NovelToon NovelToon
Om Gurami, Nikah Yuk

Om Gurami, Nikah Yuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:55.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya Calysta

Gadis belia yang biasa di sapa Vio, jatuh hati pada seorang pengusaha sukses pemilik restoran didepan sekolah internasional tempat ia menimba ilmu.

Siapa sangka, pria sukses berstatus duda itu, pemilik tambak ikan gurami di kota mereka.

"Om gurami, nikah yuk!" tuturnya suatu sore.

Pria dingin itu hanya tertawa kecil, mendengar celotehan gadis belia berusia 17 tahun tersebut seraya berkata, "Kamu sekolah yang benar, nanti om biayain kuliah kamu."

Berhasilkah hubungan mereka berdua karena sang gadis tidak mengerti apa arti dari sebuah kata 'nikah' ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lupa sama yang namanya 'nikah'

Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa hari itu mereka telah mengakhiri pelajaran tepat pukul empat sore setelah melakukan sholat ashar bersama. Viona masih berjalan beriringan menuju gerbang sekolah bersama Meli, sementara Bunga yang awalnya menunggu Petra untuk pulang bersama dijemput oleh sopir keluarga.

"Lo pulang sama siapa, Vi?"

"Mang Nurdin kali. Gue nunggu di sini saja, deh. Lo dijemput siapa?"

Meli tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Viona, "Hmm ... gue sendirian mau balik ke kosan belakang sekolah. Gue jalan, ya? Lo hati-hati, kenapa enggak nebeng sama Om Juan?"

Viona terdiam, sejenak otaknya kembali berfikir bahwa Juan benar-benar menghindar darinya. "Ogh, mungkin Om gurami lagi sibuk, biarin deh!" Ia tersenyum tipis, menyiratkan satu kekecewaan.

Akan tetapi, ketika Viona dan Meli sudah berpisah. Tiba-tiba satu mobil jeep terparkir didepannya. Ia sedikit bergidik karena melihat sosok pria yang ribut dengan Juan beberapa waktu lalu. "Itu kan Om yang mukulin Om gurami, ngapain dia kesini?"

Seketika Viona berbalik badan seraya bertanya dalam hati, "Ogh, Om ini pacar baru Bu Alma? Tapi kenapa Om gurami dan Om Pepet jadi deket sama Bu Alma, apakah mereka saling kenal ...?" Ia kelimpungan sendiri melihat kejadian yang tidak biasa.

"Baru kemaren mereka saling adu kekuatan, sekarang udah baikan aja. Emang orang dewasa ini kayak anak-anak, baru berantem terus baikkan. Aku pikir memperebutkan aku, ternyata Bu Alma ..." Lagi dan lagi Viona menggerutu kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya merasa cemburu.

Wajah cantik yang cemberut sambil melirik kearah Juan itu hanya dapat memberikan pemandangan yang lucu bagi Juan dan Petra. Bagaimana tidak, gadis belia yang tengah mengalami masa pubertas tersebut, membuat duda tanpa anak itu mendekati Viona.

"Kamu belum pulang, Meli mana?"

Viona membuang wajahnya, bibirnya masih maju lima centimeter membuat Petra langsung tertawa cekikikan melihat tingkah laku Viona, setelah melambaikan tangan kepada Alma yang sudah memasuki mobil milik Deny.

Akan demikian, Juan langsung menghulurkan tangannya dihadapan Viona, "Kita pulang. Mobil saya parkir didepan, yuk."

"Enggak!" Viona menjawab dengan angkuhnya.

Gegas Petra menghampiri anak didiknya itu agar tidak terlihat, bahwa dirinya membela Juan, "Kamu mau pulang sama saya? Tapi saya bawa motor, makanya Bunga dijemput sopir keluarganya."

Tampak wajah cantik itu semakin kebingungan sambil berpikir sejenak, "Kalau pakai motor, rok aku nanti terbang-terbang. Kalau sama Om gurami dia masih jahat. Hmm, gimana ya?"

