NovelToon NovelToon
Pesona Cinta Majikan

Pesona Cinta Majikan

Status: tamat
Genre:Anak Genius / CEO / Cinta Seiring Waktu / Pembantu / Tamat
Popularitas:724.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: dtyas

Berkisah tentang Jenar Ayu Santika yang harus rela menjadi pengasuh Aiden (5 tahun). Bocah yang memiliki karakter usil dan nakal serta kecerdasan yang berbeda dengan anak yang seusianya.

Keusilan Aiden berhasil membuat Ayu kesulitan dan juga mendekatkan dia dengan Edwin (Papah Aiden).

Apakah Ayu bisa menjadi pengasuh yang baik bahkan menjadi Ibu bagi Aiden dan Istri Edwin?

Ikuti terus kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - PCM

Edwin mendengus kesal setelah bergegas beranjak dari tubuh Ayu ketika Aiden tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Lupa mengunci pintu dan beruntungnya dia dan Ayu masih berpakaian lengkap.

“Aiden, lain kali ketuk pintu dulu dan jangan masuk kalau belum diizinkan,” tegur Edwin lalu mengusap kasar wajahnya.

“Tapi aku ingin tidur di sini.”

“Oh, silahkan. Kemarilah,” pinta Ayu sambil menepuk ranjang.

Aiden tersenyum lalu bergegas menaiki ranjang dengan gembira. “Kamu tidur disini, Bunda dan Papamu tidur di kamar tamu.” Ayu pun terkekeh sambil turun dari ranjang.

“Bunda curang,” teriak Aiden.

“Tidurlah,” titah Edwin.

“Tapi aku ingin tidur bersama kalian?”

“Tidak bisa, kamu sudah besar Aiden,” sahut Edwin dengan posisi berdiri menatap Aiden. Kedua tangannya dilipat di dada.

“Aku masih kecil, baru lima tahun. Kenapa kalian tega meninggalkan anak se-lucu dan se-imut aku tidur sendirian.”

“Apa kamu bilang, masih kecil? Tumben mau mengakui masih kecil, biasanya selalu menganggap diri kamu sudah dewasa,” tutur Ayu.

“Please, hanya malam ini saja.”

...***...

“Oke, sudah rapi,” ujar Ayu setelah memastikan setelan yang dipakai Edwin terlihat sempurna. Ayu mengernyitkan dahinya mendapati Edwin yang murung.

“Masih pagi, tapi muka udah kayak dompet tanggal tua. Lecek,” ejek Ayu.

“Ck. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasa sih. Ketika pengen banget dan tidak berhasil dikeluarkan itu rasanya ... menyebalkan dan semua ini karena Aiden.”

“Sama anak sendiri nggak boleh gitu.” Ayu keluar dari walk in closet dan memandang Aiden yang masih terlelap.

“Kenapa tidak dibangunkan, dia harus sekolah.”

“Semalam ada informasi di grup kelasnya, untuk hari ini belajar di rumah karena para guru mengadakan rapat di sekolahnya dan ternyata besok weekend.”

“Kamu ada rencana pergi?” tanya Edwin.

“Hm, nggak juga. Tapi Aiden sempat mengajak menginap di rumahku.”

“Artinya kita bakal gagal lagi dong.”

Ayu terkekeh karena keinginan Edwin lagi-lagi tertunda dengan ulah Aiden, bahkan suaminya terlihat murung. Pernikahan Edwin dan Ayu yang baru seumur jagung tapi Edwin belum puas menjelajahi tubuh Ayu.

“Pastikan nanti malam tidak ada pengganggu,” titah Edwin. Ayu hanya membalas dengan senyum.

“Pak Edwin nggak sarapan dulu?”

“Nanti saja, aku ada pertemuan pagi ini,” jawab Edwin.

“Aku boleh ajak Aiden pulang ke rumah?” tanya Ayu sambil berjalan mengantar Edwin ke mobil.

“Boleh, minta diantar supir. Tapi tidak menginap ‘kan?”

“Oh, nggak.”

