NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Bayi dan Satu Kebenaran

Ada kabar yang membuat seseorang menangis karena bahagia.

Ada juga kabar yang membuat seseorang menangis karena takut.

Pagi itu, Nandin merasakan keduanya sekaligus.

Sejak subuh, perutnya terasa lebih berat dari biasanya. Pinggangnya pegal. Kakinya sedikit bengkak. Semalaman ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena bayi dalam kandungannya terus bergerak.

Atau setidaknya, itulah yang ia pikir.

Satu bayi.

Selama tujuh bulan terakhir, Nandin selalu yakin hanya ada satu anak yang tumbuh di dalam rahimnya.

Hari itu ia harus kontrol kandungan lagi.

Untung masih ada uang yang ditinggalkan ayahnya minggu lalu.

Kalau tidak, mungkin ia sudah menunda pemeriksaan lagi seperti bulan lalu.

Nandin mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda dan kerudung krem yang mulai pudar warnanya.

Sebelum berangkat, ia membuka dompet.

Uang yang tersisa tidak sampai satu juta rupiah.

Ia menatapnya cukup lama.

Lalu menarik napas pelan.

"Yang penting kita berdua sehat ya, Nak."

Tangannya mengusap perut yang besar.

Meski suaminya tidak pernah mengirim uang, meski hidup terasa semakin berat, setidaknya bayi dalam kandungannya harus tetap sehat.

Itu yang paling penting.

Klinik kandungan pagi itu cukup ramai.

Nandin duduk di antara beberapa ibu hamil lainnya.

Sebagian ditemani suami.

Ada yang sedang bercanda.

Ada yang dipijit pundaknya.

Ada yang bahkan disuapi camilan oleh suaminya.

Nandin hanya tersenyum kecil.

Lalu menundukkan kepala.

Kalau dipikir-pikir, sejak Wisnu pergi ke Korea, ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Kontrol sendiri.

Belanja sendiri.

Masak sendiri.

Menangis sendiri.

Bahkan menghadapi ketakutannya sendiri.

"Bu Nandin."

Namanya dipanggil.

Ia segera berdiri.

Dokter yang menangani kehamilannya kali ini adalah dokter wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang ramah.

"Silakan berbaring, Bu."

Nandin mengangguk.

Ia naik ke ranjang pemeriksaan.

Gel dingin dioleskan ke perutnya.

Lalu alat USG mulai bergerak.

Awalnya biasa saja.

Namun beberapa detik kemudian, dokter itu terlihat mengernyit.

Lalu tersenyum.

Kemudian mengernyit lagi.

Nandin langsung panik.

"Kenapa, Dok?"

Dokter malah tertawa kecil.

"Bu Nandin..."

"Iya, Dok?"

"Selama ini tidak pernah ada yang bilang kalau ibu hamil kembar?"

Nandin berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu tertawa canggung.

"Hamil kembar?"

"Iya."

Dokter menunjuk layar monitor.

"Nah ini bayi pertama."

Nandin menatap layar.

Jantungnya mulai berdebar.

Kemudian dokter menggeser alat sedikit.

"Dan ini bayi kedua."

Dunia seperti berhenti beberapa detik.

"Apa?"

Dokter tersenyum.

"Selamat ya, Bu. Bayinya dua."

Air mata langsung memenuhi mata Nandin.

Ia bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Bahagia?

Kaget?

Takut?

Semuanya bercampur menjadi satu.

"Dua?"

"Iya."

"Dua bayi?"

"Iya."

Nandin langsung menutup mulut.

Tangisnya pecah.

Entah kenapa.

Mungkin karena terlalu bahagia.

Atau mungkin karena terlalu takut.

Karena satu bayi saja ia sudah kesulitan.

Sekarang Tuhan memberinya dua sekaligus.

Dalam perjalanan pulang, Nandin terus memegang hasil USG.

Berkali-kali ia melihat gambar hitam putih itu.

Masih sulit dipercaya.

Dua bayi.

Dua anak.

Dua kehidupan kecil yang sedang tumbuh dalam tubuhnya.

Sesampainya di rumah, ia langsung mengambil ponsel.

Tanpa pikir panjang, ia mengirim foto hasil USG kepada Wisnu.

"Mas..."

Jarinya gemetar saat mengetik.

"Kita punya bayi kembar."

Pesan terkirim.

Nandin tersenyum sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia benar-benar bersemangat menunggu balasan suaminya.

Ia membayangkan Wisnu akan terkejut.

Mungkin bahagia.

Mungkin langsung menelepon.

Mungkin bertanya bagaimana kondisi mereka.

Satu jam berlalu.

Tidak ada balasan.

Dua jam.

Masih tidak ada.

Empat jam.

Tetap sepi.

Sampai malam tiba.

Pesan itu akhirnya dibaca.

Hanya dibaca.

Tidak dibalas.

Tidak ada ucapan selamat.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada apa-apa.

Nandin menatap layar ponselnya lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya air mata jatuh ke pipinya.

"Kenapa, Mas?"

bisiknya lirih.

"Apa aku dan anak-anak kita sudah nggak penting lagi?"

Dua hari kemudian.

Nandin pergi ke warung Bu Rini untuk membeli telur.

Warung kecil itu memang menjadi tempat berkumpul para ibu kompleks.

Biasanya mereka membahas harga cabai.

Harga minyak.

Atau gosip tetangga.

Namun hari itu, begitu Nandin datang, beberapa orang langsung saling melirik.

Aneh.

Seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Eh, Nandin."

Bu Rini tersenyum canggung.

"Sehat?"

"Alhamdulillah."

"Bayinya sehat?"