Juan mendekatkan wajahnya, agar dapat menatap iris mata indah milik gadis belia itu seraya berkata pelan, "Kamu mau pulang sama saya atau Petra? Karena saya mau pulang ke rumah, Mama dan Papa baru pulang dari Jakarta."

Viona menerima huluran tangan Juan karena merasa tidak ada pilihan. Sementara para sahabatnya sudah pulang lebih dulu. "Ighs ... kalau enggak terpaksa, mana mau aku pulang sama Om gurami jelek ini ..."

Petra tersenyum tipis, melirik kearah Juan, "Oke Bro, nanti malam kita ngopi ditempat biasa, ya?"

Juan mengacungkan jempolnya, kemudian berlalu meninggalkan halaman sekolah sambil menggandeng jari telunjuk Viona.

Wajah cantik itu masih menekuk murung, ia tidak mau berkata-kata apalagi mengajak Juan bicara lebih dulu. Akan tetapi, Viona masih penasaran akan perubahan sikap pria dewasa itu padanya. Membuat dirinya terpaksa bertanya dengan raut wajah semakin jutek.

"Om gurami kenapa, sih? Dari tadi pagi aku ditinggal begitu saja, terus hari ini tidak masuk kelas, ditambah pulang-pulang aku lihat Om deket-deket sama Bu Alma! Om gurami menghindar dari aku, hmm?"

Ingin rasanya Juan tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Viona, namun ia hanya tersenyum tipis menoleh kiri dan kanan untuk menyebrang jalan bersama-sama.

"Enggak apa-apa, kebetulan jadwal saya bentrok dengan kampus, jadi saya minta dosen pengganti. Makanya mobil saya parkir didepan restoran karena gerbang sudah tutup."

"Terus Bu Alma?"

Seketika langkah Juan terhenti, membuat Viona juga menghentikan langkahnya ketika sudah tiba didepan restoran. "Alma kenapa, hmm?"

"I-i-iya Bu Alma kenapa deket-deket lagi sama Om, bu-bu-bukannya kalian sudah putus? Terus Om tadi ngapain jemput Bu Alma ke kantornya, kenapa Om gurami kayaknya baik-baik sama mereka?"

Juan menghela nafas panjang, wajah tampannya hanya tersenyum tipis, "Jangan berpikir terlalu keras. Fokus pada tujuan kamu, jangan pernah berpikir aneh-aneh dengan kedekatan orang lain."

Viona terdiam. Mata indah itu tampak tengah membendung air matanya, "Tapi Om gurami berubah. Enggak seperti kemaren! Terus gaji aku mana? Bukannya kemaren malam orang terima gaji?" Ia bersungut mencari alibi agar Juan tetap salah.

"Viona, coba kamu cek m-banking kamu? Saya sudah mentransfer uang gaji kamu, bahkan saya lebihkan satu juta buat jajan kamu. Tidak ada yang berubah, Vio. Hanya saja, kamu harus fokus pada kegiatan sekolah dan tujuan kita saat ini pada kelas kamu, harus memenangkan lomba. Kamu mengerti?"

Entah mengapa, wajah yang awalnya cemberut seketika berubah berseri-seri karena mendengar bahwa ia sudah menerima gaji pertamanya, "Serius? Kita makan bakso di tempat Karenina, ya? Aku yang traktir Om gurami, oke?"

"Hmm ..."

Keduanya berlalu meninggalkan restoran menuju warung bakso milik keluarga adik kelas Viona yang turut pindah ke kelas kesenian bersama sahabatnya, Carson.

Tidak banyak berubah, Viona lebih banyak bertanya tentang hubungan Juan dengan beberapa wanita yang tampak dekat dengan sang pujaan hati.

"Om pacaran sama Bu Alma?"

"Tidak!"

"Om gurami pacaran sama Kak Feby?"

"Tidak, dia hanya mahasiswi dan pekerja yang membantu saya di tambak!"

"Terus?"

Juan mengalihkan pandangannya kearah Viona, sambil tersenyum lebar, "Terus apa Vi? Saya tidak memiliki hubungan apa-apa sama wanita yang kamu sebutkan tadi."

