Shanum Anggraini, gadis 28 tahun berparas cantik, baik hati dan rajin menabung, sehingga dicintai keluarga dan teman serta orang-orang sekitarnya.
Zaenab, ibu Shanum ingin putrinya segera menikah, namun saat ini putrinya ada saja alasan untuk menunda pernikahan hingga adiknya Fajar lulus perguruan tinggi.
Selain karena alesan adik, Shanum juga memiliki alasan lain, yaitu belum memiliki tambatan hati yang mampu menggetarkan hatinya. Padahal bujangan satu RT sudah berusaha mendekatinya, namun tetap saja dirinya memilih hanya untuk berteman saja.
Hingga suatu ketika seseorang yang pernah ada dalam masalalunya muncul kembali ke permukaan perjalanan hidupnya.
Keduanya dipertemukan dengan rasa yang masih sama namun situasinya sudah berbeda. Apakah yang akan terjadi diantara mereka berdua, berusaha merajut cinta, atau pasrah dengan takdir yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Idaman
Shanum yang mendengar suara pak Yudi langsung menutup panggilan telepon dari Arshaka. Ia yakin lelaki itu pasti marah, gampang lah dipikir nanti saja setelah bicara dengan atasannya.
"Eh iya kenapa, Pak?"
"Ini tadi saya beli jajanan ini kebanyakan." Pak Yudi memberikan risoles mayo, masih terbungkus rapi di kotak kue.
"Ah iya, makasih ya Pak."
"Iya sama-sama, dimakan yah, Shanum." Yudi tersenyum lalu bergegas pergi.
"Dimakan ya Shanum, buta kali yah, di sini ada aku woy, masa nggak nawarin aku gitu loh yang udah beberapa hari ini direpotkan sama dia," ucap Tasya dengan mimik wajah sebalnya. Bagai hantu yang tak terlihat, pak Yudi bahkan tak melirik ke arahnya sama sekali.
Shanum terkekeh, "Jangan gitu, nih aku kasih buat kamu semua." Shanum menyodorkan bungkus risolesnya pada Tasya.
"Nggak mau, sebel sama orangnya. Awas aja nanti kalau nyuruh aku ngerjain tugas keluar lagi."
"Ya kan cuma kamu yang bisa ngerjain, kerjaan itu juga masih berkaitan sama apa yang kamu kerjain."
"Ah pokoknya sebel. Cinta ditolak, sahabat gebetan yang dioyak-oyak."
"Sudah, eh nih, pangeran kuda putih nelfon lagi, pasti mau marah." Shanum tertawa kecil, ia segera menerima panggilan telfon masuk dari Arshaka.
Benar saja lelaki itu langsung heboh dan menanyakan siapa yang tadi bicara dengan kekasihnya. Shanum jujur bercerita jika tadi adalah pak Yudi yang membagi kue risoles mayo. Shanum cukup suka dengan jajanan itu.
Respon Arshaka langsung berapi-api, menyuruh Shanum jangan memakannya, biarlah dimakan Tasya saja. Jadi nanti kalau di pelet, Tasya yang akan kepelet. Shanum hanya geleng kepala karena Arshaka terlalu berlebihan. Tapi ia mengiyakan saja permintaan lelaki itu dari pada urusannya nanti semakin panjang.
Sebelum mengakhiri panggilan telfonnya, Arshaka kembali mengingatkan Shanum agar jangan makan risoles itu. Setelah kekasihnya mengiyakan barulah Arshaka mengakhiri panggilan telfonnya.
"Kenapa dia? denger yah tadi suara pak Yudi?" tanya Tasya.
"Iya, seperti biasa, ini nggak boleh di makan, katanya biar di makan Tasya aja."
"Emangnya kenapa?"
"Takut ada peletnya," ucap Shanum tergelak. 2023 masih saja membahas pelet. Kalau memang benar adanya, kenapa tukang pelet tidak mencari istri atau suami setara artis korea saja yang bening-bening dan kaya raya.
"Terus kalau ada peletnya juga nanti biar aku yang kena gitu? kemarin duda depan rumah, sekarang bos divisi. Nanti yang ada malah setan mereka yang berantem." Tasya tertawa juga, andaikan memang benar adanya, dia juga berminat untuk menaklukan artis Bollywood yang tampan rupawan.