"Iya."

Nandin mengambil telur satu kilogram.

Namun sebelum ia sempat membayar, seorang ibu tiba-tiba bicara.

"Wisnu sering kirim uang ya sekarang?"

Nandin mengernyit.

"Maksudnya?"

"Ih, masa nggak tahu?"

"Tau apa?"

Beberapa ibu langsung saling pandang.

Bu Rini bahkan terlihat panik.

Seolah ingin menghentikan pembicaraan itu.

Namun terlambat.

"Soalnya Bu Sri sering cerita."

Deg.

Jantung Nandin langsung berdebar.

"Cerita apa?"

"Katanya Wisnu rajin kirim uang dari Korea."

Nandin membeku.

"Apa?"

"Iya."

"Bahkan bulan lalu katanya kirim hampir lima belas juta."

Tangannya langsung dingin.

Lima belas juta?

Mustahil.

Karena selama ini ia tidak pernah menerima apa pun.

"Beneran?"

"Iya."

"Bu Sri sampai beli kulkas baru."

"Iya, sama televisi baru."

"Nggak cuma itu. Katanya mau renovasi dapur."

Suara para ibu mulai terdengar jauh.

Seperti gema.

Karena kepala Nandin tiba-tiba berputar.

Lima belas juta.

Lima belas juta.

Lima belas juta.

Kalimat itu terus berulang di kepalanya.

Jika benar Wisnu mengirim uang sebanyak itu...

Kenapa ia membiarkan istrinya hidup pas-pasan?

Kenapa ia membiarkan anak-anaknya kekurangan?

Kenapa?

Sore itu Nandin langsung mendatangi rumah mertuanya.

Perut besarnya membuat langkahnya berat.

Namun kemarahan memberinya tenaga.

Begitu tiba, ia langsung melihat kulkas baru berdiri di ruang tamu.

Televisi besar menggantung di dinding.

Bahkan sofa baru juga sudah menggantikan yang lama.

Dadanya semakin sesak.

Karena semua itu dibeli saat dirinya kesulitan membeli susu kehamilan.

"Bu."

Ibu Sri yang sedang menonton televisi menoleh santai.

"Oh, Nandin."

"Ibu dapat uang dari Wisnu?"

Wajah Ibu Sri berubah sesaat.

Lalu kembali santai.

"Kenapa?"

"Jadi benar?"

"Ya memang."

Nandin mengepalkan tangan.

"Berapa?"

"Itu urusan saya."

"Bu!"

Nada suaranya meninggi.

Untuk pertama kalinya selama menjadi menantu.

"Ibu tahu nggak saya hampir nggak punya uang buat kontrol kandungan?"

Ibu Sri langsung berdiri.

"Lalu?"

Nandin tertegun.

"Lalu?"

"Iya lalu kenapa?"

"Itu anak Wisnu juga, Bu."

"Memangnya saya suruh kamu hamil?"

Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Begitu keras.

Sampai Nandin kehilangan kata-kata.

"Saya ibunya Wisnu."

Ibu Sri melipat tangan.

"Wajar kalau dia kirim uang ke saya."

"Tapi saya istrinya."

"Nggak usah lebay."

Air mata Nandin mulai jatuh.

"Tujuh bulan, Bu."

Suaranya bergetar.

"Tujuh bulan saya sendirian."

Ibu Sri tidak terlihat bersalah sedikit pun.

Malah mendengus.

"Wisnu kerja capek-capek di sana."

"Terus?"

"Kalau uangnya dipakai buat ibunya sendiri memang kenapa?"

Nandin benar-benar tidak mengerti.

Bagaimana mungkin seorang ibu bisa berkata seperti itu?

Bagaimana mungkin seorang nenek tega membiarkan cucunya sendiri kekurangan?

Malam itu Nandin pulang sambil menangis.

Sepanjang jalan.

Sampai matanya bengkak.

Sampai dadanya terasa sakit.

Begitu sampai rumah, ia langsung menghubungi Wisnu.

Sekali.

Tidak diangkat.

Dua kali.

Tidak diangkat.

Tiga kali.

Tetap tidak diangkat.

Akhirnya ia mengirim pesan panjang.

Untuk pertama kalinya sejak Wisnu pergi.

"Mas, aku cuma mau tahu satu hal."

"Benarkah selama ini kamu kirim uang ke Ibu?"

"Kalau benar, kenapa kamu nggak pernah kirim untuk aku dan anak-anak?"

"Aku nggak minta banyak."

"Aku cuma ingin tahu."

Pesan terkirim.

Dan malam itu...

Untuk pertama kalinya...

Nandin tidak lagi menangis karena rindu.

Ia menangis karena mulai menyadari kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan.

Bahwa mungkin...

Suaminya memang tidak pernah benar-benar pergi demi dirinya.

Dan kemungkinan yang lebih menyakitkan mulai muncul di benaknya.

Bagaimana jika sejak awal...

Ia dan anak-anaknya memang tidak pernah menjadi prioritas dalam hidup Wisnu?

Di kamar yang sunyi, Nandin mengusap perutnya perlahan.

Dua bayi kecil bergerak di dalam sana.

Seolah merasakan kegelisahan ibunya.

"Ibu janji..."

Air mata kembali jatuh.

"Apapun yang terjadi..."

"Ibu akan menjaga kalian."

Meskipun harus sendirian.

Meskipun harus berjuang tanpa ayah mereka.

Meskipun dunia terasa semakin tidak adil.

Nandin belum tahu.

Bahwa luka yang ia rasakan hari ini hanyalah awal.

Karena beberapa bulan ke depan, hidupnya akan berubah jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

1
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!