Tangan kecil itu justru menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal seraya menjawab, "Hmm, itu ... eee ... terus kok deket banget. Sampe-sampe Om lupain aku!"

Terdengar suara helaan nafas berat dari bibir Juan, sembari tertawa kecil dan masih fokus melihat badan jalan, "Saya tidak lupa, tapi kita di sekolah harus menjaga. Semua orang juga tahu kalau Viona Anandita kekasih Om gurami. Ogh, Viona Anandita calon istri Juan Felix anak owner pemilik sekolah! Semua orang, Viona! Terus dimana yang menjadi masalahnya, hmm?"

Viona tertawa cekikikan, ia merasa geli karena ucapan Juan yang semakin membuat hatinya berbunga-bunga. "Agh ... Om gurami jelek! Kita makannya dirumah saja, ya? Nanti Bu Inggit marah-marah sama aku kalau pulang sekolah telat."

"Iya, bawel!"

Mobil melaju kencang menuju warung bakso yang dimaksud Viona. Benar saja, setibanya di sana mereka hanya bisa menunggu diluar dan memesan melalui jalur instan lewat Karenina yang tampak sibuk mondar-mandir seperti setrikaan.

Setelah membungkus bakso sebanyak pesanan Viona, gadis belia itu enggan menerima uang dari Viona.

"Tidak usah Teh, ini untuk Teteh saja," tolaknya sambil tersenyum senang.

Cepat Viona menggeleng, "Enggak ... terima uang ini! Keluarga kamu jualan lho, Nin. Saya baru gajian, jadi kamu ambil sisanya untuk jajan besok! Nuhun nyak, Nin!" Ia berlalu begitu saja meninggalkan Karenina yang tampak tersenyum senang melihat tingkah kakak kelasnya tersebut.

Karenina bergumam dalam hati, "Dasar Teh Vio aneh, pesan lima bayarnya seratus rebu ..."

Tidak lebih dari dua puluh menit, mobil Juan sudah terparkir dikediaman orangtuanya, setelah menghubungi sang mama sedari tadi.

Viona terdiam, ia tampak kebingungan karena melirik kearah Juan membawanya kerumah pria yang masih tampak kaku disampingnya. "Om, kok kita kesini?"

"Ya, karena Ibu dan Ayah kamu ada di sini. Mereka baru pulang dari Jakarta jadi nanti saya anterin kamu pulang!"

Bibir Viona mengerucut dua sentimeter. Ia mengambil plastik bakso di jok belakang kemudian tanpa sengaja keduanya saling bertatapan.

Tangan kekar Juan berhenti di tas kerjanya, begitu juga Viona. Keduanya tampak sulit untuk berbicara. Mereka sama-sama salah tingkah dan berusaha untuk menutupi rasa gugupnya, namun tampak kebingungan apa yang akan dilakukan.

"Om!" Pekik Viona, membuat Juan menghentikan aktivitasnya yang tampak gugup dihadapan sang kekasih dan hanya mendehem.

"Hmm ..."

"Awas tangan, Om! Panas ini!" Sesalnya merasa Juan tidak mau membawakan plastik bakso yang ia beli.

Seketika Juan tersadar, bahwa tangan kekar itu masih berada dipunggung tangan mulus Viona. "Ma-ma-maaf!"

Lagi-lagi keduanya tersipu-sipu malu dan langsung keluar dari mobil sambil menghela nafas dalam-dalam.

"Hufh ... kok jadi deg-degan ya? Hmm, Om gurami kayaknya cinta deh sama aku. Aku minta nikah agh ... sama ibu dan ayah malam ini. Biar enggak dosa lagi kalau pegang-pegang tangan ..."

Sementara Juan tampak kelagapan dan gemetaran, karena menyentuh kulit gadis belia itu membuat jantung semakin berdegup kencang, "Kok beda, ya ... padahal cuma nyentuh punggung tangan doang, tapi ser-seran gitu ..." Ia tertawa kecil seraya menjinjit sedikit mencari keberadaan Viona.

