya di kantor kota karena dia terlalu sering keluar dengan alasan dinas, kita mungkin tidak akan pernah tahu sampai mereka berdua benar-benar naik ke atas pelaminan! Hmph, anak itu benar-benar mau melangkahi orang tuanya."
Wanita paruh baya itu kemudian beralih menatap tajam namun jenaka ke arah adik iparnya. "Kamu juga, Yuna! Masa kamu sama sekali tidak memberikan kabar gembira ini kepada kami? Kalau kami tidak nekat datang berkunjung ke rumahmu hari ini, mungkin kami tidak akan pernah berkesempatan melihat wajah menantu kami yang sangat cantik dan lucu itu." Ingatan Ibu Andry kembali berputar, membayangkan bagaimana tingkah laku polos Tina di halaman rumah tadi yang menepuk pipinya sendiri karena gugup. Baginya, itu adalah pemandangan paling menyegarkan yang tidak pernah ia temukan pada gadis-gadis kota yang penuh kepalsuan.
Ibu Yuna yang duduk di hadapan kakaknya hanya bisa tersenyum simpul sembari menuangkan kembali teh hangat ke dalam cangkir. "Maaf, Kak. Bukannya aku sengaja mau merahasiakan hal besar ini dari kalian. Tapi, aku kan juga harus menghormati privasi mereka. Aku sedang menunggu jawaban pasti dan kemantapan hati dari Tina dulu sebelum memberikan laporan resmi kepada kalian di kota."
"Lho, bukannya kalian sudah melamarnya?"tanya Ibu Andry dengan dahi berkerut bingung.
Ibu Yuna menggelengkan kepala pelan. "Belum, Kak. Kami waktu itu datang ke rumah Pak Rahman hanya untuk silaturahmi sekaligus menyampaikan niat baik dan keseriusan Andry saja. Kami belum melamarnya secara resmi karena kami ingin memberikan waktu bagi Tina untuk berpikir tanpa ada paksaan."
Mendengar perdebatan kecil antara istri dan adiknya, Ayah Andry yang sejak tadi lebih banyak diam sembari menikmati pemandangan desa akhirnya ikut bersuara. Pria paruh baya yang memiliki pembawaan tegas namun berwibawa itu menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkirnya ke atas meja dengan ketukan pelan.
"Hmm... Andry itu, ternyata memang pintar dan jeli dalam mencari calon istri," ucap Ayah Andry dengan nada suara yang berat, menyiratkan rasa bangga dan persetujuan penuh atas pilihan putranya, setelah sejak tadi istrinya yang terus berkoar-koar penuh semangat. "Gadis itu... Tina, dia memiliki mata yang jujur dan hati yang tulus. Andry tidak salah memilih langkah untuk masa depannya."