Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpura-pura jadi pasangan
___________
Sementara itu...
Di depan rumah hantu,hanya tersisa syakila dan galen.keduanya berdiri sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk.
Setelah perdebatan panjang mereka di mana syakila yang sudah berada bersama galen.sebenarnya syakila juga tak tahu karna tiba-tiba tangannya di pisahkan seseorang dan malah langsung ada yang tarik tangannya dan membawanya pergi.
"Mereka semua pada kemama,sih?"gumam syakila,kakinya sudah pegal menunggu mereka yang tak muncul-muncul.
Galen hanya mengangkat bahu."Mana gue tahu."
Mereka kembali menunggu.lima belas menit,tiga puluh menit,satu jam.
Hingga tanpa terasa...
Sudah hampir tiga jam berlalu.tak satu pun dari lea,zaendra,zayyan,maupun melisa yang muncul.
Syakila mengembuskan napas panjang."Kayaknya mereka udah keluar ya?kok mereka lupa sama kita."
"Mungkin."jawaban galen tetap terdengar datar.
"Udahlah."ia memasukkan kedua tangan ke saku.
"Daripada nunggu,mending di cari aja."syakila akhirnya mengangguk pelan.mereka berjalan menyusuri keramaian pasar malam.
Di kanan kiri,pedagang menjajakan aneka makanan dan permainan.suara tawa pengunjung bercampur dengan musik dari berbagai wahana.
Saat sedang berjalan,pandangan syakila berhenti pada sebuah kafe kecil yang dipenuhi lampu-lampu hangat.di depan pintunya tergantung sebuah spanduk besar.
GRATIS MAKAN UNTUK PASANGAN HARI INI!
Syakila membaca tulisan itu beberapa kali.di saat yang sama,"Kruk."perutnya berbunyi pelan,ia langsung memegang perutnya sendiri.
Lapar.
Namun belum sempat berpikir lebih jauh,galen sudah lebih dulu melangkah menuju pintu masuk.
"Eh!"
Syakila membelalak."Tuh cowok nggak baca spanduk apa?"ia buru-buru mengejar laki-laki itu.
"Heh!"
Tangannya menarik pelan lengan cowok itu."Lo mau ke mana?"
"Makan."
"Tapi itukan khusus buat pasangan.lo nggak bisa membaca ya?"
"Terus?"
Syakila berkedip."Terus?...hello!kita kan bukan pasangan."
"Terus kenapa?gue laper."
Gadis itu memegang keningnya seraya menghela napas."Masalahnya bukan itu!"
"Apa?kan tinggal bilang kita pacaran.simple kan?!"
Syakila memijat pelipisnya."Simple dari mananya?gue nggak sudi berpasangan sama lo."ungkapnya terus terang,membuat galen mendelik."Gue juga nggak sudi punya pasangan kayak lo."
Laki-laki itu mendengus pelan."Gue juga nggak bakal ngelakuin ini kalau gue nggak lapar.mumpung lagi gratis,emang lo nggak selera apa,banyak hidangan gratis?"tanyanya dengan bibir atas condong ke kanan.
Syakila berpikir sejenak,emang selera sih.tapi kan itu sama saja mendua dari zayyan.ia menggeleng,ia tak ingin selingkuh dari zayyan.hatinya cuma satu dan itu di isi hanya nama zayyan.ya,hanya zayyan seorang.
Ia menggigit bibir nya"Tapi kan—"
"Kruuuk."capannya terpotong tatkala perutnya kembali berbunyi.
Kali ini...bunyinya jauh lebih keras.
Galen perlahan menunduk menatap perut syakila lalu mengangkat sebelah alis.syakila langsung menggigit bibir bawahnya,wajahnya memerah bukan main.
Galen berdecak."Mulut lo bilang nggak mau."tatapannya beralih ke wajah syakila.
"Tapi badan lo jujur.lo juga sebenarnya lapar,kan?"syakila menutup wajahnya sebentar.
Tanpa menunggu jawaban lagi,laki-laki itu langsung menarik pergelangan tangan syakila.
"Eh,eh—galen!"
Mereka akhirnya masuk ke dalam kafe.seorang resepsionis langsung menyambut dengan senyum ramah.
"Selamat datang."
"Karena hari ini promo khusus pasangan,kami perlu verifikasi sebentar."
Syakila langsung menegang."Verifikasi?"
"Iya."resepsionis tersenyum.
"Cukup foto berdua,bukti kalian sebagai pasangan."syakila spontan mundur selangkah.
"Eh... anu..."ia sudah ingin menolak.tapi galen justru melangkah mendekat.
"Udah cepetan."
