Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Yang Lemah
Rana memutar kembali tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Rangga lalu melingkarkan lengannya di leher suaminya itu,
“Syukurlah kalau Nia sudah sehat. Dan … Mau makan di mana kita?” tanyanya dengan manja.
“Terserahmu. Mau di kaki lima pun kali ini aku akan menurutinya.”
Kedua mata Rana turut tersenyum saat bibirnya gtersenyum. Namun sorot mata itu terlihat membesar saat menangkap bercak merah di Leher Rangga,
“Apa ini, Mas?” tanyanya.
Jantung Rangga seketika berdebar, ia tahu apa yang dilihat Rana, dan ia pun memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat atas tanda yang Rania tinggalkan itu padanya,
"Oh bercak merah di sini kan?" Rangga menunjuk ke bercak di lehernya sendiri.
"Iya, kenapa?" tanya Rana lagi, Rangga pun menyeringai lebar untuk menutupi kepanikannya,
"Ck, semalam aku terlalu lama di balkon jadi tanpa sadar ada nyamuk yang menghisap darahku sampai nyamuk itu tidak kuat terbang lagi," kekeh Rangga.
"Apa karena kamu sedang menghindari Rania saat itu, Mas?"
"Umm, bisa dibilang begitu. Aku baru berani masuk setelah memastikan Rania tertidur pulas."
Rangga merutuki dirinya sendiri karena telah berbohong pada Rana, karena kenyataanya semalam ia tidur dengan Rania yang berada di dalam pelukannya.
Dan pagi harinya mereka ...
'Sial, Mama sedang menungguku di ruang kerjaku!' batin Rangga, lalu meremas kedua bahu Rana,
"Sayang, bukankah kamu mau menyiapkan sarapan?"
"Iya, kamu mau aku buatkan sarapan apa, Mas?"
"Apa saja. Kamu tahu sendiri kan aku selalu menghabiskan apapun yang kamu masak untukku."
"Ok, kalau begitu aku ke dapur dulu ya."
Rana mengecup pipi Rangga sebelum melangkah menjauh, dan Rangga menatap sendu punggung istrinya itu.
"Kenapa kamu melakukan itu pada Nia?" tanya mama Tian sesaat setelah Rangga memasuki ruang kerjanya.
"Aku tidak menyadarinya, Ma. Awalnya aku kira yang sedang berada di atasku itu Rana, karena aku selalu tidur dengan Rana," jawab Rangga.
"Oooh, jadi kamu menuduh Nia yang memancingmu lebih dulu?"
"Bukan menuduh, Ma. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Apa Nia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, Ma?"
"Nia tidak tahu kalau Mama sudah bisa menebak apa yang telah terjadi pada kalian saat Mama masuk ke kamar itu dan mendapatkan Nia tidur tanpa sehelai benang pun!" geram mama Tian, ia menghela napas berat sebelum melanjutkan,
"Astaga, Rangga! Kenapa kamu bisa kehilangan kendali seperti itu? Apa yang akan kita katakan pada Rana? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Suasana kamar masih sedikit redup, Ma. Siluet Rania sama persis dengan Rana, dan terlebih lagi, Nia sudah lebih dulu ... " Rangga kembali mengumpat kasar saat tidak dapat melanjutkan ceritanya.
Tidak peduli lagi kalau di depannya saat ini adalah ibu mertuanya, umpatan kasar tetap saja mengalir keluar dari mulutnya, saat ia merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya itu.
"Kita semua tahu kondisi Nia seperti apa, dan mungkin saja Nia melakukan itu karena saat ini yang Nia tahu kamulah suaminya. Seharusnya kamu yang bisa kendalikan dirimu dan mengelak lagi seperti biasanya, karena di antara kalian berdua kamu yang tahu kondisi sebenarnya, dan bukannya malah mengambil kesempatan untuk melakukannya dengan Nia!"
"Harus berapa kali aku jelaskan kalau saat itu aku mengira sedang bersama Rana, Ma? Tidurku terjaga karena perbuatan Nia, otakku belum bekerja sepenuhnya saat kami melakukan itu! Aku baru menyadarinya setelahnya."
"Sekarang Mama tanya, kalau kamu memberikan alasan itu pada Rana, menurutmu apakah Rana akan percaya begitu saja? Tidak Rangga, karena alibimu itu terlalu lemah! Karena meski pun mereka kembar identik tubuh dan rambut mereka juga sama, tapi suara mereka sedikit berbeda. Jangan beralasan kalau saat itu Nia tiba-tiba menjadi bisu! Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri saja!"
"Itu makanya, aku berniat menyembunyikan ini dari Rana, ma. Aku tidak tega memberitahunya, dan sangat tidak ingin menyakitinya. Selama ini, Rana sudah cukup menderita karena tidak bisa mengakui suaminya sendiri," desah Rangga.
"Oh jadi sekarang kamu menyalahkan Mama?"
"Bukan menyalahkan, Ma. Tapi kita juga harus memahami perasaan Rana. Aku tidak mau menghancurkan hidupnya."
"Lalu mau sampai kapan kamu menyembunyikannya? Bagaimana kalau Nia hamil?"
"Selamanya, aku akan menutup aib ini selamanya. Aku sangat mencintai Rana, dan aku tidak mau kehilangannya hanya karena satu kesalahan ini. Dan mengenai kehamilan Nia, Mama tidak perlu khawatir, karena ... "
Rangga ragu-ragu saat akan melanjutkan, dan mama Tian tidak sabar ingin mendengarnya secara keseluruhan rencana dari menantunya itu,
"Karena apa? Cepat katakan!"
"Karena aku sudah memasukkan pil kontrasepsi ke dalam teh hangat Nia tadi, Ma," jawab Rangga yang langsung mendapatkan tamparan keras di pipinya,
"Kurang ajar kamu! Kamu kira Nia itu apa? Setelah memakainya kamu ingin menyingkirkannya begitu saja? Kamu tidak mau hasil dari perbuatan kalian itu? Kalau kamu begitu mencintai Rana, kenapa melakukan itu dengan Nia?"
"Aku sudah bilang kalau aku ... "
"Mama sama sekali tidak percaya dengan alasan kamu itu! Kamu tidak buta dan juga tidak tuli, Rangga! Siapa yang akan percaya kalau kamu tidak mengenali itu Nia? Tidak akan ada satu pun yang akan mempercayainya!"
"Tapi memang itu kenyatannya, Ma!"
"Mama tidak mau tahu, kamu harus menikahi Nia setelah ingatan Nia kembali! Atau sesuai kesepakatan kita, akhir bulan ini kita akan mengatakan kebenaran itu pada Nia, dan setelah itu kamu bisa menikah dengannya!" tegas mama Tian.
***
Crazy up nih kalau banyak hadiah dan banyak yang vote😁
Happy reading semuanyaaa ...