Ayah meninggal ketika aku berusia 20 tahun, semua aset habis tak tersisa satu pun. Aku mulai menjalan kan usaha ku, Cafe yang aku bangun sejak aku masih SMA itu mulai ku rintis kembali. Sempat putus asa karena kehabisan modal, tapi semua bisa aku lewati.
Namun, semua itu belum lah berakhir. Cafe beserta bangunan lainnya akan di robohkan. Ada perusahaan ternama yang membeli kawasan itu, mereka akan membangun sebuah Hotel mewah. Aku berada di ambang kebimbangan, harus bagaimana menyelesaikan permasalahan ini? Di tengah kebimbangan ku itu, aku mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan hebat yang mengharuskan aku untuk di rawat lebih lama, di pantau oleh para dokter, hanya cedera ringan yang aku alami. Tapi, orang tua yang menabrak ku justru malah memberiku sebuah penawaran. Anak nya di paksa untuk menikah dengan ku, dengan dalih pertanggung jawaban!!!
Bagaimana kisah ku selengkap nya, yuk tetap pantengin novel ini agar tidak ketinggalan ceritanya..
By. Mrs Ribet -,-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Ribet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. HARI PERTAMA
Bab 34. Hari Pertama
" Gue harus gimana Dav, kalo setiap hari ketemu mana bisa!! " Arman mengacak rambutnya frustasi, sungguh ini adalah hal bodoh yang pernah ia lakukan.
" Ya gimana, nikmati lah.." Davin acuh tak acuh, lelaki itu tengah memeriksa beberapa lembar kertas yang akan di bawa meeting nanti.
" Enak lu ngomong gitu, gak ngerasain sih?? Coba nih ya, posisi gue elu. Gak bakal tuh bisa ngomong kaya gitu!! "
Davin menoleh sekilas, kenapa sih abang nya itu selalu punya permasalahan yang sama. Perasaan gak ada kelar-kelar nya tentang patah hati. Dari Arina sampai Kirana, dari Paramitha sampai Zilfana, di pikir-pikir tuh laki banyak juga mantan ceweknya. Tapi gak pernah sadar diri, heran.
" Kalau gak ngerasain pahit bukan hidup namanya, elu sukses dalam karir. Bisa beli ini beli itu tapi be go masalah cinta. Adil kan sang pencipta?? "
" Adil sih adil tapi gak gini juga, Masa iya nama dari A-Z harus gue jajal. Kan gak lucu?? "
" Yang penting gak sampai bolong, cuman di deketin terus pacaran gak lama di tinggalin.."
" An jir lu, Tapi Dav sumpah yang ini tuh kenapa sih belum juga jalan tapi susah banget lupa nya. Kaya udah pacaran lama aja, heran. "
" Bukan susah itu mah, tapi elu nya yang penasaran bang. Belum di jajal jadinya begitu!! Tapi nih ya, elu pernah bilang kan tuh cewek sering banget beli sarapan di depan kompleks sana. Masa iya gak pernah ketemu calon suaminya, pergi sendiri apa gimana?? "
" Ini yang bikin bingung, sering banget di buntutin waktu jam pulang ngikutin diem-diem sampe depan Rumah, tapi gak pernah lihat ada cowok lah atau apa. Tau-tau malah ketemu calon nya!! "
" Sembunyi-sembunyi kah, atau bagaimana kalo gak gitu kan pulang kantor pasti di jemput?? "
" Tau deh, bingung. " Arman mengacak rambutnya untuk kesekian kalinya, lelaki itu benar-benar bingung dengan perasaanya. Biasa nya kalau di bohongi atau hanya di manfaatkan dia akan dengan gampang nya lupa. Bahkan bisa dengan mudah cari yang baru, tapi yang sekarang entah mengapa rasa nya begitu sulit. Saling kenal satu sama lain saja tidak, tapi rasanya kenapa begitu sakit?? Aneh sekali.
" Hari pertama kerja kan sekarang?? "
Arman mengangguk dengan lesu, andai dia belum tau mungkin dia akan kegirangan bisa melihat pujaan hati nya setiap hari.