"Galen,jangan aneh-"
Belum sempat syakila menyelesaikan kalimatnya,galen merangkul bahunya agar mendekat.
Syakila membeku di tempat.laki-laki itu kemudian menundukkan kepala dan mengecup singkat kening syakila.
"Cekrek!"
Kamera langsung memotret.
"Terima kasih,"ucap resepsionis ceria."Silakan masuk."syakila masih terpaku,wajahnya memerah sampai ke telinga.sementara galen sudah berjalan lebih dulu seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah duduk di meja yang disediakan,gadis itu masih terus menggosok keningnya dengan telapak tangan.
"Apaan sih—lo seenaknya aja."ia mengosoknya kuat hingga berulang-ulang kali seolah yang baru saja mencium keningnya adalah makhluk hina.
"Huh!benar-benar nggak punya sopan santun."
Di seberangnya,galen membuka buku menu dengan santai.
"kesel banget gue..brengsek."
Galen berdecih singkat"Lo pikir kalau lo gosok terus kening lo bakal hilang gitu?"
"Yang ada pala lo makin lecet.ogeb baget sih jadi orang."syakila langsung mendelik.
"Masalahnya lo tadi ngapain coba?akhh...sial!baji-"
Brak!
Tiba-tiba buku menu itu terhempas tepat di depan meja syakila membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget."Sampai kapan lo mau ngomong kasar kaya gitu?sampai mulut lo berbuih,iya?'
"Heh!sampai mulut lo berbuih pun.itu nggak bisa merubah apa-apa."
Dia menatap manik coklat yang tampak menantang itu,lalu menghela napas,menyandarkan tubuhnya ke kursi."Anggap aja sekarang kita sebagaj partner yang saling menguntungkan."
"atau—anggap aja kaya kakak beradik."ucapnya santai.
Syakila memandang Galen beberapa detik lalu mendengus pelan."Enak banget ya...lo ngomongnya-"
"seenak jidat lo."sinisnya ia membuka buku menu.
Tak lama kemudian,seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Selamat menikmati."satu persatu hidangan diletakkan di atas meja.
Ada steak dengan saus lada hitam yang masih mengepul,kentang goreng,pasta krim,serta dua gelas minuman dingin di tambah dengan makanan penutup yang begitu memikat.
Mata syakila langsung berbinar."Wah..."mulunya terbuka lebar.
Rasa kesal yang sejak tadi memenuhi kepalanya perlahan menguap begitu melihat makanan di hadapannya.
"Enak banget nih kelihatannya."tanpa pikir panjang,ia langsung mengambil garpu.
"Makasih ya,makanannya!"pada sang pelayan.
Galen yang duduk di seberangnya hanya melirik sekilas."Lo ngomong sama siapa?"
"sama setan."ucapnya karna tak dapat sahutan dari sang pelayan.tapi bodoh amat sih..
Galen memilih diam.sedangkan syakila mulai menyantap makanannya dengan lahap.pipi kirinya sampai menggembung penuh karena terlalu semangat.
Sesekali ia mengangguk sendiri.
"Hmm...enak banget."ucapnya memegang kedua pipinya.mood-nya yang tadi sempat hancur kini perlahan kembali membaik.ia bahkan sudah lupa kalau beberapa menit lalu masih ngambek gara-gara ulah galen.
Sementara itu,galen hanya makan dengan tenang tanpa banyak bicara.sesekali ia melirik syakila yang begitu fokus pada makanannya hingga seolah melupakan keberadaan orang di depannya.
"Lo lapar banget ya?sampai makan kayak dadiloba krisna."
Uhuk,uhuk...
Syakila keselek mendengar penuturan kurang ajar galen barusan.sedangkan galen langsung memberikan air putih padanya.
Gluk..gluk....
Napasnya jadi tak beraturan karna galen."hah....haaahhhh...ku-rang...a-jar lo."melihat tingkah gadis itu,galen hanya menggeleng pelan.
Dasar.
Namun...
Tak satu pun dari mereka menyadari.di sudut paling pojok kafe...
Tepat di balik sebuah tanaman hias yang cukup tinggi—ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Tatapannya tajam dan dingin.tak pernah sekalipun lepas dari arah meja tempat syakila dan galen duduk.
Sorot matanya perlahan berubah semakin gelap.seolah...
Apa yang dilihatnya saat ini adalah sesuatu yang sangat sulit ia terima.tangannya mengepal pelan di atas meja,rahangnya mengeras.
Tatapan itu...
Bahkan menyimpan amarah yang nyaris tak bisa disembunyikan.seolah ingin menghancurkan seseorang yang sedang tertawa di hadapannya.
Bersambung~