❗️EKSKLUSIF HANYA DI NOVELTOON❗️
Seorang Pria yang di paksa sang Ayah untuk menikahi Gadis yang tidak tahu asal-usul nya, pernikahan itu di dasarkan karena suatu perjanjian sebelum rekan Ayahnya menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.
Memang benar, mencintai paksa orang yang tidak di cintainya benar-benar sangat sulit, tetapi dengan selalu berdekatan di antara keduanya akan membuahkan benih-benih cinta. Akan tetapi, apakah mereka benar-benar berhasil mencintai satu sama lain?
-----------
Yukk kepoin ... jangan lupa tambahkan favorite. Like, komen positive & vote nya juga ya bestie😍🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu membuat Fabian dan Adiba langsung memberhentikan kegiatannya masing-masing. Adiba yang ingin berdiri membuka pintunya, tapi Fabian yang lebih dulu berdiri.
"Aku saja" ujar Fabian, Adiba kembali duduk. Matanya mengikuti langkah suaminya.
Ceklek~
"Apa Mi?" tanya Fabian langsung ketika mendapati Umi nya sudah ada di hadapannya.
"Adiba mana? Umi ingin mengajaknya membuat kue." jawab Bu Aisyi.
"Diba, di cariin Umi." ujar Fabian seraya melangkahkan kakinya masuk.
"Iya, Mas." Adiba langsung berdiri dan menghampiri Bu Aisyi yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Iya, Mi." ucap Adiba.
"Sayang, lagi sibuk nggak?"
"Nggak, Mi. Baru selesai mengemasi barang-barang." jawab Adiba.
"Ya sudah ayo ikut Umi ke dapur. Umi ingin membuat kue untuk kalian bawa besok ... Bagaimana keadaan Bu Amirah?" tanya Bu Aisyi sambil berjalan beriringan dengan Adiba.
"Ibu sehat, Mi."
"Alhamdulillah kalau begitu ..." sahut Bu Aisyi sambil tersenyum.
Mereka berjalan menuju dapur. Setelah sampai di dapur, Bu Aisyi dan Adiba membuat kue bersama, resep kue yang enak sudah tak asing lagi bagi Bu Aisyi. Adiba hanya membantunya saja, yang memasukkan bahan-bahan dan menimbang beberapa bahan kue nya bagian Bu Aisyi.
***
Malam hari.
Fabian mematikan lampu kamar utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Adiba dua hari ini terhitung sudah menempati ranjang kasur bersama suaminya dan masih sama, berbatasan dengan bantal guling yang di susun oleh Adiba sendiri.
"Baca do'a dulu!" tegur Fabian yang melihat istrinya mulai menutup kedua kelopak matanya.
"Sudah Mas." jawab Adiba lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal.
Fabian langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, melafalkan surah-surah pendek dan bacaan do'a sebelum ia tertidur. Ia sudah memesan tiket pesawat sekaligus dengan tiket taxi yang akan mengantarkan mereka dari bandara hingga apartemen.
Satu koper besar dan dua tas berukuran sedang sudah tersusun rapih di dekat kursi yang ada di dalam kamar. Fabian dan Adiba sudah mempersiapkan semuanya sebelum mereka terbang ke Kairo. Fabian juga sudah menelpon adiknya bahwa mereka besok sudah berangkat ke Kairo.
***
Pagi hari, sesudah sarapan. Fabian dan Adiba di antar Pak Alzam dan Bu Aisyi ke Bandara. Pagi-pagi sekali mereka sudah datang ke Bandara karena memang Fabian menginginkan penerbangan pagi saja agar siang sudah sampai di Kairo.
Sebelum pergi menaiki pesawat, Fabian dan Adiba berpamitan kepada Pak Alzam dab Bu Aisyi. Pak Alzam bersikap biasa saja, namun berbeda hal nya dengan Bu Aisyi yang sudah terharu. Bu Aisyi berpesan kepada anak dan menantunya untuk tidak pulang lama-lama, Fabian tentu saja mengiyakan karena memang setiap dirinya pergi, sang Umi selalu berpesan hal yang sama.
"Kak, Hati-hati ya ..." ujar Pak Alzam di dalam pelukannya.
"Iya, Bi. Doakan saja Fabian lancar disana supaya cepat pulang ..." sahut Fabian lalu melepaskan pelukannya.
"Kak bisa kerja disini aja nggak? Umi dan Abi kesepian disini ..." ujar Bu Aisyi lirih.
"InsyaAllah, Mi. Kakak nanti usahakan. Cari peluang di Indonesia dulu ... Kalau langsung sekarang mungkin nggak bisa ..." ujar Fabian menatap Umi nya. Tangan Bu Aisyi menggenggam tangan Adiba tanpa mau melepaskannya.
"Mengajar saja di pondok Abah. Lumayan juga tuh ..." ujar Pak Alzam menyarankan.
"Iya Bi. Bukannya Kakak nggak bersyukur ... Tapi Kakak harus cari yang sepadan dengan kemampuan Kakak saja. Abi dan Umi cukup doakan Fabian saja." ujar Fabian singkat.
"Iya sayang." sahut Bu Aisyi.
"Rekan Abi banyak, Kak." senggah Pak Alzam. Fabian hanya menggerutu sambil beristighfar di dalam hatinya.
"Iya Bi. Nanti Kakak coba cari-cari lewat artikel ya. Ya sudah, mungkin pesawat sudah Landing Bi, Mi. Ayo Diba." ajak Fabian sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Umi jangan sedih, nanti Adiba kepikiran." lirih Adiba menahan tangisnya.
"Jangan dong sayang. Umi hanya kelilipan saja." ujar Bu Aisyi menghapus air matanya.
"Mi mau peluk, boleh?" tanya Adiba ragu. Bu Aisyi langsung memeluk menantunya dengan erat.
"Sudah-sudah, cepat sana. Tuh lihat suamimu sudah cemburu kalau Umi memeluk mu." canda Bu Aisyi melirik Fabian. Fabian yang dilirik hanya mendengus kesal dengan senyum terpaksa yang menghiasi bibirnya.
Setelah selesai acara berpamitan, Fabian dan Adiba berjalan menuju pesawat yang sudah di pesannya. Pak Alzam dan Bu Aisyi melihat dari jauh kepergian anak dan menantunya.
"Mi ayo kita pulang ... Mau nunggu pesawat take off?" tanya Pak Alzam kepada istrinya. Bu Aisyi hanya termenung melihat punggung Fabian dan Adiba yang membelakangi dirinya.
"Kita pulang sekarang saja, Bi." ujar Bu Aisyi.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang." ajak Pak Alzam lalu menggenggam tangan istrinya dengan lembut dan membawanya menuju tempat parkir bandara yang mobil nya sudah terparkir disana.
pelajaran yg bisa di ambil.ustadz hanyalah gelar saja.tpi orangnya tetap manusia biasa yg TDK terlepas dari khilaf.tetapi kmudian kembali ke jalan Allah SWT