" Nikmati, syukuri, sebelum jalur kuning melengkung apapun masih bisa di tikung. Semangat dong!! "
Kadang-kadang saudara juga bisa menyesatkan, bukan nya menyadarkan malah semakin menjerumuskan. Tapi, benar juga sih kan belum tentu sampai ke pelaminan. Ada sedikit cahaya yang bisa Arman dapatkan, setidaknya ia bisa menyalipnya lewat sepertiga malam.
Suasa Kantor lengang, tidak seperti biasanya. Deana Putri atau yang lebih akrab di panggil Dea itu berjalan dengan tergesa. Ini adalah hari pertama jabatan barunya, sungguh dia tidak menyangka karirnya akan sebagus ini.
" Pagi Dea!! " Itu adalah Intan, rekan kerjanya di balik meja resepsionis.
" Hai Intan, inu tumben masih sepi banget?? " Dea berbisik, sungguh keadaan seperti sekarang ini sangat lah aneh. Biasa nya kantor akan ramai jika waktu masih pagi seperti ini. Apakah dia datang terlalu pagi atau malah kesiangan??
" Iya lagi ada sedikit permasalahan.." Intan kembali berbisik, jangan sampai ada yang tau jika mereka tengah bergosip.
" Kenapa, ada yang adu jotos lagi kaya waktu itu?? "
Beberapa bulan yang lalu, ada seorang perempuan datang ke Kantor. Dia berteriak mencari yang nama nya Mirna, Satpam sudah memberi tahu jika Perusahaan ini tidak ada karyawan yang nama nya Mirna. Tapi wanita itu tidak lah percaya. Entah kesialan dari mana, Mbak Marni salah satu staf terbaik di Perusahaan itu tengah berjalan sembari membawa berkas yang akan di berikan pada Davin. Wanita itu lantas berteriak kembali, tampa babibu dia langsung berlari kemudian menonjok wajah Mirna, alhasil darah segar keluar dari hidung Mirna.
Setelah kejadian itu entah apa lagi yang terjadi, Mirna di bawa ke Rumah Sakit dan wanita itu diseret paksa oleh sekuriti.
" Pak Arman gak pulang, pagi-pagi pak Davin datang marah-marah. Kata nya sih kaya gitu, tapi kurang tau juga. "
" Buset, bos gue itu mah.."
" Lah iya, sekarang kan elu sekertaris nya ya. Gue lupa. Baik-baik deh punya bos kaya pak Arman tekanan batin terus!! "
" Emang nya kenapa sih, galak banget apa gimana?? "
" Terlalu ganteng, bikin ke sem-sem.. " Intan cekikikan setelah mengatakan nya, berbeda dengan Dea gadis itu lantas terdiam memikir kan nasib nya.
Jangan oleng deh, ni hati kan murahan banget kalo liat yang bening-bening tiap hari batin Dea sembari menggigit kukunya.
" Gue naik dulu deh, takut ngamuk kalo gue telat.." Dea lantas pergi, dia berlari kecil untuk segera masuk kedalam lift. Kalau nunggu bisa lama, jam segini lagi di pake soalnya.
Arman berjalan dengan lesu, kenapa coba setiap melakukan sesuatu tidak di pikir dulu. Di cari tau dulu, kalau begini kan jadinya mensejahterakan calon pengantin. Ia mereka sejahtera sedangkan Arman malah merana, kan tidak adil.
Selain patah hati, kerjaan juga sedang numpuk-numpuk nya. Gara-gara punya sekertaris, kerjaan nya hamil mulu pada akhirnya Arman yang sering kali mengerjakan nya. Lama-lama bikin stres juga ternyata. Untungnya sekarang sudah resign, sudah ada sekertaris baru dan Arman bersyukur akan hal itu, meski rasanya tidak akan mampu.
" Selamat pagi pak.. " Arman mengangkat wajahnya, bukannya semangat tapi malah sakit yang di dapat. Lelaki itu lantas masuk tanpa menghiraukan sekertaris barunya.
Sedangkan Dea, dia tampak bingung dengan sikap Arman. Dia sudah mengikuti apa yang di katan oleh asisten pribadi Pak Davin tapi kenapa tidak mendapat sambutan, justru wajahnya malah terlihat masam. Hari pertama kerja masa gini, syulit sekali ternyata Batin Dea menjerit..
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Maaf baru mampir hehe
Salam novel Fur Therese, yuk!