Edwin mencium kening Ayu sebelum dia masuk ke dalam mobil lalu tersenyum saat Ayu melambaikan tangannya. Saat ini Edwin lebih mudah tersenyum karena kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan memiliki keluarga yang lengkap. Merasa mendapatkan seorang istri yang memang sangat tepat untuk dirinya dan seorang Ibu ibu yang baik untuk Aiden. Bahkan tidak silau dengan kemewahan yang dimiliki oleh Edwin.

“Hei bocah, bangunlah,” ujar Ayu sambil membangunkan Aiden dengan menggoyangkan pelan tubuh bocah yang masih terlelap.

“Tidak mau, aku masih ingin tidur.”

“Mau ikut tidak ke rumah orangtuaku."

Aiden langsung mengerjapkan kedua matanya lalu beranjak duduk dengan pelan. Mengucek kedua matanya untuk memastikan pandangan.

“Hari ini?”

“Iya, hari ini.”

“Aku mau ikut,” rengek Edwin.

“Boleh tapi ada syaratnya,” sahut Ayu.

Dahi Aiden berkerut sambil menatap Ayu. “Apa syaratnya?”

“Nanti malam kamu tidur di kamarmu sendiri. Tidak boleh pindah ke kamar manapun, mengerti?”

Aiden menganggukkan kepalanya.

“Jawab dengan kata,” titah Ayu sambil mengajak Aiden turun dari ranjang.

“Iya aku janji tidur di kamarku sendiri.”

“Sekarang kamu mandi setelah itu kita sarapan dan berangkat.”

Hampir pukul sembilan Ayu menggenggam tangan Aiden yang mengenakan ransel kecil di pundaknya, keluar dari rumah.

“Pak Cahyo, kita berangkat sekarang,” ajak Ayu.

Mobil sudah meninggalkan rumah, Aiden menatap keluar jendela memperhatikan jalan menuju rumah Bundanya. Tanpa Ayu sadari Aiden sedang menghafal jalan yang dilewati.

“Pak, kita berhenti di depan,” titah Ayu. Mobil pun berhenti di depan ruko dimana ada mini market dan bakery. “Kamu mau ikut turun, kita beli cake untuk kamu di sana dan untuk Nenek. Di rumah ku tidak banyak stok makanan.”

“Mau,” jawab Aiden lalu membuka pintu mobil dan turun bersama Ayu.

Aiden menunjuk roti dan cake yang dia inginkan termasuk untuk kedua orangtua Ayu. Setelah membayar dan menyimpan ke dalam bagasi. Mobil pun kembali melaju.

“Sudah sampai, ayo kita turun,” ujar Ayu saat mobil sudah berhenti di depan pagar rumah Ayu. Dibantu supir menurunkan buah tangan yang tadi mereka beli sedangkan Aiden sudah berlari dan mengetuk pintu.

“Permisi Nenek, aku datang.”

“Wah kamu pulang Yu, eh si ganteng ikut juga.” Aiden mengulurkan tangannya ingin mencium tangan kedua orangtua Ayu.

Aiden sudah duduk di sofa bersama Ayah Ayu, sedangkan Ibu ke belakang membawa buah tangan yang mereka bawa.

“Yu, itu putramu mau dibuatkan minum apa?”

“Hm, air putih aja Bu.” Ayu kembali ke luar, meminta Pak Cahyo untuk pulang dan menjemputnya kembali nanti sore.

“Kamu tidak sekolah?” tanya Ayah Ayu.

“Tidak, sekolahku libur untuk hari ini. Kakek, boleh aku main di hutan?”

“Hutan?” tanya Ayah sambil menatap Ayu yang ikut duduk di sofa.

“Hutan dimana ada hutan?”

“Itu di samping dan belakang rumah ini, aku melihat banyak pohon besar.”

Ternyata yang dimaksud Aiden adalah kebun dan halaman rumah Ayu. Kediaman Ayu hari ini menjadi ramai dengan kehadiran Aiden, Ayah dan Ibunya agak kewalahan dengan Aiden yang banyak tanya dan penasaran dengan sesuatu yang ada di rumah tersebut.

Bahkan saat ada anak-anak tetangga Ayu yang bermain kelereng, Aiden memperhatikan dan merasa aneh dengan permainan tersebut.