"Iya biasalah dia tuh."
"Tinggal lama di luar negeri, masih aja kepikiran begituan." Tasya geleng-geleng kepala juga.
"Nih mau nggak?" Shanum kembali menyodorkan risoles mayo yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan.
"NGGAK."
"Malah ngegas."
Tasya juga suka dengan risoles mayo, tapi sayangnya pak Yudi tidak menawarinya. Ah pokoknya bos divisinya begitu menyebalkan.
"Udah yuk, balik." Shanum beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas menuju ruang kerja.
☘️☘️☘️
"Hati-hati yang masih single, yang udah jendes juga. Jangan sembarang nyari lelaki untuk dijadikan suami, nanti bukannya di jadikan Ratu, justru jadi babu." Novita mulai berceloteh dengan teman-teman yang lain sambil menikmati kopi dan cemilan, menunggu sisa waktu habis jam makan siang. Ia tengah memegang undangan pernikahan dari rekan kerja di divisi lain.
"Siapa yang jadi babu?" Tasya langsung bertanya. Ia baru saja masuk, sudah mendengar kata babu yang terlontar dari mulut Novita.
"Istri, kalau dapat suami yang salah, nanti bisa jadi babu, cuma di suruh ini itu tanpa dihargai," ucap Novita. Beberapa tahun pengalaman berumahtangga hingga akhirnya gagal. Perbincangannya dengan teman-teman seputar pernikahan membuat dirinya jadi mengingat kembali masa pahit saat itu.
"Selain itu jadi tulang punggung juga di zaman sekarang ini," celetuk Bu Dewi meluapkan isi hati.
"Makanya kalian yang masih sendiri jangan sampai salah pilih pasangan. Bukan pernikahannya yang salah, tapi cari pasangannya yang kurang tepat. Kalau dapat yang baik, kamu ibaratnya akan dijadikan ratu diajak keliling surga. Tapi sebaliknya kalau dapat yang kaleng-kaleng, ya sebaliknya, hanya akan jadi babu, tulang punggung dan sebagainya." Novita begitu gencar mewanti-wanti teman-temannya.
"Okelah suhu," ucap Tasya mengacungkan jempol. Shanum hanya mendengarkan sekilas karena sedang berbalas pesan dengan Arshaka.
Shanum heran dengan Arshaka, sedang bekerja tapi masih saja setiap saat mengirim pesan untuknya, jika tidak dibalas akan berderet emoticon love dan lain sebagainya.
"Sama aja, laki-laki juga kalau dapat perempuan yang nggak tepat, pasti ujungnya bubar juga. Susah zaman sekarang cari perempuan yang nurut, cantik, baik. Apalagi model kalian-kalian ini." Reza tak mau kalah berpendapat. Enak saja selalu lelaki yang disalahkan.
"Laki-laki kalau mau dapat perempuan yang nurut, cukupi dia. Kalau mau dapat yang cantik, modalin. Kalau mau dapat yang baik, contohin dia, karena pada dasarnya baik buruk perempuan itu tergantung laki-lakinya." Celetuk Yudi yang saat itu tengah mengambil berkas dari meja Niken. Reza melongo karena ucapannya justru disanggah oleh sesama lelaki.
"Wah amazing, haduh pak Yud memang lelaki idaman." Tasya yang mendengar langsung mengucap demikian, padahal sebelumnya sedang sebal dengan lelaki itu.
"Nah benar itu." Semuanya jadi membenarkan, terkhusus para perempuan. Reza merasa dikeroyok. Ia langsung terdiam, mengalihkan dengan bermain ponsel.
"Andai saja pak Yud naksir inyong, pasti bakal di terima, idaman pokoke," ucap Ratih langsung menutup mulutnya.
"Nggak idaman ah, buktinya ditolak." Pak Yudi lalu berlalu meninggalkan obrolan.
Mendengar ucapan pak Yudi, Shanum melirik sekilas, lirikan keduanya bertemu. Ia jadi sebal, kenapa malah diungkit lagi. Katanya profesional.
☘️ Bersambung ☘️