"Vi, Viona!" Juan memutari mobil sportnya, namun tidak menemukan keberadaan gadis itu di sana. "Kemana anak itu, apakah dia sudah masuk kedalam rumah? Kok, enggak kelihatan ..."

Gegas Juan melenggang menuju pintu utama yang terbuka, tampak Viona tengah memeluk erat kedua orangtuanya.

"Aku capek! Aku enggak mau kerja lagi sama Om gurami. Aku pen nikah ya, Bu? Om gurami nanti balik lagi sama cewek lamanya. Aku takut Bu!"

Mendengar permintaan sang anak gadisnya, membuat kepala Danu yang sejak tadi merasa pusing. Kini lebih pusing karena ulah sang anak manja mereka.

Begitu juga Inggit yang tampak kebingungan bahkan malu dihadapan Felix karena penuturan Viona dihadapan Juan juga Mutia.

Wajah lelah Inggit kembali tampak garang, kemudian berkata dengan nada tegas, "Kenapa otak kamu kumat lagi sih, Vi! Ibu pikir kemaren-kemaren sudah lupa yang namanya nikah, ini inget lagi!"

Begitu pula dengan Danu, "Jangan sekarang ya geulis, tamat dulu sekolahnya. Kalau kamu nikah sekarang, Bu Benet akan memberhentikan kamu dari Sevenfold, terus Ayah sama Papa Felix dimusuhi. Kamu mau begitu?"

Lagi-lagi mata Danu mengarah pada Juan yang tampak menundukkan wajahnya agar tidak menjadi bulan-bulanan orangtuanya karena ucapan Viona.

"Dasar abege labil, kumat lagi ... tadi udah dijelasin, malah ngulang lagi. Emang benar-benar minta kawin ni anak ..." Sesal Juan menggerutu dalam hati, karena melirik kearah Mutia yang menatap tajam kearahnya.

1
Eva Sinambela
yahhhh...lagi seru2 nya baca, malahan bersambung 😂 author semangat ya
Pemenang YAWW 9 😴🤕: update malam yah kakak ... terimakasih sudah mampir ... ❤️😘
total 1 replies
Eva Sinambela
Juan plin plan.. gak suka lht cowok gk tegas bgtu
Eva Sinambela
keren...aku suka ceritanya
Eva Sinambela
Juan egois...masih cinta sama Alma,ngasi harapan sama Feby dan skrg jadian sama viona 😩
Huri Fah
lugu, polos & bodoh gak beda jauh😁 bisa 7keliling nanggepin si vio😂
Pemenang YAWW 9 😴🤕: amin, terimakasih ❤️❤️
total 3 replies
Tari Gan
busuk banget tuh si Alvin,lebih pantas di bilang penjahat kelamin deh kek nya ketimbang juara basket.
Tari Gan
iseng banget kamu vioo, emang enak Juan minum orange jus rasa air kobokan 🤣🤣
Tari Gan
Bu Inggit neken vio terus ikhh
Tari Gan
Bu Inggit jgn kasar2 sama neng vio
Tari Gan: polos nya warrr biyasahh kamu vioo
total 1 replies
Yantie El Ez Sanie
bagus dan aku suka sifat vio yang polos itu bikin gemesss...
王贝瑞: Mampir juga kak ke Biru si Ketos Bad Boy 😄
total 2 replies
Pemenang YAWW 9 😴🤕
lebih menarik
Tari Gan
pokok nya butuh kesabaran extra buat ngadepin bocah modelan si vio
Tari Gan
aduh vio telolet nya kebangetan dehh 😂
Tari Gan
jaman sekarang kentut aja di sangka bab
Tari Gan
yg sabar vio
Tari Gan
orang lain yg melakukan si om gurami yg harus tanggung jawab
Tari Gan
si meli mah teman lucknutt deh
Tari Gan
si Alma emang guru keterlaluan menurut ku
Tari Gan
semangat up nya kak 🌹🌹
Tari Gan
semangat up nya kak 🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!