“Mereka bermain apa?” tanya Aiden pada nenek.

“Itu namanya kelereng.”

“Apa serunya bola-bola kaca itu mereka sentil, kenapa tidak bermain game atau mobil remote?”

Ibu Ayu tertawa mendengar apa yang diucapkan Aiden.

“Mereka anak-anak kampung belum mengenal apa yang kamu sebutkan dan juga orang tua mereka tidak mampu membeli mainan yang kamu maksud.”

Banyak hal yang Aiden dapatkan di tempat tinggal Ayu, dia ikut bergabung dengan anak-anak sebayanya bermain dan mengenal hal yang belum pernah ditemui. Sepertinya Aiden senang, Ayu dan Ibunya hanya mengawasi bergantian.

Menjelang sore, mobil yang menjemput Ayu dan Aiden sudah datang. Ayu pun mengajak Aiden pulang dan berpamitan pada kedua orangtua Ayu.

“Lain kali aku akan main lagi, aku senang main di sini,” ujar Aiden yang disambut oleh kedua orang tua paruh baya itu dengan anggukan dan senyuman.

“Bunda, besok kita kembali ke sini lagi? Kenapa kita tidak menginap saja,” ajak Aiden ketika mereka sudah berada di dalam mobil.

“Tidak besok, kita harus izin Papamu dulu. Kamar di sana tidak senyaman kamarmu, Bunda nggak tega ajak kamu menginap.”

“Tidak masalah, aku ingin menginap di sana. Yah, boleh yah.”

“Lain kali saja ya kalau Papamu mengizinkan.”

Lelah seharian bermain membuat Aiden mengantuk. Setelah makan malam dia tidak menyentuh gadgetnya, bahkan mengajak Ayu ke kamar.

“Aku sudah lelah, boleh aku langsung tidur,” pinta Aiden sambil menguap.

“Ganti dulu piyamanya.” Ayu mengambilkan pakaian ganti untuk Aiden.

“Bunda, besok belikan aku kelereng,” rengek Aiden.

“Hm, tidurlah. Ingat, tidak boleh tidur di kamar lain. Tetap di sini, oke?”

“Hm.” Aiden pun menaiki ranjangnya dan berbaring. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap, terdengar dengkuran halus dari bibir bocah itu.

Ayu memperbaiki letak selimut dan mengatur pendingin udara agar Aiden tidak merasa kedinginan. Setelah meninggalkan kamar Aiden, Ayu menunggu kedatangan Edwin di kamarnya. Menonton tv sambil bersandar pada headboard.

Ternyata Edwin pulang agak larut. Sudah sangat antusias untuk kegiatannya malam ini dengan Ayu. Langsung menuju kamar Aiden dan melihat putranya tidur dengan nyenyak lalu ke kamarnya sendiri.

“Sayang, aku datang," ujar Edwin lalu mengunci pintu. "Aiden sudah tidur dan kita ... Hah, kamu juga tidur." Edwin mengusap kasar wajahnya.

"Gagal lagi."

 

 

1
Maya Djdj
seperti keinginan terakhir aja nih bocah
Mini Amora
good Aiden...

pak Edwin gercep
Mini Amora
astaghfirullah aiden
Mini Amora
seruuuuuu...

calon ibu & calon anak suka nge game😄
Mini Amora
melipir baca karyamu ini thor😍
Matchamatcha
definisi bocil kematian🤣🤣
ayu cantik
suka
pretty girl's
lumayan
Erna Suryani
Luar biasa
Erna Suryani
Lumayan
Doffeer Zaliaan
Luar biasa
Sri Widjiastuti
sesuatu gitu lhoh.. Aiden ni minta digetok
Sri Widjiastuti
diih ngadon bayi seperti ekspetasi nya Aiden.... buyar dong g jd ngadon🤗🤗
Sri Widjiastuti
😁😁😁bener2 ini Aiden
Sri Widjiastuti
bocah semprulll🤣🤣🤣
Sri Widjiastuti
😇😇😂
Sri Widjiastuti
lagian bisa2 nya ngorok niii
Rinisa
👍🏻👍🏻👍🏻
Rinisa
Dasar aiden...😂
Rinisa
Next....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!